MasukAluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan.
Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka dijodohkan. "Iya, Aluna. Kamu memang sudah harus menikah, usiamu sudah 24 tahun, sudah dewasa," ucap kakak ipar Aluna, istri kakaknya. "Aku memang sudah dewasa, tetapi mentalku belum siap untuk jadi istri," ujar Aluna dengan nada kesal, menatap tak suka pada kakak iparnya. Reigen ingin menasehati adiknya, akan tetapi tiba-tiba HP-nya berdering. Dia pergi sebentar untuk mengangkat telepon. "Mau sampai kapan kamu menyusahkan Mas Reigen?!" ketus Shela, kakak ipar Aluna. Perempuan itu bersedekap angkuh sambil menatap dingin pada Aluna. Kebetulan suaminya sedang pergi, jadi ini kesempatannya. Sudah sejak lama dia tidak suka pada Aluna. Perempuan ini terlalu manja pada suaminya dan bekerjapun harus bersama suaminya. Baginya Aluna adalah beban untuknya dan suaminya. "Aku sudah muak yah sama kamu. Kerjaan kamu cuma morotin uang Mas Reigen saja. Kamu numpang hidup, tidak melakukan apa-apa, dan tahunya bikin malu!" Aluna mengerutkan kening, menatap kakak iparnya kesal bercampur tersinggung. "Eh, aku kerja yah. Aku juga nggak pernah morotin uang Kak Reigen, dan uang yang Kak Reigen kasih ke aku itu uang dari orang tua aku." "Halah!" Shela mengibas tangan secara malas di depan wajah, "tidak morotin tapi kerjaannya cuma minta-minta duit ke suami aku! Kerja kamu bilang? Kamu kerja di perusahaan suamiku kan? Aku yakin sekali, kamu kerja juga bukan karena bakat tetapi karena kamu adiknya Mas Reigen. Udalah, kamu nikah saja. Atau nggak, pergi sana ikut orang tuamu ke LA. Jangan di sini soalnya kamu menyusahkan!" "Apa yang aku susahkan? Coba bilang dibagian apa aku menyusahkan?" ucap Aluna dengan suara yang mulai bergetar, tersinggung dan sakit hati dianggap beban oleh Shela. Terlebih perempuan ini menuduhnya meminta-minta uang pada Reigen dan kerja tanpa bakat. "Kamu tinggal di sini saja itu sudah nyusahin!" "Eh, ini rumah orang tuaku yah!" "Mas Reigen itu anak laki-laki dan anak pertama. Jadi rumah ini rumahnya. Pokoknya kamu harus menikah!" Aluna mengepalkan tangan, lalu tanpa mengatakan apa-apa dia segara pergi dari sana–masuk dan mengurung diri dalam kamar. Di sisi lain, Reigen datang dan sedikit bingung karena adiknya tak ada lagi di sana. "Di mana anak kecil itu?" tanya Reigen. "Sudah ke kamar, Mas. Katanya ngantuk. Tapi … aku sudah bicara dengan Aluna dan Aluna setuju kok untuk menikah dengan Om Kaizen," ujar Shela lembut, senyum manis pada suaminya. "Hum. Sudah seharusnya memang mereka menikah. Aku khawatir Aluna hamil dan itu malah membuatnya diserang banyak orang," ucap Reigen. Aluna memang sudah menjelaskan kalau dia tidak akan hamil, tetapi tetap saja Reigen khawatir. Intinya, Reigen hanya memikirkan nama baik adiknya. ✿✿✿ Pada akhirnya Aluna menikah dengan Kaizen. Aluna kira setelah orang tuanya pulang ke negara ini, dia bisa membatalkan perjodohan itu. Namun, Shela berhasil meyakinkan orang tuanya supaya Aluna tetap menikah. Hari ini Aluna resmi menikah dengan Kaizen dengan perasaan yang campur aduk. Dia sedih karena kekebasannya pasti akan terenggut setelah ini dan dia juga menahan kesal karena dendam pada Shela yang berhasil menghasut orang tuanya. Pernikahannya dengan Kaizen termasuk mendadak. Acaranya sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga besar saja. "Aku sudah resmi jadi istri Om Kaizen," gumam Aluna dengan nada lemas, membaringkan tubuh di ranjang. Acara pernikahannya sudah selesai, dia sudah di rumah mewah keluarga Adam. Lebih tepatnya di kamar Kaizen, kamar yang menjadi saksi bisu pada malam itu. "Tapi kalau dipikir-pikir nggak apa-apa sih harusnya. Kan … Om Kaizen itu terkenal cuek. Dia pasti nggak bakalan peduli aku mau ke mana dan gimana. Waktu itu saja, pas ketemu setelah insiden itu, dia cuma nanyain dompetnya, sama sekali tidak menyinggung masalah kejadian itu. Dia juga tidak menyalahkanku atas insiden itu, malah membantuku supaya jujur untuk menyebut siapa orang yang menjebakku," monolog Aluna, merasa kalau sikap cuek Kaizen tidak terlalu buruk. Malah ini menguntungkannya karena dia berpotensi tetap bisa bebas seperti sebelum menikah. Dia juga tetap bisa tinggal di negara ini tanpa harus satu atap lagi dengan kakak iparnya yang jahanam itu. Yah, dia yakin sekali, Kaizen pasti tidak akan peduli pada apapun yang Aluna lakukan. Ah yah, mengenai pria yang menjebaknya. Aluna tidak mengungkapnya karena dia tidak tahu siapa namanya. Sudah Aluna katakan, ada banyak sepupunya yang tidak ia kenali. Masalah itu akan diselidiki lebih lanjut dan akan ditangani secepatnya. Ceklek' Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Aluna pura-pura memejamkan mata. Yah, sejak tadi Kaizen di kamar mandi dan tentunya untuk mandi. Mengingat ini malam pertama mereka, Aluna menjadi panik dan takut. Ketika pintu kamar mandi terbuka dan Kaizen keluar dari sana, Aluna langsung mencium aroma wangi segar dari sabun. Hal tersebut membuat jantung Aluna berdebar makin kencang. Sret' Tiba-tiba saja tangannya ditarik, disentak cukup kuat sehingga Aluna berakhir duduk di tepi ranjang. Ketika dia membuka mata, pemandangan indah langsung menyapa matanya. "Wah … ro-roti sobek," gumamnya pelan sambil menatap berbinar-binar pada pemandangan di depannya. Perut sixpack Kaizen! "Ekhem." Kaizen berdehem dingin. Aluna mendongak lalu mengerjap beberapa kali. "Om nggak pake baju, mau malam pertama yah, Om?"Plak'Dengan sangat murka dan kencang, Kaizen langsung melayangkan tamparan ke wajah Vanessa."Ahck," ringis Vanessa, tersungkur kasar di lantai—berbaring dengan posisi menyedihkan, sambil memegang pipi yang panas dan sakit luar biasa. "Aku benci perempuan berisik!" geram Kaizen, matanya berselimut marah dan wajah tampak menyeramkan. Dia melangkah mendekat ke arah Vanessa, mencengkeram wajah perempuan itu secara kasar—membuat Vanessa yang menahan sakit, buru-buru duduk untuk mengikuti tarikan Kaizen pada rahangnya. Plak'Kaizen kembali mendaratkan tamparan yang sama kuatnya dengan yang tadi. "Unggg." Vanessa memekik tertahan. Ini sangat sakit luar biasa, rahangnya terasa bergeser dan mungkin patah. Air matanya jatuh karena perasaan takut yang bercampur dengan perasaan sakit hati sebab dia ditampar oleh pria yang ia dambakan sejak lama. Kaizen melepas cengkeramannya dari pipi Vanessa secara kasar, membuat Vanessa kembali terhempas kasar—lagi-lagi berakhir berbaring di lantai. Setel
Aluna benar-benar menonton seluruh kartun yang ada di laptopnya. Dia bahkan menonton ulang beberapa kartun supaya Kaizen jengah dan bosan menemaninya lalu pada akhirnya pergi. Namun, ternyata pria ini tetap setia menemaninya. Bahkan tangan Kaizen tak hentinya mengelus rambutnya. "Aku sudah selesai," ucap Aluna, mematikan laptop lalu meletakkannya di atas nakas. "Humm." Kaizen berdehem rendah, "sekarang kita harus bicara.""Silahkan," jawab Aluna acuh tak acuh. Dia berniat pindah, akan tetapi Kaizen memeluk pinggangnya—menahannya supaya dia tak pergi. Kaizen menunduk menatap istrinya dengan ekspresi datar. Akan tetapi sorotnya menatap lekat dan dalam pada Aluna."Kemarin, aku mengaku salah. Tetapi aku sama sekali tidak berniat untuk melakukan kesalahan," ucap Kaizen dengan nada tegas. "Yang kutahu pestamu diadakan di jam setengah lima, dan untuk bisa datang aku sudah berusaha. Tapi saat aku datang, pesta kalian sudah selesai.""Aku tidak mempermasalahkannya. Lupakan," jawab Aluna
"Liam menyukai Aluna?" Kaizen mengerutkan kening, ekspresinya datar tetapi sorot matanya tajam dan terasa membunuh. "Masih dugaan, Tuan," ucap Alan, "karena … ketika di hari pemakaman ayah Vanessa, kulihat Liam beberapa kali mencuri pandang pada Nyonya. Entah kenapa, saat itu dia juga selalu ada di sekitar Nyonya. Maksudku, ketika Nyonya ada di ruang tengah rumah Vanessa, dia juga ada di sana. Saat Nyonya pindah ke depan, dia juga ikut pindah. Selain itu, ketika Nyonya di rumah sakit setelah tertabrak, dia juga di sana, bukan?"Kaizen menganggukkan kepala secara pelan. Dia ingat, saat itu Liam memang ada di sana. Namun, Kaizen cukup cuek pada sekitar, jadi dia tak terlalu memperhatikan Liam. Toh, yang dia tahu Liam begitu mencintai Vanessa, jadi tak mungkin rasanya Liam bisa suka pada perempuan lain. Pria yang mencintai perempuannya tak akan tertarik pada wanita lain, bukan?Atau … memangnya ada pria yang mencintai satu perempuan tetapi masih bisa tertarik pada perempuan lainnya? J
Bug' Kaizen langsung melayangkan pukulan ke wajah Arsenio, membuat pria itu seketika tersungkur kasar ke lantai. "Tutup mulutmu, Sialan!" marah Kaizen, menunjukan ekspresi murka. Wajahnya merah padam, mata melebar—sorot penuh amarah, rahang mengatup kencang, dan aura mengerikan menguar dari dirinya. Arsenio segera mengambil posisi duduk. Dia memegang pipinya yang mendapat pukulan kuat dari Kaizen, dan hanya diam tanpa perlawanan—menoleh ke arah lain agar tak bersitatap dengan Kaizen. Jika saja dia bersitatap pria gila yang masih diselimuti kemarahan ini, maka dia pasti … sedikitnya dia akan menginap di ICU. "Tu-Tuan, tenangkan diri anda," ucap Alan dengan nada gugup, panik melihat Kaizen yang murka. Alan menarik lengan Kaizen lalu menjauhkannya dari Arsenio. "Kalian teman, Tuan." "Cih." Kaizen berdecih remeh mendengar kalimat akhir Alan, setelah itu segera beranjak dari sana dengan ekspresi wajah yang mengerikan. Alan sendiri segera mengikuti Kaizen. Sedangkan Arsenio, dia
"Tu-Tuan Kaizen.""Wah … Tuan Kaizen datang.""Tu-Tuan sungguhan datang, Guys."Bisik beberapa staf DeRa Films yang masih ada di kantor. Pesta sudah berakhir dan beberapa dari mereka memilih pulang karena sudah diperbolehkan pulang. Sisanya masih di sana karena masih ingin menghabiskan waktu bersama. Kaizen mengabaikan bisik-bisik tersebut, menatap seluruh penjuru ruangan untuk menemukan istrinya. Namun, dia sama sekali tak menemukan Aluna. Bahkan si penulis yang merangkap jadi asisten istrinya juga tak terlihat. Kaizen akhirnya memilih menghampiri Arsenio, di mana pria itu memang belum pulang karena masih harus mengerjakan sesuatu—pekerjaan sendiri. "Ah, Kai—Tuan," ucap Arsenio saat Kaizen sudah berada di depannya. Dia berdiri lalu membungkuk untuk memberi hormat. Sekalipun Kaizen temannya sejak kecil, akan tetapi Arsenio tetap hormat pada pria ini. Dia berteman baik, tapi tak lupa jika Kaizen adalah tuannya. "Aluna Rasya Adam di mana?" tanya Kaizen, sengaja menyebut nama leng
"Hais." Aluna menyeru sebal lalu melambaikan tangan di depan dada, "jangan selamat dulu, Mas. Belum saatnya." "Film-mu sukses, Aimee," Kaizen menaikkan sebelah alis. "Iya, tapi ada yang ingin kutakatakan pada Mas," ucap Aluna dengan nada pelan, mendadak ragu dan gugup. Sejujurnya yang ingin dia sampaikan pada Kaizen adalah permintaan rekan kerjanya. Mereka ingin …- "Katakan." Kaizen berkata datar. "Umm … karena filmnya sukses, penayangan minggu pertama tembus 1 juta penonton, kami ingin merayakannya." Aluna berkata was-was, diam sejenak untuk melihat respon suaminya. "Itu bagus." Kaizen mengagum pelan. "Besok." ucap Aluna lagi, "dan … staf DeRa nge-fans ke Mas. Jadi mereka memintaku untuk mengundang Mas Kaizen untuk hadir di pesta besok, Mas," ucap Aluna ragu-ragu, "aku terlanjur bilang ke mereka kalau Mas pasti hadir. Soalnya mereka senge-fans itu ke Mas-nya dan aku ingin menyenangkan mereka karena mereka sangat bekerja keras di film ini. Hasil filmnya pun sangat memuaskan.
Dan sepertinya itu benar! "Bukan tidak punya empati, tapi kau harus istirahat, Aimee," datar Kaizen, tiba-tiba berhenti lalu mendadak menggendong Aluna–membuat Aluna melebarkan mata karena kaget. "Wei … Mas," horor Aluna. "Kau terlalu lambat," gumam Kaizen, berkata pelan–lanjut jalan sambil
Saat ini Aluna duduk di kursi panjang rumah sakit. Mereka sudah sampai di kota mereka. Kaizen langsung membawanya ke rumah sakit karena orang tua Kaizen juga ada di sini–untuk menjenguk sekaligus menjaga orang tua Vanessa. Sebenarnya Kaizen menyuruh Alan untuk mengantarnya pulang, akan tetapi Al
Aluna segera menghampiri Kaizen, di mana setelah di depan pria itu Kaizen langsung mendongak lalu menyerahkan HP tersebut pada Aluna. Sebelum Aluna memintanya. Aluna memeriksa HP-nya karena takut Kaizen melakukan sesuatu pada ponselnya. Kaizen berdiri dari kursi, segera meraih pergelangan tangan
"Mas!" pekik Aluna, saking takut dan kagetnya dia dengan apa yang Kaizen lakukan.Bagiamana tidak? Tiba-tiba saja Kaizen datang, lalu tanpa babibu menarik kencang kerah kemeja Gilbert–pada bagian belakang, setelah itu dengan kejam Kaizen menendang kepala Gilbert. Aluna begitu shock! Refleks berdir







