Share

Pergi....

Sesampainya di bandara, aku berlari sekencang mungkin mencari Kevin kesana kemari berharap pesawat Kevin belum take off, tapi nyatanya aku tak menemukan Kevin. Aku pun berlari menuju pusat informasi untuk bertanya namun harapanku untuk bertemu dengan Kevin pupus. Pesawat yang ditumpangi oleh Kevin sudah take off sejak 10 menit yang lalu. Aku pun terduduk lemas dilantai, "Kenapa Vin, kenapa kamu tinggalin aku gitu aja tanpa pamit." gumamku sambil menangis.

Aku pun pulang ke rumah dengan tak bersemangat, "Sayang, kamu kenapa?" tanya mamah padaku namun aku hanya diam dan terus berjalan menuju kamarku. Ku buka Handphonku berharap ada pesan dari Kevin sebelum dia pergi. Namun nihil, kuhela napasku dengan panjang kemudian aku mulai menangis terisak.

Entah berapa lama aku menangis sampai akhirnya aku pun tertidur karena lelah terlalu lama menangis, tak terasa hari sudah sore dan terdengar ketukan pintu kamarku.

Tok tok tok

"Ri, sayang. Bangun nak sudah sore." terdengar suara mamahku.

"Mamah masuk ya Ri" masuklah mamah ke dalam kamarku.

"Kamu kenapa sayang?" tanaya mamah dengan lembut sambil membelai rambutku

"Mah, Kevin pergi mah. Kevin pergi tanpa pamit sama Riri." ucapku lirih sambil menahan tangis.

Mamah memeluku dan mengusap pelan punggungku, "Sabar sayang, Kevin pergi pasti karena ada alasannya Ri. Dan dia pasti kembali lagi." ucap mamah menenangkanku.

"Setahu mamah, Kevin kesana karena Oma'nya sedang sakit sayang dan disana hanya tinggal sendirian." sambung mamah sambil tersenyum lembut.

"Kenapa mamah bisa tahu, kalau Oma'nya Kevin sakit?" tanyaku

"Karena Kevin semalam kesini, ketemu sama mamah waktu kamu sudah tertidur nak. Dan dia menitipkan ini untuk kamu." ujar mamah memberikan sapucuk surat ini.

"Kalo begitu mamah keluar dulu ya, jangan menangis lagi oke." ucap mamah.

Aku mengangguk, setelah mamah Amira keluar dari kamar kuseka air mataku dan kubaca surat dari Kevin.

Sarasku, tersayang

Mungkin ketika kamu baca surat ini aku sudah pergi dari Indo Ras, maafin aku yang tak memberitahumu secara langsung.  Karena aku takut tak mampu melihat kau menangis Ras. Tapi percayalah Ras bahwa aku akan kembali kepadamu segera mungkin, aku ingin suatu hari nanti hubungan kita bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Aku sangat menantikan itu, tunggu aku kembali ya sayang.

Salam sayang dari Kevin Pratama

Seketika air mataku luruh kembali, "Aku akan menunggumu Vin."ucapku lirih.

Waktu terus berjalan hingga beberapa bulan berlalu hingga tak terasa sudah setahun, ku lalui hari hariku dengan menyibukan diri guna melupakan kepergian Kevin sejenak. Tak pernah ada kabar darinya, seolah dia hilang ditelan bumi, namun aku masih setia menunggu. Menunggu kepulangannya yang tak pasti.

flashback off

Malam semakin larut, waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Namun agaknya Riri belum juga mengantuk, akhirnya Riri memutuskan untuk mengambil wudhu kemudian sholat tahajut berharap untuk kedamaian hatinya. Selepas sholat Rori kembali mencoba untuk memejamkan matanya sambil memeluk mas Rian sang suami sampai terlelap masuk ke alam mimpi.

Pagi harinya, Riri bangun kesiangan karena semalam tak bisa tidur. Hingga ia terburu buru mandi kemudian berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. "Mas, maaf aku kesiangan jadi tidak sempat membuat sarapan untuk kamu. Ini juga aku buru buru karena hampir telat." ucap Riri pada suaminya.

"Tidak apa sayang, kamu nggak sarapan roti dulu?" tanya mas Rian.

"Tidak mas, aku sudah hampir telat. Nanti biar aku sarapan dikantor saja, aku pamit ya." jawabku sambil mencium tangan suamiku

"Iya , hati hati sayang. Jangan ngebut." teriak mas Rian.

Selepas Riri barangkat, ibu mertua muncul dari arah kamarnya menghampiri meja makan. "Kok nggak ada makanan, Riri nggak masak Yan?" tanya ibu mertua.

"Nggak bu, Riri kesiangan tadi dan buru buru berangkat ke kantor." jawab mas Rian

"Halah, bilang aja malas bangun pagi mas." terdengar suara Silvi yang baru keluar kamar.

"Silvi, sebelum kamu bicara lebih baik kamu liat diri kamu terlebih dahulu." jawab mas Rian dengan tegas.

Mas Rian pun pergi dari rumah entah mau kemana, "Kamu sih Sil, punya mulut tuh dijaga kalo didepan Masmu. Tahu sendiri Masmu begitu menyayangi Riri malah kamu jelek jelekan Riri di depan matanya. Lain kali lebih hati hati lagi." ucap bu Dara.

"Iya bu, maaf. Terus sekarang kita sarapan apa bu kan tadi Riri nggak masak. Silvi sudah lapar bu." rengek Silvi

"Kamu ini bisanya cuma manja, ya sudah sana kamu beli bubur ayam saja di depan komplek." jawab bu Dara

"Minta uang." rengek Silvi

"Lho bukannya kemarin kamu dikasih uang sama Riri 5juta, masak sudah habis. Nggak mungkin kamu beneran buat bayar uang kuliah kan?" mata bu Dara memicing.

"He he, sudah habis buat shoping bu. Kan kemarin juga Silvi bagi sama ibu." kata Silvi

"Astaga, ini anak. Ya sudah ini buat beli bubur ayamnya." ibu Dara mengeluarkan uang 50 ribu rupiah.

Silvi pun bergegas pergi untuk membeli bubur ayam 3 porsi, untuk dirinya, ibu dan juga kakaknya. "Lumayan kembaliannya bisa buat beli kuota." gumam Silvi.

Hari semakin sore dan sebentar lagi sudah waktunya jam pulang kantor, aku segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum pulang. Begitu sampai di rumah kudapati keadaan rumah yang kacau sampah dimana mana, piring kotor belum dicuci, bahkan cucian kotorpun menumpuk. "Astaga." gumamku sambil memijit pangkal hidungku.

Segera aku taruh tasku dan ku ambil sapu, kubersihkan seluruh rumah dan ku cuci piring. Biarlah pakaian kotor itu besok saja karena aku sudah terlalu capek. Capek dikantor dan juga dirumah.

"Sebenarnya kemana para penghuni rumah ini, mengapa rumah kotor sekali." gumamku lirih. Setelah semuanya selesai aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu supaya merasa lebih segar. Kemudian aku merebahkan diri dikasur karena terlalu merasa penat.

Aku terbangun kaget karena mendengar ketukan dipintu kamarku, lebih tepatnya sebuah gedoran. Ternyata aku ketiduran mungkin karena terlalu lelah sehingga tak terasa aku tertidur.

Tok tok tok

"Ri, bangun Ri sudah malam. Riri!" teriak ibu mertua

"Iya bu, maaf aku tadi ketiduran setelah mandi." ucapku

"Kamu masak sana untuk makan malam semuanya, jangan enak enakan tidur." ucap ibu mertua dengan ketus dan pergi dari kamarku

"Astaga." seketika ku hela nafasku panjang, padahal aku pulang kantor sudah membersihkan semuanya tapi aku masih dibilang hanya enak enakan tidur saja.Walau begitu aku tetap berjalan ke arah dapur untuk memasak namun ketika aku melewati ruang tamu kulirik ada Silvi yang enak enakan sedang nonton tv sambil memainkan hp dengan ongkang ongkang kaki.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status