LOGIN"Dasar nggak tahu balas budi, apa aku kekurangan satu kata terima kasih itu?" Dia menggeleng tak berdaya, sedikit menyesal. Satu ciuman yang sudah sampai di depan pintu begitu saja dilewatkan.Kaeso sudah menunggu di lobi. Matanya terpaku pada pintu tangga. Maggie merapikan pakaian dan rambutnya, berjalan cepat ke luar.Kaeso melirik ke belakang, tidak melihat sosok Easton. Sebagai orang yang peka, hatinya langsung mengerti. Dengan sigap, dia menyerahkan sarapan yang dibungkus dari resor. "Ini khusus disiapkan Pak Easton untuk Bu Maggie. Dibawa dan dimakan di jalan saja."Maggie tertegun, lalu segera mengerti. Dia mengangguk dan menerimanya.....Easton duduk di dalam mobil, menatap beberapa bus besar di depannya dengan tatapan penuh pikiran. Dia memberi perintah, "Susun satu salinan jadwal beberapa hari ini dari Bank Maxi dan kirimkan padaku."Kaeso segera mengangguk.Easton sama sekali tidak berminat pergi ke resor klien kelas atas itu. Dengan malas, dia menyuruh sopir kembali ke hot
Baru setelah suara langkah kaki di tangga semakin menjauh, Maggie menghela napas lega. "Mereka sudah pergi ...."Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan besar sudah merangkulnya ke dalam pelukan. Mata hitam Easton sedalam jurang tanpa dasar, bulu matanya yang panjang dan lebat menjatuhkan bayangan tipis."Easton, kamu ...."Detik berikutnya, bibir lembut dan sejuk itu langsung membungkam sisa ucapannya. Easton mencium dengan penuh kasih. Satu tangan besarnya menahan tengkuk Maggie, jari-jarinya yang panjang dan tegas menyusup ke sela rambutnya.Maggie didesak hingga ke dinding. Terdengar bunyi "duk" pelan ketika tangan Easton membentur tembok.Keduanya sedikit mendapatkan kembali kewarasan, tetapi suasana panas dan ambigu itu tetap berputar di udara."Anggap ini bunga. Pokoknya nanti baru bayar," ujar Easton sambil menatapnya lurus. Napasnya sedikit berat, dasar matanya dipenuhi hasrat yang tak terjelaskan.Maggie menggigit bibir bawahnya. Bulu matanya yang lentik terkulai
Maggie tetap diam, seperti burung unta yang ingin menanamkan kepalanya ke tanah.Setelah Easton memarahinya panjang lebar, barulah Maggie mengangkat kepala dengan wajah memelas. "Kamu sudah selesai marah belum ...."Mata Easton yang dalam tampak suram. Kemudian, dia menghela napas. "Kamu sadar nggak apa yang kamu lakuin?"Maggie tertegun beberapa detik, lalu mengangguk dengan rasa bersalah."Maggie, sekarang di dalam perutmu ada bayi. Satu tubuh, dua detak jantung. Kamu harus bertanggung jawab pada bayi ini. Kamu pernah mikirin akibat naik sampai lantai 19?""Kamu merasa dirimu sehat sekali? Nasihat dokter sudah kamu lupakan semua? Aku sudah cari di internet, tiga bulan pertama harus ekstra hati-hati. Aku sudah menahan diri, kenapa kamu nggak bisa nurut?"Easton berjalan ke anak tangga di bawahnya, lalu memegangnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya ke dalam pelukan.Dia benar-benar terlalu marah. Sejak melihat papan pemberitahuan bahwa lift sedang diperbaiki, hatinya sudah merasa t
Maggie seketika terdiam, lalu bertanya dengan hati-hati, "Tadi kamu dengar suara nggak?"Teresa tampak kebingungan. "Suara apa?"Maggie pun merasa ragu. Barusan sepertinya dia mendengar Easton sedang memaki orang, tetapi dipikir-pikir lagi, tidak mungkin.Easton jelas-jelas pergi ke hotel resor yang disiapkan untuk klien kelas atas. Hari ini jadwalnya penuh, bagaimana mungkin dia muncul di sini?Maggie menghela napas lega, lalu memaksakan senyuman untuk menenangkan Teresa. "Mungkin aku cuma salah dengar. Nggak apa-apa, kita lanjut naik."Semakin dipikir, Teresa semakin kesal. Karena rombongan besar tidak ada di sini, dia pun meluapkan amarahnya, "Budak korporat tetap budak korporat. Bukan cuma di kantor saling sikut, naik tangga begini pun bisa-bisanya menjilat atasan. Coba lihat mereka, satu sisi menyodorkan air ke pemimpin, satu sisi lagi memuji tubuhnya kuat dan staminanya bagus.""Memang sudah takdir jadi budak korporat. Naik sampai lantai 19 bukan cuma nggak bikin mereka capek sam
Teresa menemukan dua batang cokelat, lalu menggeleng dengan polos. "Aku juga nggak tahu. Nanti kalau sudah naik sampai atas baru tahu."Teresa tidak memelankan suaranya. Meskipun Maggie sengaja menjauhkan ponsel dari telinga, percakapan itu tetap terdengar jelas oleh orang di seberang sana.Naik? Easton mengernyit, mengangkat wajah dengan ekspresi suram ke arah papan pengumuman lift yang sedang diperbaiki.Suhu di sekitarnya seakan-akan turun drastis. Dia menarik napas dalam, menggenggam ponsel, lalu membalikkan badan. "Kamu sekarang di mana?""Hah?"Wajah Easton dingin, jelas tidak senang. "Hah apa? Aku tanya kamu di mana?"Maggie menelan ludah dengan gugup. Tidak mungkin dia bilang kalau dirinya sedang naik tangga."Kegiatan kami sebentar lagi mulai, sekarang lagi sibuk. Habis ini aku hubungi kamu ya?" sahut Maggie.Easton belum sempat membuka mulut, teleponnya sudah lebih dulu diputus. Dia mengumpat pelan, lalu langsung menelepon seseorang.Alvian sedang berada di ruang istirahat la
Maggie bersandar pada jendela mobil, memandang pemandangan samar di kejauhan yang perlahan menjadi jelas.Mobil berhenti di pinggir jalan. Sebuah bangunan putih bergaya barat langsung terlihat mencolok di depan mata.Teresa menguap, menggosok mata yang masih setengah terpejam, lalu bergumam, "Sudah sampai?"Maggie menyimpan ponselnya dan menjawab pelan, "Ya."Di depan gedung putih itu, lautan manusia sudah berdesakan. Teresa melirik cepat. "Banyak banget fans?"Maggie tertegun mendengarnya. Mengikuti arah pandang Teresa, di bawah terik matahari Sarnya yang menyengat, para penggemar yang memegang spanduk dan poster dukungan tetap penuh semangat.Maggie melihat sekeliling dan menyadari, bukan hanya penggemar Jilly, di berbagai spanduk juga tercetak nama-nama lainnya."Memang luar biasa. Ini satu-satunya perusahaan gim dalam negeri yang sudah go public. Tim e-sports-nya bisa sepopuler ini, sampai mengalahkan artis wanita yang lagi naik daun."Teresa berdecak kagum sambil menarik Maggie ma







