ANMELDEN“Malam,” suara berat Arjuna menyapa mereka.Jingga langsung merasa ciut dan ketakutan begitu melihat ekspresi wajah ibunya yang seketika menegang tajam mendengar suara suaminya.Diana mendelik sekilas ke arah Arjuna dari ujung kepala sampai kaki, lalu menyahut dengan nada dingin, penuh sindiran. “Terima kasih sudah berkenan membesuk ayah Jingga.” Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan, menahan gemuruh emosi di dadanya. “Bagus kamu datang malam ini. Dengan begitu, kamu bisa berhadapan langsung dengan orang yang pernah dihancurkan hidupnya oleh keluarga besar Widjaya.”Deg.Arjuna menelan salivanya dengan susah payah. Menghadapi direksi perusahaan, negosiasi bisnis bernilai triliunan, atau membaca neraca laporan ke
Tubuh Jingga gemetar tatkala mendengar kabar buruk tentang ayahnya. Kepanikan langsung melandanya hingga membuatnya menjatuhkan ponselnya. Beruntung, ponselnya tidak retak.“Gia, ada apa?” Karina ikut diserbu rasa panik. Dengan sigap, gadis itu memungut ponsel milik sahabatnya lalu menaruhnya di atas meja.“Rin, Bapak kritis, Rin. Bapak masuk rumah sakit—” Jingga buru-buru menegakkan tubuhnya, menyambar tas dan ponselnya. Ia pergi setengah berlari keluar dari kantin. Ia sempat menoleh ka arah Karina sejenak. “Aku cabut dulu ya! Tolong ijinin nanti!”Belum sempat Karina menyahut, Jingga sudah menghilang dari pandangannya.&ldqu
Esok hari, suasana hati Jingga sudah membaik setelah kesalahpahaman yang terjadi kemarin di klarifikasi oleh Arjuna. Namun, tetap saja, ia masih dilanda penasaran soal wanita yang akan diberikan cincin oleh Arjuna.Pasalnya, setelah terjadi perdebatan kecil di antara mereka, Jingga bisa selamat dari Arjuna, pindah kamar dan istirahat tanpa ada gangguan darinya. Arjuna juga mengurungkan niatnya untuk menyatakan cintanya padanya sebab situasi tidak memungkinkan.Suasana hati Jingga sudah acak-acakan. Setelah menimbang-nimbang, ia akan mencari waktu dan menentukan tempat yang tepat untuk melamarnya dengan cara yang benar. Di benaknya, sudah terbayangkan adegan romantis lamaran yang diidamkan oleh seorang wanita.Pagi itu, pergelangan kaki Jingga sudah membaik, tidak sebengkak semalam meski untuk berja
Wajah Arjuna seketika terdiam mendengar perkataan yang disampaikan istrinya. Rupanya, ada yang memergokinya berduaan bersama dengan Amanda. Sialnya, orang itu adalah Jingga.Beberapa detik, Arjuna yang sempat terhenyak lalu tersenyum. Betapa tidak, Jingga marah ketika melihat dirinya bersama Amanda. So, itu tandanya bahwa ada yang cemburu.Jingga cemburu pada Amanda?Kalau begitu, Jingga pun memiliki perasaan yang sama sepertinya. Gayung bersambut ternyata. Arjuna tidak keberatan kalau Jingga marah dan kesal padanya karena hal ini.Arjuna menggeser tubuhnya di atas ranjang, hingga berdekatan dengan Jingga yang berbaring, dengan posisi memalingkan wajahnya.Bibirnya nyaris menempel di cuping telinga Jin
“The opposite of love is not hate, it’s indifference.” (Lawan dari cinta bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian; Elie Wiesel)…“Ough, sakit banget. Tau gitu aku ikut Karina pulang ke kosannya.” Jingga merutuk dalam batinnya. Sepulang dari mall, ia menyempatkan diri mampir ke sanggar lukis di mana ia mengajar dulu. Sebulan yang lalu ia resign karena sangat sibuk dengan persiapan tugas akhir.Beruntung, ia juga masih mendapatkan penghasilan tambahan dari sebuah situs yang menjual ilustrasi digital. Setidaknya, kemampuannya dalam seni gambar atau lukis sangat membantu masalah finansialnya. Ia hanya ingin bertemu dengan rekan sesama tutor di sana. Sebetulnya, alasannya hanyalah ingin menghindari Arjuna. Ia kesal pada suaminya karena sudah pergi berduaan di toko perhiasan bersama cinta pertamanya, pikirnya sudah salah paham. Dan, malangnya, hari sial tidak ada dalam kalender. Ponselnya tertinggal di mobil Karina dalam keadaan silence. Pasti, Karina yang rempong tidak akan memper
“The single biggest problem in communication is the illusion that it has taken place.” (Masalah terbesar dalam komunikasi adalah ilusi bahwa komunikasi telah terjadi ;George Bernard Shaw)…Malam itu, Arjuna bolak balik berjalan di depan balkon kamar miliknya. Tatapannya tertuju pada gerbang rumah mewah yang menjulang pongah, menunggu kepulangan istrinya. Padahal jarum pendek sudah merangkak ke angka delapan malam. Namun, batang hidungnya belum kelihatan juga. Ada rasa gelisah sekaligus tak sabar menanti kehadirannya. Pasalnya, ia sudah mempersiapkan cincin berlian yang akan ia sematkan pada jari manis istrinya. Cincin yang menandakan awal baru hubungan mereka berdua. Bukan cincin simbolis yang menunjukan formalitas hubungan suami istri yang palsu. Sejak cincin itu sudah menghuni saku jasnya, ia tak sabar menantikan istrinya. Naasnya, rencananya sepertinya akan ditunda mengingat Jingga belum pulang. “Kemana lagi anak itu?” gerutu Arjuna kini tatapannya teralihkan pada benda pipih y







