Home / Romansa / Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan / 3. Saya sudah punya calon!

Share

3. Saya sudah punya calon!

Author: El Alfun27
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-02 21:41:36

“Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.

“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya.

“Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam.

Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya.

“Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya.

“Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah.

Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing.

“Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu.

Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya.

“Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi teman,” sahut Aya tersenyum riang pada Rafan.

“Hah?” tanya Rafan saat melihat uluran tangan dari Balqis.

“Kita bisa berkenalan. Cara orang disini berkenalan seperti ini kan?” tanya Aya melihat ke arah uluran tangan kanannya.

“Maksudnya gimana?” tanya Rafan kembali. Dia sungguh tak paham dengan permintaan Aya.

“Ouh iya, ini di pesantren ya,” ujar Aya kembali menarik uluran tangannya.

“Ya meskipun diluar pesantren juga tidak boleh untuk dua orang yang belum mahrom untuk bersentuhan,” jawab Rafan dengan nada ketus. Dia sepertinya terlihat sedikit kesal didengar dari nada bicaranya.

“Ouh iya ya, maaf-maaf, aku lupa beneran. Aduh, gimana sih,” lirih Aya sambil memukul pelan kepalanya.

Rafan melirik perempuan di hadapannya dengan ekspresi lain. Tatapannya sedikit sinis dan penuh selidik. “Yakin lulusan terbaik?” tanya Rafan sambil bersedekap dada.

“Loh, kok ragu sih!” ujar Aya dengan raut khawatir.

Disekitaran itu banyak sekali para pengajar dan bagian pengurus yang berlalu lalang. Mereka tak benar-benar berdua. Tiba-tiba ada seseorang melewati mereka berdua.

Rafan menoleh. Tatapan Rafan kembali beradu dengan sosok yang akhir-akhir ini sering dia temui.

“Maaf ustadzah Aya, saya disuruh untuk memanggil ustadzah oleh Bu nyai Hamdan,” ucap Fiza dengan patuh di hadapan Aya.

“Oke, saya akan kesana. Ya sudah ustadz Rafan, kita lanjut nanti ya,” ungkap Aya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rafan.

Fiza dapat melihat reaksi mereka dengan jelas. Aya meninggalkan tempat itu. Sementara Fiza masih terdiam disana. Rafan pun juga masih terdiam disana.

“Ustadz menyukai ustadzah Aya?” tanya Fiza dengan suara lirih. Dia terus menunduk tak berani menatap Rafan.

Rafan tetap bersedekap dada. “Kalau iya kenapa, kalau enggak juga kenapa?” tanya balik Rafan. Dia tetap membelakangi Fiza.

“Kalau iya, mungkin kita bisa bicarakan bersama Abah dan kakek Ali, kalau ustadz sudah memiliki calon. Kalau nggak, eeem, mungkin ustadz bisa jaga hati,” ungkap Fiza dengan nada yang sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh Rafan.

Alis Rafan naik sebelah. Dia berubah menghadap Fiza. “Dari ucapan kamu, kamu sepertinya sangat menyetujui perjodohan kita. Namun juga bukan yang memaksa jika saya sudah ada perempuan lain,” cecar Rafan memastikan analisanya.

Fiza mengangguk pelan. “Benar ustadz, saya tidak ingin menjadi penghalang ustadz dengan orang yang ustadz sukai. Tapi kalau emang kita dijodohkan, ya saya bisa menerimanya,” ucap Fiza dengan yakin. Perempuan itu terlihat sangat grogi.

“Saya sudah punya calon,” ucap Rafan.

Satu kalimat untuk empat kata. Fiza langsung mengangkat wajahnya. Melihat sosok lelaki di depannya. Ekspresi perempuan itu susah untuk ditebak.

“I- iya ustadz, kalau begitu saya pergi dulu,” lirih Fidza dengan nada gemetar. Lalu dia segera meninggalkan Rafan dengan setengah berlari.

Rafan hanya terdiam. Mencoba mencerna dengan kejadian yang baru terjadi. Setelah menghadapi kedua perempuan yang begitu berbeda.

***

Fiza mencoba menelan bubur di hadapannya. Namun terasa begitu pahit. Kembali dia memuntahkan bubur yang baru saja memenuhi mulutnya.

“Aduhh, kok pahit banget ya!” keluh Fiza sambil mengambil segelas air lalu meneguknya.

Lalu dia mengambil beberapa jenis obat dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. “Dan kenapa rasa obat ini malah hambar, gak ada pahit sedikitpun,” ujar Fiza kembali.

Wajah Fiza begitu sembab. Sangat ketara kalau dia habis dari nangis berkepanjangan.

“Udah diminum obatnya?” tanya seorang perempuan yang baru saja memasuki kamar berukuran sedang itu.

Fiza mengangguk dengan lesu. “Udah kok, Ghea,” sahut Fiza. Tatapannya seakan kosong.

“Udah ah jangan galau terus. Mungkin emang belum jodohnya aja,” ujar Ghea mengelus bahu sang sahabat karib lalu memeluknya.

Tangisan Fiza semakin menjadi. Air mata itu semakin tak terbendung. Ingin rasanya dia mengeluarkan semua ungkapan dia yang sudah lama ditahannya.

***

Semua pengurus pesantren berkumpul. Baik pengurus santri putra dan santri putri. Terlihat Rafan tengah memimpin jalannya acara.

“Mungkin ada yang ingin memberikan saran untuk kegiatan akhir semester para santri,” tanya Rafan di depan sana.

Ustadzah Aya mengangkat tangan.”Ustadz Rafan, bagaimana kalau kita melangsungkan lomba adu gombal. Kan biasanya santri suka tuh gombal- gombal seperti itu,” ujar Aya dengan santainya.

Semua tampak melirik satu sama lain. Apalagi ekspresi Rafan yang sudah sangat berubah dibuatnya. “Maksudnya gimana itu ustadzah Aya,” tanya kembali Rido.

“Seperti ini ustadz, zaman sekarang kan sudah canggih ya. Semua orang sudah mengenal sosial media, hampir semua orang juga pastinya pegang handphone. Jadi apa salahnya kalau salah satu lomba kita pakai adu gombal. Bisa santri putra atau santri putri begitu,” usul Aya menyampaikan keinginannya.

“Terdengar cukup aneh ya,” sahut Ustadz Rido menggaruk dahinya.

Sementara Rafan sudah menatap tajam kepada Aya. Tangannya bersedekap dada.

“Maaf ustadzah Aya, ini di pesantren bukan sekolah umum. Saran ustadzah tidak bisa saya terima,” ujar Rafan akhirnya.

“Ouh, gapapa namanya juga orang berpendapat. Ya mungkin yang lain punya ide yang bisa diterima oleh ustadz Rafan,” ucap Aya sambil menekan kata terakhirnya. Dia sekilas melirik kesal ke arah Rafan.

Semuanya tampak mengangguk setuju. Namun tiba-tiba ada yang mengangkat tangan lagi dari bangku para perwakilan alumni yang juga diundang.

“Silahkan,” ujar ustadz Rido.

“Saya mau usul. Kita bisa mengadakan kolaborasi classmeet dengan lomba tujuh belasan. Bagaimana kegiatan ini berisi lomba-lomba. Seperti ada lomba cerdas cermat, debat kitab, tapi kita selingi dengan lomba makan kerupuk. Jadi seriusnya dapat, lucunya juga dapat,” ucap Fiza. Dia tampak fasih mengusulkan pendapatnya.

Semuanya bertepuk tangan. “Ini baru usulan yang tepat. Iya kan?” sahut Rido sambil meminta persetujuan yang lain. Semuanya pun mengangguk setuju.

Rafan menatap Fiza dengan tatapan penuh arti. Tajam namun banyak pertanyaan. Fiza kembali menunduk dalam.

“Apa kamu bisa menyediakan semua alatnya?” tanya Rafan kembali.

Semuanya terdiam. Fiza kembali bersuara. “Insya Allah. Bisa ustadz. Lagipula itu kegiatan rutin kita kan, di setiap hari kemerdekaan sama akhir semester ganjil. Mungkin saja setelah ini bisa langsung dibentuk panitia, biar acaranya nanti berjalan lancar,” ujar Fiza dengan yakin.

Rafan mengangguk kecil. “Oke, saya setuju. Bagaimana yang lain?” tanya Rafan.

“Setuju!” ucap yang lain dengan kompak.

Acara pun berlanjut sampai selesai. Para pengurus berangsur pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Aya menghampiri Rafan yang tengah berdua dengan Rido.

“Ustadz Rafan sepertinya pilih kasih ya. Mentang-mentang calonnya yang ngasih pendapat, langsung disetujui!” ucap Aya terlihat kesal.

“Hah, Lo udah punya calon, Fan?” tanya Rido tampak terkejut.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   40. Persaingan Kembali

    Fiza terbangun dengan tergesa-gesa. Dia segera menunaikan kewajibannya sholat subuh. Setelah itu dia langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Disana sudah ada mama Risma yang tengah memasak sayur asam dan kepala ikan patin kuah kaldu.“Maaf mama, Fiza bangunnya agak telat,” ucap Fiza segera mengambil beberapa perbawangan.Risma menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, nak. Pasti habis itu ya, makanya kesiangan,” lirih Mama Risma tengah berbisik di sebelah telinga Fiza.Fiza terperanjat dengan matanya yang bulat sempurna. “Maksudnya gimana ya, ma,” ujar Fiza bertanya dengan polos. Meskipun pikirannya sudah kemana-mana.“Haha, kamu pasti paham. Sudah-sudah, ini masakan di tata di ruang makan. Kamu mandi dulu nggih, keramas yang bener!” suruh Risma sambil terus menahan senyumannya. Fiza didorong pelan ke kamar mandi.Fiza hanya menggaruk pipinya. Dia sedikit paham tapi merasa aneh dengan candaan sang mertua itu.Suasana sarapan kali ini berbeda. Rafan tampak fokus dengan sarapannya begitupun

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   39

    Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   38

    Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   37

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   36

    "Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   35

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   7. Berebut perhatian

    Fiza berhasil ditenangkan oleh ustadzah Halimah. Sementara Rafan kembali ke asrama putra. Kepalanya terasa berat setelah seharian mengurus masalah yang rumit menurutnya.“Minum bro!” ucap Ridho memberi segelas kopi hitam pada Rafan.Tak ada sepatah kata apapun. Rafan langsung meneguk kopi hitam itu

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   6. Kegagalan Fiza

    Kehidupan Fiza berubah seratus persen. Yang kemarennya dia hanyalah santriwati biasa. Sekarang dia sudah menjadi istri dari seorang ustadz di pesantren tempat dia menimba ilmu.“Terkadang, jodoh itu datangnya tiba-tiba. Ada yang lewat perkenalan lama, perjodohan, atau bahkan ketidaksengajaan. Tapi,

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   5. Merahasiakan pernikahan

    Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya.

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   4. Jadi menikah?

    Rafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil.Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya r

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status