Share

Bab 136

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-09-13 07:33:26

Tanpa rasa ragu, Veronica merentangkan kedua tangannya. Ia hendak memeluk tubuh Julian.

Namun, belum sempat tubuh wanita itu menyentuh kemeja mantan suaminya, sebuah tangan kekar terangkat mendadak.

Julian menepis tangan Veronica secara kasar. Ia bahkan mendorong bahu wanita itu hingga tersentak mundur beberapa langkah.

"Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu," desis pria itu dingin. Tatapan matanya penuh dengan rasa jijik dan kebencian yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Just Mommy
Padahal kemarin aku post 2 bab lho. Gak berasa ya bacanya? ...
goodnovel comment avatar
Dewi Setyani
lama² pelit bngt .. masa 1 bab doang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 180

    Mata Julian yang tadinya tampak redup karena kelelahan seketika menajam. Aura dingin yang mencekam mendadak menyeruak memenuhi seluruh sudut kamar VVIP tersebut."Siapa pelakunya?" tanya pria itu dengan suara berat yang teramat dingin.Brian menatap Julian dan Elena secara bergantian dengan raut wajah serius. "Amanda."Seketika itu juga, suasana kamar menjadi hening mencekam. Elena menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat tak percaya mendengar nama wanita yang selama ini begitu gigih mengejar kekasihnya."Amanda?!" tanya Elena syok luar biasa. "Dokter Brian, Anda tidak sedang bercanda, kan?""Aku sama sekali tidak bercanda," jawab Brian tegas. "Semua bukti mengarah padanya."Elena menoleh menatap Julian dengan gurat kebingungan dan amarah yang bercampur aduk. "Julian, kenapa Amanda tega melakukan hal sejahat itu padamu?Bukankah dia bilang sangat menyukaimu? Jika dia menyukaimu, harusnya dia tidak akan pernah tega membahayakan nyawamu!"Julian menyunggingkan senyum yang

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 179

    Julian menaikkan sebelah alisnya, mencoba tersenyum tampan untuk melunakkan amarah sang kekasih. "Aku cuma ingin menemuimu, Sayang.""Kamu itu masih pasien rawat inap!" sahut Elena tanpa tegas, suaranya meninggi gemas. "Kamu baru bangun dari koma, infusmu dicabut paksa, dan kamu malah berkeliaran pakai jas menutupi piyama rumah sakit! Kamu pikir tubuhmu itu terbuat dari besi?!"Elena terus mengoceh tanpa henti, sambil merapikan kerah coat Julian seraya menunjuk-nunjuk dada tegap pria itu. "Kalau kondisimu memburuk lagi bagaimana? Kalau lukamu terbuka lagi bagaimana? Kamu selalu saja sembrono dan tidak mau menuruti kata dokter!"Di tengah rentetan omelan pedas itu, Julian hanya menatap wajah cantik Elena yang berseri merah karena marah. Tanpa peringatan, pria itu maju merengkuh tengkuk kekasihnya dan langsung mendaratkan ciuman dalam di bibir manis gadis itu."Mmph ... Ju—"Ciuman itu menghenti

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 178

    Melihat tatapan mata Julian yang tertuju pada buket mawar merah yang hancur di tanah, barulah Elena tersadar sepenuhnya. Kesadaran itu menghantam kepalanya bagai petir.Rasa cemburu buta. Julian senekat ini, hanya karena terbakar cemburu melihat ada pria lain yang mendekatinya.Elena menghela napas pasrah, dadanya berdesir antara gemas dan jengkel. Kekasihnya ini memang pria berkuasa yang ditakuti di dunia bisnis, tetapi jika sudah menyangkut dirinya, akal sehatnya seolah menguap tak berbekas. Namun, Elena tahu betul tabiat Julian. Jika ia tidak mengendalikan situasi ini sekarang, kekasihnya itu bisa saja menghancurkan hidup Ryan dalam hitungan detik."Julian, tenang dulu," bisik Elena pelan, mengusap lengan pria itu untuk meredam aura membunuh yang menguar pekat.Gadis itu memutar tubuhnya sedikit, menatap Ryan yang masih mematung dengan raut canggung. Elena berdehem pelan untuk mengurai ketegangan di udara."Ryan, kenalkan, ini Julian ... pacarku," ujar gadis itu memperkenalkan, me

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 177

    Langkah Elena terhenti. Gadis itu menoleh, dan seketika gurat kegembiraan di wajahnya meluntur, berganti menjadi ekspresi malas.Seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja kasual melangkah menghampirinya sambil tersenyum lebar. Itu adalah Ryan.'Aduh, kenapa harus ketemu Ryan, sih?' batin Elena meringis.Ia melirik ke arah mobil hitam di area parkir, menyadari Leon berdiri tak jauh dari sana. Elena tahu betul betapa protektifnya sekretaris Julian itu. Jika Leon melaporkan interaksi ini, kekasihnya yang berdarah dingin itu pasti akan terbakar cemburu. Kejadian di kampung neneknya saja sudah membuat heboh.Namun, karena Ryan sudah berdiri di hadapannya, Elena tidak mungkin mengabaikannya begitu saja."Eh, Ryan, ada apa?" sapa gadis itu sekadarnya, menjaga jarak aman dua langkah ke belakang."Selamat ya, El!" ujar Ryan penuh antusias. Tanpa ragu, pria itu menyodorkan sebuah buket bunga mawar me

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 176

    Elena menghela napas panjang melihat raut memelas yang terpasang di wajah tampan Julian. Tatapannya meneliti dada tegap yang dilapisi kemeja piyama rumah sakit itu.Ia teringat betapa mengerikannya kondisi pria ini beberapa hari lalu saat terbaring kaku tak berdaya. Hati kecilnya melunak. Bagaimanapun keras kepalanya Julian saat ini, pria di dekapannya memang baru saja lolos dari cengkeraman maut dan terbangun dari koma panjang.Elena mengusap pelan rambut tebal kekasihnya. Membiarkan jemarinya menyusuri tengkuk sang kekasih dengan kelembutan yang menenangkan."Sayang," bisik gadis itu lembut, menunduk hingga napasnya berembus manis di dahi kekasihnya. "Aku tahu kamu merindukanku, aku juga sangat bersyukur kamu sudah siuman. Tapi tolong beri aku waktu sebentar saja untuk fokus. Besok pagi adalah penentuan masa depanku."Julian bergeming, hanya menyandarkan kepalanya semakin dalam di dada Elena. Menghirup aroma tubuh gadisnya yang menjadi candu baginya."Pikirkan ini," lanjut Elena d

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 175

    "Julian!" protes Elena heboh sambil menepuk lengan tegap pria itu pelan.Tawa renyah lolos dari bibirnya, tak sanggup menahan rasa malu sekaligus gemas menghadapi godaan kekasihnya yang makin tak tahu tempat. "Sudah, cepat habiskan makanannya!"Selesai menghabiskan sarapan mereka dan membersihkan meja, Elena menghembuskan napas panjang. Ia beralih menatap kekasihnya yang kini sudah kembali bersandar di ranjang VVIP."Sayang, aku izin belajar sekarang, ya?" pamit gadis itu. "Aku harus membaca ulang berkas revisi dan menguasai materi skripsiku untuk sidang besok."Julian menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Gunakan meja kerja di sana. Jangan terlalu memaksakan diri, kalau lelah langsung istirahat.""Siap!" sahut gadis itu riang.Gadis itu melangkah menuju meja kerja mahoni yang terletak di area ruang tamu kamar VVIP. Ia membuka laptop, menata tumpukan draft skripsi, serta menyiapkan catatan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status