MasukSedangkan untuk anak perempuan akan tetap menggunakan marga Junaidi, marga mereka sendiri. Dari sini terlihat betapa pentingnya anak perempuan di mata para senior. Namun Jonas merasa sepertinya keponakan perempuannya lebih hebat daripada keponakan laki-lakinya. Tidak menutup kemungkinan di masa depan Audrey yang akan menjadi kepala keluarga. “Au sudah kangen sama Audrey. Nggak tahu kenapa, sekarang kalau lihat anak perempuan, aku langsung suka banget sama mereka. Mungkin karena makin tua, jiwa keibuanku jadi keluar.” “Tapi kamu belum tua, aku yang lebih tua dari kamu. Jangan ngomong kalau kamu sudah tua di depanku.” Jonas tidak suka mendengar Amelia mengatakan kalau dia sudah tua. Jika Amelia tua, berarti Jonas lebih tua lagi. Jonas merasa dia masih muda, bahkan menikah saja belum. “Aku lebih tua dari Olivia. Anaknya dia dua bulan lagi sudah lahir. Jonas, tadi selain marahin aku karena suruh kamu masak malam-malam, mamaku juga minta kita untuk siap-siap punya anak, supaya nanti bis
“Seperti apa kata Nenek Sarah ke Stefan dan yang lain. Bisa masak itu nggak cuma nilai plus untuk mendapatkan istri, tapi juga untuk menghadiahi lambung sendiri.” Neneknya Jonas sendiri justru tidak pernah mengatakan itu. Neneknya hanya berpesan tidak ada yang abadi. Sekarang keluarga Junaidi berada di atas angin dan diberkahi dengan kelimpahan. Akan tetapi dunia ini selalu berubah. Siapa yang tahu bisa saja suatu hari mereka akan jatuh. Tidak ada salahnya belajar hal baru. Andaikan satu saat mereka jatuh, mereka masih bisa hidup dengan keahlian yang ada. Oleh karena itu, para senior selalu meminta generasi muda untuk mencoba segala hal. Walaupun tidak sampai ke level mahir, setidaknya mereka bisa sedikit-sedikit. Sejujurnya kemampuan memasak Jonas biasa saja. Namun setelah jatuh hati pada Amelia, dan tahu kalau pujaan hati Amelia dulu adalah Stefan, barulah Jonas mendalami kemampuannya itu secara diam-diam agar tidak kalah saing. Ketika Jonas akhirnya jadian dengan Amelia, kemampua
Yuna langsung mengabaikan Amelia begitu mendengar suara tangisan cucunya di rumah. Dengan suara yang kencang dia berkata, “Ya sudah, nikmati saja momen berdua kalian. Cucu Mama lagi nangis, Mama masuk ke dalam dulu. Kamu sama Jonas sudah boleh siap-siap punya anak. Jadi pas menikah nanti, kita rayakan sekaligus.” Yuna tidak sabar ingin menjadi nenek ketika melihat anak orang lain melahirkan. “....” Lantas, Amelia mendengar langkah kaki ibunya berjalan cepat ke dalam rumah, dan juga seruan yang bisa Amelia dengar sebelum ibunya masuk, “Sayang, jangan nangis. Nenek sudah balik.” “Mentang-mentang sudah punya cucu, anak sendiri dilupakan. Awas saja kalau nanti aku juga sudah punya anak, mungkin aku sudah nggak dianggap lagi,” Amelia bergumam. Dia dan Jonas pasti akan memiliki anak, tetapi tidak dalam waktu dekat ini. Mungkin mereka baru akan punya anak dua tahun lagi. Pernikahan mereka rencananya akan diadakan di musim gugur tahun ini. Olivia akan melahirkan di pertengahan tahun perta
“Jonas, Jonas.” Dari luar terdengar suara Yuna memanggil. Jonas yang sudah memakai celemek keluar dari dapur.” “Kamu masak saja, biar aku yang keluar. Mamaku pasti tahu kamu sudah pulang karena lampu nyala. Dia manggil kamu untuk makan malam,” kata Amelia. Di jam-jam sekarang ini seharusnya mereka sedang makan. Amelia menaruh remote TV, lalu berjalan keluar sambil menyantap sebungkus makanan ringan. Amelia berjalan sampai ke samping tembok dan menyahut.“Ma.” “Amelia? Kamu juga sudah pulang? Kenapa nggak makan di rumah? Kami semua lagi makan. Ayo cepat, panggil Jonas untuk makan bareng. Barusan Pak Setya tanya kenapa beberapa hari terakhir ini Jonas nggak ikut makan bareng.” Akhir-akhir ini Jonas sedang sibuk menjamu klien bisnisnya, jadi dia tidak ada waktu untuk makan bersama dengan keluarga mertua. “Ma, malam ini aku mau makan masakannya Jonas. Kalian makan saja,” jawab Amelia. “Kamu ini, ya. Sudah malam masih suruh Jonas masak. Dia sudah capek kerja seharian, pulang ke rumah
“Walaupun saudara sepupu bisa sama dekatnya kayak saudara kandung, tetap saja lebih baik ada satu lagi. Kita juga nggak tinggal lama di rumah keluarga kamu. Takutnya nanti anak kita nggak punya banyak waktu untuk main sama mereka,” kata Amelia. “Aku punya dua kakak laki-laki. Dari kecil aku sudah dekat banget sama mereka. Kalau aku lagi ada masalah, aku pasti cerita sama mereka. Bahkan setelah menikah, istri mereka berdua juga sayang sama aku. Aku sudah terbiasa hidup ramai sama saudara kandung. Jadi mau ada masalah apa pun, ada yang bisa aku ajak ngobrol dan nggak mesti berjuang sendiri. Aku nggak mau anakku nantinya kesepian.” Amelia melanjutkan, “Yang paling penting itu aku suka sama anak-anak. Kalau kamu juga bisa melahirkan, jadi nggak harus aku saja yang hamil, aku malah mau punya tiga anak. Tapi sayang kalian cowok-cowok nggak bisa hamil. Kalau aku yang melahirkan, sesuka apa pun aku sama anak kecil, paling cuma dua anak saja. Bagusnya satu anak laki-laki, satu anak perempuan.
“Nggak begitu kelihatan, ya. Masih kecil begini kalau suruh aku gendong, aku jadi agak takut rasanya. Aku takut malah menyakiti dia atau dia terjatuh dari pelukan.” Ini adalah pertama kali Junia menjadi seorang ibu. Dia masih pemula dan belum memiliki pengalaman apa-apa. Dia tidak seperti Olivia yang sudah pernah merawat Russel dari bayi. Reiki dan Stefan pernah mengikuti kelas cara mendidik anak bersama secara diam-diam. Postur Reiki saat menggendong anaknya lebih bagus daripada Junia. “Pelan-pelan saja, nanti juga pasti bisa. Dulu aku juga nggak berani gendong keponakanku karena takut dia sakit. Tapi sekarang aku sudah mahir. Anak kamu sudah makan?” tanya Amelia seraya mengusap wajah anaknya Junia. Dia benar-benar menyukai anak itu. “Sudah, baru saja makan satu jam yang lalu.” Anak Junia suka sekali makan. Semua orang juga tenang melihat dia bisa mengonsumsi susu formula tanpa rewel. Dokter bilang dalam beberapa hari ke depan mungkin akan keluar gejala penyakit kuning. Hal ini ha







