แชร์

5. Merahasiakan pernikahan

ผู้เขียน: El Alfun27
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-02 21:56:56

Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.

Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.

Fiza langsung menuju ke kasurnya. Mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam selimut.

Malam itu adalah malam tersakit baginya. Malam yang seharusnya penuh dengan bahagia. Namun bagi Fiza menjadi malam paling menyedihkan.

“Saya mau ngomong serius. Kamu bisa bangun dulu,” pinta Rafan.

Fiza mencoba menghapus jejak air matanya. Lalu membuka selimutnya. Terlihat Rafan duduk di meja belajar miliknya.

“Maaf kalau ucapan saya tadi menyakitkan. Tapi saya juga tidak mau memaksakan perasaan. Tak ada yang tau takdir selanjutnya, tapi saya pengen untuk sekarang kita fokus pada kegiatan kita masing-masing. Sebentar lagi kamu juga kuliah kan?” tanya Rafan memastikan.

Fiza mengangguk pelan. Dia terus saja menunduk. Mencoba menyembunyikan mata sembabnya.

“Kamu bisa ngomong Fiza. Pendapat kamu gimana,” ungkap Rafan. Dia mencoba mencairkan suasana.

“Saya ikut kata ustadz saja,” lirih Fiza. Dia tak berani melontarkan panggilan seperti tadi.

“Oke. Jadi mulai besok kita akan tinggal di pesantren. Kita fokus dengan kegiatan kita masing-masing. Saya fokus ngajar, kamu fokus dengan kuliah. Jadi jangan sampai ada yang tau tentang pernikahan rahasia kita. Cukup kedua keluarga kita saja,” ucap Rafan dengan yakin. Tatapannya penuh menyelidik pada Fiza.

“Kamu setuju?” tanya Rafan lagi. Sebab Fiza hanya mengangguk kecil.

“Iya ustadz,” jawab Fiza. Lalu perempuan itu kembali menggunakan selimutnya. Dia terlihat sangat kedinginan.

Malam pun semakin larut. Kedua mata Fiza tak dapat tertutup rapat. Air matanya masih setia membasahi wajahnya. Sementara Rafan sudah tertidur di atas sofa sebelah meja belajar Fiza.

Fiza terbangun. Tatapannya menyaksikan sosok laki-laki tampan yang tampak tertidur tenang. “Sayangnya kita hanya ilusi. Perjodohan ini menyakitkan. Rasa ini membuatku sakit, Ustadz Rafan,” lirih Fiza.

Lalu Fiza memilih keluar dari kamarnya. Sementara kedua mata Rafan terbuka. Ternyata laki-laki itu belum tertidur. “Maaf jika membuatmu sakit,” ucap Rafan sambil menatap langit-langit kamar itu.

***

Keesokan harinya, terlihat Rafan tengah membereskan semua barang miliknya. Lalu Rafan mengeluarkan kopernya ke ruang tamu. Terlihat sudah ada kakek Ali dan orang tua Rafan diluar.

“Loh, mau kemana kamu bawa koper?” tanya kakek Ali pada Rafan.

“Mau langsung ke Asrama, Kek. Soalnya besok udah mulai harus ngajar,” ujar Rafan terlihat kesusahan membawa kopernya.

“Fiza gimana?” tanya kembali kakek Ali.

“Dia juga ke asrama kok. Soalnya besok juga udah langsung masuk kuliah,” jawab Rafan. Lalu dia duduk di depan sang kakek.

“Jadi kalian ke asrama barengan atau gimana nak?” tanya Hamzah pada Rafan.

“Nggak, Om. Soalnya takut banyak pertanyaan nanti waktu di asrama. Saya sudah sepakat dengan Fiza untuk merahasiakan pernikahan ini,” ujar Rafan dengan sopan. Tepat dengan keluarnya Fiza dari kamar.

“Sebenarnya pernikahan itu lebih baiknya dikabarkan, Rafan. Tapi kamu memilih untuk merahasiakannya karena alasan perjodohan,” ucap kakek Ali dengan raut wajah sedihnya.

Rafan menghela nafas sebentar. “Sudah kek, berproses kok. Namanya juga perjodohan, butuh pengenalan lebih jauh,” balas Rafan.

Lalu Fiza duduk di sebelah sang papa. “Iya butuh pengenalan lebih dalam lagi. Tapi kalau kalian di pesantren gimana mau pengenalan. Komunikasi kalian bakal terbatas kalau disana,” imbuh kakek Ali lagi sambil berpikir keras dengan permasalahan cucunya.

“Pak, sudah- sudah. Sepertinya Fiza juga tidak masalah dengan hal itu. Kita kasih mereka ruang sejenak dulu. Nanti mereka juga bakal deket kok,” ucap pak Hamzah mencoba menenangkan kakek Ali.

Setelah selesai, Fiza dan Rafan kembali ke pesantren. Dengan mobil yang berbeda. Tak ada yang curiga, karena mereka memang tak berangkat bersama.

Sesampainya di asrama, Rafan langsung menemui ustadzah Halimah untuk membicarakan permasalahan asrama. “Gimana ustadz Rafan, perjodohan kalian berjalan dengan lancar?” tanya Bu nyai Hamdan saat berpapasan dengan Rafan di lorong asrama putri.

Rafan terkejut dengan pertanyaan Bu nyai Hamdan yang tiba-tiba. “Eeh, tidak Bu nyai. Saya mau fokus dengan karir saya terlebih dahulu,” ujar Rafan terlihat gugup.

“Ouh, berarti perjodohannya tidak jadi ya?” tanya kembali Bu nyai Hamdan.

“I- iya Bu nyai, saya ada urusan. Saya duluan Bu nyai,” ucap Rafan terburu-buru. Dia langsung meninggalkan tempat itu.

***

Pagi ini tak ada istimewanya sama sekali. Fiza melangkahkan kakinya ke kelas. Hari ini hari pertama kelas kuliahnya dimulai.

Di dalam kelas sudah ada beberapa orang yang hadir. Fiza memilih kursi paling belakang. Intinya hari ini tak ada semangat yang membuatnya untuk duduk paling depan.

“Selamat pagi semuanya,” ucap seorang laki-laki yang suaranya tak asing di telinga Fiza.

“Loh, bukannya Muhafiza ambil jurusan tata boga. Kenapa di kelas hadis?” tanya Rafan sangat terkejut.

Fiza apalagi, dia sangat terkejut. “Eeh, saya daftar kembali di jurusan hadis, ustadz,” jawab Fiza.

“Ouhh, baiklah. Saya disini sebagai asisten dosen. Karena ustadz Haikal ada keperluan di luar negeri. Jadi untuk beberapa pertemuan, saya yang akan menggantikan terlebih dahulu,” ucap Rafan. Sesekali dia melihat sekilas ke arah Fiza. Fiza langsung menunduk dalam.

Pertemuan pertama kelas hadis sangat lancar. Dimana di hari pertama hanya pengenalan saja. Dan penjelasan dasar tentang materi hadis.

“Ustadz Rafan ganteng banget ya, Za. Udah ganteng, pinter, pokoknya dia tuh sempurna banget tau!” ucap Dini sambil duduk sebelah bangku Fiza. Dini adalah teman kelas Fiza wajtu SMA dan sekarang mereka kuliah di jurusan yang sama.

Fiza menelan ludahnya. “Eeh, gitu ya,” ucap Fiza seadanya. Dia nampak gelisah.

“Iya loh, jadi penasaran siapa sih jodoh ustadz Rafan. Pasti sempurna juga,” imbuh Dini lagi. Perempuan itu tersipu malu sambil memandangi ustadz Rafan dari belakang bangku.

Fiza hanya tersenyum kecil. Melirik Rafan dari kejauhan. Perasaan aneh selalu muncul dalam diri Fiza. Tapi Fiza tak bisa mengutarakannya.

Selesai kelas, mereka semua bubar. Sementara Fiza dipanggil ustadzah Halimah untuk menemuinya.

“Ustadz Rafan itu mampu di banyak bidang. Saya selalu kagum dengan ustadz,” ucap seorang perempuan di dalam ruangan. Fiza menghentikan langkahnya.

“Ustadzah Nadia jangan merendah. Ustadzah itu bagai pelangi, beragam dan memancar,” balas Rafan.

Fiza ragu untuk masuk ke dalam. Tapi mau tidak mau dia harus bertemu ustadzah Halimah.

Sesampainya di dalam, ternyata banyak pengurus. Terlihat mereka saling bercanda. Dengan jarak yang cukup jauh.

“Sini Fiza,” panggil Ustadzah Halimah. Sementara Rafan terlihat melirik sekilas dengan kehadiran Fiza.

“Eh ustadz Rafan, maksud ustadz barusan itu apa ya? Saya bagai pelangi, beragam dan memancar?” tanya ustadzah Nadia penuh penasaran.

“Eeh, ya karena ustadzah Nadia banyak bakatnya yang beragam, dan selalu terpancar indah karena kelebihan itu,” ungkap Rafan. Itu membuat ustadzah Nadia tersenyum.

Sementara Fiza terlihat tertegun. “Saya ada urusan ustadzah Halimah, nanti saya temui ustadzah kembali,” ucap Fiza langsung berdiri meninggalkan ruangan itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   5. Merahasiakan pernikahan

    Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya. Mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam selimut.Malam itu adalah malam tersakit baginya. Malam yang seharusnya penuh dengan bahagia. Namun bagi Fiza menjadi malam paling menyedihkan.“Saya mau ngomong serius. Kamu bisa bangun dulu,” pinta Rafan.Fiza mencoba menghapus jejak air matanya. Lalu membuka selimutnya. Terlihat Rafan duduk di meja belajar miliknya.“Maaf kalau ucapan saya tadi menyakitkan. Tapi saya juga tidak mau memaksakan perasaan. Tak ada yang tau takdir selanjutnya, tapi saya pengen untuk sekarang kita fokus pada kegiatan kita masing-masing. Sebentar lagi kamu juga kuliah kan?” tanya Rafan memastikan.Fiza m

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   4. Jadi menikah?

    Rafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil.Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya rencana dari keluarga saya. Bukan berarti itu fakta. Dan saya menolak akan rencana itu,” ucap Rafan dengan jelasnya.“Ouh, oke oke, berarti saya salah paham ya,” ucap Aya menutup mulutnya. Hal itu membuat Rafan semakin kesal.“Waduh, sudah dong, kalian ini bahas apaan sih. Maaf ya ustadzah Aya,” ucap Rido dengan ramah.Lalu Aya meninggalkan mereka. Dan melewati Fiza yang berada di sebelah lemari berkas. Tatapan kesal begitu terpancar di wajah Aya ketika melewati Fiza di depannya.Fiza lalu kembali menatap ke arah Rafan. Sedari tadi dia mendengar semua perbincangan mereka. Dan tiba-tiba Rafan mendekati Fiza.“Kita harus segera bicara!” ajak Rafan. Fiza mengangguk dalam.Mereka berada di sudut

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   3. Saya sudah punya calon!

    “Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya.“Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam.Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya.“Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya.“Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah.Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing.“Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu.Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya.“Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi tem

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   2. Dua wanita pilihan

    Rafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan.Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran. Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri.“Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya.Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya.Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan ya

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   1. Perjodohan sepihak

    Plak!Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya.“Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas.“Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah.Plakk!!Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu.Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya.“Nak, ik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status