Share

Bab 7

Author: Piemar
last update publish date: 2026-07-23 15:21:21

Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.

Srett!

Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! 

“Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. 

Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. 

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. 

Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil cincin pernikahan itu. Namun, Abimana rupanya telah salah menangkap isyarat tubuhnya. Dia mengira Jingga ingin memeluknya. Alhasil, Abimana yang merasa iba melihat penderitaan dan kesedihan yang menimpa kekasihnya, langsung merengkuh tubuhnya dengan lembut ke dalam dekapannya. 

Jingga mengerjap. Dia buru-buru menurunkan tatapannya pada cincin kawin yang berada di lantai lalu menendangnya hingga ke ujung lemari agar tidak terlihat oleh Abimana. 

Sesaat napasnya mulai terasa lega. Jingga terdiam menyandarkan kepalanya di atas dada bidang sang kekasih. 

“Sabar ya Sayang. Ibu pasti akan sembuh lagi,” bisik Abimana lembut. Tangannya mengusap pucuk kepala Jingga dengan penuh kasih sayang. 

Perlahan Jingga menarik diri kemudian tersenyum hangat pada kekasihnya. Sebuah senyuman untuk menutupi sejumput rasa bersalah di balik dadanya. “Terima kasih, Abi.”

Tak lama kemudian, kelopak mata Diana bergerak terbuka secara perlahan. Setelah melewati masa kritis pasca-operasi besar, wanita paruh baya itu akhirnya siuman. Jingga dan Abimana yang setia menunggu di sisi ranjang langsung melangkah mendekat untuk melihatnya. 

“Kalian,” ucap Diana lirih dan seulas senyum tipis. 

“Ibu, maaf, Abi baru bisa jenguk sekarang,” ucap Abimana, melangkah mendekat. 

Diana mengangguk lemah, sorot matanya teduh. 

“Jingga tidak mengabariku soal kondisi Ibu yang sempat kritis,” adunya sembari melirik nakal ke arah Jingga sekilat. 

Sementara itu Jingga hanya meringis pelan. Tatapannya bergerak gelisah. Sesekali ia melihat ke arah kolong lemari. Ia harus segera mengambil cincin pernikahan itu jika tak mau mendapat masalah besar. Tak bisa membayangkan jika Arjuna mengetahui hal itu, bisa-bisa dia meminta pamannya mengembalikan uang mereka. 

“Tidak apa-apa, Nak Abi. terima kasih karena selalu ada buat Jingga. Bahkan ketika Jingga sedang terpuruk.” Sahut Diana tulus dari dalam hati yang terdalam. 

Jingga menggenggam tangan ibunya yang bebas. Air matanya sudah menggenangi pelupuk matanya. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan rasa haru melihat ibunya sudah siuman. Pengorbanannya—yang sudah menggadaikan harga dirinya melalui pernikahan kontrak terasa sepadan.

Abimana melirik jam tangan mewahnya sebentar, lalu menatap Diana kembali. “Ibu, aku ijin pinjam Jingga sebentar. Aku mau ajak dia makan malam di luar. Boleh?”

“Boleh, bawa saja. Pasti Jingga belum makan dari siang sebab sibuk mengurus Ibu.” Timpal Diana dengan senyum tipis.

Sebelum keluar dari ruangan itu, Diana sempat-sempatnya memberi kode pada putrinya untuk bicara empat mata dengannya.

“Sayang, Ibu jadi gak enak dengan Abi. Kamu pasti mengadu padanya soal biaya operasi.” Suara Diana terdengar rendah dan risau. 

Jingga tercenung sesaat. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 

Sungguh, gadis berambut ekor kuda itu dilanda bingung. Ibunya mengira jika pertolongan tersebut berasal dari kekasihnya. Nyatanya, seseorang telah memberikan pertolongan itu dengan syarat mengikuti sebuah kesepakatan gila.

“Jingga, kenapa kamu diam?” tanya Diana dengan perasaan yang tak karuan. 

Wanita paru baya itu menyadari satu hal bahwa biaya operasi dan pengobatannya butuh biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, ia harus mengetahui sumber muasal uang tersebut. 

Jingga mengatur napasnya yang terasa sesak sebelum menjawab. Ia menatap ibunya lurus. “Ibu, yang terpenting sudah melewati masa kritis. Ibu tak perlu memikirkan soal uang lagi,”

Diana menggenggam tangan putrinya dengan cukup erat. Tatapannya berubah dingin mirip seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka. “Jawab yang jujur Jingga. Apa Abi yang menolongmu?”

Tenggorokan Jingga terasa kering. Ia meneguk salivanya yang terasa kecut. Bagaimanapun, baik dia maupun ibunya memiliki sifat yang sama, sama-sama keras kepala. Jika Jingga belum mengaku maka ia akan terus mengoreknya hingga ke lubang semut sekalipun untuk mendapatkan informasi tersebut. 

“Ah, bukan Bu. Abi tidak punya uang sebesar itu meskipun orang tuanya ada.” Jawab Jingga diplomatis. Ia memaksakan tersenyum kecil. 

“Lalu siapa yang membantumu?” Diana menatapnya curiga. “Jingga, kamu gak—”

“Ibu, gak usah khawatir. Pokoknya ada hamba Allah yang baik hati.”  Jingga bersikukuh tidak bicara terus terang. 

“Jingga! Ibu serius.” Sorot mata Diana menuntut kepastian. 

“Jingga seribu rius, Ibu,” cicit Jingga, memaksakan cengiran khasnya. Namun, detik kemudian, melihat tatapan ibunya yang tak kunjung melunak, Jingga terpaksa memutar otak mencari alasan yang logis. “Ibu, sebenarnya, bos Jingga yang kasih pinjaman,”

Dahi Diana berkerut tipis. “Bos yang mana? Kamu kan tidak bekerja di perusahaan?”

“Ibu lupa ya? Jingga kan mengerjakan proyek mural di gedung galeri miliknya. Pemilik galeri yang pemurah itu memberikan pinjaman jangka panjang untuk Jingga.” Lanjut Jingga beralasan. 

“Pinjaman ratusan juta tanpa jaminan dari orang asing?” bisik Diana gemetar. Sorot matanya menatap lurus ke dalam manik mata Jingga. “Jingga... katakan pada Ibu, syarat apa yang pria itu minta sebagai gantinya?”

Lidah Jingga mendadak membeku. Tenggorokannya terasa kaku.

Sebab jawaban sesungguhnya... bukan uang yang pria itu minta dari Jingga, melainkan statusnya sebagai seorang istri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 263

    Jingga tergugu mendengar pertanyaan Arjuna yang terang-terangan. Tak habis pikir, pria itu yang telah mengatur pernikahan mereka dalam sebuah perjanjian kontrak dan ia pula yang melanggarnya terlebih dahulu.“Mas, sebaiknya kita kembali pada perjanjian awal kita sebelum menikah.” Jingga menjawab dengan tenang meski di dalam batinnya terjadi pergulatan hebat tentang bagaimana pernikahan itu akan mereka bawa. Ini adalah penolakan secara halus tetapi terang-terangan.Wajah Arjuna yang sempat melunak kembali mengeras. Ia merasa jawaban Jingga bukanlah jawaban yang sesungguhnya.Seandainya Jingga menolak setiap kali ia memeluk atau menciumnya, mungkin Arjuna bisa percaya bahwa gadis itu memang tidak memiliki perasaan yang sama. Namun, Jingga selalu menerima setiap sentu

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 262

    Di sebuah pub di ibu kota, seorang pemuda tampak larut dalam alkohol. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini adalah menenggelamkan diri dalam minuman keras demi melupakan peliknya masalah hidup.“Udah cukup, Abi.” Zoey, teman koas Abimana, berusaha mengingatkan. “Kamu intoleran alkohol. Kalau terus dipaksakan, kamu bisa kolaps.”Zoey segera menyambar gelas berisi minuman berbusa dari tangan Abimana.Abimana menatap rekannya dengan tajam. “Kamu nggak usah ikut campur, Zoey. Ini bukan urusanmu.”“Urusanku, soalnya ibumu nyuruh aku mantau kamu.” Jawab Zoey dengan dengusan kasar. “Lagian cewek masih banyak. Hilang satu tumbuh seribu—”

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 261

    “A loving heart is the truest wisdom.” (Hati yang penuh kasih adalah kebijaksanaan sejati: Charles Dickens)…Wira menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan argumennya dengan kepala dingin. “Saya justru melihat ini sebagai sebuah peluang emas, Pak.”Arjuna mengernyitkan dahi, menatap tajam asistennya. “Peluang? Peluang apa yang dimaksud? Kau ingin aku menyerahkan diri pada singa yang sedang kelaparan?”“Bukan menyerahkan diri, Pak,” sanggah Wira cepat. “Justru dengan kembalinya Aldi Heriawan, Bapak punya kesempatan untuk membereskan kekusutan ini sampai ke akarnya. Bapak bisa berbicara langsung dengannya, meluruskan segala kesalahpahaman masa lalu yang dibuat oleh keluarga Widjaya, sekaligus membuktikan ketulusan cinta Bapak pada Bu Jingga.”Wira menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan nada serius, “Dengan begitu, Bapak bisa meminta restu secara jantan padanya untuk memiliki Bu Jingga seutuhnya. Semoga saja rantai dendam dan kenangan buruk masa lalu itu bisa benar-bena

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 260

    “I almost wish we were butterflies and lived but three summer days.” –John Keats(Aku hampir berharap kita menjadi kupu-kupu yang hanya hidup selama tiga hari musim panas.)…Hari itu, suasana hati Arjuna benar-benar hancur lebur, membuat aura di kantor mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Sepanjang rapat pagi itu, seluruh ide dan laporan yang dipresentasikan oleh para staf bawahannya ditolak mentah-mentah tanpa ampun. Ruang rapat utama yang megah seketika berubah suasananya menjadi mirip ruang sidang militer, di mana setiap orang memilih menunduk kaku dan menahan napas rapat-rapat. Takut banget kena semprot sang presdir. Ketika pintu ruang rapat tertutup dan para staf keluar dengan lemas, bisik-bisik gosip langsung berhamburan di area pantry.“Pak Presdir kita kesambet apa, sih? Horor banget dari tadi pagi,” bisik salah satu staf pemasaran bergidik ngeri. “Jangan-jangan lagi tantrum?”“Hus! Sembarangan kalau ngomong,” sahut staf lain. “Mungkin dia lagi PMS.”“Pria Masa Sulit

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 259

    Jingga menarik napas lega dalam-dalam, bersyukur dalam hati karena sang ayah berinisiatif mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap jika harus menjelaskan duduk perkara kontrak pernikahan mereka, apalagi memicu amarah baru dari sosok ayah yang baru saja kembali ke dalam hidupnya.“Bapak bangga sama kamu,” lanjut Aldi dengan senyuman hangat, menuangkan teh hangat ke cangkir Jingga. “Gadis kecil Bapak sekarang sudah tumbuh jadi perempuan hebat dan mandiri.”Jingga tersenyum tipis, meski sisa-sisa rasa canggung masih menggelayut di benaknya. Sepanjang sisa jam makan siang itu, mereka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan seputar keseharian Jingga di kampus dan kenangan masa kecil yang sempat terlewatkan.Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan pada sang ayah, pikiran Jingga tiba-tiba melayang pada sosok suami.Arjuna... batin Jingga mendadak gelisah. Sialnya, ia lupa kalau Arjuna pasti akan menjemputnya. Benar saja, ketika ia merogoh ponselnya. Ada banyak notifikasi mulai dari chat hin

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 258

    Pagi itu, Diana dan Jingga menikmati sarapan bersama di meja makan. Suasana terasa sedikit lengang karena pelayan yang biasa bekerja di sana kebetulan sedang pulang kampung, memaksa mereka menyiapkan semuanya sendiri.Jingga mengaduk-aduk nasi gorengnya, lalu memberanikan diri menatap sang ibu yang sibuk mengunyah roti panggang.“Ibu... kenapa sih enggak mau nerima Bapak lagi?” Jingga memulai bujuk rayunya. “Bapak kan sudah jelaskan kalau beliau amnesia dan lumpuh bertahun-tahun, bukannya sengaja kabur. Seharusnya Ibu maafin Bapak. Kalau perlu, Ibu sama Bapak nikah lagi aja! Jingga ridho lahir batin. Lagian, Ibu sama Pak Arman kan sudah resmi cerai juga.”Diana mendengus kasar. Ia meletakkan roti panggangnya kembali ke piring dengan sentakan pelan, lalu menatap tajam putrinya.“Nikah lagi kepalamu!” semprot Diana tanpa ampun. “Kamu pikir nikah lagi kayak beli kerupuk di warung? Tinggal bayar terus sah?”Jingga cemberut, bibirnya maju beberapa senti seperti anak kecil yang merajuk. “Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status