LOGINElena tersenyum sangat manis, menyandarkan kepalanya di bahu Julian dengan rasa aman yang sempurna.
Pesawat jet pribadi itu pun perlahan bergerak naik menembus awan. Membawa mereka menuju babak baru kehidupan yang penuh cinta dan kebahagiaan.Pesawat jet pribadi milik Julian akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Taiping, Harbin.Hawa dingin khas musim dingin yang menggigit langsung menyambut kedatangan mereka saat pintu kabin terbuka.Elena menyadari perubahan aura suaminya yang mendadak sangat mencekam. Ia segera memegang lengan suaminya untuk mencairkan suasana yang makin kaku."Sayang, ini Daniel," tutur Elena lembut, berusaha tersenyum sealami mungkin. "Dulu dia kakak kelas yang sempat datang ke kampusku saat program pertukaran pelajar."Daniel mengangguk ramah, berusaha bersikap sopan. "Senang bertemu Anda, Mr. Wardana.""Daniel, perkenalkan, ini Julian," sambung Elena tegas dan tanpa ragu. "Dia suamiku."Elena berharap penjelasannya sudah sangat jelas agar suaminya tidak cemburu buta. Namun, dominasi dalam diri seorang Julian Wardana sama sekali tak bisa diredam.Pria berkuasa itu menarik tubuh istrinya rapat-rapat ke pelukannya. Ia sengaja melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang istri, memamerkan kepemilikan mutlak di depan pria lain."Istriku sangat ramah pada semua orang," ujar pria itu dengan nada datar nan dingin. "Terutama pada
Elena tersenyum sangat manis, menyandarkan kepalanya di bahu Julian dengan rasa aman yang sempurna. Pesawat jet pribadi itu pun perlahan bergerak naik menembus awan. Membawa mereka menuju babak baru kehidupan yang penuh cinta dan kebahagiaan.Pesawat jet pribadi milik Julian akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Taiping, Harbin. Hawa dingin khas musim dingin yang menggigit langsung menyambut kedatangan mereka saat pintu kabin terbuka.Elena melangkah keluar dengan mantel tebal berbulu bernuansa putih bersih. Pandangannya langsung disuguhkan oleh hamparan salju putih yang melapisi seluruh penjuru kota."Wah, Julian! Lihat saljunya tebal sekali!" ucap wanita itu, dengan mata berbinar-binar bahagia.Julian tersenyum hangat melihat kepolosan istrinya. Ia merapikan syal wol yang melingkar di leher Elena. Sikapnya sangat jauh dengan pria berdarah dingin yang telah menghancurkan mantan istriny
Pertanyaan sederhana itu mendadak membuat jantung Julian berdesir. Pria berkuasa itu sempat terkejut dan merasa gugup setengah mati.Ia takut jika istri barunya itu mencium aroma intrik atau menyadari apa yang baru saja terjadi di kamar sebelah.Julian dengan cepat menguasai raut wajahnya. Mengukir senyuman hangat nan manis di bibirnya. Ia mendekati Elena dan duduk di samping gadis itu."Aku habis diskusi sedikit soal masalah bisnis dengan Leon di luar, Sayang," alibi pria itu santai seraya mengusap lembut pipi istrinya. "Aku sengaja keluar kamar karena takut suara kami mengganggu tidur nyenyakmu."Elena mengangguk-angguk pelan tanpa curiga sedikit pun. Ia menyandarkan kepalanya di bahu tegap Julian dengan manja."Pagi-pagi begini sudah memikirkan pekerjaan," gumam wanita itu, pelan. "Harusnya kamu istirahat dulu, kan kita baru saja selesai acara, kemarin.""Iya, Piccola, cuma sebentar. kok," balas pria itu mengecup pucuk kepala istrinya. "Lagipula urusannya sudah selesai."Julian se
Keesokan harinya, Julian terbangun lebih dulu, sementara Elena masih terlelap pulas di sampingnya karena kelelahan.Pria itu perlahan melepaskan pelukannya. Meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Ia segera menghubungi Leon dengan suara pelan agar tidak membangunkan istrinya."Bagaimana dengan misi semalam?" tanya Julian langsung tanpa basa-basi."Semua berjalan sesuai rencana tanpa kendala, Tuan," sahut Leon tegas dari seberang telepon. "Kondisi psikologis Nona Veronica benar-benar guncang setelah menyaksikan seluruh adegan semalam ditambah ... tujuh pria itu sudah melakukan sesuai perintah Anda."Julian menyunggingkan senyum miring penuh kepuasan. "Bagus sekali."Dia murka sekali saat membayangkan dirinya hampir mati karena wanita itu. Apalagi mengingat ia hampir terpisah dengan Elena. Makanya dia tega melakukan hal sadis tersebut.Pria itu beranjak dari tempat tidur. Mengenakan kemeja dan celana pan
Veronica mengepalkan jemarinya yang terikat erat pada sandaran kursi. Dadanya bergemuruh oleh gelombang kecewa, cemburu, dan sakit hati yang membakar seluruh jiwanya. Selama pernikahan mereka dulu, Julian tidak pernah sekalipun menatapnya dengan binar liar dan gairah yang begitu membara. P ria berkuasa itu selalu bersikap dingin, kaku, dan berjarak, seolah Veronica hanyalah patung pajangan di dalam rumahnya. Kini, di balik dinding kaca yang tembus pandang dari sisinya, Veronica dipaksa menyaksikan bagaimana Julian memperlakukan Elena. Pria yang dulu begitu angkuh dan tak tersentuh itu kini rela menanggalkan seluruh harga dirinya demi wanita lain. ‘Brengsek kau, Julian!’ maki Veronica dalam hati. Air mata amarah menetes menembus pelapis tipis yang memaksa kelopak matanya tetap terbuka. "Kamu sengaja melakukan ini padaku!" Ia tahu pasti ini adalah pembalasan dendam psikologi
Di dalam kamar hotel yang sunyi, Veronica terduduk cemas. Sejak siang tadi ia dipindahkan secara paksa ke dalam ruangan mewah ini tanpa penjelasan apa pun. Kebingungan dan rasa cemas kian menggerogoti benaknya. Pintu kamar mendadak terdorong kasar. Dua pria bertubuh kekar dengan setelan hitam melangkah masuk tanpa suara. "Kalian siapa? Mau apa kalian?!" teriak Veronica panik, seraya mundur berupaya menghindar. Tanpa membalas sepatah kata pun, kedua pria itu mencengkeram lengan Veronica dengan kuat. Mereka menyeretnya dan mendudukkannya di sebuah kursi khusus yang tepat menghadap ke arah dinding kaca buram. Dengan cepat, jemari kekar mereka melilitkan tali tebal, mengikat tangan dan kaki Veronica ke kursi tersebut hingga ia tak sanggup bergerak sedikit pun. Sebuah lakban besar ditempelkan paksa di mulutnya, membungkam jeritan protes wanita itu. Veronica meringis tertahan di balik sumbatan. Matanya terbelalak penuh ketakutan. Pria itu kemudian menekan tombol kontrol di







