Share

Bab 12

Author: Piemar
last update publish date: 2026-08-05 10:40:51
Jingga mengembuskan napas pendek kemudian ia menggeleng lemah. “Karin, dia belum tahu.”

Karina menepuk-nepuk punggung tangan Jingga. “Aku paham, Gia. Ini tidaklah mudah. Tapi … mungkin kamu sebaiknya segera membuat keputusan sebelum semua terlambat. Aku gak mau kamu terkena masalah. Apalagi, kita sekarang udah di tingkat akhir. Kita harus fokus untuk persiapan skripsi.”

Jingga tersenyum pahit mendengar nasehat Karina yang sialnya benar adanya.

Melihat raut wajah Jingga yang berubah sendu, Karin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 131

    “Maaf, Mas. Aku tidak tahu.” Jawab Jingga canggung setelah melihat reaksi Arjuna yang tidak seperti biasanya. Sorot manik obsidiannya berubah gelap setelah mendengar pertanyaannya tadi. Arjuna memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Ia mengatur napasnya yang terasa sesak dan berat setiap kali mendengar seseorang menanyakan tentang ibunya. “Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih SMP. Setelah itu Ibu tinggal di luar negeri.” Lanjut Arjuna singkat. Jingga mengangguk halus. Ia paham ketika melihat reaksi Arjuna tentang ibunya. Ia pasti kehilangan sosok ibu sejak lama. Beberapa menit keheningan yang syahdu berlalu sebelum suara langkah kaki dan gema perbincangan lembut mulai terdengar mendekat dari arah jalan setapak.“Tuh kan, Saras, Arjuna sudah lebih dulu datang sama Jingga.” Suara Senopati memecah keheningan di area pemakaman yang asri. Jingga dan Arjuna serempak menoleh ke arah mereka. Di sana, Senopati melangkah bersisian dengan Saras yang tampil elegan dengan selendan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 130

    …“Siapa juga yang cemburu?” Jingga spontan memekik, lalu terkekeh sambil menepuk pahanya. “Enggaklah, Mas. Ngapain cemburu? Mas percaya diri banget, sih!”Tawanya perlahan mereda. Jingga mengembuskan napas, lalu menatap Arjuna lurus-lurus. “Lagian, ingat, kan, poin perjanjian kita? Kita enggak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.” Ia menunjuk Arjuna dengan telunjuknya. “Dan perasaan itu urusan pribadi.”Arjuna terdiam.Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terasa mengusiknya.“Jadi...” Jingga menyipitkan mata, seolah baru menyadari sesuatu. “Kenapa Mas repot-repot nanya aku cemburu atau enggak?”Tatapan Arjuna seketika mengeras. “Aku hanya bertanya.”“Oh.” Jingga mengangguk-angguk sok paham. “Berarti cuma penasaran?”“Ya.”“Enggak ada alasan lain?”“Ada.” Jawaban Arjuna terlalu cepat.Jingga mengernyit. “Apa?”“Kamu diam setelah ketemu Amanda.” Lanjut Arjuna dengan raut datar.Jingga mendengus pelan. Pertanyaan pria ini ada-ada saja. Entah mau mengetesnya atau hanya se

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 129

    “Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 128

    Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 127

    Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 126

    “Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status