ログインKeesokan harinya, Pagi hari, Jingga sudah membuat sarapan sederhana yakni nasi goreng orak arik telur kecap dilengkapi kerupuk. Harum aroma bumbu sudah mengusik pria dingin yang baru saja keluar dari kamarnya.Arjuna sudah memakai setelan kerja kasual rapi. Ia berangkat pagi sekali. Ketika melihat suami kontraknya berjalan melewati area pantry, Jingga langsung menyapanya dengan penuh ramah tamah. “Selamat pagi, Pak Arjuna!” sapanya dengan senyum yang selebar masalahnya. Arjuna menoleh dengan mata yang mimicking. Sebuah pertanyaan mencuat di kepalanya. Apa yang sedang gadis itu lakukan di pagi hari? Memasak? Bencana besar? Bukankah dia terluka?“Pagi, Pak Arjuna!” sapa Jingga kedua kalinya. “Pagi.” Jawab Arjuna irit. “Tenang, Pak. Anda tidak usah khawatir. Aku sudah membersihkan area dapur kotor kok. Aku gak banyak pakai perkakas dapur.” Jingga menjelaskan sebelum Arjuna bertanya. Ia berjalan menghampiri pria itu dengan sedikit canggung. “Pak, aku udah buat sarapan pagi. Bagaima
Sembari menenteng kanvas berukuran besar, menggendong tas ransel di punggung dan tas tabung di pundak sebelah kirinya, Jingga menyeret kakinya ke pinggir jalan. Ia akan segera memesan taksi saja dari depan sebuah ruko yang terletak di pinggir jalan. Tanpa sepengetahuannya, sebuah mobil SUV berwarna Santorini Black baru saja melewatinya begitu saja. Sang pengemudi bahkan tak bersedia melirik sedikitpun pada Jingga yang sedang berjalan dengan wajah sendu dan kuyu. Ketika sebuah taksi konvensional lewat, Jingga langsung menghentikannya. Supir itu turun dan membantu Jingga memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil. “Mau kemana Mbak?” tanya sang supir sembari menutup bagasi. “Ke apartemen WK Grand Regency, Pak,” jawab Jingga malas. Sang supir taksi sempat terkejut mendengar alamat yang dituju penumpangnya. Bukankah apartemen itu adalah salah satu apartemen mewah di ibukota.Ketika Jingga naik, sang supir langsung menyalakan argometer kemudian mulai melajukan kendaraan beroda empat te
Setelah kepergian Bude Ratih, Abimana menatap Jingga dengan cara yang tak biasa. “Katakan dengan jujur, Jingga. Kartu Black Card tadi punya siapa? Lalu siapa yang memberi pinjaman untuk operasi ibumu?” suara Abimana tidak tinggi tetapi cukup membuat suasana terasa menegangkan. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu …Jingga hanya mengatupkan bibirnya rapat. Haruskah ia bicara terus terang soal hal itu? Soal pinjaman dengan syarat pernikahan kontrak begitu? Abimana menghela panjang. Tatapannya masih tertuju Jingga dengan penuh telisik. Namun, detik berikutnya, ia mengembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan interogasinya. “Jingga, katakan siapa orang ... yang membiayai operasi Ibumu? Apa ada hubungannya dengan pria kaya yang memberi kartu itu?”Jingga menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun sahara. Matanya bergerak liar, memikirkan sejuta opsi kebohongan instan yang biasa ia rakit dalam hitungan detik.Ia mem
Setelah keributan preman diredam oleh pihak RT setempat, kini Jingga dan Abimana duduk di teras rumah milik peninggalan ayah Jingga. Satu-satunya warisan harta yang ditinggalkan mendiang ayahnya.Alih-alih memikirkan tentang preman tadi, Abimana justru masih didera penasaran soal kartu Black Card yang dimiliki Jingga. Jingga mengatakan padanya bahwa kartu itu dummy atau kartu bohongan yang merupakan pementasan drama kampus milik temannya.Namun, ia menyangsikannya. Masalahnya kartu tersebut persis miliknya yang disita oleh ke dua orang tuanya. Kedua orang tua Abimana sangat tegas. Mereka tidak ingin putranya menghamburkan uang sebelum benar-benar berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai dokter spesialis.Beberapa saat hening menyelimuti mereka. Jingga memilih bun
Beberapa menit lalu, raut wajah Arjuna sedikit melunak. Meskipun kepalanya ingin meledak karena melihat kekacauan yang diciptakan oleh istri kontraknya, amarahnya perlahan menguap tergantikan rasa simpatik melihat gadis itu terluka. Jingga diam seribu bahasa tatkala Arjuna mengobati lukanya. Tatapannya kosong hingga Arjuna lebih dulu memanggilnya. “Kenapa?” Jingga menunduk. Matanya berkaca-kaca. Setiap kali mengingat kelakuan ayah tirinya, dadanya terasa sesak. Pria itu problematik. Ia selalu mengulangi kesalahan yang sama. Naasnya ibunya selalu saja memaafkannya. Semoga saja, perkataan ibunya yang akan menceraikannya tempo hari bisa terlaksana. “Enggak apa-apa.” Jingga mengusap sudut matanya dengan tangan yang tidak terluka. Ia tidak berniat berbagi kesedihan dengan pria di depannya. Cukup, ia menelan kepahitan hidup sendiri. Ia tidak mau berhutang budi lagi pada siapapun. Karena ia tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis selain oksigen. Arjuna tidak bertanya lebih lanjut. Ia h
Setelah berbelanja, satu jam setengah kemudian, Jingga tiba di penthouse. Di belakangnya, ke dua tangan asisten Wira penuh dengan goodie bag berisi belanjaan.“Apa perlu bantuan menyusun barang?” tawar pria berkumis tipis itu ketika mereka sudah berada tepat di ambang pintu penthouse.Jingga menelengkan kepalanya kemudian menyambar belanjaannya dari tangan Wira. “Gak usah, Pak. Aku bisa.”“Yakin?” Salah satu alis Wira naik, ragu.“Yakin.” Balas Jingga enteng. Ia membuka pintu kemudian membawa masuk belanjaannya meski tampak rempong bagi orang yang melihatnya.“Ingat ya Pak Arjuna itu sangat rapi. Dan, jangan pernah memindahkan barang apapun tanpa seijinnya.&rdq







