เข้าสู่ระบบ"Astaga, pertanyaan macam apa ini?" tanya Arsenio, langsung memijat pelipis lalu menatap tak habis pikir pada Aluna. "Mengapa kau bisa kepikiran untuk menanyakan hal seperti ini, Heh?""Karena …-" Aluna diam sejenak, menanpilkan ekspresi serius, "aku merasa dikelilingi oleh orang gila. Gilbert masih menerorku sampai sekarang dan Mas Kaizen … aku pikir dia itu pria baik di jalan kebenaran, terang benderang tanpa sisi gelap. Ternyata … dia tidak beda jauh dengan pria Azam.""Semua manusia punya sisi gelap." Arsenio berkata rendah, "manusia punya bayangan," tambahnya. "Is, bukan itu maksudnya, Paman." Aluna memutar bola mata dengan jengah. "Hah." Arsenio menghela napas panjang, "kenapa kau bisa berpikir kalau Kaizen punya sisi gelap? Apa ada sesuatu yang kau temukan, Hum?" tanya Arsenio, wajahnya terlihat tenang akan tetapi dalam kepala otaknya sedang waspada. Bagaimana jika Aluna mengetahui sesuatu tentang Kaizen? Bagaimana jika sesuatu yang telah disembunyikan selama ini, diketahui
"Aluna, tolong pelankan suara kamu. Yang kamu kata-katai ini orang tua," peringat Vanessa, menetap dingin campur tak suka pada Aluna yang habis-habisan mengata-ngatai mama dan adiknya. "Ngapain aku pelanin suara?! Ini rumahku, kalian yang datang ke sini," ucap Aluna dengan nada sinis, menatap Vanessa kesal, "dan kamu Nenek, sekali lagi kamu menuduhku, aku bakalan penjarakan kamu. Sekalian anakmu si Laudia itu, aku juga bakalan angkat kasusnya dan pastikan dia membusuk di penjara!" tambah Aluna, seketika membuat Kika dan Vanessa melebarkan mata dengan ekspresi wajah tegang campur takut. "A-Aluna, tolong ja-jangan penjarakan Tante dan Laudia. Tante minta maaf padamu, Tante ha-hanya terlalu frustasi dengan semua yang terjadi. Tante mohon, tolong maafkan Tante," ucap Kika, memohon maaf pada Aluna karena takut dirinya dan putrinya dipenjarakan oleh Aluna. "Duduk," titah Kaizen, menarik tangan Aluna dengan sekali sentakan sehingga Aluna kembali duduk di sebelahnya. "Aku sepakat dengan
"Kok jadi aku, Tan?" "Aluna tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan putrimu. Jangan menuduh ataupun menyalahkan menantuku atas keburukan putrimu," dingin Kaze, menatap tajam pada Kika. "Iya, Ki. Aluna sama sekali tidak bersalah, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Laudia. Kenapa kamu jadi menyalahkan menantuku?" ujar Naia, suaranya mendadak tidak bersahabat di akhir kalimat. Dia tak terima menantunya disalah-salahkan. "Aku tidak menyalahkan menantumu sepenuhnya, Nai. Tapi … aku merasa dia andil dalam masalah ini. Jika bukan karena dia yang menyebar video itu, pasti suamiku masih hidup dan putriku tidak akan gila. Tolonglah, jangan terlalu membela menantumu. Aku tahu kamu sangat ingin punya putri karena kamu pernah kehilangan, tapi bukan seperti ini caranya, Naia. Toh, Aluna itu hanya menantu kamu, masih disebut orang asing. Dia tidak bisa kamu anggap putri!" ucap Kika dengan nada meninggi di akhir kalimat, bersama dengan air matanya yang jatuh karena kecewa dan tak terim
"Bukan aku yang nyebar bukti kejahatan Laudia di sosial media," jawab Aluna rendah. "Kalau bukan kamu, trus siapa?" Vanessa terlihat frustasi. "Mana kutahu." Aluna mengedikkan pundak. Vanessa menatap Kaizen, berniat meminta bantuan pada Kaizen untuk membantunya mencari siapa orang yang telah menyebar video kotor Laudia dengan Dion, serta bukti kejahatan Laudia pada aktor maupun aktris lain. Kaizen sangat hebat menyelidiki ataupun melacak sesuatu, jadi Vanessa sangat yakin kalau Kaizen pasti bisa menemukan orang tersebut dengan cepat. Namun, sebelum dia meminta tolong tiba-tiba saja orang tua Kaizen datang. "Tante." Vanessa langsung menyeru dengan nada serak, berdiri lalu segera menghampiri Naia dengan langkah cepat. "Di mana Mama dan adik kamu, Sayang?" tanya Naia lembut, setelah Vanessa menyalam suaminya dan juga dirinya. Vanessa tak langsung menjawab, memeluk Naia dengan penuh kehangatan untuk melebur rasa cemas, takut, dan duka yang menyelimuti tubuhnya. Selain itu, Vaness
"Di rumahku sendiri kau berani melukai istriku." Suara dingin Kaizen mengalun, terasa menusuk dan membunuh. Laudia menatap kaku pada Kaizen, sama sekali tak berkutik karena terlalu takut pada Kaizen. Bug' "Argkkk ….""Aaaa …." Kaizen memukul vas tersebut dengan begitu kuat, membuat Vas tersebut pecah. Laudia menjerit kencang lalu berakhir terjatuh lantai dengan sangat kasar. Kepalanya terbentur ke pinggiran sofa, sekalipun empuk akan tetapi kepala Laudia tetap sakit. Sakit yang dia terima akibat pukulan vas dari Kaizen, terasa jauh lebih sakit saat kepalanya di sisi lain terbentuk ke sisi sofa. Vanessa dan mamanya menjerit kencang, kaget dan tak menduga kalau Kaizen akan memukul Laudia dengan vas tersebut. Aluna juga menjerit, akan tetapi suaranya pelan dan buru-buru ia bungkam. Aluna segera mendekati Kaizen, memeluk lengan Kaizen lalu menarik pria itu supaya menjauh dari Laudia. Aluna memang ketakutan melihat Kaizen yang seperti ini. Akan tetapi Aluna tiba-tiba teringat pada ka
"Tentu, Sweetheart," ucap Kaze dengan lembut, mengusap pucuk kepala Naia penuh kasih sayang. "Kau tidak perlu terlalu khawatir. Selagi Zen manusia, maka dia tetap bisa merasakan yang namanya jatuh cinta." Naia menganggukkan kepala. "Aku tahu, Mas. Tapi … karena kejadian itu …-" Naia menjeda sejenak, menatap ke atas putranya masih sanantiasa menatap ke arah Aluna yang terlihat asyik berbicara, "sangat khawatir pada Zen kita. Dia bukan hanya kehilangan tawanya, tetapi juga … membenci perempuan." Kaze diam sejenak, memahami kekhawatiran istrinya. Sejujurnya, dia juga pernah mengkhawatirkan hal yang sama, khawatir putranya … menyimpang. Namun, Kaze selalu meyakinkan dirinya sendiri kalau didikannya pada Kaizen tidak akan gagal. Kejadian itu … putranya hanya kehilangan warnanya, bukan tidak membutuhkan warna dalam hidupnya. Kaze selalu percaya, setelah Kaizen menemukan warna itu, maka hidup putranya akan membaik dan bahagia. "Lihat ke sana," ucap Kaze tiba-tiba, menyuruh Naia untuk me







