LOGINElena tertegun membeku. Ancaman mutlak dari suaminya yang posesif itu seketika meruntuhkan seluruh argumen di kepalanya.
Gadis itu menghembuskan napas pasrah, menatap Julian dengan raut ketus yang menggemaskan."Dasar pemaksa," cibir Elena pelan."Tapi kamu tetap mencintai pria pemaksa ini," balas Julian menyunggingkan senyum penuh kemenangan.Pria itu membungkuk singkat, mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya sebelum membukakan pintu mobil. "Dada Elena berdesir hangat dipenuhi rasa kesal yang membakar. Namun, ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha menahan diri untuk tetap menjaga profesionalisme di hari pertamanya melangkah ke kantor ini."Saya tidak salah alamat, Mbak," jawab Elena dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang dan sopan. "Saya datang ke sini karena mendapat undangan wawancara resmi dari Manajer HRD."Wanita senior itu tertawa tipis, terdengar kentara sekali merendahkan. Ia tetap bersikap angkuh, memiringkan kepala dengan tatapan menilai yang sangat sinis."Undangan resmi dari Manajer HRD?" cibirnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Aduh, Dek, kalau mau bohong itu pikir-pikir dulu, pakai logika sedikit. Pelamar baru yang gak punya pengalaman seperti kamu biasanya cuma diproses sama staf magang atau HRD tingkat bawah. Gak ada sejarahnya Manajer HRD turun tangan langsung ngundang anak kemarin sore!"Elena menatap wanita itu dengan tatapan dingin. Berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahn
Elena tertegun membeku. Ancaman mutlak dari suaminya yang posesif itu seketika meruntuhkan seluruh argumen di kepalanya. Gadis itu menghembuskan napas pasrah, menatap Julian dengan raut ketus yang menggemaskan."Dasar pemaksa," cibir Elena pelan."Tapi kamu tetap mencintai pria pemaksa ini," balas Julian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Pria itu membungkuk singkat, mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya sebelum membukakan pintu mobil. "Semoga sukses wawancaramu hari ini, Istriku."Elena mendengus pasrah, melangkah masuk ke dalam kabin sedan mewah tersebut. Leon dengan sigap menutup pintu rapat-rapat, lalu melesat memimpin iring-iringan kendaraan menuju kantor pusat Wardana Group.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin sedan mewah itu terasa begitu tenang namun dipenuhi ketegangan tersendiri bagi Elena. Jemarinya bergerak lincah membalikkan halaman demi halaman buku tebal b
Julian memutar otak secepat kilat. Raut wajahnya yang sempat membeku seketika mencair, digantikan senyuman tipis yang tenang dan meyakinkan. Pria itu mengusap lembut kedua bahu istrinya."Maafkan aku, Piccola," tutur Julian lembut dengan nada penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Semalam aku sempat tidak sengaja membaca draf CV yang ada di laptopmu saat kamu sudah tidur. Di sana tertulis tujuan divisimu. Jadi, apa kamu benar-benar melamar ke divisi itu?"Elena menyipitkan mata, masih menatap suaminya dengan sisa-sisa kecurigaan. Namun, penjelasan Julian terdengar cukup masuk akal. "Iya, aku melamar ke divisi kreatif."Pria itu mengangguk-angguk paham. Ia sengaja membelokkan arah pembicaraan demi mengalihkan fokus istrinya. "Ngomong-ngomong, di Wardana Group, kadang-kadang meskipun seorang pelamar dinyatakan lolos, penempatannya tidak selalu sesuai dengan divisi tujuan awal. Apa kamu keberatan jika hal seperti itu terjadi?"Perhatian Elena seketika teralih dari tuduhan awal. Dahi gadi
Elena menatap layar ponselnya cukup lama. Rasa curiga yang menggelitik hatinya tak bisa dibiarkan begitu saja. Tanpa membuang waktu, jemarinya menekan nomor kontak suaminya.Deringan pertama baru saja berbunyi ketika suara berat Julian menjawab dari seberang sambungan."Ada apa, Piccola? Kamu merindukanku?" goda pria itu dengan nada santai yang kental akan percaya diri.Elena mendengus pelan, menolak terpancing godaan itu. "Julian, aku baru saja mendapat telepon dari Wardana Group.""Oh ya?" Pria itu pura-pura terkejut. Dia menyunggingkan senyum yang tipis. "Lalu bagaimana hasilnya?""Manajer HRD-mu, Pak Sam, meneleponku secara pribadi. Dia memintaku datang untuk wawancara kerja besok pagi jam sepuluh," terang Elena antusias."Selamat, Istriku. Langkah awal yang sangat bagus, bukan?" sahut suaminya hangat."Jangan senang dulu, Julian Wardana," ucap wanita itu dengan intonasi menuduh yang sangat
Napas Pak Sam terengah-engah sampai akhirnya ia mengembuskan napas lega saat melihat kursornya masih menggantung di atas tombol konfirmasi. Email penolakan itu belum terkirim."T-Tuhan memberkati," bisik Pak Sam sambil menepuk dadanya yang berdegup kencang. Ia menoleh pada Leon dengan raut wajah panik yang belum sepenuhnya hilang. "Pak Leon, apakah email pelamar yang ini yang dimaksud oleh Tuan Wardana?"Leon melangkah mendekat, menundukkan kepala sejenak untuk membaca nama serta dokumen terlampir di layar monitor."Ya," sahut Leon mengangguk mantap. "Itu email dari Nyonya Wardana."Pak Sam mengusap keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Napasnya masih agak sesak. Namun dadanya terasa lega luar biasa. Pria paruh baya itu benar-benar merasa baru saja lolos dari jurang kematian karirnya.Biasanya, proses penyortiran dan penolakan lamaran bagi pelamar tanpa pengalaman kerja selalu ditangani oleh staf HRD di bawahnya. Namun, entah angin apa yang bertiup siang ini, Pak Sam justru s
Elena yang sedang bersantai di sofa penthouse terperanjat kaget mendengar nada suara suaminya yang mendadak meninggi di seberang telepon.Gadis itu menautkan alisnya, berusaha mengontrol kepanikan."Julian, aku bisa menjelaskannya," tuturnya pelan, berusaha menjelaskan posisinya secara rasional. "Aku kan baru saja lulus kuliah. Kalau aku langsung menulis status sudah menikah di dalam berkas lamaran kerja, orang-orang divisi HRD pasti akan curiga dan bertanya-tanya.""Curiga bagaimana?!" protes Julian tidak terima, suaranya terdengar sangat tegas di balik sambungan telepon. "Kamu memang sudah sah menjadi istriku! Apa yang perlu dicurigai dari sebuah kebenaran?!"Elena mengembuskan napas panjang. Berusaha memberi pengertian pada suaminya yang mulai bertindak posesif."Masalahnya, aku ini melamar sebagai staf biasa, Julian," terang wanita itu mengemukakan alasannya yang sangat masuk akal. "Jika sebuah perusahaan melihat pelamar muda baru lulus sudah menikah, mereka sering kali berpiki







