Share

6. Kegagalan Fiza

Auteur: El Alfun27
last update Date de publication: 2026-02-28 18:28:51

Kehidupan Fiza berubah seratus persen. Yang kemarennya dia hanyalah santriwati biasa. Sekarang dia sudah menjadi istri dari seorang ustadz di pesantren tempat dia menimba ilmu.

“Terkadang, jodoh itu datangnya tiba-tiba. Ada yang lewat perkenalan lama, perjodohan, atau bahkan ketidaksengajaan. Tapi, sebagai muslimah yang baik, tentu kita juga harus mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari. Seperti giat dalam menuntut ilmu, seperti kalian sekarang ini,” ucap Ustadzah Halimah di depan kelas santri putri. Malam ini tengah ada pengajian kitab rutin.

Fiza bermonolog dalam hatinya. ‘Rasa telah lama tumbuh. Namun hatinya tak ada keterikatan sedikitpun. Apakah hubungan ini akan bertahan atau hanya sebuah status tanpa tujuan’.

Setelah selesai pengajian kitab, Fiza langsung kembali ke asrama. Tapi sebelum itu dia segera menemui ustadzah Halimah. Entah takdir atau kebetulan, Dia kembali berpapasan dengan seseorang yang ingin dia jauhi sementara.

Rafan melihatnya dengan intens. Namun Fiza segera mungkin melangkahkan kakinya tanpa melirik sedikitpun pada ustadz muda itu.

“Jadi Ustadzah, apa yang harus saya lakukan?” tanya Fiza pada ustadzah Halimah yang sedang sibuk mengetik di laptop miliknya.

“Sebentar Fiza, kamu memiliki beberapa tugas,” ucap ustadzah Halimah langsung mencatat di buku pribadi miliknya.

Fiza duduk dengan santai di depan meja ustadzah Halimah. Tatapannya melihat ke sekitar. Meskipun pikirannya sedikit terbersit ustadz muda itu.

“Kamu akan mengikuti lomba Tahfiz mewakili pesantren As Salam. Nanti yang menemani kamu adalah ustadz Rafan,” ujar ustadzah Halimah membacakan catatan penting dari bukunya.

Fiza langsung terperangah. “Loh, kenapa bukan ustadzah Halimah saja yang menemani saya?” tanya Fiza dengan raut khawatirnya.

Ustadzah Halimah berdiri dan mendekati Fiza. “Saya menemani santriwati lain, dan untuk kali ini entah kenapa saya percaya pada ustadz Rafan. Kamu akan dibimbing oleh dia,” kata ustadzah Halimah sambil memegang pundak Fiza.

Fiza menunduk lesu. Hatinya memberontak tak terima. “Ini orangnya, datang juga,” ucap kembali ustadzah Halimah.

Tatapan itu kembali bertemu. Belum selesai Fiza terkejut atas ucapan ustadzah Halimah. Kini kembali terkejut dengan kehadiran seseorang yang ingin dia hindari sementara waktu.

“Ustadz Rafan, saya minta tolong nanti untuk menemani saudari Fiza di lomba tahfidz antar pesantren modern. Tolong di bimbing, tapi anaknya penurut kok, gak aneh-aneh,” ujar ustadzah Halimah sambil tertawa kecil.

Rafan kut tertawa kecil dibuatnya. “Dengan senang hati, ustadzah Halimah. Sepatutnya kita memang saling bantu satu sama lain,” ucap Rafan tersenyum tulus.

“Ustadzah Halimah, kenapa bukan ustadzah lain saja yang menamai saya,” cecar Fiza kbali.

“Tidak bisa Fiza. Ustadzah yang lain sudah ada tugasnya masing-masing. Apalagi ini kan perlombaan antar santriwati. Jadi saya rasa ustadz Rafan yang cocok untuk menemani kamu, karena perlombaan khusus santri juga masih bulan depan,” kata ustadzah Halimah.

“Iya benar, saya tidak akan macam-macam dengan kamu. Saya hanya menamai dan membimbing saja,” kata Rafan dengan tatapan anehnya.

Fiza langsung membuang muka melihat tingkah ustadz itu yang kadang terasa aneh. “Ustadz aneh,” lirih Fiza.

Sore harinya, Fiza berada di kelas tahfidz. Bersama dengan teman-temannya untuk murojaah bersama. Mereka semua tampak fokus membaca ulang demi ulang ayat-ayat Al Qur'an dengan indah.

“Fiza, ternyata lombanya besok. Apa kamu masih bersedia ikut? Ini info lombanya dadakan,” ucap Rafan di depan pintu kelas.

Fiza mengangguk. “Iya ustadz, saya tetap ikut,” jawab Fiza dengan yakin.

“Tapi saya gak yakin, maksudnya bukan tidak yakin sama kamu. Tapi terlalu beresiko,” ungkap Rafan mencoba memberi pilihan.

“Ustadz meragukan saya ya? Saya sudah hafal semua ayat dengan baik. Bahkan letak halaman, baik perkata pun saya sudah hafal. Jangan terlalu meremehkan saya ustadz,” cecar Fiza tak terima dengan ungkapan Rafan.

Rafan menghembuskan nafasnya dengan berat. “Bukan seperti itu, masalahnya saya baca peraturannya, banyak syarat yang sepertinya akan memberatkan kamu. Apalagi kita tidak ada persiapan,” kata Rafan kembali.

Fiza melangkah kembali ke tempat duduknya. Sebelum itu dia terdiam. “Saya bisa, ustadz Rafan tidak perlu meragukan saya!” peringat Fiza membelakangi Rafan.

Fiza tetap pada pendiriannya untuk mengikuti lomba tahfidz. Dia bersikeras belajar sampai keesokan harinya.

Fiza bersama Rafan, juga ditemani beberapa santri dan santriwati As Salam. Mereka memasuki masjid besar tempat lombanya diadakan.

“Makan dulu, biar ada isi perut kamu,” kata Rafan memberi sepotong roti pada Fiza.

“Tidak, terima kasih,” tolak Fiza. Matanya masih tertutup dengan bibirnya yang terus melantunkan bacaan ayat Al Qur'an.

Satu jam kemudian, giliran Fiza. Fiza tampak yakin maju ke depan. Menjawab satu persatu pertanyaan dan tantangan dari dewan juri.

Namun saat di pertengahan. Fiza tidak dapat menjawab. Tantangannya teramat susah. Dimana Fiza diminta untuk menuliskan ayat lanjutan dari ayat yang telah dibacakan oleh dewan juri.

Fiza terdiam kaku. Kelemahannya adalah di nahwu Sharaf. Dimana pelajaran itu membahas tentang tata cara menulis tulisan arab dan membaca tulisan arab tanpa ada harakat. Tentu saja itu point pentingnya.

“Salah!” ucap salah satu juri perempuan.

Tangan Fiza gemetar. Air matanya sudah deras membasahi wajahnya. Fiza terus melanjutkan tantangan demi tantangan dewan juri.

“Salah lagi!” ungkap salah satu dewan juri laki-laki.

Fiza berusaha tenang dan menyembunyikan tangisannya. Dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau.

“Sudah, kamu bisa kembali ke tempat,” ucap salah satu dewan juri dan diiringi tepuk tangan dari para peserta yang lain.

Fiza berjalan dengan lemas. Menghampiri teman-temannya. Rasanya terasa berat dipikul. Rafan hanya melihat raut sedih Fiza dengan tatapan tajam.

Pengumuman juara diumumkan hari itu juga. Semuanya berkumpul untuk menyaksikan kejuaraan berlangsung. Satu persatu para pemenang dipanggil.

“Juara kedua, Danialah Muhafiza,” ucap pembawa acara.

Jantung Fiza berdetak kencang. Iringan tepuk tangan dan ucapan selamat kepadanya. Fiza melirik ke juara satu. Air matanya luruh seketika.

“Juara itu tidak penting. Yang penting kamu sudah berusaha dengan baik,” ucap Rafan di dalam ruangan ustadzah Halimah.

“Bagi saya, juara itu penting. Saya merasa tidak berguna disaat saya menjadi juara dua,” ungkap Fiza dengan matanya yang memerah.

“Kamu terlalu egois, Fiza. Jangan pernah menyesal dengan pilihan kamu. Lagipula saya sudah mengingatkan kemarin untuk tidak melanjutkan perlombaan,” bentak Rafan. Kesabarannya sudah menipis menghadapi seorang Fiza.

Fiza berdiri dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. “Ustadz yang egois! Saya cuma menjalankan perintah pesantren untuk mengikuti lomba ini. Saya tidak bisa menolaknya. Ustadz tidak akan tau itu,” gertak Fiza. Tangisannya membuncah. Kesedihannya semakin menjadi.

“Saya kaget ternyata dibalik sikap kamu yang pendiam, ternyata kamu seperti ini. Yang penting saya sudah mengingatkan, kalau kamu tidak juara satu itu bukan salah saya, Fiza,” tegas Rafan. Tatapannya tak kalah tajam.

“Aaaaa!!!” teriak Fiza. Tangisannya semakin menjadi-jadi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   39

    Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   38

    Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   37

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   36

    "Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   35

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   34

    "Beneran ya Kak? Mama gak mau sekolah kamu terganggu saja kalau sambil pacaran. Mama mau kamu sukses dulu." Kalimat sederhana dari sang Mama, untuk anaknya.***"Sebentar Pak, tinggal sedikit lagi." Jawab Delvan, pandangan nya tetap fokus pada soal-soal di depannya."Ya sudah, dilanjut." Pak Bambang lalu mendekati satu per satu siswa siswi nya, yang juga sedang mengerjakan lewat buku latihan nya."Kalian ini, seharusnya mencontoh Delvan. Biarpun dia itu tukang adu jotos, sering tawuran tapi otaknya itu encer. Tanya sama Delvan, pasti dia setiap hari selalu belajar yang giat."Pak Bambang memperingati, selalu memuji Delvan di depan murid yang lain. Sedang Delvan tak ada tanggapan, masih terlalu fokus dan berambisi untuk menyelesaikan semua tugas yang ada."Woahh, ajarin dong bang Delvan. Gimana tuh cara belajar yang giat, tiap malam lagi." Azri menatap geli Delvan, dia yang sangat tau karakter Delvan yang malas untuk belajar.Semua teman kelas menahan tawa, seolah menyindir Delvan. Az

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status