MasukSuamiku mengajak anak kami pergi jalan-jalan bersama cinta pertamanya ke sebuah hutan. Tapi di tengah jalan, suamiku meninggalkan anak kami sendirian dan pergi berdua dengan cinta pertamanya. Ketika si kecil dikelilingi serigala di dalam mobil, nomor suamiku tidak dapat dihubungi. Aku pergi menyusul ke sana, tapi yang tersisa di dalam mobil hanya cokelat valentine yang berlumuran darah. Di tengah pedihnya hatiku, suamiku menelepon. "Kita sedang merayakan hari kasih sayang, haruskah kamu merusak suasana?" Oh? Selamat hari kasih sayang! Izinkan aku mengirimkan cokelat rasa darah untukmu!
Lihat lebih banyakTiga hari penuh aku mengurung diri di dalam kamar. Dhanu seolah menghilang dari dunia, tanpa kabar apa-apa.Pada malam di hari ketiga, aku memutuskan untuk pergi keluar, berjalan kaki dan menghirup udara segar. Berharap bisa sedikit melegakan hatiku yang sesak.Baru mencapai pintu depan, pandanganku tiba-tiba menjadi gelap, lalu aku kehilangan kesadaran.Saat aku terbangun lagi, aku mendapati diriku terikat di dalam mobil yang bergerak.Tepat di depanku adalah Citra.Dia tidak secantik dulu. Wajahnya bahkan bengkak parah, membuatnya tampak menyedihkan."Widya, akhirnya bangun juga!" Citra menggeram. Matanya menyorotkan kebencian."Kamu? Apa maumu?" Aku menatap tajam, kurang lebih sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi."Apa mauku? Ini maumu sendiri! Selsa sudah mati, kenapa kamu nggak mati juga?" Citra tiba-tiba semakin menggebu-gebu. "Semua ini gara-gara kalian, sialan! Kak Dhanu memukuliku, lalu mengusir aku dan Miko!""Sudah seharusnya! Kamu pantas mendapatkannya!" Aku mendongak
Dia tetap tidak bergerak saat kupukul. Dia bahkan meraih tanganku untuk menampar wajahnya. "Widya, pukul aku. Pukul aku yang keras. Selama itu bisa melepaskan amarahmu, aku bersedia mati ...."Matanya penuh permohonan dan putus asa, seperti anak hilang, berdoa memohon pengampunan."Kamu masih ingat ini?" Mataku menatapnya dingin, suaraku sinis.Dhanu menatap kosong pada cokelat di tanganku. Ada sedikit kebingungan di matanya."Selsa sendiri yang membuat cokelat ini. Dia ingin memberikan hadiah kepada ayahnya sambil merayakan hari kasih sayang bersama ayah dan ibunya." Suaraku bergetar, hatiku yang sudah penuh luka kembali menerima sayatan perih."Tapi apa yang terjadi? Dia bahkan nggak bisa bertahan sampai ..." Suaraku tersendat, tidak bisa melanjutkan lagi.Aku membanting cokelat itu ke arahnya, mengenai dadanya, sebelum cokelat itu akhirnya jatuh ke lantai yang berlumuran debu."Kamu nggak pantas menerima hadiah darinya! Kamu nggak pantas mendapatkan cinta Selsa!" Aku meraung-raung t
Ponsel Dhanu terlepas dari telapak tangannya dan dia bergumam tak percaya, "Nggak mungkin .... Nggak mungkin ...."Mataku merah dan suaraku serak. "Nggak mungkin? Selsa sudah mati! Kamu meninggalkan dia di hutan jadi makanan serigala!"Dia mendongak tajam, matanya panik. "Bicara apa kamu? Selsa baik-baik saja, jangan bohongi aku!""Bohong? Kenapa aku harus bohong?!" Aku meraung, dadaku berkecamuk. "Kenapa kamu meninggalkan Selsa sendirian di mobil? Kenapa kamu meninggalkan dia sendirian di hutan belantara?!"Wajah Dhanu seputih kertas. Bibirnya membuka menutup berkali-kali, tapi tidak mengeluarkan suara apa-apa."Jawab! Bukannya kamu bilang Om Wisnu akan menjemputnya? Kenapa Om Wisnu nggak tahu sama sekali?!" Aku maju selangkah demi selangkah. Air mataku mengalir deras.Tubuhnya merosot ke lantai dengan lemah, memegangi kepalanya seperti kesakitan. "Aku ... dapat telepon dari ibu. Katanya Miko tiba-tiba sakit parah ....""Jadi kamu meninggalkan Selsa sendirian di dalam mobil? Dengan al
Dalam beberapa hari berikutnya, aku menangani pemakaman Selsa dengan perasaan hampa seperti robot. Setiap langkah seperti menginjak pisau, sakit dan memilukan.Pemakaman itu dingin dan sepi. Aku sendirian.Tanpa saudara atau teman, tanpa tawa atau tangisan. Yang ada hanya kesedihan dan putus asa tiada akhir yang membawaku tenggelam.Rasa sesal dan menyalahkan diri sendiri menggerogoti hatiku seperti ular berbisa. Siksaan ini lebih menyaksikan daripada kematian.Aku bahkan berniat untuk pergi menemani Selsa setelah mengurus pemakamannya. Dia pasti sendirian dan kesepian di alam sana.Tepat saat aku hampir menyerah, sebuah pesan dari Dhanu seakan mengguyurku dengan air es dari ujung kepala sampai ke ujung kaki."Widya, masih belum cukup juga? Di mana Selsa? Ke mana kamu membawanya?”"Aku bersedia melupakan masalah ini, asal kamu pulang dan minta maaf kepada Citra."Nada bicaranya masih sangat sok dan merendahkan, seakan-akan akulah yang melakukan kesalahan.Hatiku membeku membaca pesan i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.