Home / Romansa / Permainan Berbahaya Kakak Ipar / Bab 110. Rencana Masa Depan

Share

Bab 110. Rencana Masa Depan

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-08-26 21:11:42
Julian menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan.

Pria itu mengikis jarak di antara mereka, meraih pinggang Elena lalu menariknya perlahan hingga tubuh gadis itu menempel rapat dalam dekapannya.

"Tentu saja familiar, Piccola," gumam pria itu halus, jemarinya mengusap rambut panjang Elena yang terurai.

"Ke depannya, penthouse ini bukan lagi sekadar tempat tinggal pria ‘lajang’. Ini akan menjadi rumah untuk kita berdua.

Jadi, aku memang sengaja menyuruh desainer interior mengg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 114

    Elena menatap kekasihnya itu dengan tatapan tajam. Julian menghela napas panjang. Pria itu menyusupkan jemarinya ke rambutnya sendiri, membuang napas berat seraya menatap dalam mata Elena yang masih menyiratkan kesedihan."Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Tapi tolong dengarkan sampai selesai dan jangan memotong ucapanku," tutur pria itu dengan nada suara yang dalam dan serius.Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap kekasihnya dengan tatapan dingin dan menuntut penjelasan.Julian maju selangkah, suaranya merendah menjadi bisikan yang jujur. "Beberapa tahun lalu, saat kami masih di luar negeri, Amanda pernah dengan sengaja menjebakku. Dia mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku di sebuah acara, dan memanfaatkan keadaan itu untuk membawa ku ke flat-nya."Mata Elena seketika melebar. Napasnya tertahan di tenggorokan mendengar pengakuan mengerikan itu."D

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 113. Pernah Dekat

    Julian mendadak membisu. Sorot mata tegas dan berkuasa yang biasanya mendominasi tiba-tiba meredup oleh siratan keraguan. Pria itu sedikit gelagapan, cengkeramannya pada pinggang Elena mengendur seketika.Pikirannya berputar cepat dalam dilema yang menyiksa. Jika ia jujur dan membeberkan segalanya sekarang, Elena yang sedang emosional pasti akan semakin meledak dan marah padanya. Namun, jika ia berbohong dan menutup-nutupinya, ia tahu betul dampaknya akan jauh lebih buruk. Jika Elena sampai mendengar kebenaran dari mulut orang lain, terutama dari ibunya atau Amanda, gadis itu pasti akan sangat kecewa dan kehilangan rasa percaya padanya.Melihat keraguan yang terpancar jelas di wajah tampan Julian, Elena tertawa singkat. Sebuah tawa dingin yang sarat akan kekecewaan."Kenapa diam?" tembak gadis itu sinis. Matanya yang sembap menatap Julian dengan pendar cemburu yang kian membakar. "Kenapa gelagapan begit

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 112. Cemburu dan Merajuk

    Suara Elena memelan, lalu lenyap begitu saja di udara. Langkah kakinya mendadak terhenti kaku di tengah-tengah area ruang tamu yang luas itu. Tangannya yang sedang mengusap rambut dengan handuk seketika terkulai lemas di samping tubuhnya.Matanya terbelalak lebar. Memandang lurus ke arah foyer pintu utama penthouse.Tatapannya mengunci pada pemandangan yang begitu menghantam dadanya sampai sesak. Kekasihnya yang beberapa menit lalu baru saja melamarnya dan mengikrarkan janji manis untuk menikahinya, kini sedang berdiri mengenakan bathrobe longgar, berpelukan dengan wanita asing yang luar biasa cantik.Dari jarak tempatnya berdiri, Elena bisa melihat dengan sangat jelas betapa anggun dan sempurnanya wanita yang sedang memeluk Julian itu. Kulitnya yang putih mulus, gaun mahalnya, serta aura kemewahan alami yang terpancar dari wanita itu membuat Elena mendadak merasa begitu kecil, lusuh, dan tak berarti.Dada gadis itu bergemuruh. Rasa panas menyengat matanya hingga bulir-bulir air ma

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 111. Wanita dari Masa Lalu

    Elena langsung memelototi Julian. Ia mendorong bahu pria itu dengan wajah merona merah."Julian! Jangan mulai lagi, ya! Aku kan sudah bilang, aku sedang haid!""Memangnya kenapa?" goda pria itu santai, menatap kekasihnya dengan binar jahil di matanya. "Aku kan cuma mau mandi, bukan melakukan hal lain.""Tidak mau!" tolak gadis itu tegas, menjauhkan tubuhnya dari dekapan Julian. "Aku sedang tidak bersih. Nanti kamu malah jijik melihatku. Sudah, jangan memaksa!"Melihat kepanikan dan rona merah di wajah polos wanitanya, Julian akhirnya terkekeh rendah. Pria itu mengalah, melepaskan cengkeramannya di pinggang Elena."Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksa," ujar Julian mengusap lembut pipi kekasihnya. "Mandi sana di kamar mandi utama. Aku akan pakai kamar mandi tamu di sebelah ruangan kerja."Elena mengangkat satu alisnya. "Kamu mau mandi juga?""Tentu saja," sahut pria it

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 110. Rencana Masa Depan

    Julian menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan. Pria itu mengikis jarak di antara mereka, meraih pinggang Elena lalu menariknya perlahan hingga tubuh gadis itu menempel rapat dalam dekapannya. "Tentu saja familiar, Piccola," gumam pria itu halus, jemarinya mengusap rambut panjang Elena yang terurai. "Ke depannya, penthouse ini bukan lagi sekadar tempat tinggal pria ‘lajang’. Ini akan menjadi rumah untuk kita berdua. Jadi, aku memang sengaja menyuruh desainer interior menggabungkan konsep maskulin yang kusukai dengan konsep rumah impian kesukaanmu." Elena terkesiap. Ia menatap mata Julian dengan raut tak percaya. "K-kamu sengaja mencari berkas moodboard tugas kuliahku?" "Aku punya akses ke semua hal tentangmu, Sayang," sahut pria itu santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pria itu mengecup singkat puncak kepala Elena. "Aku ingin kamu merasa benar-benar nyaman dan betah di sini. Setiap sudut ruangan ini harus membuatmu merasa dicintai dan memiliki tempat unt

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 109. Untuk Kita

    Ancaman Julian yang blak-blakan itu seketika membuat pipi Elena kembali terbakar panas. Ia menepuk bahu kekasihnya pelan dengan wajah berkerut sebal."Julian! Bisa tidak, sehari saja pikiranmu jangan menjurus ke arah sana melulu?" omel Elena seraya berusaha melepaskan pelukannya.Pria itu tidak membiarkan kekasihnya menjauh. Ia justru terkekeh, merapatkan dekapan di pinggang Elena hingga embusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit leher wanitanya."Kenapa? Itu salah satu kebanggaan terbesar yang dimiliki pria tua ini, Sayang," bisik Julian tanpa rasa malu sedikit pun.Satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu menggoda. "Dan kamu adalah satu-satunya wanita yang berhak menikmati dan merasakan kebanggaannya."Elena tak sanggup menahan tawa renyahnya. Kejujuran Julian yang terlewat percaya diri itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanan dan rasa kesalnya. "Dasar mesum tidak tahu malu!" gumam gadis itu tertawa kecil. Menggeleng-gelengkan kepalanya seraya men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status