Share

20 Masalah Kembali

Author: Lusiana
last update Last Updated: 2025-11-22 15:42:23
Paket-paket itu sudah aku tata rapi di jok motor. Aku menghela napas pelan, memastikan semuanya aman, lalu menggenggam tangan kecil Arka sambil menuntunnya keluar rumah. Ku pakaikan helm di kepalanya, lalu aku pakaikan juga jaket tebal agar tubuh mungilnya tidak kedinginan.

Hari ini aku membawa motor sendiri. Sebenarnya aku bisa saja memesan Grab, tapi ongkosnya akan jauh lebih besar. Dengan semua kebutuhan Arka, aku harus pandai-pandai menghemat. Motor tua ini memang sering ngadat, tapi setidaknya masih bisa membawaku dan Arka ke mana pun kami harus pergi.

Arka duduk di depan, kedua tangannya memegang erat bagian tengah motor. Ia terlihat bersemangat seperti biasa, menyenandungkan lagu kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala mengikuti irama yang hanya ia sendiri yang tahu.

“Siap jalan, Nak?” tanyaku.

“Siap, Ibu!” jawabnya riang.

“Arka pegangan yang kuat, ya. Hari ini Arka ikut Ibu kerja seperti biasa. Nanti pulangnya kita mampir beli mainan.”

Mata Arka langsung berbinar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Penuh Luka   104.Bom Waktu

    Setelah kepergian Aisyah malam itu, rumah terasa jauh lebih lengang. Tak ada lagi suara langkahnya yang biasanya terdengar pelan di lorong, tak ada napas berat yang sering ia sembunyikan saat menahan tangis. Bu Indah pun tak berlama-lama. Perempuan itu memilih pulang ke rumahnya sendiri, membawa kepuasan yang bahkan tak ia sembunyikan dari sorot matanya. Pintu tertutup. Sunyi. Aku berdiri beberapa detik di tengah kamar, memastikan tak ada siapa pun yang tersisa selain diriku. Lalu perlahan senyum itu muncul senyum yang sejak tadi kutahan. Aku melangkah ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhku dengan santai, seolah beban besar akhirnya terangkat dari pundakku. “Pada akhirnya hari yang kutunggu benar-benar tiba,” gumamku pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. Mataku menatap langit-langit kamar, pikiranku berkelana ke satu nama yang terus berputar di kepala. Bara. “Aku sudah menjadi nyonya Bara seutuhnya,” lanjutku dalam hati. “Walaupun Bara dan Aisyah belum resmi berc

  • Pernikahan Penuh Luka   103.Konfrontasi Dengan Ibu Mertua

    **** Aku tidak pernah berniat kembali ke rumah itu. Bahkan melintas di depan gerbangnya saja membuat dadaku sesak. Tapi hidup kadang memaksa kita menghadapi sesuatu yang paling ingin kita hindari. Pagi itu, ponselku bergetar saat aku sedang menidurkan Arka. Nama Ibu Indah ibu Bara muncul di layar. Jantungku langsung berdegup tak beraturan. Aku menatap layar itu lama. Ragu. Takut. Tapi pada akhirnya, aku mengangkat panggilan itu. “Aisyah,” suara beliau terdengar dingin, tanpa basa-basi. “Kamu di mana?” Aku menelan ludah. “Saya… di tempat aman, Bu.” “Datang ke rumah sekarang,” katanya tegas. “Kita harus bicara.” Nada itu bukan permintaan. Perintah. Aku menarik napas dalam. “Baik, Bu.” Telepon terputus. Tanganku gemetar. Aku memeluk Arka erat, mencium keningnya berkali-kali. “Ibu harus kuat, Nak,” bisikku. “Apa pun yang terjadi.” Beberapa jam kemudian, aku berdiri di depan rumah itu lagi. Rumah yang sama, tapi perasaanku sudah berbeda. Tidak ada lagi harapan. Ti

  • Pernikahan Penuh Luka   102.Euforia Kemenangan

    **** Aku terbangun dengan perasaan yang… ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku membuka mata tanpa rasa terancam. Tanpa bayangan Aisyah yang mondar-mandir di rumah ini dengan wajah sabar tapi menyebalkan itu. Tanpa suara langkahnya di dapur. Tanpa tatapan matanya yang selalu membuatku merasa seperti orang ketiga padahal kini, akulah pusat segalanya. Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku yang sudah membesar. “Kita menang,” bisikku pelan. “Akhirnya.” Aku bangkit perlahan dari ranjang, memastikan gerakanku terlihat hati-hati. Aku tahu Bara selalu memperhatikan hal itu. Semakin aku terlihat lemah dan rapuh, semakin ia merasa bertanggung jawab dan semakin jauh Aisyah tersingkir. Aku melangkah keluar kamar dan berhenti sejenak di lorong. Sunyi. Rumah ini terasa berbeda. Lebih luas. Lebih lega. Seperti sebuah panggung yang akhirnya hanya menyisakan satu pemeran utama. Aku berjalan ke dapur. Tak ada Aisyah. Tak ada suara wajan. Tak ada aroma masakan sederhana yan

  • Pernikahan Penuh Luka   101.Setelah Aisyah Pergi

    **** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki

  • Pernikahan Penuh Luka   100.Bertemu Dokter Aldi

    Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aku melangkah keluar dari rumah yang pernah kusebut sebagai tempat pulang. Pintu besar itu tertutup di belakangku tanpa suara, tapi dentumannya terasa keras di dadaku. Seolah bukan pintu yang menutup, melainkan seluruh hidupku yang runtuh dalam satu tarikan napas. Tangis Arka masih terdengar pelan di dadaku. Aku mengeratkan pelukan, membungkus tubuh kecilnya dengan jaketku sendiri. Angin malam menusuk kulit, tapi tak sedingin perlakuan yang baru saja kuterima. “Sudah, Nak… Ibu di sini,” bisikku sambil terus berjalan menuruni anak tangga. “Mama nggak akan ninggalin kamu.” Lampu teras masih menyala terang. Ironis. Rumah itu terang, hangat, dan penuh kehidupan tapi tidak lagi untukku. Aku berhenti sejenak di halaman, menoleh ke belakang. Jendela ruang keluarga masih terbuka sedikit. Bayangan Bara dan Bela tampak samar di balik tirai. Mereka masih di sana. Bersama. Tanpa aku. Dadaku sesak. “Mas…” gumamku lirih, meski tahu ia takka

  • Pernikahan Penuh Luka   99.Pergi

    “Duduk.” Satu kata itu meluncur dingin dari mulut Bara, tanpa emosi, tanpa ragu. Seolah aku bukan lagi istrinya, melainkan orang asing yang tak pantas berdiri di hadapannya. Tubuhku terhempas ke sofa ruang keluarga. Lututku terasa lemas, jantungku berdegup tak beraturan. Arka masih dalam gendonganku, tubuh kecilnya gemetar, tangisnya tak kunjung reda sejak tadi. Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan, berusaha menenangkan, meski hatiku sendiri sedang porak-poranda. Di seberang sofa, Bela sudah duduk lebih dulu. Kedua tangannya memegangi perutnya yang kini membesar, wajahnya pucat atau setidaknya terlihat pucat dengan tatapan sendu yang dibuat-buat. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Bara dengan mata berkaca-kaca. “Mas, kamu jangan kasar-kasar,” ucapnya lembut, nadanya penuh kepura-puraan. “Kasihan Aisyah…” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan Bara. Aku menunduk, jemariku mencengkeram kain gendongan Arka. Kasihan? Dari semua yang terjadi, dari semua luk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status