เข้าสู่ระบบSudah tiga hari Bastian tidak masuk sekolah tanpa kabar, dan hal itu membuat Yerin khawatir.
Berdiri menatap piala di lemari kaca, Yerin melihat sebuah piala basket yang pernah diraih tim sekolah, dengan Bastian sebagai ketua.
Anak itu berbakat, Yerin yakin betul. Sayang, tanpa bimbingan, bakat itu bisa terbuang percuma.
Ia memotret piala tersebut, lalu meneguhkan hati. Keputusan sudah bulat: ia akan datang ke rumah Bastian, langsung menemui keluarganya.
“Pak, saya mau pergi ke rumah Bastian,” ucapnya pada Pak Rudi, guru BK senior.
“Bu Yerin yakin?” tanya Pak Rudi, wajahnya terlihat ragu sekaligus cemas, entah kenapa.
Yerin mengangguk mantap. “Yakin, Pak. Saya harus memastikan dia baik-baik saja.”
Pak Rudi tidak menahan lebih jauh. “Baiklah.”
Sepulang sekolah, Yerin menyalakan motor bututnya dan meluncur menuju kediaman keluarga Jarvis. Sesuai alamat, rumah itu ternyata benar-benar luar biasa—sebuah mansion bergaya Eropa yang begitu megah. Bahkan sekadar gerbangnya saja membuat motornya terlihat begitu tidak pantas berada di sana.
Yerin sempat diinterogasi satpam di pos jaga, lalu menunggu sebentar sebelum akhirnya diizinkan masuk. Seorang satpam lain mengantarnya sampai ke pintu utama.
Yerin menekan bel. Tak lama, seorang wanita tua membukakan pintu. Dari dalam, terlihat beberapa mobil mewah terparkir di halaman.
‘Apa mereka sedang ada tamu?’ pikir Yerin.
“Silakan masuk, Non. Anda sudah ditunggu,” kata wanita itu.
Yerin mengernyit. Ditunggu? Oleh siapa?
Menepis pertanyaan dalam hati, Yerin melangkah ke ruang tamu.
Begitu Yerin masuk, pandangannya langsung menemukan Bastian, berdiri tak jauh dari sekumpulan anggota keluarga yang duduk di sofa. Tepat ketika ia ingin menyapa, seorang pria bangkit berdiri.
Tingginya menjulang, membuat Yerin harus mendongak. Pria itu melangkah mendekat, wajahnya dingin.
“Halo, saya—”
Kalimat Yerin terputus. Pinggangnya tiba-tiba ditarik, tengkuknya dicekal, lalu bibirnya ditutup paksa oleh sesuatu yang hangat.
Mata Yerin melebar. Ia kaku di tempat, seluruh tubuhnya lemas.
Itu… ciuman?!
Lidahnya nyaris kelu, seharusnya ia bisa menampar pria ini, tapi tubuhnya justru lumpuh oleh keterkejutan!
‘First kiss-ku…!’
“Arsen!” teriak seorang wanita dari kursi tamu.
Pria itu melepaskannya, menatap sekilas ke arah suara. “See?” ucapnya santai, lalu meraih tangan mungil Yerin dan menggenggamnya erat.
“Dia calon istriku.” Suaranya lantang, tegas, membuat semua orang di ruangan terbelalak.
Yerin tercekat. Lidahnya kelu. “Istri. Saya? Bukan—”
Arsen langsung mengusap sisi bibir Yerin, membuat wanita itu membeku. Lalu, dengan nada tenang tapi lantang agar semua orang mendengar, ia berkata, “Jangan marah lagi, Sayang. Sudah kukatakan, aku tidak akan menerima perjodohan ini. Hanya kamu… hanya kamu yang akan jadi istriku.”
Yerin mematung. Otaknya seakan berhenti bekerja. Bajingan menyebalkan ini ngomong apa sih!?
Sejak kapan dia jadi calon istri kakak muridnya ini!?
Bercanda! Ya, semua ini pasti prank saja, ‘kan!?
Namun, Yerin menoleh ketika tangannya di bawah sana sudah digandeng Arsen dengan mesra.
Sejak kapan jemari mereka saling bertaut dengan mesra seperti ini?
Yerin semakin terbelalak. Ia melotot dan berusaha melepaskan genggaman jari mereka.
Namun Arsen menoleh dan tersenyum. Pria itu seolah menegaskan jika Yerin tidak bisa pergi darinya.
Yerin bisa merasakan semua mata tertuju padanya, membuat wajahnya panas.
“Ini salah paham!” ucapnya keras, mencoba menjelaskan pada orang-orang di ruangan.
Namun Arsen semakin berani. Lengannya melingkari pinggang Yerin, merengkuhnya erat
Arsen menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Yerin. “Diam atau aku akan menciummu lagi?”
Eve terdiam sebentar. "Aku baik-baik saja." Yerin mendekat. "Aku sudah lama mengenalmu Eve. Ibu-maksudku kakak.." Eve tertawa. "Ternyata canggung sekali. Bukan hanya aku tapi kakak juga." Yerin mengusap keningnya pelan. "Kita harus berusaha supaya tidak canggung dengan panggilan baru ini." Eve tertawa dan mengangguk. "Kamu terlihat gelisah..." Yerin menatap Eve. "Ibu tahu apa yang sedang mengusik kamu." Eve menghela napas. Seperti dulu. Ia memang tidak bisa berbohong pada Yerin. "Entahlah..." menggeleng pelan. "Aku hanya merasa tidak enak saja pada Aurel. Meski aku membencinya. Meski aku tidak dia berdekatan dengan Bastian. Tapi saat melihatnya aku merasa bersalah." Yerin menggeleng. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang kamu lakukan sudah benar." "Kalau aku menjadi kamu. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih parah. Aku juga tidak suka Arsen berdekatan dengan wanita lain." Yerin berkacak pinggang. "Aku bahkan memastikan pegawai yang sela
Eve tersenyum. "Terima kasih." Yerin mengusap bahu Aurel sebentar. "Kalian masuklah." Bastian tidak berbicara apapun. Ia langsung membawa masuk ke dalam Mansion. Sedangkan Yerin menunggu Aurel sampai pergi. "Hai." Eve melambaikan tangan pada Elise yang duduk. Sibuk menggambar. Elise menoleh. Menatap Eve sebentar sebelum akhirnya melompat turun dari kursi. Dengan polosnya berjalan mendekat. Mengamati Eve sungguh-sungguh. "Kenapa?" tanya Eve. Bastian tertawa pelan. "Aunty cantik? tidak jelek seperti kemarin?" Elise mengangguk dengan polosnya. Eve berjongkok. Kemudian mengulurkan tangannya. "Jadi sekarang kita bisa berteman?" Elise menyambut uluran tangan Eve. "Hei boy!" sapa Bastian pada Noel yang baru turun dari tangga. "Jangan bilang kamu baru selesai belajar?" tanya BAstian. "Come on, Noel. Anak kecil seharusnya banyak bermain. Dulu paman sering bermain daripada belajar." "Jangan meracuni anakku dengan kebiasaan burukmu." Arsen yang baru saja mendekat.
Honeymoon telah usai. Hari ini adalah hari terakhir Eve cuti. Dan hari ini juga Eve dan Bastian akan datang ke rumah kakak mereka. "Bastian." Bastian memutar bola matanya malas. "Coba panggil aku yang lebih manis. Lebih menggoda dan lebih seksi." Eve menyipitkan mata. "Memangnya mau dipanggil apa? Hubby? Darling? atau my Husband." "Ehm.." Bastian berpikir. "My Darling sweety and my husband forever.." "Ih geli!" Eve mendorong dada Bastian. "Sayang." Bastian tersenyum sumringah. "Itu lebih baik. Pas, romantis, sedikit seksi dan menggoda juga." "Kau benar-benar." Eve tidak bisa berkata-kata lagi. Bersama dengan Bastian selama 24 jam ternyata tidak membuatnya bosan. Meski pria itu kerap kali melontarkan kalimat aneh atau rayuan aneh. tapi ternyata ia baik-baik saja. "Apa kau baik-baik saja jika aku masih bekerja?" tanya Eve. "Hm?" tanya Bastian. Terlihat bingung. "Maksudku. Siapa tahu kau diam-diam ingin aku di rumah tidak usah bekerja." Basti
Tok tok Eve yang bangun lebih dulu mengernyit. Ia melepaskan rangkulan tangan Bastian dari pinggangnya. Kemudian berjalan dan mengambil piyamanya. tok tok! "Iya sebentar." Lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dua keponakannya yang cantik dan tampan. "Hai." Eve berjongkok. "kenapa pagi-pagi kesini?" "Kami bukan ingin menganggu. Kami ingin memberi kali ini." Lucian Noel Jarvis. berusia 10 tahun. Biasa dipanggil Noel. "Ini apa?" tanya Eve mengambil kado dari Noel. Eve mengusap rambutnya. Kemudian tersenyum pada mereka. Ini pertemuan keduanya dengan mereka. Pertemuan kedua yang memalukan karena dirinya dalam keadaan tidak siap. "Terima kasih." Eve tersenyum. "Mau bermain dengan aunty?" Elise menggeleng. "Aunty jelek." Eve mengerjap. "Tidak usah mendengarkannya." Noel dengan sigap menutup bibir adiknya. Eve bukannya marah ia justru tertawa."Tidak masalah. Aunty pasti terlihat sangat jelek di mata kalian." "Aunty memang sedang jelek. Jadi Aunty t
"SELAMAT!" Gwen yang berteriak sangat nyaring. Eve tertawa, menerima pelukan dari sahabatnya itu. Perut sahabatnya sudah besar. "Terima kasih sudah datang." Menatap Gwen dan Vando bergantian. "Bagaimana mungkin aku tidak datang. Walaupun dia-" menatap Bastian. "Baru mengabari kami dua hari sebelum pernikahan kalian." Eve terkekeh. "Acaranya memang mendadak." "Tunggu." Gwen menatap Bastian tajam. "Eve hamil?" "Tidak." Bastian menggeleng keras. "Pernikahan kita memang pure karena kita ingin segera menikah. Bukan karena hal lain." Bastian memeluk pinggang Eve dari samping. "Percayalah padaku. Aku ini sangat mencintai sahabatmu. Sangat-sangat..." menepuk dadanya sendiri. Eve tertawa menggeleng geli dengan tingkah Bastian. Ternyata orang-orang yang datang adalah orang terdekatnya. Senyum mereka, kebahagiaan mereka yang terpancar dari wajah mereka. Ternyata mereka juga bahagia dengan momen membahagiakannya. Eve menarik napas pelan. Tersenyum tipis.. Di sana ada
"Ah! pelan-pelan.." "Aku sudah pelan-pelan. Tapi sulit..." keluh Bastian. "Coba di sana. Di sini terlalu gelap." Bastian mengikuti Eve yang berjalan ke tengah ranjang. tepatnya di bawah lampu. Bastian sudah berusaha semaksimal mungkin membantu Eve melepaskan Gaun. Tapi ternyata sulit, apalagi bahu Eve masih memar dan sakit apabila tergores sedikit saja." Bastian menggeleng. Ayo lebih fokus. Jangan menyakiti Eve. Namun di saat dirinya yang sedang fokus-fokusnya, malah salah fokus ketika melihat punggung mulus wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Bastian menahan napasnya. Sekarang bukan waktunya. Bantu Eve dulu, baru.. "Bas," panggil Eve. "Ya." Bastian mengerjap pelan. Lalu mulai memfokuskan dirinya lagi. menurunkan resleting gaun itu dengan perlahan. jangan sampai menggores kulit Eve yang berharga. Sampai akhirnya ia bisa membantu Eve membuka gaun itu. sampai gaun itu terlepas dari tubuh Eve. Eve hanya menggunakan celana pendek dengan tanktop yang begitu melek







