Home / Rumah Tangga / Perjanjian Dua Cinta / Empat : Utama Sanjaya, Pewaris Kedua

Share

Empat : Utama Sanjaya, Pewaris Kedua

Author: Nandreans
last update Petsa ng paglalathala: 2022-09-03 10:22:46

Ada dua tipe manusia di dunia menurut Diana; satu, yang pandai menyembunyikan perasaan dan yang kedua, sebaliknya, tidak bisa menutupi luka hatinya sekeras apa pun dia mencobanya. 

“Kamu pikir, kamu tipe yang mana?” Michele, sahabatnya, perempuan berambut pendek yang kini duduk di hadapannya bertanya serius sambil mengaduk-aduk es krim di dalam gelas.

Yang Diana jawab dengan, “Yang kedua, kupikir.”

“Mana ada?” Michele malah tertawa, meledek. “Kamu itu orang tipe pertama. Paling pandai berpura-pura.” Kemudian menyuapkan es krim cokelat ke mulut Diana. “Mau sampai kapan kamu begini terus?”

“Begini, apanya?”

“Jangan sok bodoh deh!” Michele memutar bola matanya, malas. “Kamu harus bisa move on, Di. Lupakan Martin.”

“Yang bilang aku belum bisa move on, siapa?” sangkal Diana. “Toh, dia sudah menikah sekarang. Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Masa iya aku harus larut dalam kesedihan?”

“Itu tahu.”

“Memang tahu. Dari dulu.”

“Terus, kenapa sampai sekarang belum coba buka hati lagi?” todong Michele. “Jangan karena satu laki-laki, lo jadi menutup pintu hati dari orang baru. Lo juga berhak bahagia, Diana.”

“Gue bahagia.”

“Yakin?”

“Ya.”

“Bukan karena pura-pura?”

Michele Hayati alias Michele Kusnandar sejak dulu memang tidak pernah berubah. Seolah-olah dia jauh lebih tahu segalanya soal Diana lebih ketimbang Diana sendiri. 

Malah, dulu ketika mereka masih tinggal sekasur di kamar panti asuhan yang sempit, belum ada pembangunan besar-besaran waktu itu, Diana ingat bahwa Michele lah yang selalu ada di sisinya. Di setiap senang maupun susah. Di setiap sehat maupun sakit.

“Makanya, jangan macam-macam sama gue!” kata Michele lebih terdengar seperti ancaman. “Jangan lo kira gue nggak tahu isi kepala lo, Di. Jangankan isi kepala, isi perut lo bahkan gue tahu.”

Diana mendesis, tak senang. Menolak mengakui. “Sudah deh. Kita bahas yang lain saja. Jangan bawa-bawa nama orang yang sudah nggak ada lagi di kehidupan kita.”

“Terus, mau bahas apa? Tama?”

“Kok jadi Tama sih?” Diana geleng-geleng kepala, tapi detik berikutnya dia malah mendekatkan badannya ke meja. “Omong-omong soal Tama, aku kepikiran satu hal.”

“Apa?”

Diana tampak ragu sebelum menjelaskan lebih jauh. “Kamu ingat Devan?”

“Devan? Devan? Dev –kakak sepupunya Tama?”

“Iya.”

“Kenapa dia? Sudah lama aku tidak mendengar namanya. Dia di mana sekarang?”

“Hongkong.” Diana mengaduk es krim buah di mangkuknya sebentar. Membiarkannya sedikit cair agar tidak terlalu dingin di dalam mulut. “Yang aku dengar, dia gagal dengan ekspansi bisnisnya di Hongkong. Bukan hanya di Hongkong, tapi Korea dan Amerika dua dan lima tahun lalu.”

“Parah banget.” Michele terlihat tidak percaya. Kaget. Tapi dia sepenuhnya tak menyangkal pernyataan Diana. “Tapi, bukannya dia yang akan mewarisi Sanjaya Grup?”

“Katanya sih begitu.”

“Kenapa bukan Tama saja yang mewarisinya? Kupikir dia lebih layak dan kompeten.”

“Semua orang juga bilang demikian. Masalahnya, Tama tidak tertarik sama sekali. Dia lebih memilih hidup seperti sekarang. Jangankan menjadi pewaris, bekerja sebagai direktur saja membuatnya gila.”

“Tapi kayaknya menjadi pewaris tak akan semumet itu sih, Di.”

Mereka malah tertawa bersama. Menertawakan entah apa. Barangkali juga termasuk kehidupan mereka berdua sendiri yang tidak kunjung kaya. 

*_*

Kehidupan orang kaya selalu membingungkan, setidaknya itulah yang Diana pikirkan selama ini. Sebab tidak seperti orang miskin yang berjuang mencari uang demi mendapat kebahagiaan, orang kaya justru bisa kehilangan kebahagiaan karena terlalu sering menghamburkan uang.

“Uang kehilangan esensinya,” ujar Tama, orang paling relevan untuk membahas topik ini. Mengingat lahir sebagai keturunan keluarga Sanjaya membuatnya hidup dengan akses uang tak terbatas, tapi di sisi lain dia pun tumbuh dengan dikelilingi orang-orang miskin di panti asuhan Tangan Kita. 

Tama memang sudah terbiasa ikut Oma sejak masih kecil, persisnya setelah sang mama meninggal akibat kecelakaan mobil ketika usianya belum genap lima tahun. Itulah kenapa Tama tak begitu punya memori dengan mendiang mamanya. Kecuali lewat cerita-cerita dari neneknya, dan kerabat di sekitar yang menggambarkan Yunia, ibu kandung Tama, sebagai wanita cantik, anggun dan penuh kasih sayang. 

Sayangnya, semua itu tidak pernah benar-benar bisa Tama kenang. Satu-satunya perempuan yang memberinya rumah adalah sang nenek, perempuan yang malam itu menyambutnya pulang di ruang tamu rumah mereka dengan pelukan.

“Oma kok belum tidur?” tanya Tama sembari membalas dekapan wanita berkebaya cokelat tersebut erat.

Dengan muka kecewa, Oma mengajaknya duduk di sofa. “Kakakmu.”

“Dia membuat ulah lagi?” tebak Tama, tepat karena langsung dijawab menggunakan anggukan oleh Oma. “Ya ampun, apa yang dia perbuat kali ini?”

Oma meraih ponsel di atas meja, lalu memberikannya kepada Tama yang dengan sigap langsung mengecek apa yang ada di dalamnya. Sebuah video. Rekaman amatir. Yang dikirim oleh informan keluarga mereka.

Lalu, persis di dua detik pertama, video telah menunjukkan …, “Tunggu! Ini Kak Devan?” Tama mendelik, tak percaya. “Ini benar Kakak, Oma?”

“Menurutmu? Siapa lagi?”

A-astaga!

Tama memang tahu seberapa bodoh kakak sepupunya satu itu, tapi dia tak menyangka kalau Devan akan mempermalukan dirinya sendiri di depan umum seperti orang bodoh. Apalagi hanya alasan perempuan. Joane. Joana. 

Di rekaman amatir tersebut, tampak Devan baru saja memukul muka seorang pria di sebuah restoran, disaksikan puluhan manusia yang sedang menyantap makan malam. Sementara di sebelahnya, Joane tengah mencoba menenangkan Devan, akan tetapi pria itu masih tetap meledak-ledak. Memaki dan mengumpati selingkuhan Joane di muka umum. 

“Orang kita di sana sudah mengurusnya,” ungkap Oma, menahan pahit di mulutnya. Air liurnya sendiri terasa sangat menyiksanya. “Tapi Oma tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila ada wartawan yang mendengar. Bisa-bisa, tidak akan ada lagi yang mau bekerja sama dengan Sanjaya Grup. Belum lagi reputasi kita sedang anjlok-anjloknya saat ini.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima Belas: Dia Wanita Yang Kukagumi

    “Jadi, kamu nggak langsung berangkat dari mereka?”Diana menjawab pertanyaan Tama dengan gelengan. “aku akan menyelesaikan dulu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diaudit. Setelah itu baru aku akan menyusul.”“Kupikir itu cukup bijaksana,” kata Tama dengan senyum mengembang di wajahnya. Sementara kedua matanya fokus memandang jalanan, melajukan mobilnya di tengah padatnya jalan di Ibukota. “Kalau kamu tidak keberatan, barangkali aku bisa ikut.”“Kamu mau ikut?” Diana menatap sahabatnya itu tidak percaya. “Ini bukan karya wisata, Tama.”“Tentu saja, Di. Siapa yang bilang ini karya wisata?” Tama terkekeh, akan tetapi detik berikutnya wajahnya kembali serius. “Aku akan segera menyelesaikan semua tugasku di kantor agar nantinya saat kita berada di Sumatera …, bisa lebih fokus.” “Menurut orang-orang di lapangan, akses di sana masih sangat sulit, Tam. Ada banyak sekali bantuan dan logistik yang siap dikirim belum bisa sampai ke masyarakat sampai sekarang karena akses yang masih terputus

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat Belas: Salah Paham

    “Anak seperti dia? Terpilih menjadi pewaris? Bukankah ini konyol?”Devan masih bisa mengingat dengan jelas semua pernyataan itu meski belasan tahun telah berlalu. Harus diakui, dia memang bukan ayahnya. Dia bukan orang hebat seperti Angga. Dia juga bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang lahir secara kebetulan di keluarga kaya yang bergelimang harta dan mendapat kemudahan dari semua fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya. Masalahnya, apakah semua itu kesalahannya? Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memilih Di mana mereka akan dilahirkan. Kalau saja Tuhan memberi pilihan kepada manusia untuk itu, Devan bisa pastikan tak akan banyak orang yang mau dilahirkan. Takkan ada yang mau menjadi anak yang tidak diinginkan. Tak akan ada yang mau menjadi anak dari perempuan seperti ibunya. Dan tak akan ada yang mau, begitu dilahirkan kemudian langsung dibuang seperti anak-anak yang ada di panti asuhan. Devan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang panti asuhan Tangan Kita. T

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga Belas: Sumbangan Pribadi Arman

    “Terima kasih, Pak Arman. Kami sangat menghargai bantuan pribadi Bapak.”Ucapan Diana dijawab anggukan kecil oleh pria berkacamata tersebut. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya, Pak Arman menerangkan, “Semoga saja ini bisa membantu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya.”“Sejujurnya sampai saat ini saya masih sangat membutuhkan dukungan Bapak soal pengajuan dana untuk yayasan. Karena tidak ada yang lebih saya butuhkan selain itu sekarang.”Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir Pak Arman saat mendengar kalimat itu. Pria paruh baya tersebut seolah-olah memang sengaja tak ingin membantu Diana. Atau justru di sana lah titik sebenarnya berawal. Dan Diana tahu persis apa yang dihadapi sekarang.Berbeda dengan Pak Anggara yang dikenal sangat peduli kepada panti asuhan, sang adik memang sejak awal memiliki orientasi tersendiri tentang arah perusahaan. Namun sayang, putra dari kedua pria itu memilih jalan yang justru berseberangan dengan orang t

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua Belas: Devan Sanjaya dan Jalan Hidupnya

    “Ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya Oma memikirkanmu sepanjang malam?” Adalah sang nenek yang menyambutnya pagi itu. Setelah puas mengomel, wanita tua di kursi roda itu justru memintanya mendekat. Kemudian menghujani Devan dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Berulang kali. Seolah-olah pria 32 tahun itu adalah seorang bayi berusia 3 bulan. Yang ketiga Devan protes justru dijawab dengan, “Oma sangat rindu padamu! Peduli apa Oma dengan usiamu?! Kau tetap baik di mata Oma!”Dari arah pintu, seorang pemuda lain yang sangat Devan kenali datang. Utama menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan tawa yang tak tertahankan. Karena sekeras apapun usahanya bertahan, ternyata tamat tak cukup kuat untuk tidak tertawa. “Bisa kau berhenti, Bajingan Kecil!” Devan berpura-pura menghendak meninju sang adik dari kejauhan. Membuat tawa Utama Sanjaya semakin kencang. Sambil berjalan mendekat, Tama berkata, “Harusnya akulah yan

  • Perjanjian Dua Cinta   Sebelas: Pewaris Utama, Bukan Pertama

    Memang apa salahnya menjadi anak kedua?Nyatanya, Arman tidak pernah bisa memilih kapan dan di mana dia dilahirkan. Lalu, mengapa segalanya menjadi lebih sulit baginya ketimbang sang kakak? Sejak kecil Arman sadar betul kalau dia tidak pernah menjadi pilihan utama. Mama dan Papa hanya akan membawanya ke acara bila sang kakak tidak bersedia hadir. Padahal, tanpa keduanya ketahui, anak yang mereka jadikan bayangan ini jauh lebih kompeten ketimbang putra kebanggaannya. Sebab satu-satunya yang Arman tahu dalam hidupnya hanyalah menghabiskan uang kedua orang tuanya. Tanpa ampun. “Dari mana kamu?” Masih terekam jelas di kepala Arman bagaimana mamanya selalu menginterogasi Angga tiap kali pria –yang masa itu masih remaja –tersebut pulang dini hari dalam kondisi mabuk. Yang selalu konsisten Angga jawab dengan. “Sudahlah, Ma! Seperti tidak pernah muda saja.”“Apa katamu?” Yang bisa dipastikan akan membuat sang mama mendelik, kaget. Tapi, kenapa? Bukankah hampir tiap waktu Angga bicara sekas

  • Perjanjian Dua Cinta   Sepuluh: Pewaris Yang Sebenarnya?

    “Dia bilang begitu?” Mata Tama nyaris copot saat Diana menceritakan pengalaman tak mengenakan itu kepadanya. “Kak Devan? Serius?”Diana melipat bibir, tangannya mengaduk-aduk isi gelas di hadapannya seolah tidak bertenaga. “Begitulah. Sangat menyebalkan, bukan?” Diiringi decitan kecil. “Dia bahkan sama sekali tidak memikirkan nasib anak-anak di yayasan.”Air muka Tama memelas, mengandung rasa bersalah yang teramat sangat. “Maafkan aku ya, Di.”“Kok malah kamu yang minta maaf?”“Karena kakakku –”“Dia orang dewasa, bukan anak kecil!” tegas Diana. “Dia ya dia. Kamu ya kamu. Kalian sangat jauh berbeda, Tama. Aku tahu seberapa besar komitmen kamu pada panti asuhan. Tidak ada yang berhak menyalahkanmu hanya karena argumen konyol kakakmu. Kalian memang sedarah, tapi tidak dengan isi kepala.” Bibir Tama akhirnya mengulas senyum, lembut. Dia menatap balik Diana penuh rasa syukur. “Terima kasih, Diana.”“Tidak perlu berterima kasih. Lagipula, untuk apa? Justru aku yang seharusnya berterima kas

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima: Keputusan Dewan Direksi

    “Kamu apa-apaan sih, Sayang? Bisa-bisanya kamu mengamuk seperti tadi! Kamu membuat aku malu, tahu!”Pernyataan Joane langsung membuat Devan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Kemudian, dia berbalik untuk menatap wajah perempuan di hadapannya dengan tak percaya. “Kamu bilang apa? Malu? Haru

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga : Bencana Sumatera

    Ketika mendengar kabar banjir bandang yang meluluh lantakkan Sumatera bagian utara di akhir November kemarin, Diana memang bisa langsung terbang ke sana. Mengingat, selain akses yang masih sulit, kesibukan persiapan pengajuan dana yayasan pun menyita banyak waktunya. Bukan karena nasib rekan dan ana

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua : Dia Bernama Diana

    “Akhirnya, kita bisa bernapas lega!” seru Diana ketika mereka sampai di kantin. Dia duduk di kursi sambil membawa nampan berisi semangkuk bakso panas dan es jeruk, sementara Tama yang duduk di seberangnya memilih hanya menyantap roti bakar dan kopi dalam gelas kertas. “Kalau tidak ada kamu, aku tida

  • Perjanjian Dua Cinta   Satu : Yayasan Tangan Kita

    “..., berdasarkan pertimbangan inilah Yayasan Tangan Kita meminta tambahan dana tahunan sebesar dua puluh persen.” Dengan penuh percaya diri Diana mengakhiri presentasinya. “Kenaikan ini tidak hanya demi kelancaran agenda-agenda tahunan tetapi juga menopang kebutuhan anak-anak di bawah yayasan yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status