แชร์

Tiga : Bencana Sumatera

ผู้เขียน: Nandreans
last update วันที่เผยแพร่: 2022-09-03 10:22:24

Ketika mendengar kabar banjir bandang yang meluluh lantakkan Sumatera bagian utara di akhir November kemarin, Diana memang bisa langsung terbang ke sana. Mengingat, selain akses yang masih sulit, kesibukan persiapan pengajuan dana yayasan pun menyita banyak waktunya. Bukan karena nasib rekan dan anak-anaknya di sana tidak penting, hanya saja ini soal prioritas. 

“Kalau kamu berangkat, justru akan semakin runyam,” ujar Tama di sambungan telepon. “Kamu di sini kan tidak diam. Kamu sedang mengusahakan nasib mereka juga, kan, Diana.” 

Iya. Diana tahu tapi masalahnya tidak semudah itu bersikap semua akan baik-baik saja. Terlebih hampir setiap hari dia dilanda perasaan was-was menunggu kabar adik-adiknya yang ada di panti asuhan di Aceh. 

“Mendingan kamu sekarang istirahat dulu. Tenangkan pikiranmu supaya bisa berpikir lebih jernih,” lanjut Tama dengan suara melembut. “Karena yang sekarang mereka butuhkan bukan pemimpin yang kalut, melainkan pemimpin yang bisa diandalkan. Dan, Di, dengar! Kamu bukan Tuhan. Wajar kalau kamu punya keterbatasan. Akui saja itu.”

Diana menyeka air mata yang tergenang di sudut matanya, kemudian menarik dan embuskan napas lewat mulut, berharap bisa menemukan ketenangan. Sayangnya, semakin dia mencoba hilangkan sesak, semakin sesak juga dadanya. “Aku bingung, Tam.”

“Bingung kenapa, Diana? Kan aku sudah bilang, tenangkan dirimu.”

“Aku tidak tahu harus apa. Anak-anak terus ditemukan tewas setiap hari. Padahal mereka anak-anak yang manis dan berprestasi. Kita terus kehilangan setiap hari.” Nyatanya, tangis Diana tak bisa dibendung. Air matanya tetap jatuh juga. “Kenapa, Tuhan? Kenapa harus mereka?”

Di kamar tidurnya di seberang telepon, Tama yang mendengar ungkapan getir Diana hanya bisa terdiam. Dia tahu persis betapa sensitif perasaan sahabatnya satu ini. Diana sejak dulu memang punya hati yang besar, yang bisa menampung banyak hal terutama luka-luka yang dirasakan orang di sekitar. 

Utama Sanjaya tahu betapa lembut Diana. Kelembutan yang tak bakal ditemukan pada diri siapapun selain gadis berkulit putih dengan mata besar dan pipi kemerahan tersebut. 

“Istighfar, Diana. Semua sudah ketetapan Tuhan!” pinta Tama. “Kamu tidak boleh meragukan rencana Tuhan. Karena aku yakin, Tuhan tidak akan melakukan sesuatu tanpa maksud yang indah di masa depan.”

*_*

Masalahnya, masa depan seperti apa yang dibangun atas kesengsaraan manusia lain?

“Kamu mau ke mana?” Devan yang baru saja pulang ke apartemen mendapati kekasihnya telah berdiri di depan pintu. Hendak keluar, gadis itu dibalut gaun indah berwarna hitam.

Bibirnya yang merah menjawab, “Hanya keluar sebentar.” Sambil mengelus wajah Devan dengan jari-jarinya yang cantik. “Aku cuma ingin bertemu dengan teman-temanmu. Kamu tidak keberatan, kan?”

“Sama sekali tidak.” Devan menyentuh pinggang Joane, melingkarkan tangan besarnya di perut mungil sang kekasih sebelum mencium bibir lembut itu dengan kehati-hatian. “Jangan pulang malam-malam ya. Kita kan ada janji makan bersama nanti.”

Joane mengangguk. “Pasti dong, Sayang. Pasti.”

Tidak ada yang lebih menggembirakan bagi seorang Devan selain bisa hidup bahagia bersama perempuan yang dia cinta setengah mati ini. Joane alias Joana Hartanto. Perempuan yang telah membuatnya mabuk kepayang sejak masih sama-sama duduk di bangku kuliah ketika mereka menempuh pendidikan di Singapura beberapa tahun yang lalu. Sekaligus manusia pertama pertama yang membuatnya yakin bahwa cinta memang ada. Dan, sebagai pria malang yang bahkan tak diinginkan oleh ibu kandungnya sendiri, Devan ternyata masih bisa mendapatkan cinta dari wanita lain. 

Tidak peduli seberapa besar cobaan yang mesti mereka lalui, terlebih dari keluarganya sendiri. 

“Kan Oma sudah bilang, hentikan hubunganmu dengan Joana!” terang sang nenek setiap kali Devan menelepon. “Sampai kapanpun Oma tak akan merestui hubunganmu dengannya.”

“Kenapa, Oma? Apakah ini soal keyakinan?” desak Devan, tidak terima. “Aku rasa dunia sudah tidak seharusnya menerima pemikiran kolot semacam itu. Selain tak relevan, cinta harusnya tanpa batas. Melarang dua manusia yang jatuh cinta bersama, sama dengan mengingkari kemanusiaan.”

Oma malah meresponsnya dengan tepukkan di kening. “Dasar bocah gemblung!” umpat wanita lansia itu putus asa. “Kamu kan tahu siapa keluarga Hartanto. Mereka saingan bisnis keluarga kita. Ingat?”

“Nah, ini lebih tidak masuk akal lagi!”  bantah Devan. “Menghalangi cinta demi uang, tidakkah ini terlalu materialistis? Sejak kapan Om berpikiran picik begini? Devan benar-benar tidak habis pikir.”

“Apa katamu?”

“Bukankah sudah sangat jelas?” Devan justru memotong ucapan neneknya dengan air muka memelas. “Oma menganggap hubunganku dengan Joane sebagai transaksi bisnis semata. Padahal jelas, hubungan kami lebih dari itu.” Dia mengelus dada. “Devan tidak mau hidup seperti Oma dan Opa!”

“Maksudmu?”

“Devan tidak mau menikah dengan perjodohan bisnis, Oma!” rengeknya. “Devan tidak mau menghabiskan seumur hidup Devan dengan orang yang tidak Devan cinta. Meskipun Oma bilang, Oma mencintai Opa, tapi …, tetap saja tidak semua orang bisa seperti kalian. Dan, Devan bukanlah tipe orang seperti itu.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima Belas: Dia Wanita Yang Kukagumi

    “Jadi, kamu nggak langsung berangkat dari mereka?”Diana menjawab pertanyaan Tama dengan gelengan. “aku akan menyelesaikan dulu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diaudit. Setelah itu baru aku akan menyusul.”“Kupikir itu cukup bijaksana,” kata Tama dengan senyum mengembang di wajahnya. Sementara kedua matanya fokus memandang jalanan, melajukan mobilnya di tengah padatnya jalan di Ibukota. “Kalau kamu tidak keberatan, barangkali aku bisa ikut.”“Kamu mau ikut?” Diana menatap sahabatnya itu tidak percaya. “Ini bukan karya wisata, Tama.”“Tentu saja, Di. Siapa yang bilang ini karya wisata?” Tama terkekeh, akan tetapi detik berikutnya wajahnya kembali serius. “Aku akan segera menyelesaikan semua tugasku di kantor agar nantinya saat kita berada di Sumatera …, bisa lebih fokus.” “Menurut orang-orang di lapangan, akses di sana masih sangat sulit, Tam. Ada banyak sekali bantuan dan logistik yang siap dikirim belum bisa sampai ke masyarakat sampai sekarang karena akses yang masih terputus

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat Belas: Salah Paham

    “Anak seperti dia? Terpilih menjadi pewaris? Bukankah ini konyol?”Devan masih bisa mengingat dengan jelas semua pernyataan itu meski belasan tahun telah berlalu. Harus diakui, dia memang bukan ayahnya. Dia bukan orang hebat seperti Angga. Dia juga bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang lahir secara kebetulan di keluarga kaya yang bergelimang harta dan mendapat kemudahan dari semua fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya. Masalahnya, apakah semua itu kesalahannya? Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memilih Di mana mereka akan dilahirkan. Kalau saja Tuhan memberi pilihan kepada manusia untuk itu, Devan bisa pastikan tak akan banyak orang yang mau dilahirkan. Takkan ada yang mau menjadi anak yang tidak diinginkan. Tak akan ada yang mau menjadi anak dari perempuan seperti ibunya. Dan tak akan ada yang mau, begitu dilahirkan kemudian langsung dibuang seperti anak-anak yang ada di panti asuhan. Devan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang panti asuhan Tangan Kita. T

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga Belas: Sumbangan Pribadi Arman

    “Terima kasih, Pak Arman. Kami sangat menghargai bantuan pribadi Bapak.”Ucapan Diana dijawab anggukan kecil oleh pria berkacamata tersebut. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya, Pak Arman menerangkan, “Semoga saja ini bisa membantu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya.”“Sejujurnya sampai saat ini saya masih sangat membutuhkan dukungan Bapak soal pengajuan dana untuk yayasan. Karena tidak ada yang lebih saya butuhkan selain itu sekarang.”Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir Pak Arman saat mendengar kalimat itu. Pria paruh baya tersebut seolah-olah memang sengaja tak ingin membantu Diana. Atau justru di sana lah titik sebenarnya berawal. Dan Diana tahu persis apa yang dihadapi sekarang.Berbeda dengan Pak Anggara yang dikenal sangat peduli kepada panti asuhan, sang adik memang sejak awal memiliki orientasi tersendiri tentang arah perusahaan. Namun sayang, putra dari kedua pria itu memilih jalan yang justru berseberangan dengan orang t

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua Belas: Devan Sanjaya dan Jalan Hidupnya

    “Ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya Oma memikirkanmu sepanjang malam?” Adalah sang nenek yang menyambutnya pagi itu. Setelah puas mengomel, wanita tua di kursi roda itu justru memintanya mendekat. Kemudian menghujani Devan dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Berulang kali. Seolah-olah pria 32 tahun itu adalah seorang bayi berusia 3 bulan. Yang ketiga Devan protes justru dijawab dengan, “Oma sangat rindu padamu! Peduli apa Oma dengan usiamu?! Kau tetap baik di mata Oma!”Dari arah pintu, seorang pemuda lain yang sangat Devan kenali datang. Utama menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan tawa yang tak tertahankan. Karena sekeras apapun usahanya bertahan, ternyata tamat tak cukup kuat untuk tidak tertawa. “Bisa kau berhenti, Bajingan Kecil!” Devan berpura-pura menghendak meninju sang adik dari kejauhan. Membuat tawa Utama Sanjaya semakin kencang. Sambil berjalan mendekat, Tama berkata, “Harusnya akulah yan

  • Perjanjian Dua Cinta   Sebelas: Pewaris Utama, Bukan Pertama

    Memang apa salahnya menjadi anak kedua?Nyatanya, Arman tidak pernah bisa memilih kapan dan di mana dia dilahirkan. Lalu, mengapa segalanya menjadi lebih sulit baginya ketimbang sang kakak? Sejak kecil Arman sadar betul kalau dia tidak pernah menjadi pilihan utama. Mama dan Papa hanya akan membawanya ke acara bila sang kakak tidak bersedia hadir. Padahal, tanpa keduanya ketahui, anak yang mereka jadikan bayangan ini jauh lebih kompeten ketimbang putra kebanggaannya. Sebab satu-satunya yang Arman tahu dalam hidupnya hanyalah menghabiskan uang kedua orang tuanya. Tanpa ampun. “Dari mana kamu?” Masih terekam jelas di kepala Arman bagaimana mamanya selalu menginterogasi Angga tiap kali pria –yang masa itu masih remaja –tersebut pulang dini hari dalam kondisi mabuk. Yang selalu konsisten Angga jawab dengan. “Sudahlah, Ma! Seperti tidak pernah muda saja.”“Apa katamu?” Yang bisa dipastikan akan membuat sang mama mendelik, kaget. Tapi, kenapa? Bukankah hampir tiap waktu Angga bicara sekas

  • Perjanjian Dua Cinta   Sepuluh: Pewaris Yang Sebenarnya?

    “Dia bilang begitu?” Mata Tama nyaris copot saat Diana menceritakan pengalaman tak mengenakan itu kepadanya. “Kak Devan? Serius?”Diana melipat bibir, tangannya mengaduk-aduk isi gelas di hadapannya seolah tidak bertenaga. “Begitulah. Sangat menyebalkan, bukan?” Diiringi decitan kecil. “Dia bahkan sama sekali tidak memikirkan nasib anak-anak di yayasan.”Air muka Tama memelas, mengandung rasa bersalah yang teramat sangat. “Maafkan aku ya, Di.”“Kok malah kamu yang minta maaf?”“Karena kakakku –”“Dia orang dewasa, bukan anak kecil!” tegas Diana. “Dia ya dia. Kamu ya kamu. Kalian sangat jauh berbeda, Tama. Aku tahu seberapa besar komitmen kamu pada panti asuhan. Tidak ada yang berhak menyalahkanmu hanya karena argumen konyol kakakmu. Kalian memang sedarah, tapi tidak dengan isi kepala.” Bibir Tama akhirnya mengulas senyum, lembut. Dia menatap balik Diana penuh rasa syukur. “Terima kasih, Diana.”“Tidak perlu berterima kasih. Lagipula, untuk apa? Justru aku yang seharusnya berterima kas

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima: Keputusan Dewan Direksi

    “Kamu apa-apaan sih, Sayang? Bisa-bisanya kamu mengamuk seperti tadi! Kamu membuat aku malu, tahu!”Pernyataan Joane langsung membuat Devan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Kemudian, dia berbalik untuk menatap wajah perempuan di hadapannya dengan tak percaya. “Kamu bilang apa? Malu? Haru

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat : Utama Sanjaya, Pewaris Kedua

    Ada dua tipe manusia di dunia menurut Diana; satu, yang pandai menyembunyikan perasaan dan yang kedua, sebaliknya, tidak bisa menutupi luka hatinya sekeras apa pun dia mencobanya. “Kamu pikir, kamu tipe yang mana?” Michele, sahabatnya, perempuan berambut pendek yang kini duduk di hadapannya bertany

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua : Dia Bernama Diana

    “Akhirnya, kita bisa bernapas lega!” seru Diana ketika mereka sampai di kantin. Dia duduk di kursi sambil membawa nampan berisi semangkuk bakso panas dan es jeruk, sementara Tama yang duduk di seberangnya memilih hanya menyantap roti bakar dan kopi dalam gelas kertas. “Kalau tidak ada kamu, aku tida

  • Perjanjian Dua Cinta   Satu : Yayasan Tangan Kita

    “..., berdasarkan pertimbangan inilah Yayasan Tangan Kita meminta tambahan dana tahunan sebesar dua puluh persen.” Dengan penuh percaya diri Diana mengakhiri presentasinya. “Kenaikan ini tidak hanya demi kelancaran agenda-agenda tahunan tetapi juga menopang kebutuhan anak-anak di bawah yayasan yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status