LOGINVanessa membeku. Bukan pada kata-kata yang James katakan tapi ...
“Papa?”
Mereka menoleh ke arah sumber suara. Sosok Theo Blake muncul di ambang pintu. Entah sejak kapan pria itu ada di sana namun melihat bagaimana sorot mata Theo mengarah pada mereka—terperangah, terbeliak tak percaya—menandakan jika permbicaraan barusan didengar dan disimak dengan jelas olehnya.
“Sejak kapan ... kau ada di sana?” Vanessa berusaha untuk bicara dengan t
Begitu mobil terhenti di depan lobby rumah sakit, Daven tak perlu menunggu seseorang untuk membukakan pintu seperti biasanya. Ia melangkah dengan tergesa meski tahu, dokter yang dimintai bantuannya tak akan mungkin mengabaikan kedatangannya.“Anda sudah ditunggu Dokter Noah,” kata salah satu staf yang menyambut kedatangan Daven.Pria itu hanya mengangguk sekilas. Melonggarkan kaitan dasi yang sudah sejak pagi tak beraturan ia kenakan. Belum pernah Daven mengabaikan penampilannya namun terkhusus hari ini, semua itu tak penting.“Ah, akhirnya Anda tiba?” sambut Noah yang masih memeriksa beberapa dokumen. “Silakan duduk.”Daven menatap Noah tak sabar.“Oh, ayolah. Saya diberitahu Arsen, Anda baru saja tiba dari SunCity. Belum sempat beristirahat dengan benar dan segera menuju ke sini.”Daven melirik pada asistennya yang berdiri tak jauh darinya. Arsen hanya bisa menunduk bersalah.“Ji
“Sebaiknya Anda pulang terlebih dahulu, Tuan Daven,” saran Arsen sambil melirik ke arah Daven yang sejak tadi menatap lurus ke jalan. Sikap Daven terlalu tenang dan jauh lebih diam dibanding saat perjalanan dari SunCity ke Mighatan. Apa ini disebabkan setelah mengunjungi makam neneknya?Entahlah. Arsen tak bisa menebak dengan mudah karena akhir-akhir ini, banyak hal yang mengejutkan terjadi di hidup Daven. Bahkan jika Arsen bertukar posisi menjadi bosnya, mungkin ia sudah terserang stress mendadak.“Saya sudah meminta se—““Tak perlu,” jawab Daven singkat, suaranya rendah namun sarat ketegangan. “Kau tahu apa yang sangat aku tunggu selama ini, kan?”Arsen terdiam. Dia tahu betapa besar keinginan Daven untuk mendapatkan celah mendekati bocah lelaki itu. Dan kini, kesempatan itu terbuka lebar. Wajar jika Daven menjadi tak sabar hanya saja ...“Saya mengerti Anda tidak sabar membaca hasil tes
Vanessa membeku. Bukan pada kata-kata yang James katakan tapi ...“Papa?”Mereka menoleh ke arah sumber suara. Sosok Theo Blake muncul di ambang pintu. Entah sejak kapan pria itu ada di sana namun melihat bagaimana sorot mata Theo mengarah pada mereka—terperangah, terbeliak tak percaya—menandakan jika permbicaraan barusan didengar dan disimak dengan jelas olehnya.“Sejak kapan ... kau ada di sana?” Vanessa berusaha untuk bicara dengan tenang. Jangan sampai ia merasa gugup dan gelisah.“Kau menanyakan hal itu padaku?” Theo berjalan mendekat.“Selamat siang, Tuan Theo—“PLAK!Satu tamparan keras dilayangkan Theo pada James. Pukulan itu membuat James terhuyung, beruntung ia bisa menahan dirinya pada sandaran sofa. Namun ... tongkat yang membantu Theo untuk berjalan diarahkan pada James.Theo memukulnya bertubi-tubi tanpa peduli jika James terluka dan kesakitan.
“Sampah!” Vanessa melempar remote TV dengan asalnya. Ia kesal, sejak pagi tak ada kabar yang menyenangkan datang untuk hidupnya.Terutama kabar mengenai Daven.Padahal ia sudah memprovokasi pria itu agar kembali mendapatkan perhatiannya. Tapi sampai detik ini, semuanya senyap.“Sial!” maki Vanessa dengan geramnya. “Apa James memberikan informasi yang salah?” Ia mengambil tas yang ada di dekatnya dengan kasar. Tak peduli jika sebagian isinya berserak di lantai. Hatinya sudah keburu kesal dan dipenuhi amarah.“Di mana ponselku?” katanya dengan tergesa. Dia harus menghubungi James untuk mengetahui kabar selanjutnya mengenai Daven. Tak mungkin pria itu diam saja tanpa merespons ancamannya.Ponsel sudah ada di tangan, banyak sekali notifikasi yang masuk namun bukan dari orang yang ia butuhkan. Semuanya berkaitan dengan pekerjaan Vanessa tapi ia abaikan. Sebelum permasalahannya selesai dengan Daven, ia tak
Udara Mighatan siang itu terasa dingin meski matahari bersinar terik. Angin yang berembus siang ini juga cukup kencang—beberapa kali Althea membenahi rambutnya yang berantakan karena angin. Namun saat ia sudah tiba di pusara ibunya, Althea memilih mengabaikan semuanya. Ia berdiri di depan pusara ibunya, menatap nisan sederhana dengan bunga yang mulai layu di atasnya.“Lama tak mengunjungimu, Ibu,” suaranya bergetar. Ia pun segera mengganti bunga yang layu dengan bunga yang ada di tangannya. “Meski aku jarang ke tempat ini, aku selalu mengenangmu. Berharap suatu hari nanti kita akan bertemu dan bersama lagi.”Tangannya gemetar mengusap nisan yang tertulis nama sang ibu di sana. Semua bayang masa lalu yang ia lalui berdua dengan ibunya, kembali terputar. Mereka bahagia. Sungguh. Meski sederhana, tak menjalani hidup dalam kemewahan, namun semua hal yang mereka alami sangat menyenangkan.Bukan Althea tak mau mengunjungi ibunya namun men
Mighatan, pagi hari yang sendu bagi Althea.Karena kondisi Lydia yang masih mengkhawatirkan, Althea memutuskan untuk menjaga sahabatnya beberapa hari ke depan. Ia sangat berterima kasih pada orang Chase karena dengan senang hati menjaga Josh. Begitu juga dengan Chris dan Cale. Althea harus menyampaikan rasa terima kasihnya tersendiri pada mereka berdua.Jika tak ada bantuan dari mereka, entah apa yang harus Althea lakukan.“Jangan terlalu bersedih, Althea,” kata Chase sembari menggenggam erat tangan Althea. “Kita semua juga menginginkan yang terbaik untuk Lydia.”Althea menghela panjang. “Kau tahu, aku sangat ketakutan. Sampai detik ini Lydia belum juga membuka matanya. Aku takut—““Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Chase menatap Althea lekat-lekat. “Aku juga sedang mengusahakan yang terbaik untuk Lydia. Biar bagaimana pun, dia juga sahabatku.”Althea tersenyum tipis, ber







