Masuk"Dia siapa, Mas?" tanya Kaina pelan dan ragu-ragu, menatap was-was pada Elzeren yang terlihat mengatupkan rahang dan melayangkan tatapan tajam padanya. Elzeren tak mengatakan apa-apa, tetapi terus menatap ke arah Kaina dengan begitu tajam dan membunuh. Elzeren tidak percaya pada ucapan pria tadi tentang istrinya. Akan tetapi ucapan pria itu berhasil membuat Elzeren tersulut emosinya dan Elzeren semakin tersulut amarah karena istrinya membantah ucapannya—Kaina menolak masuk ke dalam kamar. "Ka-Kaina, a-aku sudah datang, Sayang. A-aku … tolong selamatkan aku. Ba-bantu aku," cicit pria di lantai dengan suara serak karena menahan sakit. Kaina mengerutkan kening karena merasa mengenali suara itu. Tanpa sadar, kakinya maju satu langkah dari ambang pintu karena ingin melihat lebih jelas siapa pria di belakang suaminya. Kaina mencondongkan tubuh, sedikit memiringkan kepala, demi bisa melihat wajah si pria. Sedangkan Elzeren, wajahnya semakin tak bersahabat dan aura mengerikan samakin meng
Ceklek' Elzeren membuka pintu kamar untuk melihat siapa pengganggu yang berani menggedor pintu kamarnya. Sebelah alis Elzeren terangkat, tangannya bersedekap di dada, dan tampang wajahnya dingin campur marah—menatap rendah pada sosok pria yang mengenakan kupluk hitam di depan pintu kamarnya. "Kau siapa?" tanya Elzeren, segera menutup pintu kamar supaya pria tersebut tak bisa melihat ke dalam. Hell! KaiKu-nya sedang mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Elzeren tak akan membiarkan pria ini melihat sedikitpun pada istrinya. Elzeren mengerutkan kening, menatap semakin kesal dan marah pada pria di depannya. Pria itu hanya diam, tampak gelisah, dan bingung. Yang jelas, Elzeren tak suka. Pria ini sangat menggangunya. Bug' Elzeren melayangkan kuat ke arah wajah pria itu. Diam si pria benar-benar memancing emosi Elzeren. Di sisi lain, seseorang itu terhempas setelah mendapat pukulan kuat dari Elzeren. Setelah memukul pria itu, Elzeren menginjak tangannya. "Katakan, kau siapa dan ap
"A-aku belum pernah ketemu jin, jadi mana kutahu Mas mirip jin atau enggak." Kaina menjawab cepat sambil menatap penuh kecurigaan pada suaminya. Biasanya Elzeren jarang menggeram marah padanya. Fix! Ini jin. "Tapi kalau kamu itu Jin, berarti ini pertama kalinya aku bertemu dengan jin." "Aku suamimu!" Elzeren berkata cepat, tegas, dan cukup kesal pada Kaina. Lalu dengan paksa, dia mencoba menjauhkan tangan Kaina dari depan dada agar dia bisa segera membuka pakaian istrinya. "Jin bisa meniru seseorang. Apalagi Jin kurang belaian, pasti bakalan meniru suami perempuan incarannya." Kaina menjawab dengan nada yang nyaring, dia mendorong Elzeren agar menjauh darinya. Kemudian Kaina buru-buru merangkak menuju bagian seberang ranjang. Dia berniat kabur dari Elzeren—berniat ke seberang ranjang supaya Elzeren tidak bisa menjangkaunya. Namun, dengan cepat Elzeren meraih pergelangan kakinya. Pria dengan wajah tampan namun berekpresi datar itu menarik kaki Kaina, menbuat Kaina berakhir jatuh d
"Rencananya akan kita laksanakan malam ini." Freza berkata dengan nada tegas pada Rangga, "hari ini Elzeran berangkat ke luar negeri." "Tapi bagaimana cara kita masuk ke dalam rumah mewah Tuan Elzerah? Rumahnya banyak menjaga pastinya," ucap Rangga, cukup bingung untuk menjalankan rencana mereka karena rumah Elzeran pasti banyak penjaganya. Waktu itu saja, saat dia bertemu dengan Kaina, perempuan itu dijaga banyak bodyguard. Padahal Elzeran masih di kota ini dan kemungkinan seseorang mencelakai Kaina pasti sedikit karena hal tersebut. Apalagi saat Elzeren ke luar negeri, pasti keamanan diperketat untuk Kaina. "Tenang saja." Freza senyum culas tetapi menunjukkan ekspresi penuh percaya diri pada Rangga. "Aku pernah ke rumah Elzeren dan aku sudah mempelajari beberapa hal di sana. Maid dsn bodyguard di sana memang sangat patuh dan terlalu ketat. Tetapi … mereka masih baru, jadi banyak cela yang bisa kita gunakan," tambahnya. Rangga mengerutkan kening, masih kurang yakin bisa
--Beberapa hari kemudian-- Semenjak Kaina membaca buku itu dan tahu perasaan Elzeran padanya, sejak itu mereka sama-sama canggung. Menurut Kaina ini lebih parah dari saat awal dia menikah dengan Elzerah. Sedangkan Elzeren … entahlah. Pria itu kadang dingin, kadang jahil, kadang juga canggungan. Saat ini mereka di rumah Elzeren, Kaina sedang mengemasi pakaian Elzeren ke dalam koper karena pria itu akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. "Ekhem." Kaina berdehem rendah, membuat Elzeren yang juga ada di sana menoleh cepat padanya. Kaina menatap kikuk pada suaminya yang duduk di sebuah kursi—di walk in closet. Sejak tadi Elzeran di sini dan hanya bagian menonton Kaina mengemasi barang ke koper. Kaina menyingkir sedikit dari depan lemari tempat penyimpan jas suaminya agar Elzeren bisa melihat jejeran jas ataupun tuxedo miliknya. "Mas Eiren mau bawa jas abu-abu juga atau jas biru gelap untuk tambahan?" tanya Kaina pelan, efek kikuk dan gugup. "Merah." Elzeren menjawa
"Kau sedang apa di disini, Janu?" tanya Elzeren, setelah berada di sebelah Kaina. Dia menatap ke arah meja lalu mengamati buku coklat miliknya cukup lekat dan penuh isyarat. "Sedang melihat koleksi mainan Mas Eiren yang ada di sini," jawab Kaina sambil meraih salah satu karakter miniatur tokoh dari animasi favorit Elzeren lalu memperlihatkannya pada Elzeren. "Aku juga punya yang seperti ini. Yang ini juga …," ucapnya lagi sambil mengambil karakter yang ke-dua kemudian memperlihatkannya juga pada Elzeren. "Humm." Elzeren berdehem rendah, tetapi terus menatap Kaina dan buku rahasia miliknya secara bersamaan. Seharusnya buku itu tidak ada di antara buku lainnya. Tapi sepertinya waktu itu Elzeren lupa mengembalikan ke tempat persembunyiannya. Untuk orang tua dan orang-orang di rumah ini, Elzeren yakin tak ada yang menyentuh buku itu. Karena orang tuanya tidak terlalu penasaran dengan benda-benda di kamar ini. Sedangkan para maid, mereka sangat hormat serta sopan—tak ada yang
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







