تسجيل الدخول“Sampah!” Vanessa melempar remote TV dengan asalnya. Ia kesal, sejak pagi tak ada kabar yang menyenangkan datang untuk hidupnya.
Terutama kabar mengenai Daven.
Padahal ia sudah memprovokasi pria itu agar kembali mendapatkan perhatiannya. Tapi sampai detik ini, semuanya senyap.
“Sial!” maki Vanessa dengan geramnya. “Apa James memberikan informasi yang salah?” Ia mengambil tas yang ada di dekatnya dengan kasar. Tak peduli jika sebagian is
“Aku harap pemulihan Josh nantinya berjalan lancar. Apalagi dia sudah melewati masa kritisnya, kan?”Althea mengangguk sebagai respons atau perkataan Kate.Kate tersenyum lega. Wajahnya meski masih terlihat agak pucat tapi sudah jauh lebih bersemangat. Mungkin karena sejak tadi, mereka membicarakan Josh. “Aku ingin melihat Josh ceria lagi. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.”Felicia menepuk tangan ibunya lembut. “Mommy, jangan khawatir. Aku yakin keceriaan Josh cepat kembali. Kita berdoa saja semoga Josh cepat sadar, dan tidak ada permasalahan apa pun setelah operasi yang baru saja anak itu lewati.”“Kau benar.”Althea menarik napas panjang. Meski sejak tadi ia membicarakan Josh pada mereka, ia masih belum memercayai penglihatannya. Serta perasaan asing yang ia rasakan lantaran sikap kedua wanita ini. Entah dia harus bersyukur atau terus memasang sikap waspada. “Apa yang Felicia katakan b
Tepian kota Mighatan, ratusan mil dari rumah sakit Mighatan.Gudang tua itu sunyi, hanya diterangi lampu yang menyala redup. Suasananya terkesan muram dan berbau pengap. Bau besi berkarat bercampur dengan asap cerutu yang masih mengepul di udara. Lingkungan sekitar gedung juga tak terlalu ramai. Jadi saat pria itu datang untuk memastikan keberadaan buruannya, ia tak terlalu takut akan risiko lain.Seperti pagi ini, di saat udara masih terlalu dingin untuk beraktivitas, segerombolan pria bertubuh tegap dan mengenakan seragam hitam, menyeruak masuk. Tanpa suara, seusai dengan hasil pengintaian beberapa waktu belakangan, jika di waktu ini ... si penghuni utama gedung tua masih terlelap.“Aku pastikan kau tak akan mudah membayar semua ini,” tukas seseorang yang melepas kacamata hitamnya. Menatap gedung tua ini dengan seringai sinis. “Pastikan semua yang menghalangi disingkirkan dan sisakan Harold untukku.”“Baik, Tuan Miller.&rdq
“Duduklah di sini, Althea,” kata Felicia sambil melambai semangat. Ia tak menyangka Althea datang berkunjung ke ruang rawat ibunya. Meski ...“Terima kasih.” Althea tersenyum tipis. “Tapi ... Anda baik-baik saja, kan? Apa ada keluhan tersendiri?” Pertanyaan itu Althea tujukan pada Kate yang menjawab dengan gelengan.“Aku baik-baik saja. mungkin tadi hanya merasa pusing sebentar?”“Kau terlalu memaksakan diri, Mom. Perawat yang mendampingimu mengatakan hal itu,” cebik Felicia.“Tak masalah,” tukas Kate. “Aku melakukan ini untuk Josh. Tapi bagaimana keadaannya? Sudah ada perkembangan lebih jauh?”“Sementara ini belum. Tapi masa kritis Josh sudah berlalu hanya tinggal dipindahkan ke ruang rawat jika sudah memungkinkan,” papar Althea.“Syukurlah,” Kate menghela lega. “Aku senang mendengarnya.” Ia berusaha untuk bangun dari reba
Seorang perawat muncul tergesa dari balik pintu, wajahnya cemas. “Ada pihak keluarga Nyonya Kate Callister?”Daven dan Felicia segera berdiri serempak. “Ya, kami,” jawab Felicia cepat, sorot matanya bingung. “Beliau ibu saya.”Perawat menunduk sedikit, suaranya serius. “Nyonya Kate dalam kondisi cukup mengkhawatirkan. Tekanan darah tingginya melonjak drastis setelah mendonorkan darah. Beliau pingsan, dan saat ini sedang mendapat perawatan khusus.”“Apa?!” Daven hampir tak percaya, wajahnya pucat. “Mommy? Dia pingsan?”Felicia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. “Ya Tuhan … Mommy.”Althea membeku di tempat. Ia memandang Daven dan Felicia, hatinya ikut terhimpit rasa bersalah. “Apa ... karena mendonorkan darah untuk Josh? Jadi keadaan Nyonya Kate memburuk?”“Bisa dibilang begitu tapi tepat tepatnya, Nyonya Cal
Dokter itu menatap mereka satu per satu, wajahnya serius. “Operasi penyelamatan Josh berhasil. Donor darah yang datang tepat waktu sangat membantu. Untuk saat ini, kondisinya sudah jauh lebih stabil, tapi—” ia menekankan kata terakhir, membuat semua orang menahan napas, “kami masih membutuhkan tambahan donor agar kondisi Josh tetap bisa dipertahankan.”Althea langsung menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali turun begitu saja. Tapi kali ini, rasanya kelegaan besar datang di hati. Seolah beban berat di tubuhnya terangkat begitu saja. Dan bukan hanya Althea yang merasakan hal itu, Felicia, Daven, dan Chase juga merasakan hal yang sama.Helaan lega terdengar bersamaan dan hal itu membuat dokter yang menangani Josh juga ikut tersenyum lega. Pertaruhannya di meja operasi bersama pasien serta tim dokter lainnya, benar-benar menegangkan.“Oh, Tuhan … terima kasih … terima kasih …” isak Althea. &l
Daven hanya bisa menatap punggung ibunya yang pergi menjauh bersama seorang perawat. Sepertinya mereka sangat terburu-buru melakukan sesuatu. Tapi apa? Apa ada hal buruk yang terjadi selama Daven tak ada di sini? Kenapa Althea tak mengatakan apa pun pada Chase? Apa lagi-lagi wanita itu menanggung banyak hal seorang diri?“Jadi ... Felicia,” Kali ini Daven menatap adiknya dengan sorot tegas. Yang membuat Felicia hanya bisa menelan ludah gugup karena Daven tak akan dengan mudah membuatnya memberi banyak alasan.“Katakan padaku, apa yang terjadi?”Felicia menunduk, bibirnya bergetar. “Daven ... dokter baru saja memberi kabar yang—“ Ia semakin menunduk. “Kau tahu, buruk sekali. Josh kehilangan banyak darah. Dia membutuhkan banyak kantung darah.”“Kalau begitu, aku bersedia memberikan darahku. Sebanyak yang dokter inginkan,” sela Daven dengan cepat. “Di mana dokternya? Aku harus menemuinya
Althea masih terpaku di sofa, jemarinya tanpa sadar meremas ujung dress yang ia kenakan. Nama itu—Vanessa Blake—terus bergema di kepalanya. Seakan menolak untuk dipercaya.“Tidak masuk akal,” gumamnya nyaris tak terdengar. “Aku … aku tidak pern
Begitu mobil terhenti di depan lobby rumah sakit, Daven tak perlu menunggu seseorang untuk membukakan pintu seperti biasanya. Ia melangkah dengan tergesa meski tahu, dokter yang dimintai bantuannya tak akan mungkin mengabaikan kedatangannya.“Anda sudah ditunggu Dokter Noah,” k
“Sebaiknya Anda pulang terlebih dahulu, Tuan Daven,” saran Arsen sambil melirik ke arah Daven yang sejak tadi menatap lurus ke jalan. Sikap Daven terlalu tenang dan jauh lebih diam dibanding saat perjalanan dari SunCity ke Mighatan. Apa ini disebabkan setelah mengunjungi makam nenekny
Udara Mighatan siang itu terasa dingin meski matahari bersinar terik. Angin yang berembus siang ini juga cukup kencang—beberapa kali Althea membenahi rambutnya yang berantakan karena angin. Namun saat ia sudah tiba di pusara ibunya, Althea memilih mengabaikan semuanya. Ia berdiri di depan p