LOGINSaat ini Inggita sudah di rumah, sedang beristirahat dalam kamar. Aluna sendiri tak bisa mendampingi hingga ke sini karena masih ada urusan pekerjaan. Namun, Aluna ikut bahagia dengan kebahagian kakaknya dan kakak iparnya. Yah, Inggita hamil! "Mas Raigen banyak diamnya. Kenapa?" tanya Inggita, mengamati suaminya yang sedang mengusap buah jeruk secara teliti—hingga kulit ari-ari jeruk tersebut dibuang sebersih mungkin. Saat dokter mengatakan Inggita hamil, Raigen sempat mengucapkan syukur dengan sangat kencang. Kebahagiaan pria itu juga tampak nyata. Namun, setelah sampai di rumah, mendadak Raigen sangat pendiam. "Tidak apa-apa, Sweetheart. Hanya sedikit khawatir," jawab Raigen sambil senyum hangat, menyerahkan jeruk yang sudah ia kupas dan bersihkan dari kulit adiknya pada istrinya, "mungkin sepertinya mulai sekarang aku akan melarangmu lewat dari tangga, Sweetheart. Kau hanya boleh turun dan naik ke lantai atas bawah dengan mengunakan lift." "Kenapa begitu, Mas?" Inggita
Atau dengan Shela pun tidak masalah, karena akhir dari obrolan kami adalah doa agar kita selalu bahagia dan selamanya bersama." "Begitu yah?" gugup Inggita sambil menatap malu campur grogi pada Raigen. Dia sudah segila ini dan ternyata … ini hanya fitnah seseorang yang ingin menghancurkan hubungan mereka. "Iya, Wifey. Setelah kita kembali ke kota, aku akan mengajakmu bertemu dengan Shela. Bagaimana?" Inggita menganggukkan kepala secara ragu. Dia sejujurnya malu karena ini membuatnya terlihat cemburuan dan tipis kepercayaan. Akan tetapi Inggita … ingin menghapus seluruh ketahuan di hatinya. "Masalah curat cerai, itu bukan dariku, Sweetheart. Tapi … aku akan menyelidiki ini secara tuntas dan sekalipun dia family, aku tak akan memaafkannya," ucap Raigen dengan nada bersungguh-sungguh, tetapi penuh dendam di akhir kalimat. "U'um." Inggita menganggukkan kepala secara pelan. "Kita berdamai?" ujar Raigen pelan, lagi-lagi mendapat anggukan dari Inggita. "Besok kita pulang k
Sayangnya Inggita menolak percaya karena video itu masih berputar di kepalanya. "Tidak terhitung berapa kali aku cemburu saat melihatmu akrab dengan pria lain. Tidak terhitung berapa kali aku menahan kesal karena wajahmu yang selalu berpaling saat berpapasan denganku. Lalu sekarang kau bilang aku menikahimu tanpa cinta?" Raigen diam sejenak sambil menatap lekat wajah cantik istrinya. Cup' Raigen menghapit dagu Inggita lalu mengangkatnya supaya Inggita mendongak padanya. Setelah itu, dia mencium bibir istrinya—melumatnya lembut dan penuh perasaan. Awalnya Inggita hanya diam dan tak peduli pada ciuman itu. Bayang-bayang Shela memeluk suaminya, terus menghantuinya. Namun, pada akhirnya Inggita membalas ciuman itu. Permainan bibir Raigen sangat lembut dan menghanyutkan. Inggita lama-lama terlena dan hanyut. Mereka cukup lama berciuman, hingga pada akhirnya Raigen melepas setelah istrinya memukul pundaknya—isyarat untuk berhenti. Inggita langsung memburu oksigen, memalingkan wa
"Bicara serius, Gita," ucap Raigen datar, menepuk bagian kosong di sebelahnya sebagai isyarat supaya Inggita duduk di sebelahnya. "Kemari!""Aku di sini saja," jawab Inggita dengan keras kepala. Raigen mengatupkan rahang, menatap Inggita dengan ekspresi wajah marah dan kesal. "Aku masih suamimu, kau tidak perlu sewaspada ini padaku, Gita. Cepat kemari! Kita harus bicara."Inggita pada akhirnya berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia duduk di sebelah Raigen tetapi dengan jarak yang jauh. "Kalau kau duduk jauh begitu, bagaimana aku akan memelukmu, Inggita Larasati Adam?!" Raigen menatap istrinya tajam, memberi isyarat supaya Inggita bergeser lebih dekat padanya. "Pak Raigen mau bicara apa sebenarnya," tanya Inggita, mengabaikan perkataan Raigen. Dipeluk oleh Raigen? Inggita juga sangat ingin. Hanya saja … bayang-bayang saat Raigen memeluk mantan istrinya, itu terlalu menyakitinya sehingga dia merasa pelukan pria ini bisa mengantarnya ke luka baru. "Hah." Raigen berdehem rendah, men
Dia meraih HP lalu memeriksa siapa nomor yang menelpon. Ternyata …---Pak Raigen--Itu nama kontak Raigen sekarang, Inggita sudah menggantinya. Setelah dua minggu tak pernah mengabari atau mengirim pesan padanya, akhirnya pria ini menghubunginya. Sungguh, darah Inggita berdesir hebat saat membaca nama di layar HP. Jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya langsung tegang. "Dia nelpon untuk apa yah?" gumam Inggita pelan, menatap layar cukup lama—matanya panas karena ingin menangis. "A-apa meminta uang ganti tebusanku waktu itu yah?"Jantung Inggita berdebar sangat kencang, dia panik, takut, dan gugup. Pada akhirnya Inggita menolak panggilan telepon dari Raigen lalu buru-buru mencek saldo di m-banking. Uangnya hanya seratus juta. Sejujurnya itu banyak bagi Inggita, malah sangat banyak. Hanya saja, uang yang Raigen keluarkan untuk menebusnya itu sebanyak 500 juta.Sekalipun Inggita membayar uang tebusan itu, Inggita tetap berutang 400 juta lagi pada Raigen. "Ta-tapi kan soal uang tebusa
Apa Kakak nggak niat jemput?" tanya Aluna, kebetulan ada urusan ke kantor kakaknya jadi dia berkesempatan bertemu dengan sang kakak. Raigen menggelengkan kepala. "Biarkan saja," jawabnya terkesan acuh tak acuh, "masalah cutinya selama ini, hitung sebagi bolos kerja," tegasnya kemudian. "Hah?" Aluna mengerutkan kening lalu menatap kakaknya dengan ekspresi penuh tanda tanya campur khawatir, "Kakak sama Kak Gita ada masalah yah?""Bukan Kakak. Dia sendiri yang bermasalah. Nenek dan Bibinya tidak sakit, tak ada jalanan yang longsor. Dia berbohong!" ucap Raigen dingin, "Kakak benci dibohongi. Kau tahu itu, bukan?""Ya-ya." Aluna menggaruk pelipis sambil menatap campur aduk pada kakaknya. 'Waduh, patal juga Kak Inggita ini. Tapi buat apa Kak Inggita bohong ke Kak Raigen, coba?'"Tapi kan, Kak … masa kalian jadi begini. Maksudnya … kalau kalian pisah gini, cara kalian nyelesaiin masalah gimana coba? Gih, Kakak jemput Kak Inggita. Kalau memang ada masalah, kalian obrolin baik-baik. Jangan g
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak







