Share

4. Pertemuan

Author: CacaCici
last update publish date: 2026-04-16 07:41:33

Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju.

Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang muncul. Naia mengusap air mata buayanya, cengar-cengir karena akhirnya …-

"Yes! Akhirnya bujangan kadaluarsa-ku ini bersedia menikah juga," gumam Naia pelan, sangat girang dan riang.

Ketika kembali menghadap putranya, Naia langsung menunjukan ekspresi galak. "Secepatnya kamu temui perempuan itu dan bawa dia ke keluarga kita. Jika tidak, Mama akan berhenti jadi ibumu. Mama kecewa!"

"Baik, Mah," jawab Kaizen datar–nada biasa yang sudah melekat dengan suaranya.

✿✿✿

"Papai, Mama," ucap Aluna, setelah itu mematikan sambungan telepon–handphonenya yang lain.

Saat ini dia berada di kamar, dia habis bertelponan dengan orang tuanya yang masih di LA. Orang tuanya akan tinggal di sana dan tadi mamanya kembali membujuknya supaya bersedia ikut tinggal di sana.

Sebelumnya, Aluna menolak keras karena dia telah kecintaan dengan negara ini. Budaya negara ini, dia begitu mencintainya. Jadi dia memutuskan untuk tetap di negara ini. Toh, kakaknya masih di sini dan keluarganya yang lain juga ada di sini.

Namun, karena kejadian tadi malam, sekarang Aluna mempertimbangkan. Apa dia kabur saja ke LA?

Mengenai pil penunda kehamilan, Aluna sudah meminumnya. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya dan semoga setelah ini dia tak lagi bertemu dengan Kaizen.

"Hais!" Aluna langsung menepuk jidat, menampilkan ekspresi berang dan masam ketika melihat dompet Kaizen yang berada di atas nakas.

Sialan! Dia berharap tidak lagi bertemu dengan Kaizen sedangkan dompet pria itu saja ada padanya.

"Anjir banget hidupku. Argkkk! Ini semua gara-gara si brengsek itu. Huaaaa … gimana ini?! Aku balikin dompetnya dengan cara apa? Masa ketemu habis itu minta maaf gegara … haaaah … aku nggak mau ketemu dia!" pekik Aluna, merengek sendiri sambil memukul-mukul ranjang.

"Ta-tapi kan tas dan HP pribadiku kayaknya ada di mobilnya. Huaaaa … anjir! Aku harus gimana?! Aku nggak mau ketemu tapi dompetku dengan dompetnya ingin kami ketemu," pekik Aluna lagi, mencak-mencak sendiri karena frustasi dengan keadaannya.

Di saat dia tidak ingin bertemu dengan Kaizen dan berniat kabur ke LA, dompetnya dan dompet pria ini terasa menghalangi.

Dompet Aluna ada dalam tas kecil–tertinggal di dalam mobil pria itu. Sedangkan HPnya juga ada di sana.

Yah, Aluna punya dua HP. Satu HP pribadi atau HP utama dan ke-dua, HP untuknya bekerja sebagai asisten pribadi kakaknya di perusahan keluarganya–Des'Art (perusahaan industri keratif yang memproduksi karya seni pahat, seni lukis, logo, animasi. Tentunya punya studio, museum, dan galeri seni ternama di negeri ini.)

Selain itu, Aluna juga punya pekerjaan sampingan–buka jasa mencari jodoh. HP ke-duanya ini adalah alat komunikasinya dengan sang klien. Akan tetapi karena HP utamanya tertinggal di mobil Kaizen, jadilah Aluna mengunakan HP keduanya untuk menghubunginya orang tuanya.

"Pokoknya aku harus mikirin cara supaya bisa mengembalikan dompet Om Kaizen tanpa harus bertemu dengannya. Tapi dompet sama HP-ku gimana yah? Aku harus minta kan, mengingat dia seperti tembok ultra pro max. Kalau aku nggak minta, tuh orang nggak bakalan ada inisiatif buat ngembaliin dompetku. Ck, frustasi banget! Kenapa, Tuhan, aku harus berurusan dengan Om Kaizen?! Dia itu Adam tapi Adam yang jahanam!"

Usianya dengan Kaizen terpaut cukup jauh. Dia masih 24 tahun dan Kaizen sudah 34, jarak mereka 10 tahun. Namun, bukan faktor usia saja yang membuat Aluna memanggil Kaizen dengan sebutan Om. Pria itu memang om-nya.

Kaizen adalah Adam dari timur, sedangkan Aluna berasal dari keluarga Adam di LA. Ke-dua keluarga tersebut sudah lama pecah dan berpisah. Akan tetapi sekarang kembali berhubungan sebab salah satu putri keluarga Adam timur yang ada di negara ini menikah dengan keluarga Azam–Kekuarga Azam masih bagian keluarga Adam di LA. Perempuan itu adalah tante kandung Kaizen ( kakak perempuan dari ayah pria itu) dan tantenya tersebut menikah dengan pemimpin Azam saat ini.

Sedangkan pemimpin Azam adalah kakek kecil Aluna, bukan kakek kandung tetapi sepupu kakek kandung Aluna. Pemimpin Azam yang sekarang jauh lebih muda dari kakeknya, dan cucu kandung sang pemimpin keluarga Azam masih paling tua masih berusia 11 tahun lebih dan cucu termuda masih usia 7 bulan–bayi.

Sahabat Aluna yang menikah dengan putra sang pemimpin sekarang ia panggil aunty kecil. Dan Kaizen, pria itu dipanggil om karena merupakan keponakan sang pemimpin atau sepupu dari para paman Aluna.

Ah, Aluna tidak bisa menjelaskan lebih singkat dan mudah dipahami. Intinya Kaizen adalah omnya.

Sekarang dia merasa berdosa karena harus tidur dengan omnya sendiri. Tidak ada hubungan darah sedikitpun, akan tetapi … Aluna merinding memikirkannya! Syukurlah dia lupa adegan-adegan hot yang dia lakukan dengan pria itu. Dia hanya ingat kalau dia mencium Kaizen.

"Argkkkk!" Aluna menjerit kencang, langsung menggaruk kepala lalu menggeliat seperti ulat nangka saat mengingat dia telah berciuman dengan om-nya sendiri. "Jauhkan aku darinnya, Tuhan. Tolong!"

✿✿✿

---Tiga hari kemudian--

Aluna memasuki rumah kediaman sang pemimpin Azam, Zeeshan Lavroy Azam dan Nindi Xavier Azam–kakek nenek kecilnya.

Sebenarnya setelah kejadian dia tidur dengan Kaizen, Aluna berniat tak akan menginjakkan kaki lagi ke rumah ini sekalipun sahabatnya tinggal di sini. Itu karena dia takut bertemu dengan Kaizen yang merupakan keponakan tercinta nenek kecilnya dan sekaligus sepupu terdekat paman kecilnya–Xenon Alroy Azam, merupakan suami dari sahabat Aluna yang bernama Sza Mazaya Az.

Dulu, Aluna beberapa kali bertemu Kaizen di sini. Makanya dia parno.

Namun, Aluna terpaksa ke sini lagi karena Aluna harus menemui kliennya. Sebagai si tukang cari jodoh orang, Aluna harus profesional! Kenapa Aluna ketemu kliennya di sini? Karena Sza adalah partner kerjanya dan klien mereka kali ini dekat dengan sang nenek kecil. Neneknya lah yang mengarahkan klien baru ini pada mereka.

"Ini, Aluna-nya sudah datang," ucap Nindi, nenek kecil Aluna yang masih terlihat cantik dan awet muda. "Sza lagi boboin putranya, jadi kamu bicaranya dengan Aluna dulu yah. Tenang saja, Aluna ini anak baik kok dan dia pasti mengerti kesulitan kamu," jelas Nindi pada iparnya tersebut.

Aluna senyum hangat pada sang klien, merupakan wanita paruh baya yang wajahnya sebenarnya tak asing. Ah, tapi sepertinya ini hanya perasaan Aluna saja.

Oh yah, klien Aluna biasanya memang kebanyakan ibu-ibu yang ingin mendapatkan jodoh untuk anaknya. Tetapi bukan sembarangan orang, biasanya kliennya masih kerabat karena pekerjaan Aluna ini khusus untuk keluarganya saja. Bisnis ini idenya berasal dari Sza, sahabatnya. Mereka mengincar keluarga Azam dan keluarga top lainnya karena di keluarga tersebut ada banyak pria yang kaku dan sulit mencari jodoh.

Jadi target sesungguhnya dari bisnis mereka ini adalah ibu-ibu royal yang cemas pada anaknya yang tak mau menikah. Patok harga tinggi dan ibu-ibu pelit dilarang!

Sekalipun Aluna dan Sza berasal dari keluarga kaya raya, tetapi keduanya sang pecinta uang sejati! Di mana ada peluang uang, disitu Aluna dan Sza membuka bisnis abal-abal.

"Halo, Tante. Saya Aluna Rasya Adam. Salam kenal, Tante," ucap Aluna ramah, mengulurkan tangan pada kliennya.

Sedangkan wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, menunjukan ekspresi terkejut. Dia membalas jabatan tangan Aluna, akan tetapi buru-buru melepasnya.

Setelah itu, wanita paruh baya itu mendekati Nindi lalu berbisik padanya. "Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Naf Ura
kurangkan perkataan yang tidak jelas maksudnya seperti anjir.. gunalah ayat yg sesuai, jika tidak perlu gunakan ayat yang tidak jelas maka jangan masukkan. sorry cuma pendapat.
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Aluna buka biro jodoh malah dia yg dapat jodoh , mau lari kemana Aluna , yg mergokin ibunya Kaizen wk wk wk , malah masuk perangkap he he...
goodnovel comment avatar
CacaCici
Huaaa .... CaCi juga senang sekali Kakak suka dengan novel Azam Adam family, dan sangat senang karena Kakak ada di sini. Sama-sama dan terima kasih kembali, Kak. Semoga bab selanjutnya masih menarik buat Kakak baca yah ...꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   264. (G) Kisah Kelam Namun Waspada

    "Ma-maaf, Ser. A-aku benar-benar nggak tahu kalau kamu ada janji ke Kak Xavier," cicit Kaina pelan. "Aku rasa kamu nggak perlu minta maaf, soalnya aku pun bingung kamu di sini salah atau a-aku yang berlebihan. Cuma … kan kamu tahu kalau aku sama Kakak kamu sudah menikah. Aku juga sahabatmu kan? Tapi kok kamu nggak ngasih tahu aku, yah, kalau kamu lagi pergi jemput sepupu kamu sama Mas Xavier. A-aku tahu kalau Mas Xavier itu kakak kamu dan hubungan kalian itu benar-benar dekat, nggak masalah seharusnya kalau kalian jalan ke mana-mana. Tapi kan … kamu tipe yang suka ngasih kabar ke aku. Kamu kalau lagi apa-apa suka ngirim pesan ke aku. Kenapa waktu itu kamu nggak ngabarin aku dan nggak pernah kirim pesan? Apalagi habis itu kamu bikin story kalau kamu habis senang-senang sama kakak dan sepupu kamu.""Aku minta maaf, Ra. Sumpah! Minta maaf banget!" ucap Kaina pelan, menatap Sera penuh perasaan bersalah campur gugup karena takut Sera tak mau memaafkannya. "Aku salah karena waktu itu aku k

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   263. (G) Peringatan

    "Kamu tahu kan kalau Kak Xavier itu sudah menikah?" ucap Aluna dengan tegas. Safara menganggukkan kepala secara pelan, menatap gugup dan was-was pada Aluna. "Tahu, Tante.""Berarti kamu paham dong kalau--" Aluna diam sejenak, menekan kata kalau sambil menatap penuh peringatan pada Safara, "dikit-dikit kamu nggak boleh ke Kak Xavier lagi. Sekarang Kak Xavier itu sudah punya istrinya. Waktu, tenaga, kesempatan, dan hidup, itu semua sudah dibagi ke istrinya. Kamu itu harus sadar diri kalau kamu hanya sebatas sepupu, bukan suatu hal yang harus diutamakan. Kemarin Kak Xavier sama istrinya bertengkar loh gara-gara kamu," tambah Aluna secara blak-blakan. "Maaf, Tante," ucap Safara secara pelan, "a-aku cuma merasa nggak punya siapa-siapa. Da-dan hanya Kak Xavier yang peduli sama aku. Sebelum ini, sekalipun Kak Xavier sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk memastikan kalau aku baik-baik saja.""Kamu bilang kamu nggak punya siapa-siapa? Padahal yang sering ngurus kamu itu Kaina loh, bukan

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   262. (G) Menemanimu Seharian

    "Kamu?!" dingin pria itu, menatap Sera penuh peringatan dan marah. "Mas." Sera mengganti panggilannya, "aku sudah di toko buku jadi Mas bisa pergi menemui sepupu Mas." Xavier menaikkan sebelah alis. Genggamannya di tangan Sera semakin mengencang, tak ingin melepas perempuan ini sedetik pun. "Kau tidak ingin kutemani, Ghazalah?" "Untuk apa? Aku bisa sendiri," jawab Sera santai, menoleh ke sana kemari untuk mencari-cari spot rak mana yang akan lebih dulu ia hampiri. "Aku suamimu," datar Xavier, cukup kesal mendengar jawaban Sera. Sera mengerutkan kening, aneh dan tak paham dengan jawaban pria ini. Namun, dia memilih mengabaikan. Sera berjalan ke arah rak buku yang dipenuhi dengan warna biru, di mana Xavier yang menggenggam tangannya otomatis ikut dengannya. Xavier menatap gengganam tangannya pada Sera lalu menatap wajah istrinya yang saat ini terlihat penuh semangat. Perempuan yang ia nikahi ini … sebenarnya punya kebahagiaan yang sangat sederhana. Toko buku, kucing, makanan fa

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   262. (G) Memilih Siapa?

    "Nyonya Muda." Xavier menjawab pelan. Wajahnya tampak tak bersahabat dan tatapannya begitu tajam. "Pergilah lebih dulu ke rumah sakit. Hubungi Kaina dan ajak dia denganmu," tambah Xavier pada Aiden, mendapat anggukan dari Aiden. Xavier berjalan terburu-buru dari rumah, dia langsung menghampiri mobil yang telah di keluarkan dari garasi. Namun, ketika dia akan masuk ke mobil, dia langsung mengurungkan niat. Pandangan Xavier tak sengaja bertemu pada sosok seorang perempuan muda di taman halaman depan—dekat tembok dan pohon mangga. Di bawah pohon tersebut terlihat seorang perempuan yang sedang berjongkok. Xavier menghela napas panjang, lega melihat perempuan itu. Dia menutup pintu mobil yang sempat ia buka lalu segera menghampiri perempuan itu. Xaviee berdiri tepat di belakang Sera yang sedang berjongkok dan dengan mengelus seekor kucing domestik berwarna orange. Dari penampilannya, perempuan ini memang sepertinya ingin keluar. Namun, mungkin kucing yang entah dari mana bisa masuk

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   261. (G) Antara Istri dan Keluarga

    "Aku baik-baik saja, Tante.""Kenapa masih manggil Tante, Sera? Kamu sudah sangat-sangat resmi menjadi menantuku loh," tegur Aluna. Sera tampak gugup, wajahnya kentara panik. Dia menatap cemas pada Aluna lalu menoleh ke sana kemari. Senyumannya benar-benar kaku dan nafasnya terasa berat. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Aluna lagi. Dia berdiri lalu menghampiri Sera yang sejak tadi masih berdiri. Dia menarik Aluna lalu mengiring menantunya tersebut supaya duduk di sebelah Xavier. Sera menurut saja. Akan tetapi dia sempat terlonjak kaget saat dia mendongak pada Xavier dan ternyata pria itu sedang menatapnya dingin. Ah, pria ini menakutkan sekali. "Kamu baik-baik saja kan, Nak?" tanya Aluna, menatap lekat pada menantunya untuk menemukan apakah ada jejak kekerasan yang dilakukan oleh Xavier. Untungnya tak ada. "Aku baik-baik saja, Tante," ucap Sera, memasang senyum manis untuk meyakinkan mama mertuanya kalau dia baik-baik saja. "Ke-kenapa Sera masih manggil Tante ke Mommy? Sera nggak m

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   260. (G) Suami yang Menyeramkan

    Tuk' Sera menatap nanar pada pintu yang di kunci. Oh shit! Pantas saja langkahnya terasa ringan saat berjalan ke pintu ini, ternyata pintunya terkunci. Sera menghela napas panjang, berjalan mundur lalu memutar tubuh. Dia sama sekali tak menoleh ke arah Xavier, dia berjalan terburu-buru menuju kamar mandi. Namun, mengingat dia tak membawa baju ganti ke sini, Sera kembali membuka pintu kamar mandi. Mata Sera melebar ketika melihat Xavier bangkit dari sofa. Wajah pria itu terlihat marah, tatapannya terasa sangat membunuh. Sera buru-buru menutup pintu kamar mandi. Dia menguncinya supaya iblis itu tak masuk ke dalam. Sedangkan Xavier, dia berjalan cepat ke arah kamar mandi. Ketika dia mencoba membuka pintu kamar mandi, ternyata Sera telah mengunci dari dalam. Bug' Xavier meninju pintu dengan kuat dan penuh kemarahan. "Buka, Ghazalah!" marahnya dari luar. Sera menjauh dari pintu, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya mulai gemetaran. Ketakutan mulai menyelimutinya! Brak' Suara

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   5. Paksaan Menikah

    "Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   90. Terdengar Luka

    "Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   51. Suami Alergi ….

    "Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   6. Menikah

    Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status