Setelah Luis memecatnya, Shakira bersedia bekerja apapun asalkan halal. Buah hatinya membutuhkan makan dan tempat berlindung yang layak.
Tanpa membuang waktu, David dan Luis menuju hotel tersebut dengan penyamaran rapi.
David mengenakan kemeja santai dan blazer ringan, cukup profesional tapi tidak mencolok. Ia duduk di lobi, menanti sosok yang kini menjadi kunci rencana besar Luis.
David tertegun ketika melihat Shakira, bahwa dia adalah perempuan yang pernah terlibat cekcok dengan Luis dua bulan di hotel tempat tuannya menginap.
Shakira melintas sambil mendorong troli linen bersih. Rambutnya dikuncir seadanya, wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja, namun sorot matanya masih sama.
Tajam, penuh harga diri.
David bangkit lalu menghampiri. “Nona Shakira.”
Shakira menatap David sambil mengingat siapa dirinya.
“Bisakah anda ikut saya?” kata David, suaranya tenang.
“Maaf anda siapa?”
“Saya asisten pribadi Pak Luis Hartadi.”
Mendengar nama Luis, Shakira segera mendorong troli begitu saja. Namun David dengan cepat menghentikannya. Membuat ketakutan di wajah lelah Shakira tergambar jelas.
“Nona, ini penting!”
“Anda salah orang! Saya bukan Shakira!”
Shakira mendorong troli hampir setengah berlari. Meninggalkan David begitu saja. Suara roda troli berdecit di lantai menandakan langkahnya terdengar panik. Tangannya yang menggenggam gagang troli bergetar, sementara napasnya mulai memburu.
Luis Hartadi.
Nama itu saja sudah cukup membuat seluruh tubuhnya dingin.
‘Mau apa Luis nyari aku? Ya Tuhan, lindungi aku. Aku nggak mau kehilangan pekerjaan lagi.’ Batinnya kemudian ia menangis.
Shakira takut kehilangan pekerjaan lagi dan membuat kehidupan putrinya kembali terseok-seok.
Kilasan masa lalu, tentang tatapan tajam Luis, aroma parfum yang dulu ia kenal, dan satu malam penuh kebodohan yang ia kunci rapat di lubuk hatinya, kembali memporak-porandakan kehidupannya.
Sore itu, David kembali ke hotel tempat Luis menginap. Ia membawa hasil pencariannya, meski tidak sesuai harapan.
“Nona Shakira adalah perempuan yang pernah Bapak pecat dua bulan silam. Dan dia menolak bertemu, Pak.”
Luis terdiam beberapa detik mengingat kejadian itu dengan wajah cuek. “Biarin dia tenang dulu. Mungkin dia masih marah karena aku pernah bikin dia kena PHK.”
Pikiran Luis berkelana mundur dua bulan silam. Malam itu, ia ingat samar-samar berada di suite pribadinya, kepala berat oleh alkohol mahal.
Ia hanya ingat ada perempuan seperti berteriak dan wajahnya samar.
‘Apakah itu Shakira?’ Luis mengerutkan kening, mencoba mengingat lebih jelas.
‘Apakah malam itu dia datang mau nyerahin surat pengunduran diri? Atau … apa?’
Ingatan itu kabur.
“Kalau memang dia datang malam itu, apa yang terjadi setelahnya?”
Namun Luis tidak menyadari hubungan satu malam mereka.
Keesokan harinya, langit mulai menggelap saat Shakira mendorong troli linen kembali ke area staf dengan tatapan awas. Barangkali David menemuinya kembali.
Namun langkahnya tertahan saat seorang manajer hotel mendekatinya dengan nafas naik turun.
“Shakira,” panggilnya. “Ada yang nyari kamu di lobi. Katanya mendesak.”
Shakira menyipitkan mata. “Siapa, Pak?”
“Saya kurang tahu. Buruan! Siapa tahu penting.”
Shakira mengangguk tegas karena langsung teringat akan putrinya. Tangannya mengusap cepat sisa debu di seragamnya.
Seingatnya telah menitipkan Beliza dalam keadaan sehat.
Ia setengah berlari menuju lobi dengan membawa tas. Tidak peduli dengan anak rambutnya yang sedikit keluar dari karet pengikat dengan wajah lelahnya yang tak terpoles make up.
Di dekat jendela kaca besar, berdiri sosok yang tidak mungkin salah.
Luis Hartadi.
Dengan kaos kasual putih dan celana jeans biru dongker, rambut tersisir rapi, dan sikap tenangnya yang khas. Wajahnya tampak segar dengan David berdiri di sebelahnya dengan mata menatap kehadiran Shakira.
Detik itu juga, tubuh Shakira menegang. Darahnya berdesir. Ia berbalik untuk pergi begitu saja. Namun …
“Shakira! Berhenti!”
Matanya mulai panas mengingat kenangan terakhirnya dengan Luis. Dan tubuhnya mendadak terasa dingin.
Luis mendekat dengan jarak sewajarnya.
“Bisa kita bicara?”
Butuh beberapa detik kemudian Shakira membalikkan tubuhnya perlahan. “Maaf, saya tidak tahu apa maksud anda. Permisi.”
“Aku datang karena aku bisa ngasih kamu tawaran yang masuk akal dan menguntungkan,” ucap Luis dengan nada tenang, namun penuh tekanan.
Shakira masih berdiri membelakangi Luis.
“Kamu bisa berhenti jadi housekeeper. Aku bisa ngasih kamu pekerjaan mapan, tempat tinggal yang layak, bahkan kehidupan yang jauh lebih baik dari ini. Asal kamu sepakat dengan kerja sama yang aku tawarin.”
Shakira berbalik badan dan mengernyit curiga. “Tawaran apa?”
Luis tersenyum santai tapi penuh kemenangan. Karena perempuan mana yang mau menolak kesempatan bagus untuk menaikkan taraf hidupnya menjadi lebih baik. Apalagi ada anak semata wayang bergantung.
“Kerja sama ini nggak bikin kamu lelah, Ra. Cukup ikuti apa yang aku mau dan kompensasi itu akan aku bayar kontan di muka.”
Senyum putrinya yang masih berusia satu tahun menghiasi pikiran. Sebagai ibu, dia juga ingin yang terbaik untuk putrinya.
Hidup susah bahkan pernah hampir kelaparan karena minimnya penghasilan, pernah Shakira lakoni. Bagaimana putrinya pernah sakit di suatu malam hingga demam tinggi namun Shakira hanya bisa memberinya obat yang dijual murah di apotek.
“Satu unit apartemen di kawasan Thamrin selama satu tahun, privasi terjaga, uang dua milyar yang dibayar di muka, dan satu unit mobil lengkap sama sopir. Apa itu masih kurang?”
Shakira menoleh dengan tatapan bingung. Sedang Luis hanya berdiri dengan bersedekap.
Tidak sedikit pun Luis menyadari bahwa di balik tatapan Shakira, pernah ada secuil kilatan emosi lain. Yaitu kenangan samar dari satu malam kelam yang pernah mereka bagi dua bulan lalu.
Malam yang Luis, entah bagaimana, sudah dihapus dari ingatannya.
Shakira tahu tawaran ini penuh jebakan, tapi hidupnya sendiri sudah terlalu rumit untuk menolak kesempatan.
Apa yang ditawarkan Luis sangat menggiurkan. Dia sudah terlalu lelah dengan pelarian ini. Ingin sekali bersandar untuk megistirahatkan raga dan batinnya yang lelah.
“Oke,” katanya pelan namun mantap. “Aku terima tawaranmu.”
Semua ini Shakira lakukan demi putrinya. Dia ingin yang terbaik.
Senyum puas melintas di wajah Luis, “Good.”
“Sekarang, kerja sama apa yang mau kamu tawarin ke aku? Aku mau semuanya jelas dan gamblang. Menguntung kita berdua. Kalau cuma nguntungin kamu … aku mundur.”
“Lebih baik kita ngobrol santai. Di restaurant mungkin?”
Kepala Shakira mengangguk, “Hanya setengah jam.”
“Terlalu singkat.”
“Aku punya anak yang menungguku pulang, Luis,” jawab Shakira lugas.
Luis menaikkan alisnya sekilas, “Oke. Let’s go.”
“Sekarang, kamu bukan buangan, Shakira. Kamu adalah aset berhargaku. Senjataku untuk jatuhin Ben Danardjanto.”Kalimat itu membuat Shakira terdiam. Kata-kata Luis meluncur begitu dingin, seolah-olah semua kebaikan yang ia terima hanyalah bagian dari permainan besar yang disusun oleh pria itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, Shakira tahu ia memang tidak punya banyak pilihan selain mengikuti arus.Terlebih dia ingin melihat putri semata wayangnya hidup secara layak dan mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan balita mungil dan lucu itu. Shakira rela melakukan apapun untuk menebus rasa bersalahnya.“Oke,” lanjut Luis tenang, “Besok, kita ketemu. Ada hal yang perlu kita bicarain. Jangan tanya kita ketemu dimana, karena semua udah kuatur. Aku nggak mau ada risiko sekecil apa pun.”“Ya, Luis.”“Apa kartu tanda pegawai sebagai karyawan sales and marketing Hartadi Group udah kamu terima?”Shakira menatap name tag yang tergeletak di meja apartemennya, lalu kembali melayangkan pertanyaan.“Boleh
Shakira mendadak membeku hingga membuat tenggorokannya tercekat. Tapi ia cepat menenangkan ekspresi wajahnya yang terkejut.“Aku nggak tahu maksudmu, Luis,” katanya datar.“Rasanya aneh. Aku nggak merasa ngundang kamu ke kamarku, tapi kenapa surat PHK atas namamu ada di kamarku?”Shakira menatapnya, lalu menarik napas panjang. “Aku emang pernah ke kamarmu malam itu. Tapi kamu lagi mabuk. Bahkan nggak sadar aku ada di situ.”Luis mengerutkan kening. Kilasan samar mulai muncul, tapi tetap kabur. “Untuk apa kamu datang?”Shakira mengangkat bahu, berusaha acuh. “Kamu marah karena kamarmu masih kotor. Lalu aku datang … untuk mengembalikan apa yang tertinggal. Itu aja.”Luis memandangi Shakira dalam-dalam, mencoba membaca kebohongan di balik ketenangannya. Tapi Shakira sudah ahli menyembunyikan emosi. Dia hanya menatap balik, tenang dan tanpa celah.“Permisi.” Shakira berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Luis dalam keraguan yang tak terjawab.Ketika Shakira sudah keluar dari gedung, n
Mana mungkin Luis sudi meminta maaf karena dia pernah membuat Shakira dipecat dua bulan silam?Dia adalah pewaris utama Hartadi Group. Dia tidak terbiasa menyembah orang yang berstatus di bawahnya. Dan hidupnya terbiasa dilayani, bukan melayani.Terlalu banyak wanita yang memujanya. Bahkan satu malam panas mereka saja Luis tidak mengingatnya.Beberapa pasang mata pegawai hotel yang melihat Shakira masuk ke dalam mobil mewah Luis sempat menjadi bisik-bisik sesaat.Di dalam mobil mewah dan nyaman itu, Shakira seperti ditarik kembali ke masa lalunya sebelum seperti ini. Hidup nyaman, bergelimang harta, ayah dan bunda yang begitu mencintainya, dan seorang om yang begitu siap melindungi layaknya bodyguard pribadi.Dia dimanja dan diperlakukan layaknya putri.Dia melamun lalu sesaat kemudian pantulan wajah Luis dari kaca jendela, membuat kelebat kejadian dua bulan lalu menari dalam benaknya. Malam panas mereka. Shakira memandangi pantulan wajah Luis sambil membayangkan kala itu. Bagaimana
Setelah Luis memecatnya, Shakira bersedia bekerja apapun asalkan halal. Buah hatinya membutuhkan makan dan tempat berlindung yang layak.Tanpa membuang waktu, David dan Luis menuju hotel tersebut dengan penyamaran rapi. David mengenakan kemeja santai dan blazer ringan, cukup profesional tapi tidak mencolok. Ia duduk di lobi, menanti sosok yang kini menjadi kunci rencana besar Luis.David tertegun ketika melihat Shakira, bahwa dia adalah perempuan yang pernah terlibat cekcok dengan Luis dua bulan di hotel tempat tuannya menginap.Shakira melintas sambil mendorong troli linen bersih. Rambutnya dikuncir seadanya, wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja, namun sorot matanya masih sama. Tajam, penuh harga diri.David bangkit lalu menghampiri. “Nona Shakira.”Shakira menatap David sambil mengingat siapa dirinya.“Bisakah anda ikut saya?” kata David, suaranya tenang.“Maaf anda siapa?”“Saya asisten pribadi Pak Luis Hartadi.”Mendengar nama Luis, Shakira segera mendorong troli beg
“Aku mau orang ini dikeluarkan dari tim pelayanan. Hari ini juga!”Shakira berusaha menjelaskan, tapi kalimatnya tenggelam dalam amarah Luis dan sang atasan.Beberapa jam kemudian, keputusan bulat akhirnya diumumkan. Shakira menerimanya dengan hati memanas. Bahwa ia diminta menandatangani surat pemutusan kerja. Parahnya, hari itu juga dia harus angkat kaki dari hotel tempatnya mencari sesuap nasi.Merengek? Itu bukan gaya Shakira.Menjilat? Apalagi.Namun ia langsung teringat akan nasib putrinya, Beliza, yang tidak tahu bahwa dunia ibunya baru saja runtuh lagi untuk kesekian kali. Putrinya yang masih berusia satu tahun itu.Dia tidak langsung pulang, melainkan berdiri di teras samping hotel. Membiarkan angin Bali bertiup lembut, tapi hati Shakira seperti diporak-porandakan badai. Tangannya menggenggam surat pemecatan itu erat-erat. Tapi tidak menangis, karena kini, air mata pun terasa terlalu mahal.Ia pernah dicintai kemudian ditinggalkan. Menjadi istri pura-pura kemudian dicampakkan
Tanpa peringatan, pria itu mencium Shakira dengan brutal hingga Shakira terkejut.Reflek tangan Shakira berusaha mendorong dan memukul dada Luis, namun lelaki itu justru menyentaknya hingga berbaring di atas ranjang. “Jangan! Kumohon!” Tapi Luis melanjutkan aksinya. Pria itu mencengkeram kuat kedua tangan Shakira lalu melancarkan apa yang seharusnya didapatkan malam ini. Tidak menyadari siapa sosok yang saat ini tengah ada di ranjang bersamanya.Ia justru tertawa keras dan terus melancarkan aksinya. Sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi membuatnya makin hilang kendali.. Tapi Luis tidak sadar, siapa yang sedang ia sentuh tanpa rasa bersalah. Shakira yang awalnya terus memberontak dan menangis, berubah merutuki dirinya sendiri ketika efek obat itu bekerja menguasai logika. Dia tidak banyak melawan ketika Luis memimpin permainan. Bahkan menyentuhnya hingga titik terdalam.Seharusnya Shakira menuruti instingnya yang sudah memperingatkan dirinya agar tidak datang ke kamar Luis Har