تسجيل الدخولTak terima, Olivia menoleh dengan dagu terangkat, melirik Rosa dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa sih menariknya dari perempuan ini?"Alih-alih tersinggung, Kevin justru merapatkan dirimu pada Rosa. Ia menggenggam erat jemari wanita itu di hadapan Olivia. "Apa yang ada padanya, semuanya menarik bagiku," tandasnya telak, membuat pipi Rosa merona merah, tersipu malu di tengah ketegangan yang tercipta.Sebelum Olivia sempat membalas, suara lain menyela dari arah belakang."Oliv, kamu ke sini juga? Datang bareng Kevin, ya?" sapa Wike antusias. Mamanya Kevin itu baru saja tiba bersama Indra, sang suami. Wike tampak begitu sumringah melihat kehadiran Olivia, sampai-sampai ia tidak menyadari atau sengaja mengabaikan keberadaan Rosa yang berdiri tepat di sebelah anaknya.Olivia langsung mengubah ekspresinya, memasang senyum semanis mungkin. "Iya, Tante," jawabnya ramah.Melihat gelagat ibunya yang kembali mendewakan Olivia, Kevin buru-buru menyela untuk menghent
"Jadi... Papa punya simpanan?" Suara Wike mendadak berubah. Kalimat itu meluncur dengan nada yang agak bergetar, menyiratkan kepanikan berlapis amarah.Indra mengerjap pelan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi istrinya. "Punya!" jawabnya santai.Seketika itu juga, pertahanan Wike runtuh. Genangan air mata langsung mendesak di pelupuk matanya yang membelalak. "Papa jahat! Tega-teganya Papa berkhianat di belakang Mama!" serunya dengan suara bergetar menahan tangis.Kevin yang sedari tadi bersiap menjadi penengah kontan melongo. Otaknya mendadak macet, gagal mencerna ke arah mana arah pembicaraan kedua orang tuanya kini bergeser."Hah? Siapa yang berkhianat?" balas Indra bingung."Tadi Papa sendiri kan yang bilang kalau Papa punya simpanan?!" Wike menuding suaminya dengan jari yang gemetar.Indra tergelak pelan, baru sadar dengan kesalahpahaman konyol yang baru saja terjadi. "Ya ampun, Ma... Kan yang Papa maksud itu memang punya simpanan! Simpanan uang di bank, surat-surat berh
Kevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu
Sore yang cerah sama sekali tidak mencerminkan atmosfer di dalam kediaman keluarga Rosa. Sebaliknya, badai besar seolah baru saja menghantam rumah mewah itu. Suara bantingan pintu dan pecahan barang terdengar bersahut-sahutan dari lantai atas.Rima masih tidak bisa menerima kenyataan. Kemarahannya yang sempat tertahan di restoran tadi, kini meledak sepenuhnya begitu mereka menginjakkan kaki di rumah."Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung, Rosa!" pekik Rima dengan napas memburu, berdiri di ambang pintu kamar Rosa yang terbuka lebar. Matanya menatap tajam ke arah koper besar yang tergelosor di atas tempat tidur.Rosa tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegang, ia terus memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Diamnya Rosa justru membuat Rima makin naik pitam."Mau jadi apa kamu di luar sana? Hah?! Kamu pikir hidup dengan modal 'cinta' dari laki-laki miskin itu bisa bikin kamu kenyang?!" cecar Rima lagi, suaranya
Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng
Rey menyesap kopinya, tatapannya lekat pada Rosa yang tampak gelisah di sofa ruang kerjanya. Suasana kantor yang tenang di lantai atas itu kontras dengan raut wajah adiknya yang kusut."Mama masih memaksamu dengan perjodohan konyol itu?" tanya Rey tanpa basa-basi.Rosa menghela napas panjang, memutar-mutar bolpoin di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia tidak berhenti, Kak. Rasanya seperti dikepung dari segala sisi.""Lalu?""Untungnya Papa masih waras," Rosa mendongak, matanya berbinar kecil. "Papa bilang, kalau aku sudah punya seseorang yang serius, aku hanya perlu membawanya menghadap. Beliau akan menimbang sisanya."Rey meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum jahil yang jarang ia tunjukkan. "Wah, itu lampu hijau yang besar, bukan? Tunggu apa lagi? Ajak saja Kevin!"Seketika, rona merah menjalar dari leher hingga ke telinga Rosa. Ia mendadak sibuk dengan ujung blusnya, mencoba menyembunyikan seny
Rosa mematung di ambang pintu. Bau parfum asing di kamar itu mencekik paru-parunya. Di tangannya, ponsel masih menyala, merekam pengkhianatan yang terpampang nyata.Bima terlonjak. Wajah tampannya berubah pucat, lalu panik. Di sampingnya, wanita itu menarik selimut dengan kalap.“R-Rosa?!” suara Bi
Rosa tersentak kecil saat merasakan kehangatan dada Kevin menyentuh punggungnya, namun ia tidak menghindar. Alih-alih menjauh, ia justru menyandarkan kepalanya ke dada pria itu, mencari perlindungan di tengah badai yang menghantam hidupnya.Kevin memejamkan mata sejenak, menghirup aroma lembut dari
Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang
Udara di dalam mobil seolah membeku. Rosa teringat kemeja putih Kevin yang ia peluk tadi pagi, juga bagaimana ia menghabiskan malam di sofa pria itu. Aroma kayu cendana dan citrus khas Kevin, mungkin masih tertinggal samar di rambutnya."Oh, itu parfumku, Kak Rey!" Ira menyambar cepat, suaranya sed







