LOGINDemi panti asuhan yang dia pertahankan, Diana rela menikah dengan Devan Sanjaya, pewaris Sanjaya Group yang nyaris dicoret dari daftar pewaris akibat skandal masa lalunya. Mereka pun bekerja sama mempertahankan misi masing-masing sampai suatu ketika benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.
View More“Jadi, kamu nggak langsung berangkat dari mereka?”Diana menjawab pertanyaan Tama dengan gelengan. “aku akan menyelesaikan dulu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diaudit. Setelah itu baru aku akan menyusul.”“Kupikir itu cukup bijaksana,” kata Tama dengan senyum mengembang di wajahnya. Sementara kedua matanya fokus memandang jalanan, melajukan mobilnya di tengah padatnya jalan di Ibukota. “Kalau kamu tidak keberatan, barangkali aku bisa ikut.”“Kamu mau ikut?” Diana menatap sahabatnya itu tidak percaya. “Ini bukan karya wisata, Tama.”“Tentu saja, Di. Siapa yang bilang ini karya wisata?” Tama terkekeh, akan tetapi detik berikutnya wajahnya kembali serius. “Aku akan segera menyelesaikan semua tugasku di kantor agar nantinya saat kita berada di Sumatera …, bisa lebih fokus.” “Menurut orang-orang di lapangan, akses di sana masih sangat sulit, Tam. Ada banyak sekali bantuan dan logistik yang siap dikirim belum bisa sampai ke masyarakat sampai sekarang karena akses yang masih terputus
“Anak seperti dia? Terpilih menjadi pewaris? Bukankah ini konyol?”Devan masih bisa mengingat dengan jelas semua pernyataan itu meski belasan tahun telah berlalu. Harus diakui, dia memang bukan ayahnya. Dia bukan orang hebat seperti Angga. Dia juga bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang lahir secara kebetulan di keluarga kaya yang bergelimang harta dan mendapat kemudahan dari semua fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya. Masalahnya, apakah semua itu kesalahannya? Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memilih Di mana mereka akan dilahirkan. Kalau saja Tuhan memberi pilihan kepada manusia untuk itu, Devan bisa pastikan tak akan banyak orang yang mau dilahirkan. Takkan ada yang mau menjadi anak yang tidak diinginkan. Tak akan ada yang mau menjadi anak dari perempuan seperti ibunya. Dan tak akan ada yang mau, begitu dilahirkan kemudian langsung dibuang seperti anak-anak yang ada di panti asuhan. Devan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang panti asuhan Tangan Kita. T
“Terima kasih, Pak Arman. Kami sangat menghargai bantuan pribadi Bapak.”Ucapan Diana dijawab anggukan kecil oleh pria berkacamata tersebut. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya, Pak Arman menerangkan, “Semoga saja ini bisa membantu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya.”“Sejujurnya sampai saat ini saya masih sangat membutuhkan dukungan Bapak soal pengajuan dana untuk yayasan. Karena tidak ada yang lebih saya butuhkan selain itu sekarang.”Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir Pak Arman saat mendengar kalimat itu. Pria paruh baya tersebut seolah-olah memang sengaja tak ingin membantu Diana. Atau justru di sana lah titik sebenarnya berawal. Dan Diana tahu persis apa yang dihadapi sekarang.Berbeda dengan Pak Anggara yang dikenal sangat peduli kepada panti asuhan, sang adik memang sejak awal memiliki orientasi tersendiri tentang arah perusahaan. Namun sayang, putra dari kedua pria itu memilih jalan yang justru berseberangan dengan orang t
“Ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya Oma memikirkanmu sepanjang malam?” Adalah sang nenek yang menyambutnya pagi itu. Setelah puas mengomel, wanita tua di kursi roda itu justru memintanya mendekat. Kemudian menghujani Devan dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Berulang kali. Seolah-olah pria 32 tahun itu adalah seorang bayi berusia 3 bulan. Yang ketiga Devan protes justru dijawab dengan, “Oma sangat rindu padamu! Peduli apa Oma dengan usiamu?! Kau tetap baik di mata Oma!”Dari arah pintu, seorang pemuda lain yang sangat Devan kenali datang. Utama menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan tawa yang tak tertahankan. Karena sekeras apapun usahanya bertahan, ternyata tamat tak cukup kuat untuk tidak tertawa. “Bisa kau berhenti, Bajingan Kecil!” Devan berpura-pura menghendak meninju sang adik dari kejauhan. Membuat tawa Utama Sanjaya semakin kencang. Sambil berjalan mendekat, Tama berkata, “Harusnya akulah yan
“Kamu apa-apaan sih, Sayang? Bisa-bisanya kamu mengamuk seperti tadi! Kamu membuat aku malu, tahu!”Pernyataan Joane langsung membuat Devan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Kemudian, dia berbalik untuk menatap wajah perempuan di hadapannya dengan tak percaya. “Kamu bilang apa? Malu? Haru
Ada dua tipe manusia di dunia menurut Diana; satu, yang pandai menyembunyikan perasaan dan yang kedua, sebaliknya, tidak bisa menutupi luka hatinya sekeras apa pun dia mencobanya. “Kamu pikir, kamu tipe yang mana?” Michele, sahabatnya, perempuan berambut pendek yang kini duduk di hadapannya bertany
Ketika mendengar kabar banjir bandang yang meluluh lantakkan Sumatera bagian utara di akhir November kemarin, Diana memang bisa langsung terbang ke sana. Mengingat, selain akses yang masih sulit, kesibukan persiapan pengajuan dana yayasan pun menyita banyak waktunya. Bukan karena nasib rekan dan ana
“Akhirnya, kita bisa bernapas lega!” seru Diana ketika mereka sampai di kantin. Dia duduk di kursi sambil membawa nampan berisi semangkuk bakso panas dan es jeruk, sementara Tama yang duduk di seberangnya memilih hanya menyantap roti bakar dan kopi dalam gelas kertas. “Kalau tidak ada kamu, aku tida
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.