INICIAR SESIÓNSalju di dalamnya belum membeku sepenuhnya. ‘Mereka baru saja melewati tempat tersebut. Dan jumlah mereka jauh lebih banyak daripada informasi yang diterima,’ batin Julian.
"Semua personel, dengarkan aku," ucap pria itu pelan, melalui radio. "Jangan berkumpul di pintu masuk. Ambil posisi perlindungan dan jangan bergerak tanpa perintah."Leon menatapnya. "Tuan, apa Anda mencurigai sesuatu?"Julian berdiri perlahan. "Aku tidak mencurigai sesuatu, Leon."Julian mengangkat alisnya. "Target utama?"Ia melirik para pengawal yang bertahan bersamanya. "Ternyata mereka benar-benar tidak menyukaiku.""Tuan, saya rasa ini bukan waktunya bercanda!" sahut Leon dari balik perlindungan."Kalau begitu, berhentilah memberiku alasan untuk melakukannya." Julian bergerak menuju sisi ruangan yang lebih gelap. Begitu melihat dua orang anak buahnya terdesak di dekat tiang penyangga, ia langsung menerjang keluar, menerobos kepulan asap yang memenuhi ruangan."Leon! Bawa mereka ke sisi barat!" teriaknya di tengah rentetan tembakan."Siap, Tuan Besar!"Leon menyambar kerah salah seorang pengawal yang terluka, menariknya ke balik tumpukan peti, lalu memberi isyarat kepada dua orang lainnya untuk bergerak. Namun, sebelum mereka sempat mencapai perlindungan berikutnya, tiga penyerang muncul dari balik deretan tong besi."Jangan biarkan mereka lolos!" Salah se
Leon terdiam selama sepersekian detik. "Tentu saja saya tidak ingin mati, Tuan.""Bagus. Orang yang tidak takut mati biasanya tidak cukup pintar untuk bertahan hidup."Julian menggeser posisi, mengamati celah di antara peti-peti. "Jadi, jangan mati malam ini."Sebelum Leon sempat menjawab, Julian keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan ke arah mezanin. Dua penembak musuh kehilangan posisi, memaksa barisan di atas terpecah."Bergerak!" perintahnya.Para pengawal yang masih bertahan segera berpindah ke posisi yang lebih aman. Namun, musuh telah menunggu kesempatan itu.Sebuah benda kecil meluncur dari balkon, memantul di lantai, lalu berhenti hanya beberapa meter dari Julian.Leon melihatnya lebih dahulu."Granat!"Ledakan menyusul sesaat kemudian.Duarr!Cahaya putih meledak di hadapan Julian. Dunia seolah terputus dari seluruh indra yang
Salju di dalamnya belum membeku sepenuhnya. ‘Mereka baru saja melewati tempat tersebut. Dan jumlah mereka jauh lebih banyak daripada informasi yang diterima,’ batin Julian."Semua personel, dengarkan aku," ucap pria itu pelan, melalui radio. "Jangan berkumpul di pintu masuk. Ambil posisi perlindungan dan jangan bergerak tanpa perintah."Leon menatapnya. "Tuan, apa Anda mencurigai sesuatu?"Julian berdiri perlahan. "Aku tidak mencurigai sesuatu, Leon."Ia menoleh kepada tangan kanannya itu. Senyum tipis yang muncul di wajahnya sama sekali tidak mencapai mata."Aku hanya mulai bosan menunggu orang-orang bodoh itu menunjukkan wajah mereka."Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat senapan dan memberi isyarat kepada dua pengawal untuk memeriksa sisi bangunan.Namun, sebelum mereka sempat bergerak, sebuah suara terdengar dari dalam gudang. Ketukannya konstan, beberapa kali dengan jumlah berbeda.Julian m
Julian terkekeh, menyunggingkan senyum percaya diri yang teramat mendominasi. "Lima belas orang itu sudah lebih dari cukup, Istriku.""Jangan sombong!" tegur Elena cemas."Aku bisa menghadapi mereka dengan mudah," ujar pria itu, membanggakan dirinya. "Kamu harus tahu kalau suamimu ini sangat ahli dalam bela diri dan menggunakan berbagai jenis senjata api."Elena mengerucutkan bibirnya kesal, merasa suaminya seolah menyepelekan keselamatan nyawanya sendiri di depan mata. Gadis itu menepuk dada tegap suaminya dengan raut wajah bersungut-sungut."Jangan bercanda!" ancam wanita itu tegas dengan mata membara. "Awas saja kalau kamu pulang dalam keadaan terluka sedikit pun! Aku akan benar-benar marah dan tidak mau berbicara denganmu lagi!"Julian tertawa renyah melihat ancaman manis dari istrinya. Pria itu menarik pinggang Elena rapat ke pelukannya, menatap bibir yang sedang merengut itu dengan penda
Elena menutup mulutnya rapat-rapat. Melangkah mundur satu langkah saat koper besi itu terbuka lebar. Matanya terbelalak tak percaya menatap deretan senjata api berwarna hitam legam, beberapa magazin peluru, serta empat granat berukuran kecil yang tersusun rapi di dalam cetakan busa."J-Julian," bisik wanita itu dengan suara gemetar. "Untuk apa semua benda berbahaya ini?"Julian mengambil sebuah pistol otomatis berlaras pendek, lalu memeriksa mekanisme penguncinya dengan jemari yang sangat ahli. "Harusnya sebelum kita berangkat ke Harbin, aku sudah membawa senjataku.""Kenapa tidak kamu bawa dari awal?" tanya Elena masih tertahan rasa terkejutnya."Aku pikir perjalanan bulan madu kita akan sepenuhnya aman," sahut Julian santai seraya memasukkan magazin peluru ke dalam senjata. "Jadi aku hanya mengandalkan senjata rahasia yang dibawa oleh Leon."Elena meremas jemarinya yang dingin, menatap suami
"Aku akan memastikan kita benar-benar aman, Piccola," bisik pria itu serak seraya merengkuh bahu istrinya yang masih bersandar pasrah di dadanya. "Tidak ada satu pun bajingan yang akan menyentuhmu lagi."SUV hitam berlapis baja itu membelah tumpukan salju tebal dengan kecepatan tinggi. Deru mesinnya bergema halus di tengah keheningan jalanan Harbin yang mencekam.Tak butuh waktu lama, mobil mewah tersebut meluncur masuk ke pelataran vila eksklusif tempat mereka menginap. Leon menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan sigap.Julian dengan cepat membuka pintu mobil, merangkul erat tubuh Elena dan membimbingnya melangkah cepat meniti tangga kayu. Pria itu sama sekali tidak membiarkan istrinya terlepas dari jangkauan pandangannya."Leon, jaga area luar," perintah Julian singkat tetapi sarat penekanan saat mereka melintasi lorong."Siap, Tuan," sahut Leon yang langsung bersiap di dekat pintu mas







