MasukKaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju.
Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang muncul. Naia mengusap air mata buayanya, cengar-cengir karena akhirnya …- "Yes! Akhirnya bujangan kadaluarsa-ku ini bersedia menikah juga," gumam Naia pelan, sangat girang dan riang. Ketika kembali menghadap putranya, Naia langsung menunjukan ekspresi galak. "Secepatnya kamu temui perempuan itu dan bawa dia ke keluarga kita. Jika tidak, Mama akan berhenti jadi ibumu. Mama kecewa!" "Baik, Mah," jawab Kaizen datar–nada biasa yang sudah melekat dengan suaranya. ✿✿✿ "Papai, Mama," ucap Aluna, setelah itu mematikan sambungan telepon–handphonenya yang lain. Saat ini dia berada di kamar, dia habis bertelponan dengan orang tuanya yang masih di LA. Orang tuanya akan tinggal di sana dan tadi mamanya kembali membujuknya supaya bersedia ikut tinggal di sana. Sebelumnya, Aluna menolak keras karena dia telah kecintaan dengan negara ini. Budaya negara ini, dia begitu mencintainya. Jadi dia memutuskan untuk tetap di negara ini. Toh, kakaknya masih di sini dan keluarganya yang lain juga ada di sini. Namun, karena kejadian tadi malam, sekarang Aluna mempertimbangkan. Apa dia kabur saja ke LA? Mengenai pil penunda kehamilan, Aluna sudah meminumnya. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya dan semoga setelah ini dia tak lagi bertemu dengan Kaizen. "Hais!" Aluna langsung menepuk jidat, menampilkan ekspresi berang dan masam ketika melihat dompet Kaizen yang berada di atas nakas. Sialan! Dia berharap tidak lagi bertemu dengan Kaizen sedangkan dompet pria itu saja ada padanya. "Anjir banget hidupku. Argkkk! Ini semua gara-gara si brengsek itu. Huaaaa … gimana ini?! Aku balikin dompetnya dengan cara apa? Masa ketemu habis itu minta maaf gegara … haaaah … aku nggak mau ketemu dia!" pekik Aluna, merengek sendiri sambil memukul-mukul ranjang. "Ta-tapi kan tas dan HP pribadiku kayaknya ada di mobilnya. Huaaaa … anjir! Aku harus gimana?! Aku nggak mau ketemu tapi dompetku dengan dompetnya ingin kami ketemu," pekik Aluna lagi, mencak-mencak sendiri karena frustasi dengan keadaannya. Di saat dia tidak ingin bertemu dengan Kaizen dan berniat kabur ke LA, dompetnya dan dompet pria ini terasa menghalangi. Dompet Aluna ada dalam tas kecil–tertinggal di dalam mobil pria itu. Sedangkan HPnya juga ada di sana. Yah, Aluna punya dua HP. Satu HP pribadi atau HP utama dan ke-dua, HP untuknya bekerja sebagai asisten pribadi kakaknya di perusahan keluarganya–Des'Art (perusahaan industri keratif yang memproduksi karya seni pahat, seni lukis, logo, animasi. Tentunya punya studio, museum, dan galeri seni ternama di negeri ini.) Selain itu, Aluna juga punya pekerjaan sampingan–buka jasa mencari jodoh. HP ke-duanya ini adalah alat komunikasinya dengan sang klien. Akan tetapi karena HP utamanya tertinggal di mobil Kaizen, jadilah Aluna mengunakan HP keduanya untuk menghubunginya orang tuanya. "Pokoknya aku harus mikirin cara supaya bisa mengembalikan dompet Om Kaizen tanpa harus bertemu dengannya. Tapi dompet sama HP-ku gimana yah? Aku harus minta kan, mengingat dia seperti tembok ultra pro max. Kalau aku nggak minta, tuh orang nggak bakalan ada inisiatif buat ngembaliin dompetku. Ck, frustasi banget! Kenapa, Tuhan, aku harus berurusan dengan Om Kaizen?! Dia itu Adam tapi Adam yang jahanam!" Usianya dengan Kaizen terpaut cukup jauh. Dia masih 24 tahun dan Kaizen sudah 34, jarak mereka 10 tahun. Namun, bukan faktor usia saja yang membuat Aluna memanggil Kaizen dengan sebutan Om. Pria itu memang om-nya. Kaizen adalah Adam dari timur, sedangkan Aluna berasal dari keluarga Adam di LA. Ke-dua keluarga tersebut sudah lama pecah dan berpisah. Akan tetapi sekarang kembali berhubungan sebab salah satu putri keluarga Adam timur yang ada di negara ini menikah dengan keluarga Azam–Kekuarga Azam masih bagian keluarga Adam di LA. Perempuan itu adalah tante kandung Kaizen ( kakak perempuan dari ayah pria itu) dan tantenya tersebut menikah dengan pemimpin Azam saat ini. Sedangkan pemimpin Azam adalah kakek kecil Aluna, bukan kakek kandung tetapi sepupu kakek kandung Aluna. Pemimpin Azam yang sekarang jauh lebih muda dari kakeknya, dan cucu kandung sang pemimpin keluarga Azam masih paling tua masih berusia 11 tahun lebih dan cucu termuda masih usia 7 bulan–bayi. Sahabat Aluna yang menikah dengan putra sang pemimpin sekarang ia panggil aunty kecil. Dan Kaizen, pria itu dipanggil om karena merupakan keponakan sang pemimpin atau sepupu dari para paman Aluna. Ah, Aluna tidak bisa menjelaskan lebih singkat dan mudah dipahami. Intinya Kaizen adalah omnya. Sekarang dia merasa berdosa karena harus tidur dengan omnya sendiri. Tidak ada hubungan darah sedikitpun, akan tetapi … Aluna merinding memikirkannya! Syukurlah dia lupa adegan-adegan hot yang dia lakukan dengan pria itu. Dia hanya ingat kalau dia mencium Kaizen. "Argkkkk!" Aluna menjerit kencang, langsung menggaruk kepala lalu menggeliat seperti ulat nangka saat mengingat dia telah berciuman dengan om-nya sendiri. "Jauhkan aku darinnya, Tuhan. Tolong!" ✿✿✿ ---Tiga hari kemudian-- Aluna memasuki rumah kediaman sang pemimpin Azam, Zeeshan Lavroy Azam dan Nindi Xavier Azam–kakek nenek kecilnya. Sebenarnya setelah kejadian dia tidur dengan Kaizen, Aluna berniat tak akan menginjakkan kaki lagi ke rumah ini sekalipun sahabatnya tinggal di sini. Itu karena dia takut bertemu dengan Kaizen yang merupakan keponakan tercinta nenek kecilnya dan sekaligus sepupu terdekat paman kecilnya–Xenon Alroy Azam, merupakan suami dari sahabat Aluna yang bernama Sza Mazaya Az. Dulu, Aluna beberapa kali bertemu Kaizen di sini. Makanya dia parno. Namun, Aluna terpaksa ke sini lagi karena Aluna harus menemui kliennya. Sebagai si tukang cari jodoh orang, Aluna harus profesional! Kenapa Aluna ketemu kliennya di sini? Karena Sza adalah partner kerjanya dan klien mereka kali ini dekat dengan sang nenek kecil. Neneknya lah yang mengarahkan klien baru ini pada mereka. "Ini, Aluna-nya sudah datang," ucap Nindi, nenek kecil Aluna yang masih terlihat cantik dan awet muda. "Sza lagi boboin putranya, jadi kamu bicaranya dengan Aluna dulu yah. Tenang saja, Aluna ini anak baik kok dan dia pasti mengerti kesulitan kamu," jelas Nindi pada iparnya tersebut. Aluna senyum hangat pada sang klien, merupakan wanita paruh baya yang wajahnya sebenarnya tak asing. Ah, tapi sepertinya ini hanya perasaan Aluna saja. Oh yah, klien Aluna biasanya memang kebanyakan ibu-ibu yang ingin mendapatkan jodoh untuk anaknya. Tetapi bukan sembarangan orang, biasanya kliennya masih kerabat karena pekerjaan Aluna ini khusus untuk keluarganya saja. Bisnis ini idenya berasal dari Sza, sahabatnya. Mereka mengincar keluarga Azam dan keluarga top lainnya karena di keluarga tersebut ada banyak pria yang kaku dan sulit mencari jodoh. Jadi target sesungguhnya dari bisnis mereka ini adalah ibu-ibu royal yang cemas pada anaknya yang tak mau menikah. Patok harga tinggi dan ibu-ibu pelit dilarang! Sekalipun Aluna dan Sza berasal dari keluarga kaya raya, tetapi keduanya sang pecinta uang sejati! Di mana ada peluang uang, disitu Aluna dan Sza membuka bisnis abal-abal. "Halo, Tante. Saya Aluna Rasya Adam. Salam kenal, Tante," ucap Aluna ramah, mengulurkan tangan pada kliennya. Sedangkan wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, menunjukan ekspresi terkejut. Dia membalas jabatan tangan Aluna, akan tetapi buru-buru melepasnya. Setelah itu, wanita paruh baya itu mendekati Nindi lalu berbisik padanya. "Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen."Namun, karena Aluna tak tahu benda bagian mana yang Kaizen pasang chip pelacak, akhirnya dia mutuskan meninggalkan cincin pernikahannya, handphone, dompet, gelang, dan benda lainnya. "Lukamu … apa Om Kaizen yang …-" Aluna menggelengkan kepala dengan cepat sambil melebarkan mata pada kakaknya. "Lukaku karena tadi siang aku tertabrak, Kak," ucap Aluna pelan. "Kua tertabrak?" Kening Raigen mengerut, seketika menatap adiknya dengan lekat. "Ya Tuhan! Aluna! Kenapa kau bisa ditabrak? Kau pecicilan di jalan, Hum? Kenapa kau tidak memberitahu Kakak, Aluna?" "Iya, salah Aluna karena menyeberang tidak hati-hati," jawab Aluna sambil memperlihatkan cengiran pada kakaknya, "aku tidak memberitahu Kakak karena takut Kakak marah." "Ck, tidak mungkin Kakak marah. Yang ada Kakak khawatir," jawab Raigen, mengganti luka adiknya yang ada di telapak tangan. Dari yang dia perhatikan, ini memang luka akibat kecelakaan. Namun, karena tadi Aluna datang dalam keadaan mengenaskan, pikiran Raigen
"Di mana tiketnya?" tanya Kaizen, kembali masuk ke kamar dan melihat tidak ada tiket bulan madu di atas meja nakas. Aluna tak menjawab, menatap Kaizen dengan raut muka was-was dan gugup. Awalnya, dia lebih kemarahan melempar meremukkan tiket tersebut karena yakin kalau tiket itu dari Vanessa. Akan tetapi seseorang dia menyesal. Bagaimana jika tiket bulan madu itu bukan dari Vanessa? Kaizen menoleh ke arah lain, mencoba mencari tiket tersebut. Hingga akhirnya dia menemukannya, di depan pintu kamar mandi–dalam keadaan kertas yang diremas. "Kau yang melemparnya?" tanya Kaizen, kini menatap tajam ke arah Aluna. Aluna menganggukkan kepala. "Aku tidak mau bulan madu," ucap Aluna, terkesan ketus. Rahang Kaizen seketika mengatup, tatapannya berubah tajam dan ekspresinya langsung dingin. Namun, sekelipun begitu, dia tetap mencoba menahan diri untuk tak meledak. "Ambil kembali," titah Kaizen dengan nada dingin dan terkesan marah. Aluna berdiri, segera mengambil tiket terseb
Kaizen menepuk pelan pucuk kepala Aluna, lalu pergi dari kamar—tanpa mengatakan apa-apa.Aluna langsung menyandar lemas ke sofa. Tubuhnya seperti kehilangan energi akan tetapi dia begitu lega karena Kaizen pergi dari kamar ini. Namun, otak Aluna kini penuh tanda tanya. Salu_02, nama akun sosial media yang pernah menerornya. Terakhir kali! Darling yang terucap dari bibir Kaizen tadi, disebut dengan nada dingin yang menyeramkan, itu membuat Aluna langsung teringat dengan si akun peneror. AMW_20 dan Salu_02! "Mas Kaizen ya-yang punya akun itu?" gumam Aluna dengan nada pelan kembali diselimuti ketakutan. Aluna mencoba bangkit, berjalan ke arah ranjang secara perlahan. Setelah itu, Aluna di pinggir ranjang–meraih handphone lalu buru-buru mengecek sosial medianya. Hal yang pertama kali dia cek adalah akun sosial medianya sendiri. Aluna kembali panas dingin, menatap bio-nya yang kembali …-'Istrinya Kaizen Xavier Tercinta.' Padahal seingat Aluna, dia sudah mengganti bio-nya. Tapi kenap
"A-asjsjassw …." Sza mendadak sulit berkata-kata. Dia ingin mengumpat karena Aluna menangis bukan disebabkan oleh kata-kata bijaknya, akan tetapi dia juga khawatir pada telapak tangan Aluna. Bahkan dia ngilu melihatnya! Perban tangan Aluna terbuka, memperlihatkan daging berdarah segar. "A-aku harus gimana, Al? Aku bukan dokter lagi. Apa kita balik ke rumah sakit saja?" Aluna menggelengkan kepala, terus menangis karena luka di telapak tangannya sangat perih dan sakit luar biasa. Hal tersebut bersamaan dengan sebuah mobil yang berhenti di depan halte. Seseorang keluar dengan terburu-buru, cepat-cepat menghampiri Aluna. Melihat sosok itu, Aluna berusaha untuk tak menangis. Dia merapatkan bibir supaya suara tangisan tak keluar dari mulutnya. Hanya saja, air matanya terus jatuh. "Kenapa menangis, Aimee?" tanya Kaizen dengan nada rendah dan berat, penuh perhatian dan khawatir. Aluna tak mengatakan apa-apa akan tetapi menunjukkan telapak tangannya yang terluka–di mana perbannya ter
"Dagumu kenapa, Aluna?" tanya Liam, penasaran dengan kondisi Aluna yang cukup memprihatikan. Aluna yang terlihat tegang sebab takut Kaizen mendengar obrolannya dengan Sza, langsung mengalihkan tatapan dari suaminya kepada Liam. "Kena aspal, Kak. Tertabrak," jawab Aluna singkat dan terkesan ramah. "Sayang, aku mau bicara dengan Kak Kaizen. Kamu diam dulu yah. Bentar kok," pinta Vanessa pada Liam, cukup kesal dan tak suka ketika calon suaminya berbicara dengan Aluna. Sebetulnya dia cukup kaget sebab Liam juga memanggil nama Aluna–seolah mereka sudah akrab dan dekat. "Hum." Liam menggaruk tengkuk, berdehem rendah tetapi terkesan tak suka. Pandangannya langsung ia jauhkan dari Kaizen. "Kak, aku sebenarnya ingin datang ke rumah Kakak untuk memberikan sesuatu pada Kakak. Tapi karena Kakak kembali ke sini, aku kasih di sini saja," ucap Vanessa, "untuk semalam, aku sangat berterima kasih pada Kakak karena Kakak bersedia datang untuk membantuku mencari Laudia. Sekarang Laudia sudah dit
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna, memperingati Sza supaya sahabatnya tersebut berbicara dengan nada pelan. "Intinya itu." Sza melirik sejenak pada Alan yang duduk di kursi seberang, di mana pria itu terlihat tengah fokus pada ponselnya. Setelah itu, dia kembali menatap sang sahabat. "Orang mau cerai itu … menatap pasangan pun nggak sudi. Sedangkan kamu? Cakiiiiiit …! Manja pro max eih," ucapnya dengan nada lebih pelan dan berbisik. "Ya-ya … kakiku memang sakit, Nyet!" Aluna menggembungkan pipi, menatap muram pada Sza yang meledeknya. "Sesakit apapun kalau yang namanya orang mau cerai, nggak bakalan manja, Al. Apalagi tadi … Pak Kaizen juga begitu lembut ke kamu. Perhatian banget. Sekhawatir itu loh tadi dia ke kamu, Al







