Share

Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku
Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku
Author: JolaSky

Malam Pertama Penuh Luka

Author: JolaSky
last update Last Updated: 2023-10-24 20:16:40

Brak!! 

Suara pintu kamar hotel yang ditutup kencang membuat Nova berjengit kaget. Dari cermin meja rias Nova menyambut kedatangan sosok pria yang masih setia dengan setelan jas lengkap meski acara resepsi sudah berakhir dua jam lalu. 

"Mas Angga? Kamu dari mana, mas? Aku sudah menunggu kamu di sini sejak tadi," ucap Nova seulas senyum Nova pamerkan di hadapan suaminya. 

Meski Nova tak mencintai sosok yang kini menjadi suaminya, tuntutan orang tua tak bisa dielak. Nova tak memiliki kuasa untuk menolak pernikahan yang tak diinginkan. Nama baik yang ia coreng tak sebanding dengan pengorbanan yang ia lakukan saat ini. 

Angga menatap Nova dengan sorot tajam, "Seorang pembunuh sepertimu tidak pantas berpura-pura baik," ujar Angga sarkas sambil berdesis licik. Nova tidak mengerti kemana Angga akan membawa topik pembicaraan ini. 

"A-apa maksudmu?" Nova gelagapan. Tubuhnya membeku saat Angga menatapnya dalam, bahkan penuh dendam. 

Kekehan Angga sama sekali tidak menjawab kebingungan Nova . Ketukan sepatu pantofel memecah keheningan di kamar hotel yang dihiasi oleh ornamen-ornamen romantis. Namun, apalah arti keindahan itu jika Nova justru dihadapkan dengan sosok penuh misteri.

Angga yang Nova hadapi sekarang sangat berbeda dengan Angga yang ia temui satu bulan lalu. Tidak ada senyuman hangat ataupun sapaan lembut yang sempat membuat Nova terpesona di pertemuan pertama mereka. 

"Kamu pikir, setelah kamu berhasil membunuh Andre, kamu bisa hidup bahagia?" 

Tubuh Nova mundur selangkah demi selangkah. Seiringan dengan Angga yang mengikis jarak. Napasnya tercekat saat nama Andre keluar dari mulut pria itu. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala, namun sikap Angga terus mendesaknya untuk memberikan sebuah pengakuan yang tak Nova ketahui. 

“Bagaimana kamu bisa mengenal Andre? Siapa kamu sebenarnya?” susah payah Nova mengucapkan kalimat itu di tengah-tengah aura intimidasi Angga untuknya. Kilas balik masa lalu mulai bermain di memori ingatan Nova, bagaikan kaset film yang sedang diputar ulang. 

Bukannya menjawab, Angga menjulurkan tangannya meraih tangan Nova secara paksa. Nova terkejut dengan sikap kasar Angga yang berani menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, tidak peduli sekarang Nova telah berstatus sebagai istri sahnya. 

"Tolong lepaskan aku, Angga!"  Teriakan Nova melolong kencang ketika Angga mengunci  kedua tangannya di atas kepala tanpa ampun.

Namun, sekeras apapun Nova memohon pertolongan, pria di atasnya tetap mencekal tubuh Nova dengan kejam. Wajah Angga memerah tanda emosinya siap meluap kapan saja. 

"Kamu tidak akan bisa lepas dengan mudah, Nova. Kamu adalah penyebab kematian Adikku, dan sudah seharusnya nyawa dibalas dengan nyawa," desisan kalimat di telinga Nova membuat bulu roma di sekujur tubuhnya meremang. 

Sebuah fakta baru saja terungkap dan sukses membuat darah di sekujur tubuh Nova berhenti mengalir. Kulit putih mulus itu memucat disambut dengan seringaian licik Angga yang menakutkan. 

Nova tidak pernah menyangka ia akan terjebak dalam dendam yang sedang menyelimuti sosok pria asing ini. Pria yang tiba-tiba ditakdirkan menjadi suaminya lewat perjodohan paksa dari orang tua. 

Perpaduan hawa panas yang menjalar dan keringat dingin sebesar biji jagung sudah cukup menyiksa Nova saat ini. Dalam kungkungan tangan kekar pria pemilik rahang tegas itu, Nova mempertahankan dinding pembatas yang sudah ia bangun antara dirinya dengan Angga saat ini. 

"Aku bukan pembunuh Andre, tolong percayalah." 

"Untuk apa aku percaya pada pembohong berkedok wanita polos sepertimu, hah?! Mulai malam ini, kamu akan membayar semua dosa yang kamu perbuat atas kematian adikku!" ucap Angga tegas. Kedua matanya menyorot tajam bagaikan bilah mata pisau yang baru diasah.

Belum sempat Nova mencerna maksud pria yang telah resmi menjadi suaminya ini–lebih tepatnya suami paksaan–kesabaran Nova diuji oleh jemari kekar Angga yang kembali bergerayang di atas tubuh polos Nova. Jangan tanya kemana jubah mandi yang sebelumnya Nova kenakan. Kekuatan Angga sangat mampu untuk menghempaskan benda itu dalam sekali tarikan dari tubuh Nova. 

"Mmpphh!!" Sebelah tangan Angga mengunci mulut Nova hingga tenggorokannya tercekat. Nova meraung di balik bekapan tangan Angga memohon ampun namun berujung sikap abai.

"Diamlah! Semakin kamu memberontak, semakin  besar ambisiku untuk menghancurkan masa depanmu!" Mata Nova terpejam erat, telinganya berdengung saat Angga membentaknya. 

Hati Nova rasanya pilu. Malam pertama yang seharusnya menjadi penantian setiap pengantin baru adalah malam paling mengenaskan dan meninggalkan luka trauma dalam benaknya. 

Kini Angga sudah mengunci semua akses Nova untuk bergerak. Sekuat apapun Nova memberontak, tenaganya kalah jauh dengan sang suami. 

Angga menatapnya dengan tatapan penuh dendam. Baru kali ini Nova melihat sorot mata penuh kebencian dari seseorang yang tidak pernah sekalipun Nova kenal sebelumnya. 

Tuntutan orang tuanya untuk menjaga nama baik keluarga berujung petaka. Sosok pria yang tiba-tiba datang dengan segala pesona dan kata-kata manisnya kini berubah menjadi serigala buas yang siap menerkam mangsanya di atas ranjang. 

Sorot kebencian itu berubah dalam sepersekian detik saat melihat tubuh polos Nova, "aku tidak menyangka kamu memiliki tubuh yang indah. Ternyata aku tidak salah mengambil keputusan." 

"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik setelah ini. Tentu hanya di depan banyak orang," bisik Angga di telinga Nova. Hembusan napasnya menderu mengenai leher hingga wanita itu bergidik geli. 

Angga telah sepenuhnya menguasai tubuhnya dengan leluasa. Bahkan Angga sangat lihai memainkan perannya sebagai figur suami untuk memenuhi nafkah batin Nova sebagai seorang istri. 

Namun, siapa yang menyangka jika pernikahan yang sebelumnya Nova pikir akan membawanya kepada kebahagiaan setelah ditinggalkan oleh mendiang Andre–sang mantan kekasih–setelah kasus pembunuhan itu, justru berujung petaka. Nova terjebak bersama sosok yang tidak akan pernah melepaskan dirinya dalam kebahagiaan. 

“Bersiaplah, sayang. Aku akan memberikan kenikmatan yang tidak pernah bisa kamu dapatkan dari lelaki manapun. Anggap saja malam ini adalah malam perkenalan kita. Satu bulan saling menyapa tidak menjamin kamu mengenalku dengan baik, bukan?” Angga menyeringai, senyum miringnya telah mendoktrin Nova bagaimana perangai asli pria itu di balik sikap ramah dan label CEO muda dermawan yang dibanggakan banyak orang. 

Angga melepaskan satu per satu kancing kemeja dengan sebelah tangan. Begitu mahir mendominasi suasana dengan kekuasaannya. 

“Mpph!! Lephas kan aku!” Nova rasa ia sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaga yang ia punya untuk mengucapkan itu, namun, tangan Angga terlalu kuat untuk meredam suaranya. 

“Kamu cukup keras kepala rupanya. Tidak masalah, aku tertarik dengan wanita yang suka memberi tantangan. Bersiaplah, kamu akan melahirkan penerusku dengan kualitas terbaik,” ucap Angga lalu merapatkan tubuhnya menindih Nova yang terus memberontak tak terima. 

Malam pertama pernikahannya akan menjadi mimpi buruk yang tak pernah Nova bayangkan sebelumnya. Nova bersumpah, ia tak akan melupakan malam yang sudah membuat seluruh dunianya direnggut paksa oleh penderitaan tak berujung. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Keyakinan Semu

    Di bawah langit malam yang gelap, Nova berlindung menutupi air matanya yang jatuh satu per satu ke pipi. Tidak peduli seberapa nyeri angin malam.menghunus kulitnya, dia tetap berdiri di sana. Halaman belakang yang dia rindukan sejak lama. Tempat di mana dulu selalu menjadi peraduannya kala gundah. Kedua tangannya saling bertaut memeluk tubuh, matanya menatap lurus pada puluhan tangkai bunga mawar beraneka warna yang bergoyang diterpa angin dan tanpa usaha menyanggah. Kontras dengan ketenangan itu, Nova tengah bergulat dengan kepalanya yang berisik. Suara Celva yang menolak keras dirinya terus berputar, bersama dengan rasa bersalah kembali menghujam dadanya. Sebagai seorang ibu, sesak atas penolakan anak sendiri bukanlah hal yang bisa dielak. Terlebih setelah Nova tahu, dia telah menjadi terlalu egois dengan meninggalkan anak itu bertahun-tahun dalam kebingungan. “Ternyata kamu di sini.” Sebuah suara berat menggeser bola mata Nova ke samping. Tempat di mana bayangan seorang pria be

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Bibit Cemburu

    Wanita itu, berjalan santai menghampiri Angga. Setiap gestur yang–tidak sengaja–dia tunjukkan, seakan memperjelas tahtanya di rumah ini. Jantung Nova nyaris mencelos kala matanya melihat keakraban yang melibatkan wanita itu dengan Angga. Kedekatan yang nyaris tak berjarak untuk sebuah pertemanan, dan terlalu intim untuk sebuah hubungan lebih dari sekedar teman. “Hei! Tentu aku merindukan kalian,” jawab Angga. Kata-katanya semakin menohok batang tenggorokan Nova. “Terlebih pada putri kecil ini.” Di tempatnya, Nova memperhatikan setiap interaksi kecil di antara tiga orang di depannya. Percikan api meletup di matanya. Rasa tidak suka tergambar jelas di sana tapi dia memilih diam. “Papa, Celva kangen Papa!” celoteh anak perempuan dalam gendongan wanita tadi. Membuyarkan segala perasaan tak nyaman yang sempat hinggap di hatinya. Gadis kecil itu beralih ke pangkuan Angga. Sepersekian detik mata Nova merekam dengan jelas bagaimana interaksi Angga dengan gadis kecil yang telah ditinggalk

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   My Heart Landed In Jakarta

    Empat jam sisa penerbangan sebelum mendarat di Jakarta dilalui Angga, Nova, bahkan Chris dalam keheningan. Namun, dibanding Chris yang tidak mendapatkan efek apapun dari tragedi tadi, ada Angga yang kini melangkah di sepanjang lounge bandara dengan segala pikiran berkecamuk. Meski begitu, perhatiannya terhadap Nova dan bayi mungil, Noah, tetap menjadi prioritasnya. Ia memastikan setiap hal berjalan dengan lancar dan dua orang itu selalu berada dalam keadaan nyaman. Mereka sudah mendarat di Jakarta. Lalu lalang orang-orang di sekitar mereka sempat membuat Angga kesulitan untuk mengawasi Nova dan Noah. “Kenapa kau tidak menugaskan pengawal untuk berjaga, huh?” ucap Angga pada Chris di depannya, memimpin langkah mereka keluar dari lounge. Wajah pria itu memucat, “Maaf, Tuan. Aku pikir kita akan pulang dengan jet pribadi milikmu,” sahut Chris. Resiko pekerjaan menjadi tangan kanan Angga, ia harus mengingat dan peka akan segala detail hal tentang bosnya itu. Tidak hanya Angga, ia juga h

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Kenyataan yang Tidak Terduga

    Angga duduk termangu di kursinya. Gelisah di dadanya mulai berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Beberapa kali ia menampar pipinya, hanya demi merasakan sakit di sana. Ini bukan mimpi. Apa yang ia dengar dari Nova tadi nyata adanya. Disaat Angga berperang dengan pikirannya sendiri, seseorang di sampingnya terlelap dalam tidur. Setelah melewati momen menegangkan karena Noah yang rewel, Nova terlelap kelelahan. Sekilas Angga memperhatikan setiap hal yang membuat dunia Angga jungkir balik karenanya. “Permisi, Tuan. Apakah Anda ingin segelas teh atau kopi?” Suara lembut pramugari membyarkan semua lamunan Angga beserta bayangan tentang Nova di kepalanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita cantik, dengan pakaian serba ketat berwarna biru dan sanggul rabut yang rapi dan lici. Tidak lupa senyum ramah yang merupakan sebuah kewajiban dalam pertunjukan selama penerbangan Seoul ke Jakarta. Angga tersenyum tipis membalas sapaan itu. Kopi bukan

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Selamat Tinggal Korea

    Di lobi bandara, tiga orang berdiri sambil menyibukkan diri menata perasaan masing-masing. Selain tiga orang itu, ada Chris yang sibuk menurunkan koper bersama supir pribadi Mario. Sesekali pria itu mengecek ponsel, memastikan mereka tidak datang terlambat. “Semuanya sudah siap, Tuan. Kita bisa masuk sekarang,” ucap Chris. Di balik jas fit body yang dia kenakan, Chris nampak lebih gagah hari ini. Angga menoleh padanya, “Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang.” Ia mendekati Mario dan Nova yang kini sedang berbicara serius. “Nova, sudah waktunya kita berangkat,” kata Angga. Ia juga beralih pada Mario, “Dan Mario, terima kasih karena sudah membantu kami sejauh ini,” ucap Angga kemudian meraih pundak Nova mendekat padanya. Seakan ia benar-benar ingin menunjukkan bahwa Nova adalah miliknya. Mario menelisik setiap gelagat Angga yang terlihat semakin posesif. Sorot matanya menyimpan banyak arti yang tidak bisa diterjemahkan oleh Angga. Lalu, seulas senyum tipis terukir di wajah Mario.

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Terjebak Dalam Belenggu Dosa

    Semilir angin menerpa wajah Nova , terasa menyegarkan namun tidak mampu mengangkat sedikit beban berat yang sedang ia pikul saat ini. Ia duduk sendirian di taman yang terhubung langsung dengan kolam renang gedung apartemen Mario seorang diri. Pandangannya mengedar, memperhatikan aktivitas penghuni lain gedung ini yang berlalu lalang di depannya. Di mata Nova, mereka terlihat seperti hidup tanpa beban. bebas tertawa dan bertukar senyum dengan orang-orang yang mereka cintai. “Apakah mereka begitu menikmati hidup mereka?” Nova berkata lirih. Pada angin, pada percikan air kolam yang berterbangan tipis dan mengenai wajahnya. Kini ia berada di tengah-tengah orang-orang individualis. Mereka hanya akan mengurus permasalahan hidup mereka sendiri alih-alih menaruh simpati pada sosok yang duduk sendirian di kursi taman seperti Nova. Di saat sendiri seperti ini, Nova tidak bisa mengendalikan pikirannya. Bayangan masa lalu kelam terus menerus mengisi setiap sudut pikiran Nova tanpa ampun. Seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status