LOGINJulian menggeretakkan giginya. Dia tidak terima kekasihnya diperlakukan seperti ini.
"Kita pulang sekarang," bisik Julian tegas seraya berdiri dan mengangkat tubuh Elena dari bangku.Ia merangkul bahu gadis itu rapat-rapat. Melindunginya dari tatapan menyudutkan orang-orang di sekitar saat mereka berjalan menuju mobil.Sepanjang sisa hari itu di penthouse, Julian membatalkan seluruh jadwal rapatnya. Ia fokus sepenuhnya mendampingi kekasihnya.PriaKedua pengawal itu tetap tidak menanggapi celotehan konyol Veronica. Bagi mereka, wanita di kursi belakang itu hanyalah sebuah barang bawaan yang harus diantar ke lokasi penukaran.Tanpa disadari oleh Veronica yang terus mengoceh dan memamerkan keangkuhannya, pengawal yang duduk di samping pengemudi secara diam-diam mengeluarkan ponselnya. Dengan gerakan cepat dan sangat tidak menyolok, ia mengarahkan kamera ponselnya ke arah wajah Veronica.Foto wajah Veronica yang sedang duduk di dalam mobil tercetak jelas. Tanpa menunggu lama, pengawal itu langsung mengirimkan foto tersebut ke ponsel milik Leon.Di dalam mobil depan, ponsel Leon bergetar. Sebuah foto muncul di layarnya."Pak, foto Nyonya Veronica sudah diambil oleh anak buah kita di mobil belakang," lapor Leon seraya menunjukkan layar tabletnya kepada Julian.“Saya sudah meneruskannya ke ponsel Anda,” sambung pria itu.Julian yang sejak tadi duduk kaku
Tanpa rasa ragu, Veronica merentangkan kedua tangannya. Ia hendak memeluk tubuh Julian.Namun, belum sempat tubuh wanita itu menyentuh kemeja mantan suaminya, sebuah tangan kekar terangkat mendadak.Julian menepis tangan Veronica secara kasar. Ia bahkan mendorong bahu wanita itu hingga tersentak mundur beberapa langkah."Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu," desis pria itu dingin. Tatapan matanya penuh dengan rasa jijik dan kebencian yang mendalam.Senyum percaya diri di wajah Veronica seketika membeku. "J-Julian? Apa maksudmu? Kamu sudah membayar mahal tim legal dan menggunakan pengaruhmu untuk membebaskan aku dari penjara ini, kan?”“Kalau kamu tidak mencintaiku lagi, untuk apa kamu repot-repot menyelamatkanku?"Julian melirik mantan istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mengukir senyum mencibir yang sangat tajam. "Menyelamatkanmu? Jangan bermimpi terlalu t
Di dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita yang dingin dan kusam, deretan sel terlihat kelam. Bau lembap dan udara pengap mengelilingi para tahanan yang menghabiskan hari-hari mereka di balik jeruji besi.Di sebuah sel berukuran sedang, Veronica sedang duduk di atas lantai. Pakaian tahanannya tampak agak kusam. Namun gaya bicaranya tetap menunjukkan keangkuhan yang tak pernah pudar. Di sel yang sama, tampak Betty sedang duduk meringkuk sambil menatap lantai dengan tatapan kosong.Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu lars petugas sipir bergema di lorong tahanan. Dua orang petugas wanita berhenti tepat di depan sel Veronica dan Betty. Kunci-kunci besi berkemerincing keras saat sipir memasukkan anak kunci ke lubang pintu.KLANG!Pintu besi tebal itu terdorong terbuka."Tahanan atas nama Veronica!" panggil sipir wanita dengan suara tegas dan datar. "Hari ini kamu dibebaskan!"Mendengar kata
Julian mengepalkan tangannya, memandang ponselnya dengan bingung dan panik yang kian menggebu. ‘Bagaimana mungkin sinyal pelacak ada di sini jika Elena tidak ada?’ ‘Apa anting itu telah dilepas dan dibuang ke pekarangan rumah ini untuk menyesatkan pelacakannya?’Tiba-tiba, di tengah ketegangan yang memuncak, ponsel di tangan Julian bergetar.Bukan aplikasi pelacak, melainkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal.Julian mematung. Seluruh ruangan mendadak hening seketika saat pria itu menggeser layar ponselnya untuk membuka pesan tersebut. Pesan itu berisi sebuah foto beserta sebaris kalimat pendek. Julian membuka foto tersebut.Deg!Darahnya terasa berhenti mengalir seketika. Di dalam foto itu, terlihat Elena terbaring tak berdaya dengan tangan dan kaki terikat rapat di atas sofa lusuh. Di samping wajah pucat Elena, terlihat sebuah ujung pisau lipat tajam yang menempel ketat di leher mulus gadis itu.Julian meremas ponselnya hingga casing-nya retak. Matanya menya
Jantung Elena berdegup kencang. "Julian?""Ya," pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan yang membuat bulu kuduk Elena berdiri. "Kamu adalah umpan paling berharga yang pernah jatuh ke tanganku.”“Aku sudah menunggu titik kelemahannya. Dan hari ini, dia sendiri yang menyerahkan kelemahannya di pinggir jalan."Elena meronta kuat. Ia berusaha memutus tali yang mengikat tangannya hingga kulit pergelangan tangannya memerah lecet. "Kamu salah! Aku bukan siapa-siapa Julian! Pria itu tidak akan peduli padaku! Lepaskan aku!""Jangan membodohiku!" pangkas pria itu dingin seraya mematikan puntung rokoknya di atas meja. "Reaksi Julian saat mengejar mobil anak buahku tadi sudah cukup menjadi bukti.”“Pria arogan itu bersedia membunuh demi kamu. Itu artinya, kamu adalah tiket tunggal untuk mendapatkan kembali apa yang sudah dicolong olehnya dariku."Elena membeku. Menatap pria a
Suara raungan sirine dan derit ban memecah keheningan persimpangan yang kacau itu. Hanya dalam hitungan menit, empat mobil SUV hitam berukuran besar berhenti mengepung posisi mobil sport milik Julian yang kap depannya sudah ringsek.Pintu-pintu SUV meluncur terbuka secara serentak. Belasan pria bertubuh tegap bersetelan jas hitam dengan radio komunikasi melangkah keluar secara sigap. Di barisan paling depan, Leon berlari setengah merunduk dengan raut wajah yang pucat pasi. Ia menghampiri Presdir-nya yang masih tertunduk kaku di atas kemudi."Pak!" panggil Leon seraya menepuk kaca jendela mobil yang agak retak. "Pak! Anda tidak apa-apa?"Julian melangkah keluar dari mobilnya dengan gerakan lambat. Saat pria itu berdiri tegak, seluruh anak buahnya menahan napas. Penampilan sang Presdir yang biasanya rapi, steril, dan dingin kini tampak kacau balau. Kemeja putihnya terlepas dari tatanan, jemari tangannya bersimbah darah akibat memukul kaca. Matanya merah pekat dipenuhi kilat amarah y







