Home / Rumah Tangga / Perjanjian Dua Cinta / Lima: Keputusan Dewan Direksi

Share

Lima: Keputusan Dewan Direksi

Author: Nandreans
last update publish date: 2022-09-03 10:23:08

“Kamu apa-apaan sih, Sayang? Bisa-bisanya kamu mengamuk seperti tadi! Kamu membuat aku malu, tahu!”

Pernyataan Joane langsung membuat Devan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Kemudian, dia berbalik untuk menatap wajah perempuan di hadapannya dengan tak percaya. “Kamu bilang apa? Malu? Harusnya aku yang malu, Jo! Bisa-bisanya calon istriku sendiri jalan dengan laki-laki lain di belakangku?!”

“Harus berapa kali aku bilang bahwa kami cuma berteman? Tidak kurang dan tidak lebih!”

“Teman macam apa yang duduk pangku-pangkuan? Teman macam apa yang saling berciuman? Dan, teman macam apa yang tidur bersama di ranjang kita?” amuk Devan. “Kamu benar-benar sudah membuatku kecewa!”

Hari itu, untuk pertama kalinya Devan merasakan yang namanya patah hati. Terluka. Dan merasa dicampakan. Sesuatu yang sebelumnya sangat asing di kehidupannya. Mengingat lahir sebagai anak sulung keluarga Sanjaya, yang selalu dia dapatkan seumur hidup adalah pemujaan. Menjadi pusat perhatian seluruh dunia di sekelilingnya tanpa tapi. Bisa-biasanya Joane membuangnya seperti ini? Memperlakukannya layaknya sampah dan pilihan ke sekian. 

Maka, dengan berbekal rasa sakit hatinya tersebutlah dia akhirnya memutuskan menerima perintah Oma untuk pulang. Walau alasan Joane bukan satu-satunya, lebih dari itu dia tak mau fasilitasnya dicabut. 

“Oma mau kamu pulang sekarang! Mau atau tidak, terserah kamu. Tapi kalau kamu memang masih mau mendapatkan fasilitas dari keluarga ini, maka kamu harus kembali.”

“Oma mengancam Devan?”

“Terserah kamu mau bilang apa,” tegas Oma. “Yang jelas, Oma tidak mau mendengar kamu berulah lagi. Sudah cukup semua perbuatanmu selama ini. Toh, buat apa kamu di Hongkong berlama-lama? Usahamu juga bangkrut, kan? Ekspansimu gagal, kan? Kamu sudah sangat membuat rugi perusahaan.”

“Tapi, Oma ….”

“Tidak ada kata tapi!” Oma menegaskan sekali lagi. “Pulang atau tinggalkan apartemen besok. Oma sudah sangat lelah dengan tingkahmu, Devan. Sangat.”

*_*

“Kamu yakin mau berangkat sendiri hari ini? Kalau mau, aku bisa jemput biar sekalian bareng.”

Diana berlari turun dari kamar tidurnya dengan masih memegang ponsel yang tersambung ke obrolan dengan Tama. “Tidak usah. Aku sudah pesan ojol di bawah. Orangnya juga sudah datang. Lagian, kalau kamu jemput aku akan lebih jauh.”

“Tidak apa-apa, tapi baiklah kalau memang begitu. Hati-hati di jalan ya. Dan, ingat, minta kepada Driver-nya untuk tidak kebut-kebutan.”

“Iya, Tama.” 

Sejak dulu. Selalu.

Tama memang dikenal sebagai orang paling peduli pada orang-orang lain di sekitarnya. Tanpa kecuali. Itulah kenapa Diana nyaman bersahabat dengan pria itu. Bahkan bisa dibilang, dia pun telah menganggap Tama lebih dari sekadar sahabat. Karena baginya, Tama adalah seorang adik yang selalu membuatnya merasa dibutuhkan dan berharga.

Meski tak punya saudara sedarah, saudara seperjalanan adalah teman terbaik bagi seorang Diana. 

“Kamu sudah dengar atau belum, kalau Mas Devan akan kembali ke Indonesia.” 

Diana mendengar pernyataan itu dari arah ruang makan, tempat Bu Ani, Mbak Susi dan beberapa pegawai lainnya sibuk menata sarapan anak-anak. 

“..., aku mendengarnya secara tidak sengaja saat bertemu Mas Tama kemarin. Mereka sedang mengobrol di telepon.”

“..., ya ampun. Benarkah? Sudah lama sekali lho Mas Devan tidak pulang.”

“..., sejak papanya menikah lagi, bukan?”

“..., kira-kira apakah dia akan menjadi –”

“Hmm!” Deheman Diana membuyarkan gosip dalam hitungan detik. Semua orang menoleh ke arahnya, lalu kompak menunduk. “Ibu-ibu, tolong jangan menggosip. Tidak baik.”

Semua orang tersenyum, kikuk. 

“Biasakan untuk tidak membicarakan yang bukan urusan kita!” lanjut Diana. “Oh iya, hari ini akan ada pertemuan untuk membahas putusan para direksi. Doakan proposal yang saya ajukan lolos ya.”

Tidak ada yang lebih Diana tunggu sekarang selain mendapatkan tambahan dana untuk tahun depan. Bukan apa, bahasan yang seharusnya dilakukan jauh-jauh hari ini, sudah sempat mundur dari jadwal seharusnya setengah tahun lalu karena berbagai macam alasan. Dan, dia memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk merancang proposal terbaik yang dia bisa. 

Pun dia sudah menyampaikannya kepada para dewan direksi. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menunggu keputusan. 

*_*

“Deg-degan ya?” 

Candaan Tama sebelum mereka masuk ke ruang rapat membuat Diana tersipu. “Katakan padaku apa cara yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan debar di dada ini,” balas Diana membuat tawa mereka pecah. 

Kemudian, ketika para direksi lain muncul dari pintu lift dan berjalan ke arah mereka, Diana dan Tama pun segera menyambutnya, kemudian mengekori masuk ke dalam ruangan. Menempati kursi mereka masing-masing.

“Selamat pagi.” Pak Hadi membuka obrolan.

Yang dijawab serentak oleh seluruh peserta rapat dengan, “Selamat pagi, Pak.”

“Bagaimana kabar hari ini? Semua semua tho.”

“Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah, sehat, Bapak.”

Pak Hadi manggut-manggut, mengakhiri basa-basinya. “Baiklah, langsung saja, Bu Diana.” Beliau menatap empunya nama yang duduk salah satu sisi kursi panjang dengan serius. “Sejujurnya, kami sangat menyukai ide-ide segar yang Bu Diana ajukan. Sudah lama kami tidak bertemu orang sekreatif Ibu. Hanya saja, seperti yang telah Ibu ketahui, kondisi perusahaan yang sangat buruk akhirnya membuat kami dengan sangat terpaksa …, harus memangkas dana tahunan sebesar lima belas persen.”

Hah?

“Bapak, maaf!” Diana spontan berdiri. “Dipangkas?” ulangnya, memastikan. “Kami mengajukan kenaikan anggaran lho, Pak. Bagaimana ceritanya justru ….”

“Setiap lini di perusahaan sedang menghadapi situasi yang sama, Mbak Diana.” Pak Yoga yang menjawab. “Bukan hanya kegiatan CSR saja yang terdampak.”

“Keputusan ini sudah bulat!” Pak Hadi menambahi, penuh empati. “Kami terpaksa karena bila tidak, perusahaan bisa terdampak dan tentu akan membuat kondisi yayasan juga bisa terdampak jauh lebih buruk.”

“Tapi …, Mbak Diana tenang saja!” Bu Prani memenangkan, dia duduk persis di sampingnya hingga bisa menepuk-nepuk bahu Diana, memintanya duduk kembali. “Ini hanya sementara. Begitu perusahaan membaik, kami akan mengembalikan dana ke nilai sebelumnya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima Belas: Dia Wanita Yang Kukagumi

    “Jadi, kamu nggak langsung berangkat dari mereka?”Diana menjawab pertanyaan Tama dengan gelengan. “aku akan menyelesaikan dulu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diaudit. Setelah itu baru aku akan menyusul.”“Kupikir itu cukup bijaksana,” kata Tama dengan senyum mengembang di wajahnya. Sementara kedua matanya fokus memandang jalanan, melajukan mobilnya di tengah padatnya jalan di Ibukota. “Kalau kamu tidak keberatan, barangkali aku bisa ikut.”“Kamu mau ikut?” Diana menatap sahabatnya itu tidak percaya. “Ini bukan karya wisata, Tama.”“Tentu saja, Di. Siapa yang bilang ini karya wisata?” Tama terkekeh, akan tetapi detik berikutnya wajahnya kembali serius. “Aku akan segera menyelesaikan semua tugasku di kantor agar nantinya saat kita berada di Sumatera …, bisa lebih fokus.” “Menurut orang-orang di lapangan, akses di sana masih sangat sulit, Tam. Ada banyak sekali bantuan dan logistik yang siap dikirim belum bisa sampai ke masyarakat sampai sekarang karena akses yang masih terputus

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat Belas: Salah Paham

    “Anak seperti dia? Terpilih menjadi pewaris? Bukankah ini konyol?”Devan masih bisa mengingat dengan jelas semua pernyataan itu meski belasan tahun telah berlalu. Harus diakui, dia memang bukan ayahnya. Dia bukan orang hebat seperti Angga. Dia juga bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang lahir secara kebetulan di keluarga kaya yang bergelimang harta dan mendapat kemudahan dari semua fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya. Masalahnya, apakah semua itu kesalahannya? Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memilih Di mana mereka akan dilahirkan. Kalau saja Tuhan memberi pilihan kepada manusia untuk itu, Devan bisa pastikan tak akan banyak orang yang mau dilahirkan. Takkan ada yang mau menjadi anak yang tidak diinginkan. Tak akan ada yang mau menjadi anak dari perempuan seperti ibunya. Dan tak akan ada yang mau, begitu dilahirkan kemudian langsung dibuang seperti anak-anak yang ada di panti asuhan. Devan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang panti asuhan Tangan Kita. T

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga Belas: Sumbangan Pribadi Arman

    “Terima kasih, Pak Arman. Kami sangat menghargai bantuan pribadi Bapak.”Ucapan Diana dijawab anggukan kecil oleh pria berkacamata tersebut. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya, Pak Arman menerangkan, “Semoga saja ini bisa membantu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya.”“Sejujurnya sampai saat ini saya masih sangat membutuhkan dukungan Bapak soal pengajuan dana untuk yayasan. Karena tidak ada yang lebih saya butuhkan selain itu sekarang.”Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir Pak Arman saat mendengar kalimat itu. Pria paruh baya tersebut seolah-olah memang sengaja tak ingin membantu Diana. Atau justru di sana lah titik sebenarnya berawal. Dan Diana tahu persis apa yang dihadapi sekarang.Berbeda dengan Pak Anggara yang dikenal sangat peduli kepada panti asuhan, sang adik memang sejak awal memiliki orientasi tersendiri tentang arah perusahaan. Namun sayang, putra dari kedua pria itu memilih jalan yang justru berseberangan dengan orang t

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua Belas: Devan Sanjaya dan Jalan Hidupnya

    “Ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya Oma memikirkanmu sepanjang malam?” Adalah sang nenek yang menyambutnya pagi itu. Setelah puas mengomel, wanita tua di kursi roda itu justru memintanya mendekat. Kemudian menghujani Devan dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Berulang kali. Seolah-olah pria 32 tahun itu adalah seorang bayi berusia 3 bulan. Yang ketiga Devan protes justru dijawab dengan, “Oma sangat rindu padamu! Peduli apa Oma dengan usiamu?! Kau tetap baik di mata Oma!”Dari arah pintu, seorang pemuda lain yang sangat Devan kenali datang. Utama menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan tawa yang tak tertahankan. Karena sekeras apapun usahanya bertahan, ternyata tamat tak cukup kuat untuk tidak tertawa. “Bisa kau berhenti, Bajingan Kecil!” Devan berpura-pura menghendak meninju sang adik dari kejauhan. Membuat tawa Utama Sanjaya semakin kencang. Sambil berjalan mendekat, Tama berkata, “Harusnya akulah yan

  • Perjanjian Dua Cinta   Sebelas: Pewaris Utama, Bukan Pertama

    Memang apa salahnya menjadi anak kedua?Nyatanya, Arman tidak pernah bisa memilih kapan dan di mana dia dilahirkan. Lalu, mengapa segalanya menjadi lebih sulit baginya ketimbang sang kakak? Sejak kecil Arman sadar betul kalau dia tidak pernah menjadi pilihan utama. Mama dan Papa hanya akan membawanya ke acara bila sang kakak tidak bersedia hadir. Padahal, tanpa keduanya ketahui, anak yang mereka jadikan bayangan ini jauh lebih kompeten ketimbang putra kebanggaannya. Sebab satu-satunya yang Arman tahu dalam hidupnya hanyalah menghabiskan uang kedua orang tuanya. Tanpa ampun. “Dari mana kamu?” Masih terekam jelas di kepala Arman bagaimana mamanya selalu menginterogasi Angga tiap kali pria –yang masa itu masih remaja –tersebut pulang dini hari dalam kondisi mabuk. Yang selalu konsisten Angga jawab dengan. “Sudahlah, Ma! Seperti tidak pernah muda saja.”“Apa katamu?” Yang bisa dipastikan akan membuat sang mama mendelik, kaget. Tapi, kenapa? Bukankah hampir tiap waktu Angga bicara sekas

  • Perjanjian Dua Cinta   Sepuluh: Pewaris Yang Sebenarnya?

    “Dia bilang begitu?” Mata Tama nyaris copot saat Diana menceritakan pengalaman tak mengenakan itu kepadanya. “Kak Devan? Serius?”Diana melipat bibir, tangannya mengaduk-aduk isi gelas di hadapannya seolah tidak bertenaga. “Begitulah. Sangat menyebalkan, bukan?” Diiringi decitan kecil. “Dia bahkan sama sekali tidak memikirkan nasib anak-anak di yayasan.”Air muka Tama memelas, mengandung rasa bersalah yang teramat sangat. “Maafkan aku ya, Di.”“Kok malah kamu yang minta maaf?”“Karena kakakku –”“Dia orang dewasa, bukan anak kecil!” tegas Diana. “Dia ya dia. Kamu ya kamu. Kalian sangat jauh berbeda, Tama. Aku tahu seberapa besar komitmen kamu pada panti asuhan. Tidak ada yang berhak menyalahkanmu hanya karena argumen konyol kakakmu. Kalian memang sedarah, tapi tidak dengan isi kepala.” Bibir Tama akhirnya mengulas senyum, lembut. Dia menatap balik Diana penuh rasa syukur. “Terima kasih, Diana.”“Tidak perlu berterima kasih. Lagipula, untuk apa? Justru aku yang seharusnya berterima kas

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat : Utama Sanjaya, Pewaris Kedua

    Ada dua tipe manusia di dunia menurut Diana; satu, yang pandai menyembunyikan perasaan dan yang kedua, sebaliknya, tidak bisa menutupi luka hatinya sekeras apa pun dia mencobanya. “Kamu pikir, kamu tipe yang mana?” Michele, sahabatnya, perempuan berambut pendek yang kini duduk di hadapannya bertany

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga : Bencana Sumatera

    Ketika mendengar kabar banjir bandang yang meluluh lantakkan Sumatera bagian utara di akhir November kemarin, Diana memang bisa langsung terbang ke sana. Mengingat, selain akses yang masih sulit, kesibukan persiapan pengajuan dana yayasan pun menyita banyak waktunya. Bukan karena nasib rekan dan ana

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua : Dia Bernama Diana

    “Akhirnya, kita bisa bernapas lega!” seru Diana ketika mereka sampai di kantin. Dia duduk di kursi sambil membawa nampan berisi semangkuk bakso panas dan es jeruk, sementara Tama yang duduk di seberangnya memilih hanya menyantap roti bakar dan kopi dalam gelas kertas. “Kalau tidak ada kamu, aku tida

  • Perjanjian Dua Cinta   Satu : Yayasan Tangan Kita

    “..., berdasarkan pertimbangan inilah Yayasan Tangan Kita meminta tambahan dana tahunan sebesar dua puluh persen.” Dengan penuh percaya diri Diana mengakhiri presentasinya. “Kenaikan ini tidak hanya demi kelancaran agenda-agenda tahunan tetapi juga menopang kebutuhan anak-anak di bawah yayasan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status