مشاركة

Menemui Kevin

مؤلف: YuRa
last update تاريخ النشر: 2026-05-26 22:24:10

Kevin baru saja ingin memulai harinya saat pintu apartemennya diketuk. Begitu daun pintu terbuka, ia terpaku. Di hadapannya berdiri Rosa dengan penampilan yang jauh dari kesan "putri konglomerat" yang biasanya melekat padanya.

"Rosa? Ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Kevin, suaranya sarat akan keterkejutan.

"Kamu nggak suka aku ke sini?" Rosa menyahut lirih, suaranya serak.

Ia membuang muka, menghindari tatapan Kevin. "Ya sudah, aku pulang saja."

Baru satu langkah Rosa berbalik, Kevin den
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Menemui Kevin

    Kevin baru saja ingin memulai harinya saat pintu apartemennya diketuk. Begitu daun pintu terbuka, ia terpaku. Di hadapannya berdiri Rosa dengan penampilan yang jauh dari kesan "putri konglomerat" yang biasanya melekat padanya."Rosa? Ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Kevin, suaranya sarat akan keterkejutan."Kamu nggak suka aku ke sini?" Rosa menyahut lirih, suaranya serak. Ia membuang muka, menghindari tatapan Kevin. "Ya sudah, aku pulang saja."Baru satu langkah Rosa berbalik, Kevin dengan sigap menyambar pergelangan tangannya. Sentuhan itu membuat Rosa berhenti. Kevin bisa melihat bahu gadis itu yang gemetar dan matanya yang sembab, jejak tangis yang coba disembunyikan."Ayo, masuk," ujar Kevin, nadanya melunak, berubah menjadi lebih protektif.Tanpa menunggu jawaban, Kevin menuntun Rosa masuk dan mendudukkannya di sofa. Ia membiarkan keheningan apartemennya menyelimuti Rosa sementara ia beranjak ke dapur. Tak lama kemudian, Kevin kembali dengan kepulan uap dari secangkir ko

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Wejangan Orang Tua

    Malam itu, ruang keluarga yang luas terasa sesempit sel penjara bagi Rosa. Ia duduk membatu di sofa, terkepung oleh tatapan tajam orang tuanya, sementara Rey duduk di sudut ruangan dengan pandangan yang menyiratkan rasa iba yang dalam. Rey ingin membela, namun lidahnya seolah kelu di hadapan otoritas orang tua mereka."Rosa, catat ini baik-baik. Tanggal pernikahan sudah dikunci. Semua vendor sudah dibayar dan siap bergerak. Besok atau lusa, kamu dan Bima tinggal mencocokkan jadwal untuk fitting baju pengantin," ujar Rima, sang mama, dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun.Sena, papa Rosa, menyesap kopinya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu dengan denting yang memekakkan telinga di atas meja kaca. Ia menatap wajah putrinya yang pucat dan tampak tak berdaya."Jangan sekali-kali berpikir untuk mundur atau mengatakan tidak setuju," suara Papa terdengar rendah namun mengancam. "Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang. Investasi, relasi, dan nama besar keluarga ada di

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Keberanian Rosa

    Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang penuh ketakutan, sebelum membukakan pintu mobil untuk Rosa.Di belakang mereka, Sarah berdiri mematung dengan kepalan tangan yang mengeras. Matanya menyalang tajam menatap punggung Rosa. “Awas kamu, Rosa. Nikmati kemenangan kecilmu sekarang. Aku akan membuatmu menangis bersimpuh di kakiku, dan saat itu terjadi, Bima sudah akan sepenuhnya menjadi milikku,” maki Sarah dalam hati.Di dalam mobil, suasana yang biasanya tenang kini pecah oleh suara Rosa. Ia tampak jauh lebih ceria dari biasanya, namun keceriaan itu justru membuat Bima semakin berkeringat dingin."Siapa nama perempuan tadi? Gigih sekali dia mengejarmu," tanya Rosa sambil memperbaiki posisi duduknya."Eh, kalau tidak salah namany

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Sales Asuransi

    Rosa menerima kembali ponselnya, jemarinya terasa dingin seperti es. Di layar yang kini gelap itu, ia seolah masih bisa melihat pantulan wajahnya sendiri yang hancur. Video itu adalah luka yang sengaja ia simpan agar ia tidak pernah punya alasan untuk memaafkan Bima, meski sedetikpun."Kalau aku menunjukkan ini, Papa dan Mama tidak akan pernah percaya padaku," bisik Rosa, suaranya bergetar namun penuh dengan determinasi yang baru. "Mereka terlalu memuja Bima. Bagi mereka, Bima adalah menantu impian. Tapi bagiku, dia adalah mimpi buruk."Ira menggeser kursinya lebih dekat, memegang bahu Rosa dengan erat. "Lalu sekarang apa? Dengan adanya Sarah di kantor ini, dan video ini di tanganmu, apa yang mau kamu lakukan?"Rosa menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa mual yang kembali menyerang. Matanya tertuju pada pintu ruangan Pak Ferdi, tempat Sarah baru saja keluar dengan senyum penuh kemenangan tadi."Aku akan menunggu saat yang tepat, Ra. Aku nggak mau hanya membatalkan pertunangan.

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Namanya Sarah

    Suasana kantor pagi itu dibungkus oleh keheningan yang produktif. Di balik bilik kerjanya, Rosa menatap tumpukan berkas dengan perasaan puas yang sunyi. Ia tahu, bekerja di perusahaan papanya di bawah pengawasan Rey akan jauh lebih mudah, namun ia lebih memilih membangun jalannya sendiri, tanpa hak istimewa, tanpa label "anak pemilik."Namun, keheningan itu terbelah oleh irama langkah kaki yang tegas dan berwibawa di atas lantai granit.Rosa mengangkat wajah, matanya menangkap sosok perempuan muda berpenampilan sangat elegan yang sedang berjalan berdampingan dengan Ardi, asisten pribadi Pak Ferdi. Mereka bergerak menuju ruang pimpinan, melintasi meja Rosa tanpa menoleh sedikit pun. Rosa mematung. Matanya terpaku pada profil wajah perempuan itu.“Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi di mana?” batin Rosa bergejolak. Ia memeras ingatannya, mencoba mencari potongan puzzle yang hilang. Ketukan sepatu itu perlahan memudar, tenggelam bersama tertutupnya pintu ruangan Pak Ferdi. Rosa masi

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Luka Dalam

    Suasana sarapan itu pun bergeser, menjadi jauh lebih santai. Rey mulai melontarkan candaan-candaan ringan yang biasanya hanya dimengerti oleh mereka berdua, Kevin sesekali menimpali dengan tawa renyah, dan Rosa mulai bisa tersenyum lepas. Rosa kemudian beranjak dari kursinya, mendorong pelan kursi kayu itu hingga terdengar bunyi gesekan halus di lantai.“Mau ke mana?” tanya Rey, kepalanya menoleh dengan binar mata yang setengah penasaran, setengah menggoda.“Mau mandi,” sahut Rosa sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia berusaha terlihat biasa saja, meski sebenarnya ia ingin segera lari ke kamar untuk menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan akibat godaan Kevin tadi.Rey mengangguk pelan, lalu pura-pura menghela napas panjang yang dramatis. “Baguslah. Sudah setinggi ini mataharinya, kau baru terpikir untuk mandi,” sindirnya jahil.Rosa menatap kakaknya dengan wajah pura-pura sebal, lalu menjulurkan lidah singkat sebelum berbalik menuju kamarnya. Langkah kakinya terasa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status