Mag-log in"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal!
"Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan ekspresi konyol. "Serius kamu?" "Iya, Kak." Naia menganggukkan kepala secara antusias. Sekalipun baru bertemu waktu itu, tetapi Naia langsung menandai wajahnya. Oleh sebab itu dia masih ingat jelas wajah perempuan yang tidur dengan putranya. Sebelumnya, Naia memang sempat memesan jasa pencari jodoh untuk putranya. Dia dengar di keluarga kakak iparnya ada yang buka jasa pencari jodoh dan terbukti andal. Oleh karena itu dia meminta tolong pada sang kakak ipar untuk mempertemukannya dengan si mak comblang. Tetapi karena kejadian waktu itu, di mana Kaizen telah meniduri seorang perempuan, Naia berniat membatalkan rencananya mencari jodoh untuk putranya dari jasa mak comblang ini. Namun, Naia sangat tak menyangka kalau mak comblang-nya masih sangat muda dan orang yang sama dengan perempuan yang putranya tiduri. "Heh, ini cucukku, Nai," bisik Nindi dengan raut muka horor, "kamu serius Aluna orangnya?" "Serius, Kak. Dan aku tidak peduli kalaupun dia cucumu. Pokoknya anak manis ini harus menikah dengan Zen-ku. Tapi si cantik ini mau tak yah menikah dengan Zen-ku yang sudah ketuaan?" bisik Naia lagi, senyum-senyum manis tapi masih terlihat gugup karena di depannya ada istri masa depan putranya. "Halo, Tante? Nenek imut?" sapa Aluna lagi, melambaikan tangan pada sang klien dan nenek kecilnya. Keduanya terlihat asik, mengabaikannya yang tengah kebingungan. Tiga kali dia berusaha menyadarkan akan tetapi keduanya masih asyik berbisik-bisik, entah membahas apa. Hingga tiba-tiba saja muncul sosok yang Aluna hindari dan takuti kebaradaannya. Aluna melebarkan mata, dia buru-buru menutupi wajah dengan tas lalu segera kabur dari sana. Namun, karena panik, Aluna tersandung kaki sendiri, membuatnya terjatuh. Konyol! "Aluna sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Nindi dari tempatnya, khawatir pada kondisi perempuan yang sudah ia anggap seperti cucu kandung itu. Aluna tak menjawab, menolak menoleh ke belakang karena takut sosok itu melihat wajahnya. Dia dan pria itu jarang bertemu, seharusnya sosok itu tak mengenalinya secara spesifik atau detail. Namun, dia tetap khawatir dan takut! Aluna buru-buru bangkit, akan tetapi tiba-tiba saja ujung sepatu pantofel yang mengkilat muncul di hadapannya. "Aaaarkk …." Aluna sontak berteriak kencang saat mendongak, efek panik dan takut karena pria yang dia hindari itu benar-benar ada di depannya. Demi Tuhan! Baginya sekarang sosok ini lebih seram dan menakutkan dari hantu. Yah, Kaizen Xavier Adam. Pria dingin dengan wajah tampan namun selalu setia memasang ekspresi lempeng! Pria itu terlihat menekuk alis secara tajam, bising mendengar jeritan Aluna. Kaizen tiba-tiba mengulurkan tangan pada Aluna yang masih terduduk konyol di lantai. Karena tatapan pria itu sangat tajam, Aluna menerima ularan tangan pria itu. Akan tetapi Kaizen malah menepis tangannya, menepuk punggung tangannya secara pelan. Sekalipun pelan tetapi Aluna tetap merasa sakit. "Dompetku," dingin Kaizen, menekan suaranya untuk memperingati perempuan lambat dan berisik ini. Aluna langsung mengusap tangan yang ditepis oleh Kaizen, dia menggembungkan pipi karena menahan malu. Sialan! Dia kira pria ini menawarkan bantuan, ternyata meminta dompet. 'Bajingan! Dasar Om-Om tembok!' batin Aluna, segera merogok tas lalu mengeluarkan dompet Kaizen. Untung dia bawa ke tempat ini karena dia berniat meninggalkan dompet tersebut secara diam-diam di sini supaya orang di rumah ini lah yang akan mengembalikannya pada Kaizen. "Nah." Aluna menyerahkan dompet tersebut pada Kaizen, menunjukkan raut muka dongkol sekalipun jantungnya terus berdebar kencang. Kaizen meraih tangan Aluna, bukan dompetnya. Dia menarik perempuan itu dengan sekali sentakan, membuat Aluna berdiri dan berakhir menanbrak dada bidangnya. Tubuh perempuan ini terlalu ringan! "Aduh," keluh Aluna ketika keningnya menabrak dada kokoh nan keras milik Kaizen. 'Bukan mukanya saja yang kek tembok, badannya pun kek tembok. Sakit banget keningku.' batin Aluna, segera mundur–mengusap kening sambil menatap cemberut pada Kaizen. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Nindi, menghampiri Aluna dan Kaizen. Aluna menunjukan ekspresi cemberut pada neneknya, berharap neneknya memarahi si pria tembok di sebelahnya. "Zen, jangan kasar yah sama calon menantu Mama!" marah Naia pada putranya, ikut menghampiri Aluna dan Kaizen. "Hah?" Aluna sontak menganga dengan mata membulat–syok mendengar ucapan si klien. Ca-calon menantu? Dan apa tadi? Mama? "Hei hei … salah paham, Tante Gemes. Aku mak comblang-nya, bukan calon jodoh anaknya Tante," jelas Aluna dengan gaya yang khas, sedikit plenger dan masih shock. Ya kali dia! "Kamu memang menantuku, Sayang." Naia meraih tangan Aluna lalu senyum manis pada calon menantunya tersebut, "ini putranya Tante," tambahnya sambil menatap ke arah Kaizen, "dan kamu sama putranya Tante sudah tidur bareng kan?" "E-enggak." Aluna menggelengkan kepala secara kuat, menoleh kaku pada Kaizen yang diam seperti tembok lalu kembali menatap klien-nya yang ternyata adalah ibu dari pria yang menidurinya. Maklumlah pada Aluna. Keluarganya saja banyak yang tak ia kenali, apalagi keluarga dari pihak nenek kecilnya. Dia kenal Kaizen saja karena beberapa kali datang ke sini. Sedangkan ibu pria ini, mungkin sudah pernah bertemu dengan Aluna sebelum-sebelum ini. Namun, Aluna kurang hapal wajahnya. Jadi tak langsung mengenali. "Aku … sawasdee-ka …-" sapa Aluna tiba-tiba dengan berirama lalu secara absurd membungkuk pada semua orang di sana. "Thai … Thai," tambahnya sambil menunjuk diri sendiri, mengaku-ngaku kalau dia berasal dari negara tetangga. Dengan begitu, pasti dia tidak dikaitkan lagi dengan Kaizen. Harusnya! "Udalah." Naia senyum penuh arti, mengibaskan tangan di depan wajah, "Tante lihat kok kamu di kamar Kaizen. Tante yang memergoki kamu waktu …-" "Aaaaaarkkkk …." Aluna tiba-tiba menjerit, shok, malu, sekaligus panik. Kaizen yang benci kebisingan segera pergi dari sana, memilih duduk di sofa. "Yeii …." Naia dan Nindi sama-sama menyeru happy, membuat Aluna diam dengan tampang muka muram. "Hebat yah mak comblangnya, Zen-ku langsung ketemu jodohnya," gumam Naia riang, membuat wajah Aluna semakin kusut dan pucat. *** Saat ini Aluna ada rumahnya, berhadapan dengan kakaknya. Karena kejadian itu sudah ketahuan, kakaknya tadi dipanggil ke rumah nenek kecilnya untuk membahas lebih lanjut hubungan Aluna dan Kaizen. Tadi, Kaizen tidak membantah perbuatannya, sedangkan Aluna berusaha bersuara agar tidak menikah dengan Kaizen. Bagaimanapun dia masih sangat muda, dia masih ingin mengembangkan kemampuan, berkarir, dan ingin bebas. Pernikahan itu mengikat dan menjerat. Contohnya Sza yang sudah jarang keluar dengannya. Jika ingin bertemu, harus Aluna yang mendatangi. Keluarga Azam yang terkenal memberikan kebebasan untuk pasangannya berkarir saja, membuat sahabatnya seperti terpenjara dalam sangkar emas. Apalagi keluarga Adam yang dirumorkan mengekang pasangannya. Aluna tidak mau! Namun, tadi tak ada yang mau mendengarkan pendapatnya. Oleh sebab itu dia ingin bicara lagi pada kakaknya, meminta bantuan pada kakaknya supaya dia tidak menikah dengan Kaizen. "Kau memang harus menikah dengan Om Kaizen, Aluna. Kalian sudah …-" Reigen, Kakak Aluna yang berusia 31 tahun tersebut berhenti berbicara sejenak karena tak enak harus mengatakan hal itu pada adiknya, "intinya kau dan Om Kaizen sudah dijodohkan oleh Kakek Zeeshan. Kita tidak bisa membantah. Toh, ini juga salahmu," tegas Reigen.Saat ini Inggita sudah di rumah, sedang beristirahat dalam kamar. Aluna sendiri tak bisa mendampingi hingga ke sini karena masih ada urusan pekerjaan. Namun, Aluna ikut bahagia dengan kebahagian kakaknya dan kakak iparnya. Yah, Inggita hamil! "Mas Raigen banyak diamnya. Kenapa?" tanya Inggita, mengamati suaminya yang sedang mengusap buah jeruk secara teliti—hingga kulit ari-ari jeruk tersebut dibuang sebersih mungkin. Saat dokter mengatakan Inggita hamil, Raigen sempat mengucapkan syukur dengan sangat kencang. Kebahagiaan pria itu juga tampak nyata. Namun, setelah sampai di rumah, mendadak Raigen sangat pendiam. "Tidak apa-apa, Sweetheart. Hanya sedikit khawatir," jawab Raigen sambil senyum hangat, menyerahkan jeruk yang sudah ia kupas dan bersihkan dari kulit adiknya pada istrinya, "mungkin sepertinya mulai sekarang aku akan melarangmu lewat dari tangga, Sweetheart. Kau hanya boleh turun dan naik ke lantai atas bawah dengan mengunakan lift." "Kenapa begitu, Mas?" Inggita
Atau dengan Shela pun tidak masalah, karena akhir dari obrolan kami adalah doa agar kita selalu bahagia dan selamanya bersama." "Begitu yah?" gugup Inggita sambil menatap malu campur grogi pada Raigen. Dia sudah segila ini dan ternyata … ini hanya fitnah seseorang yang ingin menghancurkan hubungan mereka. "Iya, Wifey. Setelah kita kembali ke kota, aku akan mengajakmu bertemu dengan Shela. Bagaimana?" Inggita menganggukkan kepala secara ragu. Dia sejujurnya malu karena ini membuatnya terlihat cemburuan dan tipis kepercayaan. Akan tetapi Inggita … ingin menghapus seluruh ketahuan di hatinya. "Masalah curat cerai, itu bukan dariku, Sweetheart. Tapi … aku akan menyelidiki ini secara tuntas dan sekalipun dia family, aku tak akan memaafkannya," ucap Raigen dengan nada bersungguh-sungguh, tetapi penuh dendam di akhir kalimat. "U'um." Inggita menganggukkan kepala secara pelan. "Kita berdamai?" ujar Raigen pelan, lagi-lagi mendapat anggukan dari Inggita. "Besok kita pulang k
Sayangnya Inggita menolak percaya karena video itu masih berputar di kepalanya. "Tidak terhitung berapa kali aku cemburu saat melihatmu akrab dengan pria lain. Tidak terhitung berapa kali aku menahan kesal karena wajahmu yang selalu berpaling saat berpapasan denganku. Lalu sekarang kau bilang aku menikahimu tanpa cinta?" Raigen diam sejenak sambil menatap lekat wajah cantik istrinya. Cup' Raigen menghapit dagu Inggita lalu mengangkatnya supaya Inggita mendongak padanya. Setelah itu, dia mencium bibir istrinya—melumatnya lembut dan penuh perasaan. Awalnya Inggita hanya diam dan tak peduli pada ciuman itu. Bayang-bayang Shela memeluk suaminya, terus menghantuinya. Namun, pada akhirnya Inggita membalas ciuman itu. Permainan bibir Raigen sangat lembut dan menghanyutkan. Inggita lama-lama terlena dan hanyut. Mereka cukup lama berciuman, hingga pada akhirnya Raigen melepas setelah istrinya memukul pundaknya—isyarat untuk berhenti. Inggita langsung memburu oksigen, memalingkan wa
"Bicara serius, Gita," ucap Raigen datar, menepuk bagian kosong di sebelahnya sebagai isyarat supaya Inggita duduk di sebelahnya. "Kemari!""Aku di sini saja," jawab Inggita dengan keras kepala. Raigen mengatupkan rahang, menatap Inggita dengan ekspresi wajah marah dan kesal. "Aku masih suamimu, kau tidak perlu sewaspada ini padaku, Gita. Cepat kemari! Kita harus bicara."Inggita pada akhirnya berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia duduk di sebelah Raigen tetapi dengan jarak yang jauh. "Kalau kau duduk jauh begitu, bagaimana aku akan memelukmu, Inggita Larasati Adam?!" Raigen menatap istrinya tajam, memberi isyarat supaya Inggita bergeser lebih dekat padanya. "Pak Raigen mau bicara apa sebenarnya," tanya Inggita, mengabaikan perkataan Raigen. Dipeluk oleh Raigen? Inggita juga sangat ingin. Hanya saja … bayang-bayang saat Raigen memeluk mantan istrinya, itu terlalu menyakitinya sehingga dia merasa pelukan pria ini bisa mengantarnya ke luka baru. "Hah." Raigen berdehem rendah, men
Dia meraih HP lalu memeriksa siapa nomor yang menelpon. Ternyata …---Pak Raigen--Itu nama kontak Raigen sekarang, Inggita sudah menggantinya. Setelah dua minggu tak pernah mengabari atau mengirim pesan padanya, akhirnya pria ini menghubunginya. Sungguh, darah Inggita berdesir hebat saat membaca nama di layar HP. Jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya langsung tegang. "Dia nelpon untuk apa yah?" gumam Inggita pelan, menatap layar cukup lama—matanya panas karena ingin menangis. "A-apa meminta uang ganti tebusanku waktu itu yah?"Jantung Inggita berdebar sangat kencang, dia panik, takut, dan gugup. Pada akhirnya Inggita menolak panggilan telepon dari Raigen lalu buru-buru mencek saldo di m-banking. Uangnya hanya seratus juta. Sejujurnya itu banyak bagi Inggita, malah sangat banyak. Hanya saja, uang yang Raigen keluarkan untuk menebusnya itu sebanyak 500 juta.Sekalipun Inggita membayar uang tebusan itu, Inggita tetap berutang 400 juta lagi pada Raigen. "Ta-tapi kan soal uang tebusa
Apa Kakak nggak niat jemput?" tanya Aluna, kebetulan ada urusan ke kantor kakaknya jadi dia berkesempatan bertemu dengan sang kakak. Raigen menggelengkan kepala. "Biarkan saja," jawabnya terkesan acuh tak acuh, "masalah cutinya selama ini, hitung sebagi bolos kerja," tegasnya kemudian. "Hah?" Aluna mengerutkan kening lalu menatap kakaknya dengan ekspresi penuh tanda tanya campur khawatir, "Kakak sama Kak Gita ada masalah yah?""Bukan Kakak. Dia sendiri yang bermasalah. Nenek dan Bibinya tidak sakit, tak ada jalanan yang longsor. Dia berbohong!" ucap Raigen dingin, "Kakak benci dibohongi. Kau tahu itu, bukan?""Ya-ya." Aluna menggaruk pelipis sambil menatap campur aduk pada kakaknya. 'Waduh, patal juga Kak Inggita ini. Tapi buat apa Kak Inggita bohong ke Kak Raigen, coba?'"Tapi kan, Kak … masa kalian jadi begini. Maksudnya … kalau kalian pisah gini, cara kalian nyelesaiin masalah gimana coba? Gih, Kakak jemput Kak Inggita. Kalau memang ada masalah, kalian obrolin baik-baik. Jangan g
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat







