เข้าสู่ระบบRafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.
Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil. Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya rencana dari keluarga saya. Bukan berarti itu fakta. Dan saya menolak akan rencana itu,” ucap Rafan dengan jelasnya. “Ouh, oke oke, berarti saya salah paham ya,” ucap Aya menutup mulutnya. Hal itu membuat Rafan semakin kesal. “Waduh, sudah dong, kalian ini bahas apaan sih. Maaf ya ustadzah Aya,” ucap Rido dengan ramah. Lalu Aya meninggalkan mereka. Dan melewati Fiza yang berada di sebelah lemari berkas. Tatapan kesal begitu terpancar di wajah Aya ketika melewati Fiza di depannya. Fiza lalu kembali menatap ke arah Rafan. Sedari tadi dia mendengar semua perbincangan mereka. Dan tiba-tiba Rafan mendekati Fiza. “Kita harus segera bicara!” ajak Rafan. Fiza mengangguk dalam. Mereka berada di sudut ruangan. Melakukan perbincangan yang sepertinya serius. Rido hanya mengawasi mereka dari jarak cukup jauh. “Saya tidak ingin masalahnya semakin kemana-mana. Saya jelas menolak perjodohan ini dari awal. Dan saya harap kamu juga melakukan hal yang sama. Kamu tidak mau kan saya nikahi secara terpaksa?!” cecar Rafan dengan nafas memburu. Fiza menunduk dengan lesu. “Kalau itu permintaan ustadz Rafan, saya akan lakukan,” lirih Fiza. “Pernikahan itu sakral, bukan hanya tentang persetujuan keluarga. Karena yang akan menjalani pernikahan itu kita. Saya gak mau kalau pernikahan itu karena keterpaksaan. Toh kamu juga sudah tau, kalau saya sudah punya calon,” ungkap Rafan sambil membenarkan kerah kemejanya. “Ustadzah Aya?” tanya Fiza dengan tatapan penuh tanya. “Siapapun itu, sepertinya bukan urusan kamu. Yang penting masalah kita selesai dan saya tidak mau ada keterikatan kembali,” ucap Rafan akhirnya. “Tapi ustadz, saya masih ragu. Saya takut mengecewakan Abah Hamzah. Saya tidak mau menjadi anak yang menentang keinginan orang tua,” balas Fiza. Dia nampak cemas dengan keputusannya saat itu. Bugh!! Rafan nampak tak bisa menahan amarahnya. Dia memukul tembok di sampingnya sampai membuat Fiza dan Ridho terkejut. “Intinya saya gak mau nikah sama kamu. Saya gak mau dijodohin, kurang jelas apa hah?!” gertak Rafan dengan nafas terpenggal. Matanya memerah. Air mata Fiza langsung membasahi wajahnya. Dia merintih ketakutan. Ridho langsung menghampiri mereka berdua. “Fan, udah- udah. Ini sudah kelewatan, kamu bikin anak orang nangis,” ungkap Ridho menjauhkan Rafan dari Fiza. “Dia dulu yang mulai. Dia egois, cuma mentingin dirinya sendiri,” sindir Refan menunjuk Fiza. Fiza menghela nafas. Dia menghapus air matanya pelan. “Maaf kalau saya egois menurut ustadz. Tapi saya akan berusaha untuk membatalkan perjodohan ini, sesuai keinginan ustadz,” lirih Fiza. Dia langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Rafan memegangi kepalanya yang sepertinya mau pecah. Tatapnya masih terlihat kesal dan penuh amarah. *** Malam ini rintik hujan mulai turun. Membasahi rumah mewah milik keluarga kakek Ali. Rumah yang seharusnya berisi ketentraman dan kedamaian. “Kakek dimana Ma?” tanya Rafan. Malam ini dia dihubungi untuk segera pulang. “Dalam kamar,” jawab Risma- Mama dari Rafan. Setelah menyalami sang mama. Rafan langsung menuju ke kamar kakek Ali. “Kek,” panggil Rafan. “Katanya kamu membatalkan perjodohan dengan cucu Bayu,” ucap kakek Ali yang terbaring lemah di ranjang besarnya. Rafan mengangguk pelan. Tatapan penuh kecewa terlihat dari raut wajah kakek Ali. “Kamu menang suka melihat kakek terbaring sakit seperti ini, Rafan,” ucap kakek Ali dengan terbatuk-batuk. “Nggak kek, aku gak ada niatan seperti itu,” balas Rafan. Dia duduk di sebelah kakek Ali. Mengusap tangan kakek Ali dan menciumnya. “Kalau kamu memang mau kakek kembali sehat, kamu harus segera menikahi cucu Bayu. Secepatnya!” pinta kakek Ali. Rafan terdiam seketika. Tatapannya kosong. Setelah mendengar kabar sang kakek pingsan karena penyakitnya kambuh. Rafan langsung menuju ke kediamannya. Melihat tubuh sang kakek yang melemah. Ada penyesalan dalam dirinya. Tapi dia juga tidak bisa melakukan keinginan kakeknya. Rafan paling tidak bisa mendengar kata perjodohan. Uhuk uhuk … “Keinginan kakek cuma sederhana, Rafan. Kakek mau kamu itu mendapat pasangan yang baik dan setara dengan keluarga kita. Kamu tidak usah ragu, Fiza itu sudah terbaik buat kamu, menurut kakek,” ucap kakek Ali melemah. Wajahnya sangat pucat. “Kek, tapi Rafan masih ingin menambah pengalaman lagi. Rafan merasa masih terlalu muda untuk menjalin hubungan yang lebih serius,” tolak Rafan kembali. Namun dengan ucapan yang penuh kehati-hatian. “Mau mencari apa lagi kamu? Mau menikah kalau kakek sudah tidak ada, begitu? Kakek ingin melihat kamu mempunyai rumah tangga yang sempurna. Kakek ingin melihat kamu sebagai sosok pemimpin keluarga. Itu keinginan sederhana kakek. Kakek mohon kamu ikuti, hanya itu!” ucap kakek Ali dengan tegas. Rafan terlihat tak berdaya dibuatnya. Tak diberi kesempatan untuk berbicara banyak. “Kakek mau kamu menikah besok, gak ada penolakan!” imbuh kakek Ali lagi. Rafan terduduk lemah. Sementara keadaan kakek Ali semakin memburuk. Lalu dokter keluarga pun datang memberi pertolongan kepada kakek Ali. *** “Sah!” ucap serempak kedua keluarga yang menghadiri acara pernikahan Rafan dan Fiza. Mereka jadi menikah keesokan harinya. Terlihat kedua keluarga mereka sangat kompak. Melaksanakan acara tertutup khusus untuk keluarga saja. Acara sederhana namun begitu sakral. Kakek Ali dan pak Hamzah terlihat berpelukan erat. “Akhirnya aku bisa menepati janjiku pada Bayu, aku senang sekali, Hamzah,” ungkap Kakek Ali . “Iya pak, pasti Papa Bayu disana senang melihat pernikahan kedua cucunya ini,” ucap Hamzah sambil mengelus pundak kakek Ali. Rafan termenung meratapi kejadian yang sudah terjadi. Kopiahnya dia lepas menyisakan rambutnya yang berantakan. Dia termenung di sudut rumah besar itu. Sementara Fiza tampak cantik dengan make up yang tidak terlalu tebal. Namun wajahnya terpancar aura pengantin yang begitu kuat. Senyuman manisnya menampilkan menjaga di wajahnya. “Aku cuma mau pernikahan ini menjadi rahasia. Aku tidak ingin siapapun tau tentang pernikahan ini, apalagi orang-orang di pesantren As Salam,” ungkap Rafan pada semua keluarga yang telah hadir. “Iya Rafan, kami memahami kondisi kamu. Sesuai kesepakatan kita tadi malam. Yang terpenting kalian sudah terikat dan ini membuat keluarga kita berdua semakin erat,” ungkap Hamzah tersenyum ramah pada sang menantu satu-satunya itu. Setelah acara selesai semua anggota keluarga kembali. Rafan dan Fiza menuju kamar yang telah disiapkan. “Mas,” ucap Fiza hendak mencium tangan Rafan. Rafan segera menjauhkan tangannya dari Fiza. “Pernikahan ini rahasia, Fiza. Maka jangan pernah anggap saya sebagai pasanganmu. Sebab pernikahan ini atas dasar persetujuan kedua keluarga, kecuali saya!” ungkit Rafan dengan tatapan tajam. Seketika air mata Fiza mengalir deras membasahi wajahnya yang masih penuh make up. Dada Fiza berdetak kencang dan semakin membuatnya sakit. “Maaf!” lirih Fiza. Dia berlari ke kamar mandi.Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya. Mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam selimut.Malam itu adalah malam tersakit baginya. Malam yang seharusnya penuh dengan bahagia. Namun bagi Fiza menjadi malam paling menyedihkan.“Saya mau ngomong serius. Kamu bisa bangun dulu,” pinta Rafan.Fiza mencoba menghapus jejak air matanya. Lalu membuka selimutnya. Terlihat Rafan duduk di meja belajar miliknya.“Maaf kalau ucapan saya tadi menyakitkan. Tapi saya juga tidak mau memaksakan perasaan. Tak ada yang tau takdir selanjutnya, tapi saya pengen untuk sekarang kita fokus pada kegiatan kita masing-masing. Sebentar lagi kamu juga kuliah kan?” tanya Rafan memastikan.Fiza m
Rafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil.Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya rencana dari keluarga saya. Bukan berarti itu fakta. Dan saya menolak akan rencana itu,” ucap Rafan dengan jelasnya.“Ouh, oke oke, berarti saya salah paham ya,” ucap Aya menutup mulutnya. Hal itu membuat Rafan semakin kesal.“Waduh, sudah dong, kalian ini bahas apaan sih. Maaf ya ustadzah Aya,” ucap Rido dengan ramah.Lalu Aya meninggalkan mereka. Dan melewati Fiza yang berada di sebelah lemari berkas. Tatapan kesal begitu terpancar di wajah Aya ketika melewati Fiza di depannya.Fiza lalu kembali menatap ke arah Rafan. Sedari tadi dia mendengar semua perbincangan mereka. Dan tiba-tiba Rafan mendekati Fiza.“Kita harus segera bicara!” ajak Rafan. Fiza mengangguk dalam.Mereka berada di sudut
“Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya.“Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam.Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya.“Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya.“Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah.Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing.“Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu.Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya.“Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi tem
Rafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan.Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran. Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri.“Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya.Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya.Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan ya
Plak!Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya.“Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas.“Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah.Plakk!!Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu.Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya.“Nak, ik







