Home / Mafia / Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia / 27. Sandera untuk Moretti

Share

27. Sandera untuk Moretti

Author: Arlynta
last update publish date: 2026-10-18 11:25:11

"Y-Ya!" jawab Thalia terbata-bata sambil mengangguk cepat. "Aku mengenalnya!"

Marco melepaskan cengkeraman pada dagu Thalia. "Apa kau salah satu pelacurnya?"

Thalia menggigit bibir, tetapi rasa perih di sekitar mulutnya membuatnya segera mengendurkan gigitan itu. Dia menatap foto Childe sekali lagi sebelum menjawab dengan suara lirih.

"Aku bukan pelacurnya. Dia... suamiku."

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Marco menoleh ke arah Kael, Kael membalas tatapannya, lalu mengalihkan pandan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   29. Tebusan Delapan Ratus Ribu Dolar

    'Hah? Tuan Mafia Childe?' Thalia membatin sambil menatap Marco dengan kening berkerut. 'Apa maksudnya? Sejak kapan suamiku menjadi seorang mafia?' lanjut Thalia dalam hati. Childe tidak menanggapi ucapan Marco. Tatapannya justru beralih ke arah Thalia yang duduk terikat di kursi. Mata wanita itu berkaca-kaca, sementara luka kecil di sudut bibir dan bekas kemerahan di pipinya langsung menarik perhatian Childe. Thalia menatapnya dengan bibir bergetar. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tatapan Childe yang bertemu dengannya membuat Thalia terdiam. Childe memberikan anggukkan kecil, disertai tatapan tenang yang seolah meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Thalia mengembuskan napas tertahan. Meskipun belum sepenuhnya memahami situasi tersebut, dia berusaha mempercayai isyarat suaminya. Setelah memastikan Thalia memahami maksudnya, Childe mengalihkan pandangan ke ujung gudang. Deretan peti kayu tersusun di sana, beberapa di antaranya memperlihatkan simbol organisasi mili

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   28. Kedatangan Childe

    Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa menyesakkan. Thalia mencoba mengatur napas sambil menatap lantai beton. Pikirannya terus tertuju pada Childe. Dia tidak tahu bagaimana suaminya akan menanggapi pesan tersebut, tetapi dia berharap pria itu benar-benar datang. Tiba-tiba, suara kendaraan terdengar dari luar gudang. Thalia mengangkat kepala dengan cepat. “Apa itu?” bisik Thalia sambil menoleh ke arah pintu gudang. Awalnya, suara itu terdengar samar. Namun, dalam beberapa detik, deru mesin semakin jelas, disusul suara beberapa kendaraan lain yang seolah datang bersamaan. Bukan satu atau dua mobil, jumlahnya jauh lebih banyak. Marco langsung berdiri. Ekspresi santainya menghilang ketika dia melirik salah satu anak buahnya. “Periksa bagian depan,” perintahnya dengan suara tegas. Seorang pria segera bergegas menuju pintu samping. Kael meletakkan gelasnya, lalu mengambil senjata yang tergeletak di atas meja. Victor juga bergerak menjauh dari Thalia, memeriksa pistol d

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   27. Sandera untuk Moretti

    "Y-Ya!" jawab Thalia terbata-bata sambil mengangguk cepat. "Aku mengenalnya!" Marco melepaskan cengkeraman pada dagu Thalia. "Apa kau salah satu pelacurnya?" Thalia menggigit bibir, tetapi rasa perih di sekitar mulutnya membuatnya segera mengendurkan gigitan itu. Dia menatap foto Childe sekali lagi sebelum menjawab dengan suara lirih. "Aku bukan pelacurnya. Dia... suamiku." Keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Marco menoleh ke arah Kael, Kael membalas tatapannya, lalu mengalihkan pandangan kepada Victor. Ketiganya saling bertukar pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Thalia memperhatikan mereka dengan kebingungan, kemudian ia memberanikan diri mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Barulah Thalia menyadari bahwa tempat tersebut jauh lebih besar daripada yang sempat dilihatnya saat pertama kali membuka mata. Sebuah gudang tua. Thalia tidak tahu di mana dirinya berada, tetapi tempat itu terlihat seperti bangunan terbengkalai yang sudah lama tidak digunakan. Yang m

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   26. Interogasi Berdarah

    "Menurut kalian, berapa lama lagi sampai wanita itu sadar?" Marco, pria yang memegang senjata tadi, meletakkan bidak catur di atas papan sambil melirik Victor yang berdiri tidak jauh dari meja. "Entahlah. Tapi kalau dia terus tidur seperti ini, bisa-bisa kita menunggu sampai malam," jawab Victor sambil menyandarkan punggung ke dinding. Kael terkekeh kecil dari kursi di seberang Marco. "Kalau begitu, mungkin kita seharusnya membangunkannya." Suara percakapan mereka perlahan menembus kesadaran Thalia. Kepalanya terasa berat. Dia berusaha menggerakkan tubuh, tetapi sesuatu menahan kedua tangannya. Dengan susah payah, Thalia membuka mata dan mendapati dirinya duduk di sebuah kursi tua. Kedua pergelangan tangannya terikat, begitu pula kedua kakinya, sementara lakban menutupi mulutnya. Thalia membelalak. Dia segera meronta, berusaha melepaskan ikatan yang menahan tubuhnya. Namun, kursi itu hanya bergeser sedikit di atas lantai beton. "Mmm! Mmm!" Suara teredam keluar dari balik lakb

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   25. Penculikan di Siang Bolong

    "Diam dan ikut kami!" perintah salah satu pria dengan suara berat. Thalia membelalak tidak percaya. "Apa maksud kalian?! Aku bahkan tidak mengenal kalian!" bentak Thalia sambil berusaha bangkit dari kursi. Cengkeraman di bahunya justru semakin kuat. Salah satu dari dua pria itu menariknya menjauh dari meja, membuat tas Thalia terjatuh ke lantai. "Pak, Anda tidak bisa membawa pengujung pergi begitu saja!" seru seorang pelayan yang bergegas mendekat. "Lepaskan nona itu!" Seorang petugas keamanan restoran turut menghampiri mereka. "Mohon lepaskan Nona ini dan jelaskan apa yang sedang terjadi," tegurnya sambil berdiri di antara meja-meja. Pria ketiga yang sejak tadi tidak menyentuh Thalia mendadak mengeluarkan pistol. "Jangan ikut campur," ucapnya dingin. Thalia sempat mengernyit, tidak langsung memahami benda yang diarahkan pria itu. Namun, sebelum siapa pun sempat bereaksi, suara tembakan memekakkan telinga memecah suasana. DOR! Peluru tersebut menembus tepat di dahi pelayan y

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   24. Kebebasan yang Berujung Petaka

    "Selamat pagi, Nyonya. Tuan Childe sudah berangkat sejak pukul enam tadi." Thalia yang baru keluar dari kamar langsung menoleh kepada pelayan di ujung lorong. Dia melirik jam dinding, lalu tersenyum kecil sambil merapikan rambutnya. "Bagus, berarti hari ini aku bisa kembali menikmati hidup dengan tenang," jawab Thalia dengan nada puas. "Maaf, Nyonya?" "Lupakan. Siapkan sarapan untukku seperti biasa," ujar Thalia sambil melangkah menuju ruang makan. "Oh, satu lagi. Setelah sarapan, aku ingin beristirahat di kamar. Jangan ganggu aku sebelum makan siang." Pelayan itu mengangguk patuh. "Baik, Nyonya." Thalia menghabiskan sarapannya seperti biasa. Dia bahkan sempat berbincang dengan pelayan lain agar tidak ada yang curiga ketika dirinya kembali ke kamar. Begitu pintu tertutup, senyum di wajahnya menghilang. Dia segera mengambil tas, ponsel, dan beberapa barang penting sebelum memeriksa keadaan melalui jendela. "Baiklah, Thalia. Kau pasti bisa melakukannya!" ucap Thalia sambil menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status