FAZER LOGINElena menutup mulutnya rapat-rapat. Melangkah mundur satu langkah saat koper besi itu terbuka lebar.
Matanya terbelalak tak percaya menatap deretan senjata api berwarna hitam legam, beberapa magazin peluru, serta empat granat berukuran kecil yang tersusun rapi di dalam cetakan busa."J-Julian," bisik wanita itu dengan suara gemetar. "Untuk apa semua benda berbahaya ini?"Julian mengambil sebuah pistol otomatis berlaras pendek, lalu memeriksa mekanisme penguncSalju di dalamnya belum membeku sepenuhnya. ‘Mereka baru saja melewati tempat tersebut. Dan jumlah mereka jauh lebih banyak daripada informasi yang diterima,’ batin Julian."Semua personel, dengarkan aku," ucap pria itu pelan, melalui radio. "Jangan berkumpul di pintu masuk. Ambil posisi perlindungan dan jangan bergerak tanpa perintah."Leon menatapnya. "Tuan, apa Anda mencurigai sesuatu?"Julian berdiri perlahan. "Aku tidak mencurigai sesuatu, Leon."Ia menoleh kepada tangan kanannya itu. Senyum tipis yang muncul di wajahnya sama sekali tidak mencapai mata."Aku hanya mulai bosan menunggu orang-orang bodoh itu menunjukkan wajah mereka."Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat senapan dan memberi isyarat kepada dua pengawal untuk memeriksa sisi bangunan.Namun, sebelum mereka sempat bergerak, sebuah suara terdengar dari dalam gudang. Ketukannya konstan, beberapa kali dengan jumlah berbeda.Julian m
Julian terkekeh, menyunggingkan senyum percaya diri yang teramat mendominasi. "Lima belas orang itu sudah lebih dari cukup, Istriku.""Jangan sombong!" tegur Elena cemas."Aku bisa menghadapi mereka dengan mudah," ujar pria itu, membanggakan dirinya. "Kamu harus tahu kalau suamimu ini sangat ahli dalam bela diri dan menggunakan berbagai jenis senjata api."Elena mengerucutkan bibirnya kesal, merasa suaminya seolah menyepelekan keselamatan nyawanya sendiri di depan mata. Gadis itu menepuk dada tegap suaminya dengan raut wajah bersungut-sungut."Jangan bercanda!" ancam wanita itu tegas dengan mata membara. "Awas saja kalau kamu pulang dalam keadaan terluka sedikit pun! Aku akan benar-benar marah dan tidak mau berbicara denganmu lagi!"Julian tertawa renyah melihat ancaman manis dari istrinya. Pria itu menarik pinggang Elena rapat ke pelukannya, menatap bibir yang sedang merengut itu dengan penda
Elena menutup mulutnya rapat-rapat. Melangkah mundur satu langkah saat koper besi itu terbuka lebar. Matanya terbelalak tak percaya menatap deretan senjata api berwarna hitam legam, beberapa magazin peluru, serta empat granat berukuran kecil yang tersusun rapi di dalam cetakan busa."J-Julian," bisik wanita itu dengan suara gemetar. "Untuk apa semua benda berbahaya ini?"Julian mengambil sebuah pistol otomatis berlaras pendek, lalu memeriksa mekanisme penguncinya dengan jemari yang sangat ahli. "Harusnya sebelum kita berangkat ke Harbin, aku sudah membawa senjataku.""Kenapa tidak kamu bawa dari awal?" tanya Elena masih tertahan rasa terkejutnya."Aku pikir perjalanan bulan madu kita akan sepenuhnya aman," sahut Julian santai seraya memasukkan magazin peluru ke dalam senjata. "Jadi aku hanya mengandalkan senjata rahasia yang dibawa oleh Leon."Elena meremas jemarinya yang dingin, menatap suami
"Aku akan memastikan kita benar-benar aman, Piccola," bisik pria itu serak seraya merengkuh bahu istrinya yang masih bersandar pasrah di dadanya. "Tidak ada satu pun bajingan yang akan menyentuhmu lagi."SUV hitam berlapis baja itu membelah tumpukan salju tebal dengan kecepatan tinggi. Deru mesinnya bergema halus di tengah keheningan jalanan Harbin yang mencekam.Tak butuh waktu lama, mobil mewah tersebut meluncur masuk ke pelataran vila eksklusif tempat mereka menginap. Leon menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan sigap.Julian dengan cepat membuka pintu mobil, merangkul erat tubuh Elena dan membimbingnya melangkah cepat meniti tangga kayu. Pria itu sama sekali tidak membiarkan istrinya terlepas dari jangkauan pandangannya."Leon, jaga area luar," perintah Julian singkat tetapi sarat penekanan saat mereka melintasi lorong."Siap, Tuan," sahut Leon yang langsung bersiap di dekat pintu mas
Satu potong kayu jatuh menimpa tanah bersalju, sangat dekat dengan wajah Leon. Elena menyenggol dada suaminya karena terkejut. Namun Julian dengan cepat membekap bibir lembut istrinya dengan jemarinya. Membungkam teriakan yang hampir lolos dari mulut istrinya. Mereka bertiga menahan napas. Suasana di dalam celah sempit itu mendadak mati total, hanya diisi oleh keheningan yang amat menyiksa saraf. "Tidak ada siapa-siapa di gubuk ini!" teriak penyerang di luar setelah membedah bagian dalam gubuk. "Mereka pasti menerobos masuk lebih dalam ke arah hutan pinus!" "Cepat kejar ke sana sebelum mereka kehilangan jejak!" sahut komandannya. Derap langkah kaki berat itu perlahan-lahan mulai menjauh, bergerak membelah tumpukan salju menuju area hutan pinus yang lebih dalam. Suara teriakan mereka kian menghilang ditelan angin dingin Harbin. Meski begitu, Julian tidak langsung mengendurkan kewaspadaannya. Pria berkuasa itu tetap menahan posisi mereka. Membungkam Elena dalam dekapanny
Restoran yang tadinya tenang seketika menjadi neraka kecil saat pecahan kaca menyambar ke segala arah. Julian bertindak secepat kilat. Ia merengkuh tubuh istrinya dan membawanya berguling ke balik meja batu yang tebal tepat sebelum rentetan peluru berikutnya menghantam dinding kayu di belakang mereka.Tak-tak-tak-tak!Debu kayu dan serpihan kristal beterbangan di udara, menciptakan kepulan asap tipis berselimut bau mesiu yang amat menyengat. Leon merayap cepat ke sudut ruangan, melesakkan beberapa tembakan balasan dari senjata berperedam miliknya."Tuan! Mereka terlalu banyak!" ucap Leon dengan napas memburu, peluh dingin menetes di pelipisnya. "Kita tidak membawa tim pengawal lengkap atas permintaan Anda!"Julian mengepalkan tangannya erat-erat. Menarik Elena rapat dalam pelukannya. Pria berkuasa itu dengan cepat membaca situasi yang sama sekali tidak menguntungkan bagi mereka."Berapa banyak orang di lu







