LOGINDemi panti asuhan yang dia pertahankan, Diana rela menikah dengan Devan Sanjaya, pewaris Sanjaya Group yang nyaris dicoret dari daftar pewaris akibat skandal masa lalunya. Mereka pun bekerja sama mempertahankan misi masing-masing sampai suatu ketika benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.
View More“..., berdasarkan pertimbangan inilah Yayasan Tangan Kita meminta tambahan dana tahunan sebesar dua puluh persen.” Dengan penuh percaya diri Diana mengakhiri presentasinya. “Kenaikan ini tidak hanya demi kelancaran agenda-agenda tahunan tetapi juga menopang kebutuhan anak-anak di bawah yayasan yang saat ini sedang menempuh study baik di luar maupun di dalam negeri.”
“Bukankah Anda bilang tadi banyak anak-anak kita yang menerima bantuan beasiswa di luar yayasan?” Pak Yoga, direktur keuangan mengangkat tangan. Bertanya dengan wajah serius sambil membolak-balik dokumen di hadapannya.
Diana tersenyum, memindah tampilan slide presentasi ke materi yang dimaksud sebelum menjawab, “Memang benar, Bapak. Banyak sekali anak-anak di Yayasan Tangan Kita yang berhasil mendapatkan beasiswa prestasi baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Namun, justru karena itulah kami berharap perusahaan mau memberikan kenaikan dana untuk tahun depan. Mengingat jumlah anak-anak di yayasan terus bertambah. Dengan kenaikan ini, diharapkan dapat semakin memperbaiki kualitas pendidikan dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak.”
Pak Hadi, pria gempal yang duduk di ujung bangku panjang sebagai pemimpin rapat manggut-manggut sebelum ikut bicara, “Berapa banyak jumlah anak-anak yang mendapat beasiswa dari dalam dan luar yayasan? Dan, apakah banyak dari mereka yang bisa menyelesaikan studinya dengan baik?”
“Berdasarkan data kami, memang secara persentase jumlah penerima beasiswa dari tahun ke tahun masih didominasi oleh yayasan terutama untuk jenjang sekolah dasar dan menengah. Mengingat, anak-anak di usia inilah yang mendominasi penghuni panti asuhan kita. Hanya saja, di perguruan tinggi, setidaknya setengah di antaranya mendapatkan beasiswa prestasi dari luar yayasan.” Diana kembali menampilkan data yang telah dia susun rapi sebelumnya. “Akan tetapi, perlu diingat, Bapak. Bahwa untuk sampai di titik ini, anak-anak tetap memerlukan banyak dana untuk persiapan beasiswa dan itu tidak sedikit.”
“Tapi …, Anda tahu kan bila keuangan perusahaan sekarang sedang tidak stabil?” Pak Gugun, direktur pemasaran akhirnya ikut menyahut. Sambil melepaskan kacamata bacanya, beliau menatap Diana sungguh-sungguh. “Ada banyak lini di perusahaan yang mendapat pemangkasan karena efisiensi, jadi apakah menurut Bu Diana masuk akal bagi kami untuk menaikkan dana tahunan yayasan?”
Meski sempat diam sejenak karena keraguan, Diana akhirnya tetap mengangguk. “Tentu saja, Bapak. Sebab menurut saya, keberadaan yayasan selama ini telah menjadi salah satu penopang reputasi perusahaan.”
“Menurut siapa? Menurut Anda?” Pak Banu, direktur operasional mengulang ucapan Diana. “Bu Diana, memang, tidak bisa dimungkiri yayasan adalah salah satu bentuk SCR perusahaan yang paling terkenal di publik. Tapi, menganggapnya satu-satunya juga tidaklah tepat.”
“Benar, Bapak. Saya pun tidak menganggap yayasan sebagai satu-satunya penopang perusahaan,” lanjut Diana. “Hanya saja, perlu kita akui bahwa yayasan merupakan salah satu penopang paling besar.”
“Ini bukan hanya menurut Bu Diana,” Tama, direktur CSR sekaligus sahabat Diana berdiri. Bibirnya tersenyum, memberi kode pada wanita tiga puluh tahun tersebut untuk tenang. “Melainkan menurut data komunikasi publik terbaru kita. Bukankah begitu, Bu Prani?”
Satu-satunya direktur perempuan di ruangan itu akhirnya menangguk. “Benar sekali. Hingga saat ini, masih sangat banyak publik yang setia pada produk-produk kita karena percaya pada kemanusiaan yang menjadi visi dan misi perusahaan.”
“Tetap saja, kita tidak bisa menjadikan ini satu-satunya parameter.” Pak Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya. “Keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja saat ini terutama setelah kegagalan ekspansi pertengahan tahun kemarin. Menaikkan anggaran sebesar dua puluh persen …, akan sangat sulit dilakukan.”
“Tapi bukan tidak mungkin, kan, Pak?”
“Memang, Pak Tama.” Pak Hadi yang menjawab. Suara seraknya membuat Diana dan Tama kembali saling tatap satu sama lain. “Bu Diana, kami akan membahas terlebih dulu usulan Ibu. Dan, akan segera kami umumkan beberapa hari lagi.”
*_*
Di tempat yang berbeda di Hongkong, seorang pria tiga puluh dua tahun menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
Tubuh pria tersebut dibiarkan tanpa atasan, sementara bagian bawahnya hanya dibungkus handuk. Dia tersenyum, tipis sebelum seorang perempuan datang memeluknya dari belakang. Membuat si pria berbunga-bunga, dan dengan cepat menoleh ke belakang untuk menyambut kekasihnya ke pelukannya.
“Selamat pagi, Sayang!” Dia menjatuhkan kecupan lembut ke pipi wanita berambut panjang, hitam bergelombang dengan pakaian merah jambu di pelukannya.
Si wanita tersipu, mengelus kedua pipi kekasihnya sebelum berkata, “Apa kau yakin dengan semalam?”
“Tentu saja. Kenapa tidak? Memangnya kamu tidak mau menjadi istriku?”
“Tentu saja mau, Devan! Apa sih yang tidak?”
Pria bernama Devan Sanjaya tersebut tertawa, mengangkat tubuh kecil Joane kembali ke luar kamar mandi. Lalu, membawanya ke kursi di meja makan untuk menyantap sarapan sederhana mereka di apartemen. Masakan yang Devan masak sendiri dengan penuh cinta untuk perempuan yang paling dia cintai.
“Tapi, Sayang, apakah nenekmu sudah setuju?” Gadis dua puluh tujuh tahun tersebut bertanya sebelum bokongnya menyentuh bantalan kursi. Yang langsung membuat ekspresi Devan berubah. “Aku tidak mau kita menikah tanpa restu orang tuamu.”
“Sayang.” Devan menggeleng pelan. “Dengar! Pernikahan ini akan tetap terjadi apa pun yang terjadi. Dengan atau tanpa restu Oma, kita akan tetap menikah, sebab tak akan ada yang bisa memisahkan kita …, sekalipun itu nenekku sendiri.”
“Tapi ….”
“Hsst!” Devan menempelkan jarinya ke bibir besar Joane, meminta kekasihnya tak melanjutkan kata-kata menyakitkan dari mulutnya. “Oma akan setuju. Oma pasti setuju. Kalau tidak, akan kubuat dia tak punya pilihan lain selain setuju. Aku bersumpah untuk itu.”
“Jadi, kamu nggak langsung berangkat dari mereka?”Diana menjawab pertanyaan Tama dengan gelengan. “aku akan menyelesaikan dulu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diaudit. Setelah itu baru aku akan menyusul.”“Kupikir itu cukup bijaksana,” kata Tama dengan senyum mengembang di wajahnya. Sementara kedua matanya fokus memandang jalanan, melajukan mobilnya di tengah padatnya jalan di Ibukota. “Kalau kamu tidak keberatan, barangkali aku bisa ikut.”“Kamu mau ikut?” Diana menatap sahabatnya itu tidak percaya. “Ini bukan karya wisata, Tama.”“Tentu saja, Di. Siapa yang bilang ini karya wisata?” Tama terkekeh, akan tetapi detik berikutnya wajahnya kembali serius. “Aku akan segera menyelesaikan semua tugasku di kantor agar nantinya saat kita berada di Sumatera …, bisa lebih fokus.” “Menurut orang-orang di lapangan, akses di sana masih sangat sulit, Tam. Ada banyak sekali bantuan dan logistik yang siap dikirim belum bisa sampai ke masyarakat sampai sekarang karena akses yang masih terputus
“Anak seperti dia? Terpilih menjadi pewaris? Bukankah ini konyol?”Devan masih bisa mengingat dengan jelas semua pernyataan itu meski belasan tahun telah berlalu. Harus diakui, dia memang bukan ayahnya. Dia bukan orang hebat seperti Angga. Dia juga bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang lahir secara kebetulan di keluarga kaya yang bergelimang harta dan mendapat kemudahan dari semua fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya. Masalahnya, apakah semua itu kesalahannya? Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memilih Di mana mereka akan dilahirkan. Kalau saja Tuhan memberi pilihan kepada manusia untuk itu, Devan bisa pastikan tak akan banyak orang yang mau dilahirkan. Takkan ada yang mau menjadi anak yang tidak diinginkan. Tak akan ada yang mau menjadi anak dari perempuan seperti ibunya. Dan tak akan ada yang mau, begitu dilahirkan kemudian langsung dibuang seperti anak-anak yang ada di panti asuhan. Devan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang panti asuhan Tangan Kita. T
“Terima kasih, Pak Arman. Kami sangat menghargai bantuan pribadi Bapak.”Ucapan Diana dijawab anggukan kecil oleh pria berkacamata tersebut. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya, Pak Arman menerangkan, “Semoga saja ini bisa membantu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya.”“Sejujurnya sampai saat ini saya masih sangat membutuhkan dukungan Bapak soal pengajuan dana untuk yayasan. Karena tidak ada yang lebih saya butuhkan selain itu sekarang.”Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir Pak Arman saat mendengar kalimat itu. Pria paruh baya tersebut seolah-olah memang sengaja tak ingin membantu Diana. Atau justru di sana lah titik sebenarnya berawal. Dan Diana tahu persis apa yang dihadapi sekarang.Berbeda dengan Pak Anggara yang dikenal sangat peduli kepada panti asuhan, sang adik memang sejak awal memiliki orientasi tersendiri tentang arah perusahaan. Namun sayang, putra dari kedua pria itu memilih jalan yang justru berseberangan dengan orang t
“Ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya Oma memikirkanmu sepanjang malam?” Adalah sang nenek yang menyambutnya pagi itu. Setelah puas mengomel, wanita tua di kursi roda itu justru memintanya mendekat. Kemudian menghujani Devan dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Berulang kali. Seolah-olah pria 32 tahun itu adalah seorang bayi berusia 3 bulan. Yang ketiga Devan protes justru dijawab dengan, “Oma sangat rindu padamu! Peduli apa Oma dengan usiamu?! Kau tetap baik di mata Oma!”Dari arah pintu, seorang pemuda lain yang sangat Devan kenali datang. Utama menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan tawa yang tak tertahankan. Karena sekeras apapun usahanya bertahan, ternyata tamat tak cukup kuat untuk tidak tertawa. “Bisa kau berhenti, Bajingan Kecil!” Devan berpura-pura menghendak meninju sang adik dari kejauhan. Membuat tawa Utama Sanjaya semakin kencang. Sambil berjalan mendekat, Tama berkata, “Harusnya akulah yan
Memang apa salahnya menjadi anak kedua?Nyatanya, Arman tidak pernah bisa memilih kapan dan di mana dia dilahirkan. Lalu, mengapa segalanya menjadi lebih sulit baginya ketimbang sang kakak? Sejak kecil Arman sadar betul kalau dia tidak pernah menjadi pilihan utama. Mama dan Papa hanya akan membawan
“Dia bilang begitu?” Mata Tama nyaris copot saat Diana menceritakan pengalaman tak mengenakan itu kepadanya. “Kak Devan? Serius?”Diana melipat bibir, tangannya mengaduk-aduk isi gelas di hadapannya seolah tidak bertenaga. “Begitulah. Sangat menyebalkan, bukan?” Diiringi decitan kecil. “Dia bahkan s
“Sudahlah, Mam. Kalau dia memang mau kembali, dia pasti akan sampai di rumah ini.” Oma Windu yang sedari tadi menunggu keberadaan cucu sulungnya di ruang tamu mendadak menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara putra bungsunya datang. “Mam, Devan sudah besar!” Pak Arman melanjutkan sambil membe
“Kamu percaya mereka akan menaikkan dana kembali begitu keuangan perusahaan naik? Kamu percaya itu akan terjadi dalam waktu dekat?” Pertanyaan retorik tersebut keluar dari mulut Diana persis ketika mereka meninggalkan ruang rapat, membuat Tama yang berjalan di sampingnya hanya bisa terdiam. Tidak t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.