Perjanjian Dua Cinta

Perjanjian Dua Cinta

last updateLast Updated : 2026-04-01
By:  NandreansOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
15Chapters
1.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi panti asuhan yang dia pertahankan, Diana rela menikah dengan Devan Sanjaya, pewaris Sanjaya Group yang nyaris dicoret dari daftar pewaris akibat skandal masa lalunya. Mereka pun bekerja sama mempertahankan misi masing-masing sampai suatu ketika benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.

View More

Chapter 1

Satu : Yayasan Tangan Kita

“..., berdasarkan pertimbangan inilah Yayasan Tangan Kita meminta tambahan dana tahunan sebesar dua puluh persen.” Dengan penuh percaya diri Diana mengakhiri presentasinya. “Kenaikan ini tidak hanya demi kelancaran agenda-agenda tahunan tetapi juga menopang kebutuhan anak-anak di bawah yayasan yang saat ini sedang menempuh study baik di luar maupun di dalam negeri.”

“Bukankah Anda bilang tadi banyak anak-anak kita yang menerima bantuan beasiswa di luar yayasan?” Pak Yoga, direktur keuangan mengangkat tangan. Bertanya dengan wajah serius sambil membolak-balik dokumen di hadapannya. 

Diana tersenyum, memindah tampilan slide presentasi ke materi yang dimaksud sebelum menjawab, “Memang benar, Bapak. Banyak sekali anak-anak di Yayasan Tangan Kita yang berhasil mendapatkan beasiswa prestasi baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Namun, justru karena itulah kami berharap perusahaan mau memberikan kenaikan dana untuk tahun depan. Mengingat jumlah anak-anak di yayasan terus bertambah. Dengan kenaikan ini, diharapkan dapat semakin memperbaiki kualitas pendidikan dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak.”

Pak Hadi, pria gempal yang duduk di ujung bangku panjang sebagai pemimpin rapat manggut-manggut sebelum ikut bicara, “Berapa banyak jumlah anak-anak yang mendapat beasiswa dari dalam dan luar yayasan? Dan, apakah banyak dari mereka yang bisa menyelesaikan studinya dengan baik?”

“Berdasarkan data kami, memang secara persentase jumlah penerima beasiswa dari tahun ke tahun masih didominasi oleh yayasan terutama untuk jenjang sekolah dasar dan menengah. Mengingat, anak-anak di usia inilah yang mendominasi penghuni panti asuhan kita. Hanya saja, di perguruan tinggi, setidaknya setengah di antaranya mendapatkan beasiswa prestasi dari luar yayasan.” Diana kembali menampilkan data yang telah dia susun rapi sebelumnya. “Akan tetapi, perlu diingat, Bapak. Bahwa untuk sampai di titik ini, anak-anak tetap memerlukan banyak dana untuk persiapan beasiswa dan itu tidak sedikit.”

“Tapi …, Anda tahu kan bila keuangan perusahaan sekarang sedang tidak stabil?” Pak Gugun, direktur pemasaran akhirnya ikut menyahut. Sambil melepaskan kacamata bacanya, beliau menatap Diana sungguh-sungguh. “Ada banyak lini di perusahaan yang mendapat pemangkasan karena efisiensi, jadi apakah menurut Bu Diana masuk akal bagi kami untuk menaikkan dana tahunan yayasan?”

Meski sempat diam sejenak karena keraguan, Diana akhirnya tetap mengangguk. “Tentu saja, Bapak. Sebab menurut saya, keberadaan yayasan selama ini telah menjadi salah satu penopang reputasi perusahaan.”

“Menurut siapa? Menurut Anda?” Pak Banu, direktur operasional mengulang ucapan Diana. “Bu Diana, memang, tidak bisa dimungkiri yayasan adalah salah satu bentuk SCR perusahaan yang paling terkenal di publik. Tapi, menganggapnya satu-satunya juga tidaklah tepat.”

“Benar, Bapak. Saya pun tidak menganggap yayasan sebagai satu-satunya penopang perusahaan,” lanjut Diana. “Hanya saja, perlu kita akui bahwa yayasan merupakan salah satu penopang paling besar.”

“Ini bukan hanya menurut Bu Diana,” Tama, direktur CSR sekaligus sahabat Diana berdiri. Bibirnya tersenyum, memberi kode pada wanita tiga puluh tahun tersebut untuk tenang. “Melainkan menurut data komunikasi publik terbaru kita. Bukankah begitu, Bu Prani?”

Satu-satunya direktur perempuan di ruangan itu akhirnya menangguk. “Benar sekali. Hingga saat ini, masih sangat banyak publik yang setia pada produk-produk kita karena percaya pada kemanusiaan yang menjadi visi dan misi perusahaan.”

“Tetap saja, kita tidak bisa menjadikan ini satu-satunya parameter.” Pak Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya. “Keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja saat ini terutama setelah kegagalan ekspansi pertengahan tahun kemarin. Menaikkan anggaran sebesar dua puluh persen …, akan sangat sulit dilakukan.”

“Tapi bukan tidak mungkin, kan, Pak?” 

“Memang, Pak Tama.” Pak Hadi yang menjawab. Suara seraknya membuat Diana dan Tama kembali saling tatap satu sama lain. “Bu Diana, kami akan membahas terlebih dulu usulan Ibu. Dan, akan segera kami umumkan beberapa hari lagi.”

*_*

Di tempat yang berbeda di Hongkong, seorang pria tiga puluh dua tahun menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. 

Tubuh pria tersebut dibiarkan tanpa atasan, sementara bagian bawahnya hanya dibungkus handuk. Dia tersenyum, tipis sebelum seorang perempuan datang memeluknya dari belakang. Membuat si pria berbunga-bunga, dan dengan cepat menoleh ke belakang untuk menyambut kekasihnya ke pelukannya. 

“Selamat pagi, Sayang!” Dia menjatuhkan kecupan lembut ke pipi wanita berambut panjang, hitam bergelombang dengan pakaian merah jambu di pelukannya.

Si wanita tersipu, mengelus kedua pipi kekasihnya sebelum berkata, “Apa kau yakin dengan semalam?”

“Tentu saja. Kenapa tidak? Memangnya kamu tidak mau menjadi istriku?” 

“Tentu saja mau, Devan! Apa sih yang tidak?”

Pria bernama Devan Sanjaya tersebut tertawa, mengangkat tubuh kecil Joane kembali ke luar kamar mandi. Lalu, membawanya ke kursi di meja makan untuk menyantap sarapan sederhana mereka di apartemen. Masakan yang Devan masak sendiri dengan penuh cinta untuk perempuan yang paling dia cintai. 

“Tapi, Sayang, apakah nenekmu sudah setuju?” Gadis dua puluh tujuh tahun tersebut bertanya sebelum bokongnya menyentuh bantalan kursi. Yang langsung membuat ekspresi Devan berubah. “Aku tidak mau kita menikah tanpa restu orang tuamu.”

“Sayang.” Devan menggeleng pelan. “Dengar! Pernikahan ini akan tetap terjadi apa pun yang terjadi. Dengan atau tanpa restu Oma, kita akan tetap menikah, sebab tak akan ada yang bisa memisahkan kita …, sekalipun itu nenekku sendiri.”

“Tapi ….”

“Hsst!” Devan menempelkan jarinya ke bibir besar Joane, meminta kekasihnya tak melanjutkan kata-kata menyakitkan dari mulutnya. “Oma akan setuju. Oma pasti setuju. Kalau tidak, akan kubuat dia tak punya pilihan lain selain setuju. Aku bersumpah untuk itu.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
15 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status