เข้าสู่ระบบ“Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.
“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya. “Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam. Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya. “Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya. “Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah. Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing. “Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu. Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya. “Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi teman,” sahut Aya tersenyum riang pada Rafan. “Hah?” tanya Rafan saat melihat uluran tangan dari Balqis. “Kita bisa berkenalan. Cara orang disini berkenalan seperti ini kan?” tanya Aya melihat ke arah uluran tangan kanannya. “Maksudnya gimana?” tanya Rafan kembali. Dia sungguh tak paham dengan permintaan Aya. “Ouh iya, ini di pesantren ya,” ujar Aya kembali menarik uluran tangannya. “Ya meskipun diluar pesantren juga tidak boleh untuk dua orang yang belum mahrom untuk bersentuhan,” jawab Rafan dengan nada ketus. Dia sepertinya terlihat sedikit kesal didengar dari nada bicaranya. “Ouh iya ya, maaf-maaf, aku lupa beneran. Aduh, gimana sih,” lirih Aya sambil memukul pelan kepalanya. Rafan melirik perempuan di hadapannya dengan ekspresi lain. Tatapannya sedikit sinis dan penuh selidik. “Yakin lulusan terbaik?” tanya Rafan sambil bersedekap dada. “Loh, kok ragu sih!” ujar Aya dengan raut khawatir. Disekitaran itu banyak sekali para pengajar dan bagian pengurus yang berlalu lalang. Mereka tak benar-benar berdua. Tiba-tiba ada seseorang melewati mereka berdua. Rafan menoleh. Tatapan Rafan kembali beradu dengan sosok yang akhir-akhir ini sering dia temui. “Maaf ustadzah Aya, saya disuruh untuk memanggil ustadzah oleh Bu nyai Hamdan,” ucap Fiza dengan patuh di hadapan Aya. “Oke, saya akan kesana. Ya sudah ustadz Rafan, kita lanjut nanti ya,” ungkap Aya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rafan. Fiza dapat melihat reaksi mereka dengan jelas. Aya meninggalkan tempat itu. Sementara Fiza masih terdiam disana. Rafan pun juga masih terdiam disana. “Ustadz menyukai ustadzah Aya?” tanya Fiza dengan suara lirih. Dia terus menunduk tak berani menatap Rafan. Rafan tetap bersedekap dada. “Kalau iya kenapa, kalau enggak juga kenapa?” tanya balik Rafan. Dia tetap membelakangi Fiza. “Kalau iya, mungkin kita bisa bicarakan bersama Abah dan kakek Ali, kalau ustadz sudah memiliki calon. Kalau nggak, eeem, mungkin ustadz bisa jaga hati,” ungkap Fiza dengan nada yang sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh Rafan. Alis Rafan naik sebelah. Dia berubah menghadap Fiza. “Dari ucapan kamu, kamu sepertinya sangat menyetujui perjodohan kita. Namun juga bukan yang memaksa jika saya sudah ada perempuan lain,” cecar Rafan memastikan analisanya. Fiza mengangguk pelan. “Benar ustadz, saya tidak ingin menjadi penghalang ustadz dengan orang yang ustadz sukai. Tapi kalau emang kita dijodohkan, ya saya bisa menerimanya,” ucap Fiza dengan yakin. Perempuan itu terlihat sangat grogi. “Saya sudah punya calon,” ucap Rafan. Satu kalimat untuk empat kata. Fiza langsung mengangkat wajahnya. Melihat sosok lelaki di depannya. Ekspresi perempuan itu susah untuk ditebak. “I- iya ustadz, kalau begitu saya pergi dulu,” lirih Fidza dengan nada gemetar. Lalu dia segera meninggalkan Rafan dengan setengah berlari. Rafan hanya terdiam. Mencoba mencerna dengan kejadian yang baru terjadi. Setelah menghadapi kedua perempuan yang begitu berbeda. *** Fiza mencoba menelan bubur di hadapannya. Namun terasa begitu pahit. Kembali dia memuntahkan bubur yang baru saja memenuhi mulutnya. “Aduhh, kok pahit banget ya!” keluh Fiza sambil mengambil segelas air lalu meneguknya. Lalu dia mengambil beberapa jenis obat dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. “Dan kenapa rasa obat ini malah hambar, gak ada pahit sedikitpun,” ujar Fiza kembali. Wajah Fiza begitu sembab. Sangat ketara kalau dia habis dari nangis berkepanjangan. “Udah diminum obatnya?” tanya seorang perempuan yang baru saja memasuki kamar berukuran sedang itu. Fiza mengangguk dengan lesu. “Udah kok, Ghea,” sahut Fiza. Tatapannya seakan kosong. “Udah ah jangan galau terus. Mungkin emang belum jodohnya aja,” ujar Ghea mengelus bahu sang sahabat karib lalu memeluknya. Tangisan Fiza semakin menjadi. Air mata itu semakin tak terbendung. Ingin rasanya dia mengeluarkan semua ungkapan dia yang sudah lama ditahannya. *** Semua pengurus pesantren berkumpul. Baik pengurus santri putra dan santri putri. Terlihat Rafan tengah memimpin jalannya acara. “Mungkin ada yang ingin memberikan saran untuk kegiatan akhir semester para santri,” tanya Rafan di depan sana. Ustadzah Aya mengangkat tangan.”Ustadz Rafan, bagaimana kalau kita melangsungkan lomba adu gombal. Kan biasanya santri suka tuh gombal- gombal seperti itu,” ujar Aya dengan santainya. Semua tampak melirik satu sama lain. Apalagi ekspresi Rafan yang sudah sangat berubah dibuatnya. “Maksudnya gimana itu ustadzah Aya,” tanya kembali Rido. “Seperti ini ustadz, zaman sekarang kan sudah canggih ya. Semua orang sudah mengenal sosial media, hampir semua orang juga pastinya pegang handphone. Jadi apa salahnya kalau salah satu lomba kita pakai adu gombal. Bisa santri putra atau santri putri begitu,” usul Aya menyampaikan keinginannya. “Terdengar cukup aneh ya,” sahut Ustadz Rido menggaruk dahinya. Sementara Rafan sudah menatap tajam kepada Aya. Tangannya bersedekap dada. “Maaf ustadzah Aya, ini di pesantren bukan sekolah umum. Saran ustadzah tidak bisa saya terima,” ujar Rafan akhirnya. “Ouh, gapapa namanya juga orang berpendapat. Ya mungkin yang lain punya ide yang bisa diterima oleh ustadz Rafan,” ucap Aya sambil menekan kata terakhirnya. Dia sekilas melirik kesal ke arah Rafan. Semuanya tampak mengangguk setuju. Namun tiba-tiba ada yang mengangkat tangan lagi dari bangku para perwakilan alumni yang juga diundang. “Silahkan,” ujar ustadz Rido. “Saya mau usul. Kita bisa mengadakan kolaborasi classmeet dengan lomba tujuh belasan. Bagaimana kegiatan ini berisi lomba-lomba. Seperti ada lomba cerdas cermat, debat kitab, tapi kita selingi dengan lomba makan kerupuk. Jadi seriusnya dapat, lucunya juga dapat,” ucap Fiza. Dia tampak fasih mengusulkan pendapatnya. Semuanya bertepuk tangan. “Ini baru usulan yang tepat. Iya kan?” sahut Rido sambil meminta persetujuan yang lain. Semuanya pun mengangguk setuju. Rafan menatap Fiza dengan tatapan penuh arti. Tajam namun banyak pertanyaan. Fiza kembali menunduk dalam. “Apa kamu bisa menyediakan semua alatnya?” tanya Rafan kembali. Semuanya terdiam. Fiza kembali bersuara. “Insya Allah. Bisa ustadz. Lagipula itu kegiatan rutin kita kan, di setiap hari kemerdekaan sama akhir semester ganjil. Mungkin saja setelah ini bisa langsung dibentuk panitia, biar acaranya nanti berjalan lancar,” ujar Fiza dengan yakin. Rafan mengangguk kecil. “Oke, saya setuju. Bagaimana yang lain?” tanya Rafan. “Setuju!” ucap yang lain dengan kompak. Acara pun berlanjut sampai selesai. Para pengurus berangsur pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Aya menghampiri Rafan yang tengah berdua dengan Rido. “Ustadz Rafan sepertinya pilih kasih ya. Mentang-mentang calonnya yang ngasih pendapat, langsung disetujui!” ucap Aya terlihat kesal. “Hah, Lo udah punya calon, Fan?” tanya Rido tampak terkejut.Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya. Mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam selimut.Malam itu adalah malam tersakit baginya. Malam yang seharusnya penuh dengan bahagia. Namun bagi Fiza menjadi malam paling menyedihkan.“Saya mau ngomong serius. Kamu bisa bangun dulu,” pinta Rafan.Fiza mencoba menghapus jejak air matanya. Lalu membuka selimutnya. Terlihat Rafan duduk di meja belajar miliknya.“Maaf kalau ucapan saya tadi menyakitkan. Tapi saya juga tidak mau memaksakan perasaan. Tak ada yang tau takdir selanjutnya, tapi saya pengen untuk sekarang kita fokus pada kegiatan kita masing-masing. Sebentar lagi kamu juga kuliah kan?” tanya Rafan memastikan.Fiza m
Rafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil.Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya rencana dari keluarga saya. Bukan berarti itu fakta. Dan saya menolak akan rencana itu,” ucap Rafan dengan jelasnya.“Ouh, oke oke, berarti saya salah paham ya,” ucap Aya menutup mulutnya. Hal itu membuat Rafan semakin kesal.“Waduh, sudah dong, kalian ini bahas apaan sih. Maaf ya ustadzah Aya,” ucap Rido dengan ramah.Lalu Aya meninggalkan mereka. Dan melewati Fiza yang berada di sebelah lemari berkas. Tatapan kesal begitu terpancar di wajah Aya ketika melewati Fiza di depannya.Fiza lalu kembali menatap ke arah Rafan. Sedari tadi dia mendengar semua perbincangan mereka. Dan tiba-tiba Rafan mendekati Fiza.“Kita harus segera bicara!” ajak Rafan. Fiza mengangguk dalam.Mereka berada di sudut
“Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya.“Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam.Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya.“Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya.“Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah.Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing.“Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu.Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya.“Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi tem
Rafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan.Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran. Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri.“Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya.Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya.Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan ya
Plak!Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya.“Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas.“Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah.Plakk!!Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu.Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya.“Nak, ik







