Share

Bab 24

Penulis: Piemar
last update Tanggal publikasi: 2026-08-12 16:30:33

Setelah keributan preman diredam oleh pihak RT setempat, kini Jingga dan Abimana duduk di teras rumah milik peninggalan ayah Jingga. Satu-satunya warisan harta yang ditinggalkan mendiang ayahnya. 

Alih-alih memikirkan tentang preman tadi, Abimana justru masih didera penasaran soal kartu Black Card yang dimiliki Jingga. Jingga mengatakan padanya bahwa kartu itu dummy atau kartu bohongan yang merupa

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 29

    “Terus aku harus bagaimana? Lagian bapak tiriku nyari masalah terus. Dia berhutang pada rentenir sedangkan rentenir itu nagihnya pake preman. Pake ngancem mau hancurin rumah coba.” Jelas Jingga dengan napas yang tersengal. Rasa kesal bercampur amarah pada Arman meledak juga. Karina menatap Jingga dengan tatapan yang simpatik. Ia merangkul lengan sahabatnya dengan erat sementara itu kepalanya berlabuh di atas pundak Jingga. “Malang bener nasibmu, Gia. Sorry, ya. Aku gak bisa bantu secara finansial. Soalnya aku aja kere. Orang tuaku memang ‘have’ tapi aku masih miskin.”Jingga mengembuskan napas panjang. “Semoga semua masalah ini cepat selesai. Lama-lama capek juga.” Ia mengerutkan wajah. “Kenapa hidupku isinya uang, uang, dan uang terus, sih? Penderitaan tiada akhir.”Karina menoleh. Jingga mengangkat bahu pasrah. “Beda sama Ki Pat Kay. Kalau dia menderita karena perempuan, aku menderita karena tagihan.”Karina mengerjap. Ia menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar tiba-tiba mirip caha

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 28

    …Pagi hari sebelum ke kampus, Jingga berdiri di dalam bilik ATM kampus UPAC. Dengan jemari gemetar dan napas tertahan, ia memasukkan Black Card milik Arjuna. Logika dan gengsinya berteriak, tetapi bayangan ibunya membuat pertahanannya rubuh. Ia tidak mau ibunya diganggu oleh para debt collector dengan ancaman mereka. Ibunya harus tinggal dengan aman dan nyaman setelah pulang kembali ke rumah. Bzzzt... kletek, kletek! Mesin ATM memuntahkan uang tunai puluhan juta. Jingga memeluk uang itu dalam tasnya dengan perasaan campur aduk, lega sekaligus meratapi utang budi raksasa pada suami kontraknya.Ia menundukan kepalanya sembari bergumam resah. “Pak Arjuna, aku pinjem uangmu ya. Nanti aku balikin lagi.”Gadis berambut panjang itu keluar dari bilik ATM setelah lebih dulu menoleh ke kanan dan kiri. Entah kenapa, ia merasa seperti baru saja melakukan transaksi kriminal. Padahal kartunya memang milik sendiri. Lebih tepatnya, kartu yang diberikan Arjuna kepadanya.Jingga bahkan sempat memer

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 27

    Keesokan harinya, Pagi hari, Jingga sudah membuat sarapan sederhana yakni nasi goreng orak arik telur kecap dilengkapi kerupuk. Harum aroma bumbu sudah mengusik pria dingin yang baru saja keluar dari kamarnya.Arjuna sudah memakai setelan kerja kasual rapi. Ia berangkat pagi sekali. Ketika melihat suami kontraknya berjalan melewati area pantry, Jingga langsung menyapanya dengan penuh ramah tamah. “Selamat pagi, Pak Arjuna!” sapanya dengan senyum yang selebar masalahnya. Arjuna menoleh dengan mata yang memicing. Sebuah pertanyaan mencuat di kepalanya. Apa yang sedang gadis itu lakukan di pagi hari? Memasak? Bencana besar? Bukankah dia terluka?“Pagi, Pak Arjuna!” sapa Jingga kedua kalinya. “Pagi.” Jawab Arjuna irit. “Tenang, Pak. Anda tidak usah khawatir. Aku sudah membersihkan area dapur kotor kok. Aku gak banyak pakai perkakas dapur.” Jingga menjelaskan sebelum Arjuna bertanya. Ia berjalan menghampiri pria itu dengan sedikit canggung. “Pak, aku udah buat sarapan pagi. Bagaimana

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 26

    Sembari menenteng kanvas berukuran besar, menggendong tas ransel di punggung dan tas tabung di pundak sebelah kirinya, Jingga menyeret kakinya ke pinggir jalan. Ia akan segera memesan taksi saja dari depan sebuah ruko yang terletak di pinggir jalan. Tanpa sepengetahuannya, sebuah mobil SUV berwarna Santorini Black baru saja melewatinya begitu saja. Sang pengemudi bahkan tak bersedia melirik sedikitpun pada Jingga yang sedang berjalan dengan wajah sendu dan kuyu. Ketika sebuah taksi konvensional lewat, Jingga langsung menghentikannya. Supir itu turun dan membantu Jingga memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil. “Mau kemana Mbak?” tanya sang supir sembari menutup bagasi. “Ke apartemen WK Grand Regency, Pak,” jawab Jingga malas. Sang supir taksi sempat terkejut mendengar alamat yang dituju penumpangnya. Bukankah apartemen itu adalah salah satu apartemen mewah di ibukota.Ketika Jingga naik, sang supir langsung menyalakan argometer kemudian mulai melajukan kendaraan beroda empat te

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 25

    Setelah kepergian Bude Ratih, Abimana menatap Jingga dengan cara yang tak biasa. “Katakan dengan jujur, Jingga. Kartu Black Card tadi punya siapa? Lalu siapa yang memberi pinjaman untuk operasi ibumu?” suara Abimana tidak tinggi tetapi cukup membuat suasana terasa menegangkan. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu …Jingga hanya mengatupkan bibirnya rapat. Haruskah ia bicara terus terang soal hal itu? Soal pinjaman dengan syarat pernikahan kontrak begitu? Abimana menghela panjang. Tatapannya masih tertuju Jingga dengan penuh telisik. Namun, detik berikutnya, ia mengembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan interogasinya. “Jingga, katakan siapa orang ... yang membiayai operasi Ibumu? Apa ada hubungannya dengan pria kaya yang memberi kartu itu?”Jingga menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun sahara. Matanya bergerak liar, memikirkan sejuta opsi kebohongan instan yang biasa ia rakit dalam hitungan detik.Ia mem

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 24

    Setelah keributan preman diredam oleh pihak RT setempat, kini Jingga dan Abimana duduk di teras rumah milik peninggalan ayah Jingga. Satu-satunya warisan harta yang ditinggalkan mendiang ayahnya.Alih-alih memikirkan tentang preman tadi, Abimana justru masih didera penasaran soal kartu Black Card yang dimiliki Jingga. Jingga mengatakan padanya bahwa kartu itu dummy atau kartu bohongan yang merupakan pementasan drama kampus milik temannya.Namun, ia menyangsikannya. Masalahnya kartu tersebut persis miliknya yang disita oleh ke dua orang tuanya. Kedua orang tua Abimana sangat tegas. Mereka tidak ingin putranya menghamburkan uang sebelum benar-benar berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai dokter spesialis.Beberapa saat hening menyelimuti mereka. Jingga memilih bun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status