Share

Bab 3: Kunci dan Kesetiaan

Penulis: Murufu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 08:00:14

Siang berganti menjadi sore. Cahaya matahari yang tadinya hangat kini memanjang dan menajam, menciptakan bayang-bayang yang dalam di koridor Istana Bunga Es. Bagi Rania, waktu yang merangkak lambat ini adalah sebuah siksaan. Dia duduk di meja kerjanya, di hadapannya terbentang peta kasar tata letak istana yang ia gambar dari ingatan Aurelia. Namun, matanya tidak benar-benar melihat gambar itu. Pikirannya berada di tempat lain, mengikuti sesosok gadis kurus yang kini menjadi tumpuan dari seluruh strateginya.

Dia sedang menunggu data dari agen lapangan pertamanya.

Ini adalah bagian terburuk dari setiap operasi: saat kau sudah mendelegasikan tugas dan tidak ada lagi yang bisa kau lakukan selain menunggu dan percaya pada personelmu. Rania benci perasaan ini. Di dunianya, dia bisa memantau kemajuan lewat email atau pesan singkat. Di sini, dia buta dan tuli.

Dia menganalisis kemungkinan. Probabilitas keberhasilan Elara: 40%. Probabilitas kegagalan dan ketahuan: 35%. Probabilitas Elara akan terlalu takut dan menyerah: 20%. Probabilitas Elara akan berkhianat dan melaporkannya pada Delia: 5%. Angka-angka itu tidak menenangkan. Elara adalah aset yang belum teruji, sebuah investasi berisiko tinggi. Jika dia gagal, Rania harus memotong kerugiannya dan mencari pion lain. Emosi tidak punya tempat dalam perhitungan ini.

Tepat saat itu, pintu kamarnya diketuk dengan sopan. "Masuk," kata Rania, suaranya datar.

Delia yang masuk, membawa nampan berisi teh sore. Sikapnya telah berubah total. Tidak ada lagi cemoohan, hanya kepatuhan yang kaku dan penuh ketakutan. Dia meletakkan cangkir teh di atas meja tanpa menimbulkan suara.

"Apakah ada lagi yang Anda butuhkan, Yang Mulia?" tanya Delia, matanya tertuju ke lantai.

"Pastikan persediaan arang untuk pemanas ruangan diperiksa setiap malam," perintah Rania tanpa menatapnya. "Saya tidak ingin terbangun karena kedinginan lagi. Kau bisa pergi."

"Baik, Yang Mulia." Delia membungkuk dalam-dalam dan keluar.

Kepatuhan Delia adalah kemenangan kecil, bukti bahwa kekuasaannya yang baru—meskipun dibangun di atas pemerasan—itu nyata. Tapi itu adalah kekuasaan yang rapuh. Tanpa bukti yang lebih kuat, tanpa sekutu yang sesungguhnya, dia hanya menunda waktu. Segalanya bergantung pada Elara.

Sementara itu, di sayap pelayan yang lembap dan ramai, Elara bergerak seperti hantu. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia takut orang lain bisa mendengarnya. Perintah Permaisuri terus terngiang di kepalanya: *Cari tahu di mana Delia menyembunyikan kunci duplikat.*

Ini adalah misi bunuh diri. Delia adalah wanita yang teliti dan kejam.

---

Elara menghabiskan berjam-jam melakukan tugasnya seperti biasa—membersihkan debu di lorong, mengganti air di vas bunga—tetapi matanya tidak pernah jauh dari sosok Delia. Dia mengamati setiap gerakan, setiap kebiasaan kepala pelayan itu. Dia melihat Delia menghardik seorang pelayan dapur karena sup yang terlalu asin. Dia melihatnya menerima sekantong kecil koin dari seorang pedagang yang datang mengantar kain. Setiap detail ia rekam dalam benaknya.

Rasa takut yang mencekiknya perlahan mulai bercampur dengan sesuatu yang lain: kemarahan. Kemarahan melihat ketidakadilan yang terjadi setiap hari. Dan di tengah kemarahan itu, muncul bayangan wajah Permaisuri. Matanya yang dingin, suaranya yang tenang, dan janjinya yang mustahil: "...kau tidak akan lagi menjadi pelayan junior. Kau akan berdiri di sisiku."

Harapan adalah racun yang berbahaya, tetapi saat ini, itu adalah satu-satunya hal yang membuat Elara terus bergerak.

Kesempatan itu akhirnya datang saat Delia pergi ke taman belakang untuk memeriksa persediaan herbal. Elara tahu Delia memiliki satu set kunci utama yang selalu tergantung di pinggangnya, tapi Permaisuri menyebut 'kunci duplikat'. Itu berarti ada kunci cadangan yang disembunyikan. Di mana seseorang menyembunyikan sesuatu yang berharga? Di tempat yang mereka lewati setiap hari tapi tidak akan pernah dicurigai orang lain.

Elara bergegas ke koridor barat, tempat kamar Delia berada. Dengan berpura-pura membersihkan sebuah permadani dinding yang sudah usang, matanya memindai sekeliling. Lantai batu? Tidak. Di balik lukisan? Terlalu klise. Lalu matanya menangkapnya. Sebuah pot terakota besar berisi tanaman pakis yang setengah mati berdiri di sudut. Pot itu tampak berat dan tidak pernah dipindahkan selama bertahun-tahun. Tapi di dasarnya, ada bekas goresan baru di lantai yang berdebu.

Dengan jantung berdebar, Elara mendekati pot itu. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggesernya sedikit. Di bawahnya, ada sebuah papan lantai yang sedikit lebih longgar dari yang lain. Dia mencongkelnya dengan ujung jarinya yang gemetar. Dan di sana, terbungkus kain beludru kusam, terbaring sebuah kunci besi besar. Kunci duplikat.

Dia mengambilnya dengan cepat, menyembunyikannya di balik celemeknya, dan mengembalikan semuanya seperti semula tepat saat dia mendengar langkah kaki Delia kembali.

Saat senja tiba, Rania masih menunggu di kamarnya. Kecemasan mulai merayapinya. Apakah Elara tertangkap? Apakah dia menyerah?

Tiba-tiba, pintu berderit pelan. Elara menyelinap masuk. Pakaiannya sedikit kotor, wajahnya pucat karena tegang, tapi matanya... matanya berkilat dengan cahaya yang belum pernah Rania lihat sebelumnya. Campuran antara teror dan kemenangan.

Tanpa berkata apa-apa, Elara berjalan ke meja dan meletakkan sebuah benda logam berat di atasnya. Kunci besi itu tampak gelap dan mengancam di bawah cahaya lilin.

Rania menatap kunci itu, lalu menatap Elara. Gadis ini telah melampaui ekspektasinya. Dia tidak hanya patuh, dia juga cerdas dan berani.

"Bagus," kata Rania, dan nada persetujuan yang tulus dalam suaranya membuat Elara merasa semua risiko yang ia ambil hari ini sepadan. "Kau telah membuktikan nilaimu."

Rania mengambil kunci itu, merasakan bobotnya yang dingin di telapak tangannya. Ini bukan hanya sepotong logam. Ini adalah kunci menuju persenjataan pertamanya.

Dia menatap Elara. "Sekarang, istirahatlah dan makan malammu. Pekerjaan kita yang sebenarnya dimulai tengah malam ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu   Bab 226: Saat Kau Menatap Jurang, Ayahmu Menatap Balik

    LOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13Tangan bayangan raksasa itu tidak hanya mencengkeram kaki Alice; ia merembes ke dalam tekstur gaun putihnya, menodai kesucian data gadis kecil itu dengan tinta hitam pekat yang bergerak seperti minyak hidup.Alice, yang sebelumnya bermain-main dengan hukum fisika, kini memukul-mukul tangan hitam itu dengan pensil raksasanya."Lepas! Lepas! Ini kotor!" jerit Alice. Dia menggosokkan penghapusnya ke lengan bayangan itu.Wush.Bagian yang digosok menghilang menjadi putih. Tapi hanya sepersekian detik. Detik berikutnya, kegelapan itu tumbuh kembali lebih cepat, lebih pekat, dan lebih lapar."Kau tidak bisa menghapus bayangan dengan cahaya, Nak," suara Darrius menggema, berat dan parau, seolah datang dari dasar sumur terdalam. "Semakin terang kau bersinar, semakin gelap bayangannya."Tanah di depan bunker meledak. Bukan ledakan api, tapi ledakan gravitasi.Kaisar Darrius muncul.Dia tidak lagi terlihat seperti manusia. Kulitnya berwarna abu-

  • Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu   Bab 227: Pangeran Gelandangan di Kota Tanpa Hukum

    LOKASI: SEKTOR 88 – "THE NEON SLUMS" (PERBATASAN BENUA TIMUR)Langit di sini tidak pernah cerah. Awan polusi berwarna oranye menggantung rendah, meneteskan hujan asam yang mendesis saat menyentuh aspal.Di gang sempit di belakang sebuah restoran mie sintetik, udara beriak. Sebuah lubang dimensi terbuka, memuntahkan tiga sosok remaja.BRUK!Mereka tidak mendarat dengan gaya superhero. Mereka jatuh menimpa tumpukan kantong sampah basah yang baunya seperti campuran ikan busuk dan baterai bocor."Aduh..." Vee mengerang, mengusap wajahnya yang kini belepotan lumpur hitam. "Pendaratan terburuk dalam sejarah teleportasi. Rating bintang satu."Rick berguling, langsung mengecek Elara yang ada dalam pelukannya. Gadis itu masih pingsan, tapi napasnya stabil. Rick menghela napas lega, lalu mencoba duduk.Tulang punggungnya menjerit protes. Tanpa buff penyembuhan dari ibunya, rasa sakit akibat pertarungan melawan Ayahnya tadi mulai terasa nyata."Di mana kita?" tanya Rick, melihat sekeliling.Dind

  • Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu   Bab 225: Jangan Hapus Adikku!

    LOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13Pintu baja bunker setebal tiga puluh sentimeter itu tidak meledak. Pintu itu juga tidak meleleh.Pintu itu hanya... hilang.Satu detik pintu itu ada, detik berikutnya hanya ada lubang persegi sempurna yang menampilkan cahaya matahari sore yang menyilaukan. Dan di tengah cahaya itu, berdiri seorang gadis kecil dengan gaun putih dan tas beruang.Rick, Vee, dan Paman Krog membeku. Insting mereka berteriak bahwa predator puncak baru saja masuk ke kandang."Permisi," suara Alice lembut seperti lonceng. Dia melangkah masuk, menyeret pensil raksasanya yang berbunyi sreeet... sreeet... di lantai beton. "Aku mencari kakak-kakak nakal yang membuat server jadi panas."Vee, yang paling cepat bereaksi, langsung mengetikkan kode pertahanan di laptopnya."Firewall Lapis 10: Aktif! Turret Laser: Tembak!"Empat senapan mesin otomatis turun dari langit-langit, membidik Alice, dan melepaskan rentetan peluru laser.Alice tidak menghindar. Dia hanya mengan

  • Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu   Bab 224: Logika Seorang Adik & Gadis Penghapus Kota

    LOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13[TIME UNTIL REBOOT: 47:12:05]Angka merah di layar laptop Vee terus menghitung mundur, detiknya seirama dengan tetesan oli dari pipa bocor di langit-langit bunker."Hentikan waktu itu, Vee," perintah Rick. Dia duduk di tepi ranjang medis, menatap wajah pucat Elara. "Kau hacker terbaik di galaksi. Retas jamnya.""Aku tidak bisa meretas waktu server, Kak," jawab Vee tanpa menoleh dari layarnya. Jari-jarinya bergerak begitu cepat hingga terlihat kabur. "Dan berhenti berpikir kau adalah Tuhan hanya karena kau baru saja menghapus tiga satpam kroco."Vee memutar kursinya, menatap Rick dengan mata biru yang tajam—tatapan yang 100% mewarisi ketegasan Rania."Dengar. Tombol 'Delete'-mu itu hanya bekerja pada objek di dalam server. Tapi yang datang berikutnya... The Debugger... dia berasal dari luar sistem. Kau tidak bisa menghapusnya, sama seperti karakter game tidak bisa menghapus pemain yang memegang stik konsol.""Lalu kita harus apa? Menyer

  • Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu   Bab 223: Retak dalam Matriks Keluarga

    LOKASI: RERUNTUHAN LABORATORIUM "ORIGIN" – PASCA-PEMBERSIHAN Keheningan yang menyusul setelah Rick menghapus para Sentinels terasa lebih memekakkan telinga daripada ledakan badai tadi. Salju turun dengan malas, menutupi lantai logam yang kini hangus dan pixelated. Rick masih berdiri memunggungi orang tuanya. Elara yang pingsan berada di dalam gendongannya—tubuh gadis itu terasa ringan, namun beban emosional yang dibawa Rick terasa seperti memikul seluruh planet Aethelgard. "Rick..." suara Darrius pecah. Kaisar itu mencoba melangkah maju. Tangannya yang masih memerah dan berasap akibat menahan laser tadi terulur, gemetar. "Bicaralah pada Ayah, Nak. Jangan menatap salju itu. Tatap Ayah." Rick tidak berbalik. "Untuk apa, Yah? Supaya Ayah bisa memastikan kalau 'Program' ini masih berjalan sesuai perintah?" "Hentikan omong kosong itu!" Darrius menggeram, tapi suaranya lebih terdengar seperti rintihan. "Kau bukan barisan kode bagiku! Kau adalah anak yang kupukuli bokongnya saat kau m

  • Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu   Bab 222: Fragmen Memori yang Membeku

    LOKASI: PUNCAK FROSTBITE – GERBANG SEKTOR ZEROAngin kutub meraung, membawa serpihan es yang mampu menggores zirah baja. Di tengah badai putih yang membutakan, Rick bergerak seperti bayangan—cepat, senyap, dan penuh determinasi. Sensor panas di matanya menangkap siluet kecil yang meringkuk di balik reruntuhan pilar es.Elara.Gadis itu nyaris membeku. Rambut merahnya tertutup salju, dan napasnya pendek. Saat Rick mendarat, Elara mencoba menghunus belatinya, namun tangannya terlalu kaku untuk menggenggam hulu senjata.Tanpa sepatah kata, Rick melepas jubah pelindungnya dan membungkus tubuh Elara. Dia menarik gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan panas. Rick menyalurkan Mana api secara konstan, menciptakan gelembung hangat di tengah badai yang mematikan."Kau... kenapa kau ke sini?" bisik Elara, suaranya parau. "Ayahmu akan membunuhku jika dia tahu aku membawamu ke tempat terlarang ini.""Biarkan dia mencoba," jawab Rick datar. Tatapannya menatap lurus ke arah dinding gunun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status