Share

Bab 4 Sebuah Penolakan

Author: Aira Tsuraya
last update Last Updated: 2026-01-18 14:00:51

Tidak ada kata yang terucap dari Kael, tapi tatapan dingin pria itu sudah mewakili pedang di pinggangnya. Sementara Elowen hanya membisu dengan jantung berdentum.

Ia tidak pernah mendengar rumor soal ini. Setahu Elowen, Pangeran Alaric sudah dijodohkan dengan putri negeri tetangga. Bukan dirinya.

Alaric mengalihkan pandangan, menoleh ke Elowen kemudian berganti ke Kael. Hening untuk beberapa saat.

Hingga tiba-tiba tawa Alaric pecah menggema mengisi kesunyian ruang makan itu.

“Astaga, Kael! Kamu tegang sekali. Aku hanya bercanda tadi.”

Kael hanya diam, sama seperti tadi. Tidak ada senyuman juga tidak ada tawa yang menemani gelak Alaric.

Alaric menghentikan tawanya, menatap Elowen sambil menundukkan kepala.

“Maafkan aku, Putri. Aku hanya bercanda. Mana berani aku merebut kamu dari Kael. Bisa-bisa kepalaku putus.”

Elowen tersenyum samar sambil melirik Kael yang duduk di depannya. Namun, sepertinya tidak ada reaksi apa pun dari pria dingin itu.

Tanpa suara, Kael langsung berdiri dan berlalu pergi begitu saja. Di belakangnya tampak ajudannya mengejar langkah Kael.

“Hei, Kael!! Kamu mau kemana? Aku belum selesai.”

Alaric memanggil sambil mengangkat tangan, tapi sepertinya Kael tidak menggubrisnya. Alaric menghela napas panjang sambil mengedikkan bahu.

“Hmm … sudahlah, nanti juga dia akan baik sendiri.”

Elowen hanya diam dan kembali meneruskan makan paginya. Kini Alaric menoleh ke arahnya.

“Apa kamu tidak keberatan jika aku mengantarmu keliling istana ini?”

Elowen terdiam sejenak. Sejak datang kemarin, ia belum berkeliling istana. Ia hanya tahu letak kamarnya dan ruang makan saja. Selainnya, tidak.

“Aku yakin Kael tidak akan marah. Lagipula, anggap saja ini sebagai bentuk penghormatanku menyambutmu di sini.”

Elowen tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Terima kasih, Pangeran.”

“Ikhs … jangan panggil aku pangeran. Panggil Alaric saja. Sama seperti Kael.”

Elowen tersenyum dengan jengah, kemudian menganggukkan kepala.

“Baik, Alaric.”

Selang beberapa saat kemudian, mereka tampak berjalan berkeliling istana. Ada beberapa dayang dan ajudan Alaric yang menemani. Sesekali Alaric menjelaskan fungsi ruangan dalam istana tersebut. Elowen hanya menganggukkan kepala.

“Itu tempat apa?” tanya Elowen.

Mereka sedang berada di depan sebuah bangunan besar dengan pagar sekeliling menjulang tinggi terletak di sayap kanan istana. Alaric tersenyum sambil menatap bangunan itu.

“Itu tempat suamimu biasa berada. Barak prajurit.”

“Apa kamu mau melihatnya? Kalau beruntung, kamu bisa melihat Kael sedang melatih prajurit.”

Elowen tidak menjawab hanya diam sambil menatap bangunan di depannya.

“Ayo, buruan!! Dia sangat gagah kalau sedang bertarung.”

Alaric berjalan lebih dulu meninggalkan Elowen. Elowen masih mematung di tempatnya. Apa tidak masalah jika ia datang ke tempat ini? Bagaimana kalau Kael marah dan mengusirnya?

“Putri!”

Alaric menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya. Wajah kecilnya tersenyum dengan tangan terulur bergerak meminta Elowen mendekat.

Elowen menelan ludah, menganggukkan kepala, kemudian dengan anggun mendekat ke Alaric. Selanjutnya mereka sudah berada di dalam barak prajurit tersebut.

Tanah lapang nan luas menyambut kedatangan mereka. Elowen melihat beberapa prajurit sibuk berlatih di sana. Suara pedang beradu memenuhi atmosfer barak prajurit.

Negara Valtoria memang terkenal dengan prajuritnya yang gagah berani, tidak pantang menyerah dan hampir selalu memenangkan pertarungan. Itu juga sebabnya wilayah kekuasan negara Valtoria semakin bertambah luas setiap tahunnya.

Namun, di balik semua itu peran Kael sebagai jenderal sangat berpengaruh. Sejak remaja, ia sudah mengabdikan hidupnya. Pedang, tombak dan panah sudah ia kenal sejak masih dini. Itu sebabnya ia begitu tak terkalahkan.

“Lihat!”

Suara Alaric membuyarkan lamunan Elowen. Ia melihat arah tangan Alaric. Dari kejauhan Elowen melihat Kael sedang mengayunkan pedang. Beberapa prajurit menyerang secara bersamaan.

Gerakannya begitu cepat, presisi dan kadang sedikit brutal. Lima orang prajurit langsung jatuh bergelimpangan. Kemudian berlanjut lagi beberapa prajurit menyerangnya, mendesak Kael. Membuat pedangnya terlempar ke tanah.

Bukannya mengambil pedang, Kael malah membalas serangan prajuritnya dengan tangan kosong. Pergumulan berlanjut. Pukulan, tendangan saling melukai dengan beberapa semburan darah yang terciprat dari mereka.

Elowen memalingkan wajah saat melihat darah berceceran di sana. Ia tidak suka kekerasan dan selalu ngilu saat melihat darah. Namun, kini malah suaminya sendiri akan sering bermain dengan darah.

“Jenderal.”

Tiba-tiba sang Ajudan memanggil. Kael menghentikan pergumulannya, menoleh ke ajudannya. Lalu dengan isyarat, ajudan bersuara jika ada Elowen di sana.

Kael menghela napas, melihat Elowen dari kejauhan. Tak lama ia berjalan menghampiri.

“Kamu keren sekali, Kael. Setiap saat melihatmu bertarung, aku selalu kagum.”

Suara Alaric terdengar lebih dulu sebelum Kael mendekat. Perlahan Elowen mengangkat kepala dan terdiam saat melihat Kael sudah berdiri berjarak mematung di depannya.

Manik coklat itu sama dinginnya seperti tadi pagi dan semalam. Kini yang berbeda hanya adanya darah yang mengalir keluar dari sudut bibir dan pelipisnya. Ditambah wajahnya yang penuh peluh dan tanah.

“Eh-hem … aku akan membiarkan kalian berdua. Ayo, kita pergi!”

Alaric langsung bersuara sembari mengajak para prajurit dan ajudan. Serta merta tanah lapang itu langsung sunyi. Tidak ada prajurit dan bunyi denting pedang yang beradu. Hanya angin kering musim gugur dengan dua insan yang berdiri mematung saling pandang.

“Kamu terluka … .” Pelan Elowen bersuara.

Kael tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Pria itu masih berdiri tegak dengan tatapan membingungkan memandang Elowen.

“Maaf … aku mengganggu waktu berlatihmu.”

“Aku ---”

“Jangan mengusikku!” Tiba-tiba Kael lebih dulu memotong kalimat Elowen.

Elowen terdiam, suaranya tercekat sambil berulang menelan ludah menatap Kael dengan beku.

“Tetap berdiri di posisimu. Jangan pernah mendekat ke arahku!”

Mata Elowen mengerjap. Pria di depannya ini bicara dengan nada datar, tidak ada amarah, tapi sama sekali tidak terdengar menyenangkan.

“Cukup semalam kita habiskan bersama. Selanjutnya kita masing-masing.”

Elowen terdiam, tapi kepalanya sudah mengangguk. Pernikahan ini memang hanya kamuflase, pengalihan rumor. Rasanya wajar jika Kael berkata seperti itu.

Perlahan Kael memutar tubuhnya membelakangi Elowen sambil bergerak menjauh. Lalu dengan dingin, ia bersuara, “Pergilah! Bau anyir darah tidak cocok untukmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 133 Kekecewaan Roxana

    Menjelang sore, Alaric pulang. Ia langsung menemui Roxana di kamarnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sebuah senyuman tersungging di rautnya saat melihat wajah Roxana. “Apa kabar si Kecil hari ini?” tanya Alaric lembut. Ia duduk di dekat Roxana sambil mengecup keningnya. Roxana tersenyum membalas perlakuannya. “Si Kecil baik. Ya ... meskipun aku sedikit teler sepanjang hari ini.” Alaric terdiam. Mata kecilnya tampak mengawasi Roxana dan memperhatikannya penuh cinta. “Apa aku perlu panggil Tabib Lucanus atau Bibi Julia?” Roxana menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku rasa jawaban mereka pasti sama. Lagipula Tabib Lucanus sudah memberiku obat.” Alaric tersenyum, tangannya meraih tangan Roxana dan mengelusnya lembut. “Lalu kamu ingin aku melakukan apa?” Roxana terdiam sesaat, kemudian menoleh ke Alaric s

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 132 Adu Siasat

    Minerva menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia takut mulutnya bersuara keras karena terkejut. Kalau sudah begitu, ia pasti dalam bahaya. “Anda yakin, Pangeran?” tanya suara yang lain. “Tentu saja aku yakin. Kalau tidak, untuk apa kalian kukumpulkan di sini? Sudah saatnya Valtoria tahu siapa sebenarnya Kael." “Ia hanya bajingan yang menginginkan takhta dan akan melakukan apa pun dengan segala cara untuk mendapatkannya.” Suara Alaric terdengar dingin dan penuh kebencian, seolah yang sedang berbicara itu bukan Alaric. Minerva hanya diam sambil mengelus dadanya. “Apa jadinya jika Putri Roxana tahu soal ini?” batinnya. “Baik. Jika demikian, kami akan berpihak pada Anda, Pangeran. Memang seharusnya yang layak naik takhta adalah Anda. Putra kandung Kaisar Vorentis, bukan Jenderal Kael.” Sebuah suara kembali terdengar dan terkesan penuh pujia

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 131 Penyusun Rencana

    "Livia, sepertinya Ayah tidak berhasil menyakinkan semua anggota senat. Kalau sudah begini, Ayah yakin rencana kita tidak akan berhasil,” ucap Tuan Tiberon.Usai berdebat sengit di dalam tadi, beberapa tamu sudah berpamitan pulang. Terlebih mereka yang tidak sepemikiran dengan Tuan Tiberon dan Livia. Hanya beberapa yang tinggal.Kali ini Tuan Tiberon sudah menemui putrinya yang meninggalkan ruangan lebih dulu tadi.Livia tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Ayahnya sudah melalang buana di dunia politik. Kepiawaiannya membujuk lawan sudah diakui, tapi khusus kali ini ia kalah telak dengan pembela Kael sejati.“Ayah tenang saja. Aku sudah memikirkan cara lain. Yang penting, rencana kita harus berjalan dengan baik.”“Mencabut gelar Kael, menghukum atas kebohongannya dan mengangkat Alaric menjadi pewaris takhta.”Tuan Tiberon terdiam. Entah mengapa wajahnya menunjukkan kegelisahan. Livia memperhatikan dengan saksama.“Apa lagi yang Ayah risaukan kini?”Tua

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 130 Perdebatan Terjadi

    "Apa yang Anda ingin hamba lakukan, Jenderal?” tanya Neil pagi itu.Mengawali hari Kael sudah memanggil Neil ke ruangannya. Ia tidak bisa tidur tenang semalaman memikirkan perubahan sikap Alaric. Kael yakin ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat Alaric berubah.“Aku ingin kamu menyelidiki Alaric.”Neil terdiam, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.“Maksud Anda Pangeran Alaric, Jenderal?”Kael mengangguk. “Memangnya ada berapa Alaric di istana ini?”Neil terdiam sambil menganggukkan kepala. Hal yang sangat aneh ketika Kael tiba-tiba memintanya menyelidiki Alaric. Memangnya apa yang sedang terjadi saat ini?“Aku ingin tahu siapa yang ia temui belakangan ini. Aku juga ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan? Kalau perlu kamu juga memantau Roxana.”Neil terlihat terkejut kembali. Alisnya mengernyit dengan wajah yang terlihat bingung. Kael menghela napas memperhatikan reaksi Neil.“Aku hanya ingin tahu apa Roxana juga mengenal orang i

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 129 Perubahan Alaric

    Kaisar Vorentis hanya diam sambil menatap Alaric tanpa kedip. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan putranya saat ini. Sedangkan Alaric berdiri di depannya menantang tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alaric. “Kenapa ayah diam saya? Kenapa tidak bisa menjawab?” sergah Alaric dengan berapi-api. Helaan napas perlahan keluar dar bibir Kaisar Vorentis. Pria paruh baya itu terdiam dengan bahu yang naik turun. Tatapannya tajam seperti tatapan bijak seorang penguasa bukan tatapan seorang Ayah yang penuh kesedihan. “Siapa yang menyuruhmu berkata seperti itu, Alaric?” Bukannya menjawab permintaan Alaric, Kaisar Vorentis malah balik bertanya. Tentu saja Alaric marah mendengarnya. “Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya atas kesadaranku sendiri. Kebodohan yang telah lama aku simpan atas semua ketidak adilan sikap Ayah padaku.” Kaisar berdecak, mengge

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 128 Permintaan Tak Terduga

    “Apa katamu? Hamil?” ulang Alaric memastikan.Roxana tersenyum sambil menganggukkan kepala seraya mengelus perut ratanya. Alaric tertegun melihatnya tanpa kedip. Beberapa kali jakunnya bergerak naik turun menelan saliva. Wajahnya masih terlihat terkejut.“Aku ucapkan selamat untukmu, Alaric, Roxana.”Kael sudah bersuara memecah keheningan itu. Alaric menoleh ke arahnya dan mengangguk datar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.“Roxana sudah diperiksa Tabib Lucanus dan katanya ia tengah hamil dua minggu. Cukup rentan dan butuh perawatan ekstra. Itu juga sebabnya, Bibi anjurkan Roxana dan kamu tinggal di sini.”Julia mengambil alih pembicaraan dan langsung dijawab dengan gelengan kepala Alaric.“Tidak. Tidak. Roxana punya istana sendiri dan aku tidak mau jika ia harus tinggal di sini bersama ---“Alaric menggantung kalimatnya, tapi tatapannya sudah mengarah ke Elowen. Semua yang ada di sana memperhatikan sikap Alaric. E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status