Perkataan ibunya siang tadi kembali terngiang di telinga Reiner. Gadis ini hampir setiap hari mengalami muntah-muntah.
Dan Jasmine tidak pernah mengeluh atau protes pada sikap Reiner yang tidak peduli padanya.
Sebenarnya, apa yang dirasakan Jasmine saat ini?
Untuk pertama kalinya Reiner ingin tahu perasaan Jasmine. Apa gadis ini kecewa atas sikap Reiner padanya?
Suara isakan pelan dari Jasmine membuat lamunan Reiner buyar seketika. Ia sedikit terkejut saat melihat kedua ujung alis Jasmine saling bertautan dan peluh yang entah kapan keluar di pelipisnya.
"Kak... tolong aku...." igau Jasmine, "Aku takut, di sini sangat gelap...."
Reiner meletakkan goodybag di tangannya ke atas lantai. Kemudian duduk di sisi sofa yang masih muat untuk diduduki. Tangannya menepuk-nepuk pipi Jasmine yang masih terus mengigau.
"Hei, bangun. Kamu tidak apa-apa?" tanya Reiner pelan. "Jasmine...."
Perlahan-lahan Jasmine akhirnya terbangun saat tubuhnya
Selagi Reiner sibuk membersihkan dirinya di kamar mandi, pagi itu Jasmine masuk ke ruangan kerja Reiner. Sudah jadi kebiasaan Jasmine menyiapkan segala keperluan suaminya termasuk mengambil tas kerja di ruangan itu.Didorongnya pintu ruangan tersebut dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Kening Jasmine berkerut begitu melihat meja kerjanya berantakan.Tidak biasanya Reiner membiarkan ruangan ini berantakan oleh kertas-kertas yang berserakan di atas meja.Reiner orang yang perfeksionis. Dia paling tidak suka keadaan ruangan berantakan dan kotor. Tapi saat ini sepertinya pengecualian.Mungkin, Reiner kerja semalam dan dia tidak sempat merapikannya kembali saking mengantuk. Tapi pagi ini pun Jasmine tidak berani merapikannya, khawatir ada kertas penting yang hilang atau terselip.Jasmine mendekati meja kerja dan mengambil sebuah tas di sana, Tadinya dia akan langsung pergi. Tapi niatnya tertahan saat ekor matanya menangkap sesuatu yang aneh.
"Memangnya kamu di mana, Van? Tidak ada di rumah ya?" Jasmine sempat melirik Reiner yang tengah bersedekap dada, memperhatikannya."Iya, Jasmine Sudah satu bulan aku tinggal di apartemen. Dan akhir-akhir ini jadwalku cukup padat di rumah sakit." Terdengar helaan napas berat di sana. "Kamu dan kandunganmu baik-baik saja?""Kami baik-baik saja. Dua mingguan lagi mereka akan lahir, Van.""Syukurlah. Aku harap persalinannya lancar."Di sisi lain Evano tengah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ada di apartemennya. Bibirnya mengulas senyum tipis ketika mendengar suara Jasmine.Tanpa satu orang pun yang tahu, bahwa sebenarnya Evano sedang menghindari perasaannya yang tumbuh untuk istri sepupunya itu.Saat Jasmine pergi, Evano pun merasa tersiksa. Meski tidak sebesar yang dirasakan Reiner. Maka dari itu Evano menyibukkan dirinya dan pindah ke apartemen untuk sementara waktu.Dan ketika mendengar kabar bahwa Jasmine telah kembali,
"Jasmine ….""Aku akan memanaskan sayur untuk makan malam kamu."Reiner tersenyum. Ternyata meski Jasmine marah, dia masih peduli padanya. "Hati-hati di dapur. Aku akan mandi dulu."Pada akhirnya Reiner tidak ingin mendesak Jasmine untuk memaafkannya. Reiner perlu bertindak, bukan mengedepankan kata-kata.Reiner masuk ke kamarnya sambil melemparkan tas kerja ke atas sofa. Kemudian melepas kancing kemejanya satu persatu.Lagi-lagi Reiner dibuat tertegun oleh Jasmine saat tatapannya jatuh ke atas kasur. Di sana sudah ada pakaian tidur Reiner yang terlipat rapi, lengkap dengan pakaian dalamnya dan handuk.Reiner kembali tersenyum dan merasa terenyuh atas perhatian Jasmine padanya. Dia lantas meraih handuk tersebut dan masuk ke kamar mandi.Dua puluh menit kemudian Reiner kembali turun ke lantai bawah untuk makan malam. Reiner memang sengaja tidak makan di luar, karena dia tahu Jasmine pasti sudah menyiapkannya.Makan malam
["Jasmine hari ini aku akan pulang terlambat.")Reiner menekuri layar ponselnya yang menampilkan chat room dirinya dengan Jasmine. Bibirnya mengulas senyum tatkala centangnya berubah biru pada pesan yang baru saja dia kirimkan.Tapi senyuman itu perlahan meredup lantaran Jasmine tak kunjung membalas pesannya. Reiner menghela napas berat.Wanitanya itu masih mengaktifkan mode marah meski tadi pagi Reiner sudah mati-matian menjelaskan lagi terkait Alisa.Pagi-pagi tadi Reiner dan Jasmine pulang dari rumah orang tuanya. Sedangkan situasi orang tuanya pun masih perang dingin akibat ulah Reiner semalam.["Aku akan ada di rumah sebelum jam sepuluh," Reiner meralat pesannya meski akhirnya Jasmine tetap tidak membalas, dan hanya membacanya saja."Pak, kita sudah sampai."Ucapan Bayu membuat Reiner mendongak. Reiner melihat keluar, matanya langsung disuguhi area perkampungan."Kamu yakin ini tempatnya?" Reiner memastikan."Yakin,
Reiner sempat terhenyak. Dia ragu apakah harus jujur pada Jasmine atau tidak. Tapi pada akhirnya Reiner memilih jujur dan menceritakan tentang Alisa. Bahwa Alisa sebenarnya pernah menjadi teman tidur Reiner saat di Bali.Reiner berharap Jasmine tidak marah lagi setelah mendengar penjelasannya. Tapi lagi-lagi Reiner kecele. Wajah Jasmine semakin memerah seperti menahan amarah.Arrgh! Sial! Reiner jadi serba salah sekarang.Reiner ingin mengacak rambutnya sendiri. Tapi sayang, saat ini dia sedang di pesta. Dan tidak mungkin mengacak-acak penampilannya.Mereka kembali ke ballroom. Jasmine tidak bicara lagi pada Reiner setelah itu. Meski Reiner nyerocos panjang lebar agar Jasmine mau buka mulut, tapi Jasmine tetap tidak menghiraukan Reiner dan mulutnya tetap bungkam.Jasmine lebih memilih menghabiskan waktunya dengan Ka
Alisa lantas menatap Jasmine dan perut besarnya. Dia tersenyum. "Jadi ini istrimu?" tanya Alisa sambil menjulurkan tangan pada Jasmine. "Kenalkan, Alisa.""Jasmine," balas Jasmine tersenyum sambil menjabat tangan Alisa yang menggenggamnya sangat erat. Jasmine merasa ada yang berubah dengan raut muka Reiner sejak kedatangan Alisa. Dan Jasmine pun tidak suka pada cara Alisa menatap Reiner."Lagi hamil berapa bulan?" tanya Alisa lagi.Reiner yang memperhatikan mereka pun merasa tidak nyaman. Dia menatap Feli seolah-olah ingin berkata 'bawa Alisa pergi’ lewat tatapannya. Beruntung, Feli pun peka. Apalagi melihat Jasmine yang tampak kurang nyaman dengan pertanyaan yang terus dilontarkan Alisa."Sa, kita ketemu anakku dulu, yuk!" ajak Feli."Oh. Oke."Reiner bernapas lega saat Alisa sudah pergi. Dia menatap Jasmine dengan lekat dan membetulkan rambut Jasmine yang jatuh ke wajahnya. "Maaf ya, kamu pasti tidak nyaman sama wanita itu.""