LOGIN“Kau lihat saja, aku akan memotong penismu jika sampai ibuku mengetahui bekas yang kau tinggalkan.”
Moreau tidak benar – benar mengancam, tetapi dia yakin itu akan cukup menunjukkan betapa dia merasa kesal kepada ayah sambungnya. Kedutan samar di sudut bibir Abihirt memperlihatkan respons signifikan bahwa sebenarnya pria itu sedikit terhibur oleh sesuatu yang mungkin membuat ketegangan mereka selama beberapa hari meluap begitu saja. “Kau akan membawa pakaian kering ini ke kamaHari pertama bekerja setelah menghilang selama beberapa waktu benar – benar terasa berat. Moreau baru saja menginjakkan kaki di kamarnya; merasa sangat tak ingin melakukan apa pun selain tidur. Ingatan tentang bagaimana sang manajer klub memberi peringatan masih terus bercabang di benaknya.Moreau yakin akan sulit andai dia ingin meminta izin untuk hal – hal penting tertentu. Mungkin dia perlu berusaha selama satu bulan penuh sekadar meyakinkan pria cerewet yang hanya bisa berkata pedas di balik meja kerja.Sekarang saatnya memejam. Dia sudah merasa akan segera terlelap ketika sayup – sayup ... suara dari arah jendela kamar kembali menarik apa pun tentang rasa lelah di sini, untuk mencuak ke permukaan.Kelopak mata Moreau segera terbuka. Siapa yang terduga diam – diam berusaha menyelinap? Tingkat waspada segera membentuk gumpalan tebal. Dia tak bisa terpaku lebih lama. Langsung menapakkan kaki di atas lantai, kemudian berjalan tentatif.Hal pertama yang dilakukan ada
“Tidak apa – apa, Amiga. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Kau butuh waktu. Aku yakin Mr. Lincoln akan mengerti. Dia mungkin sibuk. Mengapa tidak kau saja yang menanyakan kabarnya lebih dulu?”Itu sama sekali tidak pernah Moreau bayangkan. Dia bereaksi dengan cepat. Antara bingung atau merasa konyol. Hanya sesaat kekehan ringan Juan dan respons meringis miliknya yang mengambil tempat.“Aku gengsi. Bagaimana kalau dia tidak mau membalas pesanku?” dia akhirnya bicara, bertanya – tanya mungkinkah sebaiknya mengalah?“Gengsi ... astaga. Bagaimana hubungan kalian bisa membaik dengan cepat, kalau kau saja masih mementingkan ego-mu. Kurasa, semua wanita memang seperti ini. Mengedepankan gengsi lebih dulu, daripada mencoba sesuatu yang lebih baik.”Moreau tidak pernah ingat akan ada sekecil hal tentang Juan yang memperhatikan lawan jenis. Dia jelas merasa ini sesuatu yang ganjil; segera menatap pria itu dengan tatapan menyelidik. Ekspresi teman baiknya memberi petunjuk singkat d
‘Sudah beberapa hari kau absen kerja. Regina juga menghilang tanpa kabar. Manager klub terus bertanya kepadaku apakah kalian masih ingin bekerja di sini atau tidak?’Moreau tanpa sadar menggigit bibir bawah setelah membaca pesan dari salah satu rekan kerja di klub; dia benar – benar melupakan beberapa hal. Sedikit sulit menjelaskan bahwa masih ada begitu besar keinginan untuk tetap melakukan kegiatan seperti dulu—sebelum Abihirt datang dan mengubah beberapa situasi di kehidupannya.Ini mungkin menjadi peringatan terakhir. Yang membuat dia ... akhirnya dengan cepat membalas pesan tersebut. Kebetulan Abihirt tidak di sini. Moreau tidak akan mendengar pelbagai larangan dari pria itu agar dia tetap di rumah.“Itu Mr. Lincoln?” Suara Juan nyaris tanpa peringatan menyelinap, membuat keterkejutan di benak Moreau terasa seperti sengatan listrik. Dia langsung menoleh dan mendapati bagaimana pria itu dengan wajah melongok, berusaha ingin tahu.Moreau segera meletakkan ponselnya, kemudian berka
“Daddy, lihat ... kami dapat hadiah lagi.”Sikap anak – anak tidak pernah berubah. Mereka segera berlarian setelah mendapati kemunculan Abihirt, yang menyusul tepat setelah Mansilo Hubber berpamitan pulang. Pria itu tersenyum tipis saat menyambut keberadaan Lore dan Arias, lalu membawa mereka duduk di lantai.Tidak banyak pembicaraan di sana. Yang Moreau tahu, dia hanya mendapati Abihirt mengamati kesibukan si kembar dengan cara berbeda. Pria itu tampak masih begitu memikirkan pelbagai hal. Memang terlihat tidak biasa; tidak seperti ... saat di mana; kadang – kadang, Abihirt akan memberikan beberapa tawaran kepada anak – anak atau sekadar bertanya bagaimana perasaan mereka.Pria itu masih begitu bisu. Sangat jelas mengatur suasana hati Moreau menjadi tidak nyaman. Abihirt sudah memintanya untuk melupakan peristiwa semalam, tetapi prospek tersebut malah lebih sering membuat kejadian yang tak diinginkan sebagai hidangan utama.“Jangan lupa. Paman Juan juga akan datang. Dia sudah menyiap
Selalu banyak ketakutan, meski pada akhirnya Moreau harus mengakui kalau ... dia justru tidak mendapati apa pun di sini. Abihirt tidak terlihat di mana pun seperti yang diharapkan. Namun, terdapat satu hal yang tak dapat diabaikan lebih lama. Sebelah alis Moreau terangkat tinggi melihat setangkai bunga—tadi di dalam genggaman pria itu, sekarang sudah tergeletak sendiri di atas ranjang. Seolah Abihirt meluapkan kekesalan dengan melempar benda tersebut secara asal, lalu meninggalkannya begitu saja; diliputi petunjuk bahwa suara – suara dari kamar mandi adalah bukti saat ini pria itu sedang membersihkan diri di dalam.Secara tentatif ujung jemari Moreau terulur. Menyentuh tangkai bunga yang sedikit terlihat tidak baik – baik saja. Ingatan bagaimana cengkeraman Abihirt saat kembali bertemu Mansilo Hubber tidak dapat disingkirkan. Kekhawatiran menyergap, tetapi perlu menunggu pria itu selesai supaya mereka bisa bicara serius.Moreau akan menunggu. Ujung telunjuk dan ibu jari
Sayang sekali, keinginan apa pun ... yang sedang bertumpuk sebagai sesuatu yang bertingkat – tingkat di balik bahunya. Tidak memberikan prospek lebih baik. Moreau harus menerima kenyataan kalau – kalau ... Mansilo Hubber bersedia menunggu lebih lama; dengan alasan ... bahwa Lore dan Arias perlu melihat wajah pria paruh baya itu, supaya mereka bisa memiliki ikatan sempurna.Moreau sulit untuk memberi penolakan, tetapi di lubuk hatinya begitu takut jika Abihirt justru merasa sangat keberatan. Dia masih tidak bisa menduga bagaimana suasana hati pria itu. Setelah penolakan semalam, sesuatu dalam dirinya sedikit disadarkan oleh situasi asing—seperti kali pertama mereka kembali bertemu setelah lima tahun berlalu.Hanya saja, kali ini dia berada di posisi bersalah, sementara Abihirt ... mungkin masih berusaha mengobati harga diri yang terluka, sehingga membawa anak – anak pergi sebentar menjadi pilihan bagi pria itu. Sebuah kebetulan—baru saja mengingat mereka dan sekarang ... Moreau bisa m
Mereka berciuman lagi; nikmat; membakar dan tangan Moreau perlahan menyusuri wajah ayah sambungnya, merasakan rahang pria itu yang kasar, sedikit mengagumi, berharap selalu terbiasa dengan tektur indah di sana sekalipun harus terkejut merasakan Abihirt sengaja melebarkan kedua kakinya lebar.
Sayup – sayup derap langkah seseorang di balik pintu terdengar mendekat. Ditambahkan gemerincing anak kunci yang memberitahu suatu informasi di sana. Ada yang akan masuk, tetapi sebagian di antara mereka harus bersikap waspada. Moreau melirik ke sekitar walau tidak menemukan apa pun—semua
Pria itu tiba – tiba merampas bibirnya. Memberi sebuah ciuman panas; menggairahkan dengan pelbagai bentuk kepemilikan murni. Ya, terlalu lembut hingga Moreau tidak dapat membedakan mana yang keliru dan sesuatu yang dia mau. Iris mata mereka kembali memerangkap. Sentuhan ringan di sudut bibi
“No.” “No.” “Hentikan.” “Jangan lakukan ini.” Rasanya Moreau baru tertidur untuk waktu yang singkat, tetapi suara sayup – sayup di luar terdengar begitu jelas di keheningan malam. Seperti berusaha mengambil seluruh kendalinya, kemudian dia tersentak dengan tidak mengerti menat







