Share

Bab 223

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-10-30 20:35:10

Julian memutar otak secepat kilat. Raut wajahnya yang sempat membeku seketika mencair, digantikan senyuman tipis yang tenang dan meyakinkan.

Pria itu mengusap lembut kedua bahu istrinya.

"Maafkan aku, Piccola," tutur Julian lembut dengan nada penuh penyesalan yang dibuat-buat.

"Semalam aku sempat tidak sengaja membaca draf CV yang ada di laptopmu saat kamu sudah tidur. Di sana tertulis tujuan divisimu. Jadi, apa kamu benar-benar melamar ke divisi itu?"

Elena menyipitkan mata, masih menatap su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Irma Pramono
haduh..elenaa..gemezz..gk belajar dr pengalaman seblumnya..masih aja dianggap remeh musuh julian
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 224

    Elena tertegun membeku. Ancaman mutlak dari suaminya yang posesif itu seketika meruntuhkan seluruh argumen di kepalanya. Gadis itu menghembuskan napas pasrah, menatap Julian dengan raut ketus yang menggemaskan."Dasar pemaksa," cibir Elena pelan."Tapi kamu tetap mencintai pria pemaksa ini," balas Julian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Pria itu membungkuk singkat, mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya sebelum membukakan pintu mobil. "Semoga sukses wawancaramu hari ini, Istriku."Elena mendengus pasrah, melangkah masuk ke dalam kabin sedan mewah tersebut. Leon dengan sigap menutup pintu rapat-rapat, lalu melesat memimpin iring-iringan kendaraan menuju kantor pusat Wardana Group.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin sedan mewah itu terasa begitu tenang namun dipenuhi ketegangan tersendiri bagi Elena. Jemarinya bergerak lincah membalikkan halaman demi halaman buku tebal b

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 223

    Julian memutar otak secepat kilat. Raut wajahnya yang sempat membeku seketika mencair, digantikan senyuman tipis yang tenang dan meyakinkan. Pria itu mengusap lembut kedua bahu istrinya."Maafkan aku, Piccola," tutur Julian lembut dengan nada penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Semalam aku sempat tidak sengaja membaca draf CV yang ada di laptopmu saat kamu sudah tidur. Di sana tertulis tujuan divisimu. Jadi, apa kamu benar-benar melamar ke divisi itu?"Elena menyipitkan mata, masih menatap suaminya dengan sisa-sisa kecurigaan. Namun, penjelasan Julian terdengar cukup masuk akal. "Iya, aku melamar ke divisi kreatif."Pria itu mengangguk-angguk paham. Ia sengaja membelokkan arah pembicaraan demi mengalihkan fokus istrinya. "Ngomong-ngomong, di Wardana Group, kadang-kadang meskipun seorang pelamar dinyatakan lolos, penempatannya tidak selalu sesuai dengan divisi tujuan awal. Apa kamu keberatan jika hal seperti itu terjadi?"Perhatian Elena seketika teralih dari tuduhan awal. Dahi gadi

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 222

    Elena menatap layar ponselnya cukup lama. Rasa curiga yang menggelitik hatinya tak bisa dibiarkan begitu saja. Tanpa membuang waktu, jemarinya menekan nomor kontak suaminya.Deringan pertama baru saja berbunyi ketika suara berat Julian menjawab dari seberang sambungan."Ada apa, Piccola? Kamu merindukanku?" goda pria itu dengan nada santai yang kental akan percaya diri.Elena mendengus pelan, menolak terpancing godaan itu. "Julian, aku baru saja mendapat telepon dari Wardana Group.""Oh ya?" Pria itu pura-pura terkejut. Dia menyunggingkan senyum yang tipis. "Lalu bagaimana hasilnya?""Manajer HRD-mu, Pak Sam, meneleponku secara pribadi. Dia memintaku datang untuk wawancara kerja besok pagi jam sepuluh," terang Elena antusias."Selamat, Istriku. Langkah awal yang sangat bagus, bukan?" sahut suaminya hangat."Jangan senang dulu, Julian Wardana," ucap wanita itu dengan intonasi menuduh yang sangat

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 221

    Napas Pak Sam terengah-engah sampai akhirnya ia mengembuskan napas lega saat melihat kursornya masih menggantung di atas tombol konfirmasi. Email penolakan itu belum terkirim."T-Tuhan memberkati," bisik Pak Sam sambil menepuk dadanya yang berdegup kencang. Ia menoleh pada Leon dengan raut wajah panik yang belum sepenuhnya hilang. "Pak Leon, apakah email pelamar yang ini yang dimaksud oleh Tuan Wardana?"Leon melangkah mendekat, menundukkan kepala sejenak untuk membaca nama serta dokumen terlampir di layar monitor."Ya," sahut Leon mengangguk mantap. "Itu email dari Nyonya Wardana."Pak Sam mengusap keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Napasnya masih agak sesak. Namun dadanya terasa lega luar biasa. Pria paruh baya itu benar-benar merasa baru saja lolos dari jurang kematian karirnya.Biasanya, proses penyortiran dan penolakan lamaran bagi pelamar tanpa pengalaman kerja selalu ditangani oleh staf HRD di bawahnya. Namun, entah angin apa yang bertiup siang ini, Pak Sam justru s

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 220

    Elena yang sedang bersantai di sofa penthouse terperanjat kaget mendengar nada suara suaminya yang mendadak meninggi di seberang telepon.Gadis itu menautkan alisnya, berusaha mengontrol kepanikan."Julian, aku bisa menjelaskannya," tuturnya pelan, berusaha menjelaskan posisinya secara rasional. "Aku kan baru saja lulus kuliah. Kalau aku langsung menulis status sudah menikah di dalam berkas lamaran kerja, orang-orang divisi HRD pasti akan curiga dan bertanya-tanya.""Curiga bagaimana?!" protes Julian tidak terima, suaranya terdengar sangat tegas di balik sambungan telepon. "Kamu memang sudah sah menjadi istriku! Apa yang perlu dicurigai dari sebuah kebenaran?!"Elena mengembuskan napas panjang. Berusaha memberi pengertian pada suaminya yang mulai bertindak posesif."Masalahnya, aku ini melamar sebagai staf biasa, Julian," terang wanita itu mengemukakan alasannya yang sangat masuk akal. "Jika sebuah perusahaan melihat pelamar muda baru lulus sudah menikah, mereka sering kali berpiki

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 219

    Mendengar pertanyaan itu, raut ketus di wajah Elena seketika melunak. Binar antusias kembali terpancar terang dari mata beningnya, menggantikan silent treatment yang sempat membuat Julian ketar-ketir. "Rencananya hari ini aku akan menyelesaikan seluruh portofolioku," sahut Elena dengan nada suara bersemangat. "Terus, siang nanti aku langsung mengirimkan lamarannya via email,” lanjutnya. Julian menyunggingkan senyum lembutnya yang lebar. Dia lega karena taktik mogok makannya terbukti ampuh mengembalikan suara manis istrinya. "Baguslah. Tapi ingat, kirimkan lamaranmu ke Wardana Group saja, jangan ke perusahaan lain." Elena mengangguk patuh tanpa ada niat membantah sedikit pun. Ia juga menyadari posisinya sebagai istri dari pemilik tunggal Wardana Group, melamar ke perusahaan kompetitor justru bisa memicu spekulasi liar dan mencemari nama besar suaminya. Meski pernikahan mereka masih dirahasiakan. "Baik, Pak Suami," jawab gadis itu kooperatif. "Aku hanya akan melamar ke pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status