LOGINRey menyesap kopinya, tatapannya lekat pada Rosa yang tampak gelisah di sofa ruang kerjanya. Suasana kantor yang tenang di lantai atas itu kontras dengan raut wajah adiknya yang kusut."Mama masih memaksamu dengan perjodohan konyol itu?" tanya Rey tanpa basa-basi.Rosa menghela napas panjang, memutar-mutar bolpoin di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia tidak berhenti, Kak. Rasanya seperti dikepung dari segala sisi.""Lalu?""Untungnya Papa masih waras," Rosa mendongak, matanya berbinar kecil. "Papa bilang, kalau aku sudah punya seseorang yang serius, aku hanya perlu membawanya menghadap. Beliau akan menimbang sisanya."Rey meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum jahil yang jarang ia tunjukkan. "Wah, itu lampu hijau yang besar, bukan? Tunggu apa lagi? Ajak saja Kevin!"Seketika, rona merah menjalar dari leher hingga ke telinga Rosa. Ia mendadak sibuk dengan ujung blusnya, mencoba menyembunyikan seny
Rima melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang privasi Rosa, lalu berbisik dengan nada yang jauh lebih dingin dan mematikan. "Menikah dengan Anton akan membuatmu hidup tenang dan nyaman," bisik Rima lagi, kali ini tangannya mencengkeram dagu Rosa dengan cengkeraman yang menyakitkan, memaksa putrinya itu menatap langsung ke dalam matanya. "Tanpa posisi Papa dan Mama, tanpa nama besar keluarga, kamu bukan apa-apa di luar sana, Rosa. Hanya seorang wanita biasa yang harus memeras keringat untuk sekadar makan. Apakah itu masa depan yang kamu inginkan?"Rosa memalingkan wajahnya, melepaskan diri dari cengkeraman sang ibu. Ia merasa muak dengan kata-kata itu, kata-kata yang selama ini menjadi racun yang secara perlahan membunuh kepercayaan dirinya."Jika harus memilih antara kenyamanan semu di dalam sangkar emas ini atau hidup jujur dengan keringatku sendiri, aku akan memilih yang kedua, Ma," jawab Rosa dengan nada suara yang kini lebih mantap. "Setidaknya, saat aku tidur nanti malam, aku t
Tepat pukul dua belas siang, suasana di restoran fine dining itu terasa menyesakkan bagi Rosa. Ia duduk di antara ibunya, Rima, dan Tante Ana yang terus menebar senyum lebar, seolah sedang merayakan sebuah kemenangan besar. Di seberang meja, Anton duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedatar papan kayu."Nah, mumpung anak-anak sudah di sini, mari kita pesan makanannya. Bagaimana kalau kita bicarakan tanggal lamarannya bulan depan?" Tante Ana membuka percakapan dengan nada riang yang membuat perut Rosa mual.Rima mengangguk antusias. "Setuju. Rosa, kamu sudah lihat kan foto-foto apartemen yang Mama kirim? Itu hadiah untuk kalian."Rosa memutar gelas air mineralnya. Tangannya sedikit dingin, tapi tatapan Rey sebelum ia berangkat tadi terngiang di kepalanya: Jangan beri celah."Ma, Tante," suara Rosa memecah keheningan yang seharusnya manis itu. Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. "Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku dan Anton ingin mengatakan sesuatu."Rima berh
Mata Kevin berkilat, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena tekad yang membara. Dia baru saja mendapatkan kembali kepastian bahwa Rosa adalah miliknya sepenuhnya. Dan bagi seorang CEO seperti Kevin, tidak ada yang lebih berbahaya daripada pria yang telah menemukan kembali tujuan hidupnya."Kalau begitu, mari kita mulai," ujar Kevin pelan. "Malam ini juga, kita akan pastikan Olivia menyesali langkah konyol yang dia ambil hari ini.”Kevin melepaskan pelukannya, meski enggan, dan kembali ke posisi duduknya."Sekarang, aku harus mengantarmu pulang sebelum ibumu mulai mencurigai sesuatu yang lebih jauh. Besok, semuanya akan berakhir bagi Olivia."Saat mobil mulai melaju membelah malam menuju kediaman Raharja, Rosa menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Dia tahu, mulai besok, hidupnya akan menjadi sebuah panggung sandiwara yang berbahaya. Namun, dengan Kevin di sampingnya, dia tidak lagi merasa takut.Di kejauhan, di apartemennya, Olivia masih menyesap wine, yakin bahwa rencanany
Pikiran Rosa langsung kacau. Sepertinya Kevin benar-benar sedang marah, Rosa tahu satu-satunya cara untuk meredam kemarahan itu adalah dengan menemuinya. Tangannya gemetar saat ia harus memastikan pintu kamarnya terkunci tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Rumah kediaman utama Raharja malam itu terasa sangat besar dan mengintimidasi. Dengan langkah hati-hati, ia menghindari lorong utama tempat ia tahu ibunya mungkin masih terjaga.Ia menyelinap melalui pintu samping yang menuju taman belakang, menembus udara malam yang dingin dan lembap. Setiap gesekan dedaunan terdengar seperti teriakan di telinganya. Begitu mencapai pagar, ia meminta penjaga rumah untuk membuka pintu tentu saja dengan sedikit alasan yang masuk akal.Di depan rumah, mobil sport mewah milik Kevin sudah terlihat. Begitu sampai di samping mobil, pintu penumpang terbuka secara otomatis.Rosa masuk dengan napas memburu. Ia tidak sempat bicara, karena begitu ia menutup pintu, Kevin langsung menoleh. Tatapan pria itu tid
Sena terkekeh pelan, sebuah tawa tulus yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di rumah itu. Ia mengangkat gelasnya. "Mari kita makan. Anggap ini sebagai perayaan atas berdirinya era baru Raharja Group."Di bawah meja makan, Rey kembali meraih tangan Aisha, menggenggamnya dengan sangat erat. Aisha menoleh, menatap Rey dengan binar mata yang dipenuhi rasa bahagia.Badai besar di Jakarta telah berlalu. Dinasti lama memang tidak sepenuhnya hancur, namun malam ini, di atas meja makan yang dulunya penuh dengan diktatorisme, sebuah lembaran baru telah dimulai, sebuah era di mana cinta tidak lagi menjadi kelemahan, melainkan kekuatan tertinggi yang tak bisa dihancurkan oleh angka-angka di papan bursa."Rey," suara Sena berat namun tetap tenang. "Setelah makan malam ini selesai, aku ingin bicara denganmu dan Aisha di ruang kerja. Ada sesuatu mengenai, masa depan keluarga ini yang harus kita bicarakan secara kekeluargaan."Seketika, suasana yang baru saja mencair kembali membeku. Rim
Udara di dalam mobil seolah membeku. Rosa teringat kemeja putih Kevin yang ia peluk tadi pagi, juga bagaimana ia menghabiskan malam di sofa pria itu. Aroma kayu cendana dan citrus khas Kevin, mungkin masih tertinggal samar di rambutnya."Oh, itu parfumku, Kak Rey!" Ira menyambar cepat, suaranya sed
Ira baru saja selesai merapikan mejanya ketika pintu kamarnya diketuk. Begitu dibuka, ia terkejut melihat Rosa berdiri di depan pintu dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja kebesaran pria.“Rosa?!” serunya kaget. “Astaga, kamu dari mana? Kok bajumu, itu siapa yang punya?”Rosa menundu
Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses
Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar







