Home / Rumah Tangga / Perjanjian Dua Cinta / Satu : Yayasan Tangan Kita

Share

Perjanjian Dua Cinta
Perjanjian Dua Cinta
Author: Nandreans

Satu : Yayasan Tangan Kita

Author: Nandreans
last update Petsa ng paglalathala: 2022-09-03 10:21:12

“..., berdasarkan pertimbangan inilah Yayasan Tangan Kita meminta tambahan dana tahunan sebesar dua puluh persen.” Dengan penuh percaya diri Diana mengakhiri presentasinya. “Kenaikan ini tidak hanya demi kelancaran agenda-agenda tahunan tetapi juga menopang kebutuhan anak-anak di bawah yayasan yang saat ini sedang menempuh study baik di luar maupun di dalam negeri.”

“Bukankah Anda bilang tadi banyak anak-anak kita yang menerima bantuan beasiswa di luar yayasan?” Pak Yoga, direktur keuangan mengangkat tangan. Bertanya dengan wajah serius sambil membolak-balik dokumen di hadapannya. 

Diana tersenyum, memindah tampilan slide presentasi ke materi yang dimaksud sebelum menjawab, “Memang benar, Bapak. Banyak sekali anak-anak di Yayasan Tangan Kita yang berhasil mendapatkan beasiswa prestasi baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Namun, justru karena itulah kami berharap perusahaan mau memberikan kenaikan dana untuk tahun depan. Mengingat jumlah anak-anak di yayasan terus bertambah. Dengan kenaikan ini, diharapkan dapat semakin memperbaiki kualitas pendidikan dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak.”

Pak Hadi, pria gempal yang duduk di ujung bangku panjang sebagai pemimpin rapat manggut-manggut sebelum ikut bicara, “Berapa banyak jumlah anak-anak yang mendapat beasiswa dari dalam dan luar yayasan? Dan, apakah banyak dari mereka yang bisa menyelesaikan studinya dengan baik?”

“Berdasarkan data kami, memang secara persentase jumlah penerima beasiswa dari tahun ke tahun masih didominasi oleh yayasan terutama untuk jenjang sekolah dasar dan menengah. Mengingat, anak-anak di usia inilah yang mendominasi penghuni panti asuhan kita. Hanya saja, di perguruan tinggi, setidaknya setengah di antaranya mendapatkan beasiswa prestasi dari luar yayasan.” Diana kembali menampilkan data yang telah dia susun rapi sebelumnya. “Akan tetapi, perlu diingat, Bapak. Bahwa untuk sampai di titik ini, anak-anak tetap memerlukan banyak dana untuk persiapan beasiswa dan itu tidak sedikit.”

“Tapi …, Anda tahu kan bila keuangan perusahaan sekarang sedang tidak stabil?” Pak Gugun, direktur pemasaran akhirnya ikut menyahut. Sambil melepaskan kacamata bacanya, beliau menatap Diana sungguh-sungguh. “Ada banyak lini di perusahaan yang mendapat pemangkasan karena efisiensi, jadi apakah menurut Bu Diana masuk akal bagi kami untuk menaikkan dana tahunan yayasan?”

Meski sempat diam sejenak karena keraguan, Diana akhirnya tetap mengangguk. “Tentu saja, Bapak. Sebab menurut saya, keberadaan yayasan selama ini telah menjadi salah satu penopang reputasi perusahaan.”

“Menurut siapa? Menurut Anda?” Pak Banu, direktur operasional mengulang ucapan Diana. “Bu Diana, memang, tidak bisa dimungkiri yayasan adalah salah satu bentuk SCR perusahaan yang paling terkenal di publik. Tapi, menganggapnya satu-satunya juga tidaklah tepat.”

“Benar, Bapak. Saya pun tidak menganggap yayasan sebagai satu-satunya penopang perusahaan,” lanjut Diana. “Hanya saja, perlu kita akui bahwa yayasan merupakan salah satu penopang paling besar.”

“Ini bukan hanya menurut Bu Diana,” Tama, direktur CSR sekaligus sahabat Diana berdiri. Bibirnya tersenyum, memberi kode pada wanita tiga puluh tahun tersebut untuk tenang. “Melainkan menurut data komunikasi publik terbaru kita. Bukankah begitu, Bu Prani?”

Satu-satunya direktur perempuan di ruangan itu akhirnya menangguk. “Benar sekali. Hingga saat ini, masih sangat banyak publik yang setia pada produk-produk kita karena percaya pada kemanusiaan yang menjadi visi dan misi perusahaan.”

“Tetap saja, kita tidak bisa menjadikan ini satu-satunya parameter.” Pak Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya. “Keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja saat ini terutama setelah kegagalan ekspansi pertengahan tahun kemarin. Menaikkan anggaran sebesar dua puluh persen …, akan sangat sulit dilakukan.”

“Tapi bukan tidak mungkin, kan, Pak?” 

“Memang, Pak Tama.” Pak Hadi yang menjawab. Suara seraknya membuat Diana dan Tama kembali saling tatap satu sama lain. “Bu Diana, kami akan membahas terlebih dulu usulan Ibu. Dan, akan segera kami umumkan beberapa hari lagi.”

*_*

Di tempat yang berbeda di Hongkong, seorang pria tiga puluh dua tahun menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. 

Tubuh pria tersebut dibiarkan tanpa atasan, sementara bagian bawahnya hanya dibungkus handuk. Dia tersenyum, tipis sebelum seorang perempuan datang memeluknya dari belakang. Membuat si pria berbunga-bunga, dan dengan cepat menoleh ke belakang untuk menyambut kekasihnya ke pelukannya. 

“Selamat pagi, Sayang!” Dia menjatuhkan kecupan lembut ke pipi wanita berambut panjang, hitam bergelombang dengan pakaian merah jambu di pelukannya.

Si wanita tersipu, mengelus kedua pipi kekasihnya sebelum berkata, “Apa kau yakin dengan semalam?”

“Tentu saja. Kenapa tidak? Memangnya kamu tidak mau menjadi istriku?” 

“Tentu saja mau, Devan! Apa sih yang tidak?”

Pria bernama Devan Sanjaya tersebut tertawa, mengangkat tubuh kecil Joane kembali ke luar kamar mandi. Lalu, membawanya ke kursi di meja makan untuk menyantap sarapan sederhana mereka di apartemen. Masakan yang Devan masak sendiri dengan penuh cinta untuk perempuan yang paling dia cintai. 

“Tapi, Sayang, apakah nenekmu sudah setuju?” Gadis dua puluh tujuh tahun tersebut bertanya sebelum bokongnya menyentuh bantalan kursi. Yang langsung membuat ekspresi Devan berubah. “Aku tidak mau kita menikah tanpa restu orang tuamu.”

“Sayang.” Devan menggeleng pelan. “Dengar! Pernikahan ini akan tetap terjadi apa pun yang terjadi. Dengan atau tanpa restu Oma, kita akan tetap menikah, sebab tak akan ada yang bisa memisahkan kita …, sekalipun itu nenekku sendiri.”

“Tapi ….”

“Hsst!” Devan menempelkan jarinya ke bibir besar Joane, meminta kekasihnya tak melanjutkan kata-kata menyakitkan dari mulutnya. “Oma akan setuju. Oma pasti setuju. Kalau tidak, akan kubuat dia tak punya pilihan lain selain setuju. Aku bersumpah untuk itu.”

Nandreans

Hai, maaf banget aku baru bisa nulis ulang cerita ini. Karena cerita yang kemarin kurang menarik. Semoga kalian suka ya.

| Like
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima Belas: Dia Wanita Yang Kukagumi

    “Jadi, kamu nggak langsung berangkat dari mereka?”Diana menjawab pertanyaan Tama dengan gelengan. “aku akan menyelesaikan dulu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diaudit. Setelah itu baru aku akan menyusul.”“Kupikir itu cukup bijaksana,” kata Tama dengan senyum mengembang di wajahnya. Sementara kedua matanya fokus memandang jalanan, melajukan mobilnya di tengah padatnya jalan di Ibukota. “Kalau kamu tidak keberatan, barangkali aku bisa ikut.”“Kamu mau ikut?” Diana menatap sahabatnya itu tidak percaya. “Ini bukan karya wisata, Tama.”“Tentu saja, Di. Siapa yang bilang ini karya wisata?” Tama terkekeh, akan tetapi detik berikutnya wajahnya kembali serius. “Aku akan segera menyelesaikan semua tugasku di kantor agar nantinya saat kita berada di Sumatera …, bisa lebih fokus.” “Menurut orang-orang di lapangan, akses di sana masih sangat sulit, Tam. Ada banyak sekali bantuan dan logistik yang siap dikirim belum bisa sampai ke masyarakat sampai sekarang karena akses yang masih terputus

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat Belas: Salah Paham

    “Anak seperti dia? Terpilih menjadi pewaris? Bukankah ini konyol?”Devan masih bisa mengingat dengan jelas semua pernyataan itu meski belasan tahun telah berlalu. Harus diakui, dia memang bukan ayahnya. Dia bukan orang hebat seperti Angga. Dia juga bukan siapa-siapa kecuali seorang anak yang lahir secara kebetulan di keluarga kaya yang bergelimang harta dan mendapat kemudahan dari semua fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya. Masalahnya, apakah semua itu kesalahannya? Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa memilih Di mana mereka akan dilahirkan. Kalau saja Tuhan memberi pilihan kepada manusia untuk itu, Devan bisa pastikan tak akan banyak orang yang mau dilahirkan. Takkan ada yang mau menjadi anak yang tidak diinginkan. Tak akan ada yang mau menjadi anak dari perempuan seperti ibunya. Dan tak akan ada yang mau, begitu dilahirkan kemudian langsung dibuang seperti anak-anak yang ada di panti asuhan. Devan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang panti asuhan Tangan Kita. T

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga Belas: Sumbangan Pribadi Arman

    “Terima kasih, Pak Arman. Kami sangat menghargai bantuan pribadi Bapak.”Ucapan Diana dijawab anggukan kecil oleh pria berkacamata tersebut. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya, Pak Arman menerangkan, “Semoga saja ini bisa membantu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya.”“Sejujurnya sampai saat ini saya masih sangat membutuhkan dukungan Bapak soal pengajuan dana untuk yayasan. Karena tidak ada yang lebih saya butuhkan selain itu sekarang.”Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir Pak Arman saat mendengar kalimat itu. Pria paruh baya tersebut seolah-olah memang sengaja tak ingin membantu Diana. Atau justru di sana lah titik sebenarnya berawal. Dan Diana tahu persis apa yang dihadapi sekarang.Berbeda dengan Pak Anggara yang dikenal sangat peduli kepada panti asuhan, sang adik memang sejak awal memiliki orientasi tersendiri tentang arah perusahaan. Namun sayang, putra dari kedua pria itu memilih jalan yang justru berseberangan dengan orang t

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua Belas: Devan Sanjaya dan Jalan Hidupnya

    “Ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya Oma memikirkanmu sepanjang malam?” Adalah sang nenek yang menyambutnya pagi itu. Setelah puas mengomel, wanita tua di kursi roda itu justru memintanya mendekat. Kemudian menghujani Devan dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Berulang kali. Seolah-olah pria 32 tahun itu adalah seorang bayi berusia 3 bulan. Yang ketiga Devan protes justru dijawab dengan, “Oma sangat rindu padamu! Peduli apa Oma dengan usiamu?! Kau tetap baik di mata Oma!”Dari arah pintu, seorang pemuda lain yang sangat Devan kenali datang. Utama menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan tawa yang tak tertahankan. Karena sekeras apapun usahanya bertahan, ternyata tamat tak cukup kuat untuk tidak tertawa. “Bisa kau berhenti, Bajingan Kecil!” Devan berpura-pura menghendak meninju sang adik dari kejauhan. Membuat tawa Utama Sanjaya semakin kencang. Sambil berjalan mendekat, Tama berkata, “Harusnya akulah yan

  • Perjanjian Dua Cinta   Sebelas: Pewaris Utama, Bukan Pertama

    Memang apa salahnya menjadi anak kedua?Nyatanya, Arman tidak pernah bisa memilih kapan dan di mana dia dilahirkan. Lalu, mengapa segalanya menjadi lebih sulit baginya ketimbang sang kakak? Sejak kecil Arman sadar betul kalau dia tidak pernah menjadi pilihan utama. Mama dan Papa hanya akan membawanya ke acara bila sang kakak tidak bersedia hadir. Padahal, tanpa keduanya ketahui, anak yang mereka jadikan bayangan ini jauh lebih kompeten ketimbang putra kebanggaannya. Sebab satu-satunya yang Arman tahu dalam hidupnya hanyalah menghabiskan uang kedua orang tuanya. Tanpa ampun. “Dari mana kamu?” Masih terekam jelas di kepala Arman bagaimana mamanya selalu menginterogasi Angga tiap kali pria –yang masa itu masih remaja –tersebut pulang dini hari dalam kondisi mabuk. Yang selalu konsisten Angga jawab dengan. “Sudahlah, Ma! Seperti tidak pernah muda saja.”“Apa katamu?” Yang bisa dipastikan akan membuat sang mama mendelik, kaget. Tapi, kenapa? Bukankah hampir tiap waktu Angga bicara sekas

  • Perjanjian Dua Cinta   Sepuluh: Pewaris Yang Sebenarnya?

    “Dia bilang begitu?” Mata Tama nyaris copot saat Diana menceritakan pengalaman tak mengenakan itu kepadanya. “Kak Devan? Serius?”Diana melipat bibir, tangannya mengaduk-aduk isi gelas di hadapannya seolah tidak bertenaga. “Begitulah. Sangat menyebalkan, bukan?” Diiringi decitan kecil. “Dia bahkan sama sekali tidak memikirkan nasib anak-anak di yayasan.”Air muka Tama memelas, mengandung rasa bersalah yang teramat sangat. “Maafkan aku ya, Di.”“Kok malah kamu yang minta maaf?”“Karena kakakku –”“Dia orang dewasa, bukan anak kecil!” tegas Diana. “Dia ya dia. Kamu ya kamu. Kalian sangat jauh berbeda, Tama. Aku tahu seberapa besar komitmen kamu pada panti asuhan. Tidak ada yang berhak menyalahkanmu hanya karena argumen konyol kakakmu. Kalian memang sedarah, tapi tidak dengan isi kepala.” Bibir Tama akhirnya mengulas senyum, lembut. Dia menatap balik Diana penuh rasa syukur. “Terima kasih, Diana.”“Tidak perlu berterima kasih. Lagipula, untuk apa? Justru aku yang seharusnya berterima kas

  • Perjanjian Dua Cinta   Lima: Keputusan Dewan Direksi

    “Kamu apa-apaan sih, Sayang? Bisa-bisanya kamu mengamuk seperti tadi! Kamu membuat aku malu, tahu!”Pernyataan Joane langsung membuat Devan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Kemudian, dia berbalik untuk menatap wajah perempuan di hadapannya dengan tak percaya. “Kamu bilang apa? Malu? Haru

  • Perjanjian Dua Cinta   Empat : Utama Sanjaya, Pewaris Kedua

    Ada dua tipe manusia di dunia menurut Diana; satu, yang pandai menyembunyikan perasaan dan yang kedua, sebaliknya, tidak bisa menutupi luka hatinya sekeras apa pun dia mencobanya. “Kamu pikir, kamu tipe yang mana?” Michele, sahabatnya, perempuan berambut pendek yang kini duduk di hadapannya bertany

  • Perjanjian Dua Cinta   Tiga : Bencana Sumatera

    Ketika mendengar kabar banjir bandang yang meluluh lantakkan Sumatera bagian utara di akhir November kemarin, Diana memang bisa langsung terbang ke sana. Mengingat, selain akses yang masih sulit, kesibukan persiapan pengajuan dana yayasan pun menyita banyak waktunya. Bukan karena nasib rekan dan ana

  • Perjanjian Dua Cinta   Dua : Dia Bernama Diana

    “Akhirnya, kita bisa bernapas lega!” seru Diana ketika mereka sampai di kantin. Dia duduk di kursi sambil membawa nampan berisi semangkuk bakso panas dan es jeruk, sementara Tama yang duduk di seberangnya memilih hanya menyantap roti bakar dan kopi dalam gelas kertas. “Kalau tidak ada kamu, aku tida

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status