LOGINWajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.
Srett!
Resleting berhasil tertutup rapat. Aman!
“Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh.
Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana.
“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian.
Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil cincin pernikahan itu. Namun, Abimana rupanya telah salah menangkap isyarat tubuhnya. Dia mengira Jingga ingin memeluknya. Alhasil, Abimana yang merasa iba melihat penderitaan dan kesedihan yang menimpa kekasihnya, langsung merengkuh tubuhnya dengan lembut ke dalam dekapannya.
Jingga mengerjap. Dia buru-buru menurunkan tatapannya pada cincin kawin yang berada di lantai lalu menendangnya hingga ke ujung lemari agar tidak terlihat oleh Abimana.
Sesaat napasnya mulai terasa lega. Jingga terdiam menyandarkan kepalanya di atas dada bidang sang kekasih.
“Sabar ya Sayang. Ibu pasti akan sembuh lagi,” bisik Abimana lembut. Tangannya mengusap pucuk kepala Jingga dengan penuh kasih sayang.
Perlahan Jingga menarik diri kemudian tersenyum hangat pada kekasihnya. Sebuah senyuman untuk menutupi sejumput rasa bersalah di balik dadanya. “Terima kasih, Abi.”
Tak lama kemudian, kelopak mata Diana bergerak terbuka secara perlahan. Setelah melewati masa kritis pasca-operasi besar, wanita paruh baya itu akhirnya siuman. Jingga dan Abimana yang setia menunggu di sisi ranjang langsung melangkah mendekat untuk melihatnya.
“Kalian,” ucap Diana lirih dan seulas senyum tipis.
“Ibu, maaf, Abi baru bisa jenguk sekarang,” ucap Abimana, melangkah mendekat.
Diana mengangguk lemah, sorot matanya teduh.
“Jingga tidak mengabariku soal kondisi Ibu yang sempat kritis,” adunya sembari melirik nakal ke arah Jingga sekilat.
Sementara itu Jingga hanya meringis pelan. Tatapannya bergerak gelisah. Sesekali ia melihat ke arah kolong lemari. Ia harus segera mengambil cincin pernikahan itu jika tak mau mendapat masalah besar. Tak bisa membayangkan jika Arjuna mengetahui hal itu, bisa-bisa dia meminta pamannya mengembalikan uang mereka.
“Tidak apa-apa, Nak Abi. terima kasih karena selalu ada buat Jingga. Bahkan ketika Jingga sedang terpuruk.” Sahut Diana tulus dari dalam hati yang terdalam.
Jingga menggenggam tangan ibunya yang bebas. Air matanya sudah menggenangi pelupuk matanya. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan rasa haru melihat ibunya sudah siuman. Pengorbanannya—yang sudah menggadaikan harga dirinya melalui pernikahan kontrak terasa sepadan.
Abimana melirik jam tangan mewahnya sebentar, lalu menatap Diana kembali. “Ibu, aku ijin pinjam Jingga sebentar. Aku mau ajak dia makan malam di luar. Boleh?”
“Boleh, bawa saja. Pasti Jingga belum makan dari siang sebab sibuk mengurus Ibu.” Timpal Diana dengan senyum tipis.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Diana sempat-sempatnya memberi kode pada putrinya untuk bicara empat mata dengannya.
“Sayang, Ibu jadi gak enak dengan Abi. Kamu pasti mengadu padanya soal biaya operasi.” Suara Diana terdengar rendah dan risau.
Jingga tercenung sesaat. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sungguh, gadis berambut ekor kuda itu dilanda bingung. Ibunya mengira jika pertolongan tersebut berasal dari kekasihnya. Nyatanya, seseorang telah memberikan pertolongan itu dengan syarat mengikuti sebuah kesepakatan gila.
“Jingga, kenapa kamu diam?” tanya Diana dengan perasaan yang tak karuan.
Wanita paru baya itu menyadari satu hal bahwa biaya operasi dan pengobatannya butuh biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, ia harus mengetahui sumber muasal uang tersebut.
Jingga mengatur napasnya yang terasa sesak sebelum menjawab. Ia menatap ibunya lurus. “Ibu, yang terpenting sudah melewati masa kritis. Ibu tak perlu memikirkan soal uang lagi,”
Diana menggenggam tangan putrinya dengan cukup erat. Tatapannya berubah dingin mirip seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka. “Jawab yang jujur Jingga. Apa Abi yang menolongmu?”
Tenggorokan Jingga terasa kering. Ia meneguk salivanya yang terasa kecut. Bagaimanapun, baik dia maupun ibunya memiliki sifat yang sama, sama-sama keras kepala. Jika Jingga belum mengaku maka ia akan terus mengoreknya hingga ke lubang semut sekalipun untuk mendapatkan informasi tersebut.
“Ah, bukan Bu. Abi tidak punya uang sebesar itu meskipun orang tuanya ada.” Jawab Jingga diplomatis. Ia memaksakan tersenyum kecil.
“Lalu siapa yang membantumu?” Diana menatapnya curiga. “Jingga, kamu gak—”
“Ibu, gak usah khawatir. Pokoknya ada hamba Allah yang baik hati.” Jingga bersikukuh tidak bicara terus terang.
“Jingga! Ibu serius.” Sorot mata Diana menuntut kepastian.
“Jingga seribu rius, Ibu,” cicit Jingga, memaksakan cengiran khasnya. Namun, detik kemudian, melihat tatapan ibunya yang tak kunjung melunak, Jingga terpaksa memutar otak mencari alasan yang logis. “Ibu, sebenarnya, bos Jingga yang kasih pinjaman,”
Dahi Diana berkerut tipis. “Bos yang mana? Kamu kan tidak bekerja di perusahaan?”
“Ibu lupa ya? Jingga kan mengerjakan proyek mural di gedung galeri miliknya. Pemilik galeri yang pemurah itu memberikan pinjaman jangka panjang untuk Jingga.” Lanjut Jingga mengarang bebas.
“Terus, bagaimana caramu mencicil utang sebanyak itu?” tanya Diana gundah.
Jantung Jingga nyaris berhenti berdetak. Pikirannya mendadak kosong. Karena–
Harga yang harus dibayar bukan dengan uang!
Jingga mengembuskan napas pendek kemudian ia mengangguk lemah. “Karin, dia belum tahu.”Karina menepuk-nepuk punggung tangan Jingga. “Aku paham, Gia. Ini tidaklah mudah. Tapi … mungkin kamu sebaiknya segera membuat keputusan sebelum semua terlambat. Aku gak mau kamu terkena masalah. Apalagi, kita sekarang udah di tingkat akhir. Kita harus fokus untuk persiapan skripsi.”Jingga tersenyum pahit mendengar nasehat Karina yang sialnya benar adanya. Melihat raut wajah Jingga yang berubah sendu, Karina mencubit pipi Jingga gemas. “Jangan sedih! Aku gak bisa lihat sahabatku sedih. Jingga selalu ceria,” katanya sembari mengangkat kedua tangan Jingga ke udara, memberi semangat. Setelah melepas rindu, berbincang hangat dengan sahabatnya, Jingga memutuskan pergi menuju WK Gallery Space Art untuk melanjutkan proyeknya muralnya yang tertunda. Perlengkapan melukis mural masih berada di sana sehingga gadis itu tidak membawa barang banyak dari kampus. Hanya tas ransel berisi tablet, buku sketsa dan
Seorang wanita muda berseragam housekeeping berwarna abu-abu charcoal dengan lis hitam membuka pintu dengan tenang. Name tag terpasang rapi di dada kirinya, sementara rambutnya disanggul tanpa sehelai pun yang terurai.Ketika pandangan mereka bertemu, baik Jingga maupun petugas housekeeping itu sama-sama terperanjat.“Anda siapa ya?” tanya wanita berseragam rapi tersebut membuka suara lebih dulu. “Pak Arjuna tidak pernah mengizinkan siapapun menginap di sini sebelumnya. Apalagi … perempuan,”Jingga membeku di tempat. Tangannya semakin mencengkram tali tas ranselnya. Ia dilanda bingung harus menjawab apa atau memperkenalkan dirinya sebagai siapa di sana. Masalahnya, ia dan Arjuna belum bicara serius perihal pernikahan mereka secara langsung. Pria dingin itu hanya memberikan salinan kontrak tanpa menjelaskan apakah pernikahan yang mereka jalani bersifat rahasia ataukah diketahui oleh keluarga dekat semacam itulah. Namun, sebelum Jingga membuka mulut untuk merangkai kembali karangan abs
Suasana mendadak hening. Arjuna menatap syal berwarna gelap di tangannya. Tatapannya lantas beralih dari syal tersebut merambat naik ke wajah Jingga yang sudah memucat seperti maling yang tertangkap basah. “Kamu bawa barang lelaki lain ke apartemen ini?”Suara Arjuna terdengar datar, tidak ada emosi sama sekali. Namun, entah kenapa bagi Jingga yang mendengarnya, rasanya seperti ditegur oleh dosen killer yang bersungut-sungut. Gadis berwajah mungil itu dilanda bingung. Haruskah ia mengatakan dengan jujur kalau syal itu milik kekasihnya ataukah mencari alasan lain agar menghindari perdebatan di awal pernikahan mereka. Jika ia berterus terang, pasti pria kharismatik di depannya akan marah padanya. Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu melampiaskan kemarahannya dalam bentuk apa. Jingga meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa pahit. Ke dua bibir tipisnya hendak bergerak dan bersuara, tetapi suara deheman Arjuna membuatnya mengatupkan kembali bibirnya. Masih menggenggam syal gelap ters
Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” “Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi
“Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. “Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. Namun, Abim
Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.Srett!Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! “Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil c







