MasukMata Elowen melebar, bibirnya membeku dengan gestur tubuh yang menegang. Kemudian tanpa diminta kejadian malam kelam sebulan lalu berkelebatan di benaknya.
Saat sosok tak bernama tiba-tiba menyergap, menarik dirinya, melecehkannya habis-habisan hingga Elowen kehilangan mahkotanya.
Buru-buru Elowen menunduk, menghindar dari mata dingin yang menusuk dadanya. Ia tahu apa tugasnya sebagai istri di malam pertama. Namun, kejadian malam itu menyisakan trauma dan membuat Elowen menderita.
“Kamu tidak mendengar perintahku, Putri?”
Suara Kael menggema, memenuhi seisi kamar dan sontak membuat Elowen mengangguk.
Perlahan jemari Elowen bergerak membuka ikatan bajunya. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak semakin kencang dengan napas yang mulai tersengal.
Sementara Kael hanya diam bagai patung memperhatikannya tanpa kedip. Apa ini yang dibilang pria tanpa hasrat pada wanita? Apa dia yang dibilang pria dengan penyimpangan seksual? Pencinta sesama jenis.
Namun, nyatanya ia seperti binatang buas yang kelaparan saat menatap Elowen.
Sementara itu Elowen tampak menunduk membuka satu persatu ikatan bajunya hingga dada busungnya tersembul keluar lebih dulu. Sekilas Elowen melihat jakun Kael naik turun menatapnya tanpa kedip. Ia tidak tahu apa yang dirasakan pria itu saat ini.
Hingga tiba-tiba …
“CUKUP!”
Suara Kael bergema memenuhi seisi kamar dengan tangan terangkat dan kepala yang sudah berpaling dari Elowen. Pelan Elowen menengadah, menatap pria tinggi yang berdiri kaku di depannya.
“Mulai malam ini, kita suami istri. Namun, jangan berharap lebih padaku, Putri!”
Lagi-lagi Kael bersuara tanpa melihat padanya. Elowen terdiam sambil menganggukkan kepala.
“Tidurlah! Sudah malam.”
Tanpa menunggu jawaban Elowen, Kael langsung memutar tubuh dan berjalan ke sofa. Selanjutnya ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dan terpulas begitu cepat.
Dalam kebingungan, Elowen menatapnya sambil mengurut dada. Tak terasa ada rasa lega meluputi hatinya bersamaan ketakutan yang menguar di udara.
Keesokan pagi, Elowen memulai harinya sebagai istri Jenderal Kael. Ia berjalan keluar kamar dengan anggun menyusur lorong istana tempat tinggal barunya. Langkahnya begitu ringan dan penuh percaya diri.
Senyuman terukir sempurna di wajahnya seolah menunjukkan ia baru saja melalui malam penuh bahagia. Namun, kaki Elowen langsung terhenti saat mendengar bisik-bisik yang menyebut nama suaminya.
“Aku tidak mendengar apa-apa di kamar Jenderal semalam.”
“Sepertinya mereka tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri di malam pertama.”
“Apa kamu yakin?”
“Tentu. Aku tidak bohong. Bahkan semalaman aku menempelkan telingaku di pintu, tapi hanya keheningan yang tercipta.”
“Apa mungkin rumor itu benar? Jenderal tidak tertarik pada wanita.”
“Kasihan sekali Putri Elowen.”
Elowen menelan ludah sambil menarik napas panjang. Hal biasa yang terjadi di kalangan para dayang untuk menguping kamar majikannya di malam pernikahan.
Kael seorang jenderal penuh rumor, pasti banyak orang yang ingin memastikan kebenaran itu. Sayangnya, Elowen tidak menyiapkan hal ini.
“Eh-hem.”
Suara deheman Elowen serta merta membuyarkan gunjingan pagi itu. Semua kepala menoleh, menatap Elowen kemudian selanjutnya menunduk dengan patuh.
“Apa makan pagi sudah siap?” tanya Elowen.
“Sudah, Putri. Silakan.”
Elowen mengangguk kemudian berjalan dengan anggun menuju ruang makan. Ada beberapa dayang mengikuti.
Di ruang makan, Elowen melihat Kael duduk dengan anggun di penghujung meja. Tatapannya sama dingin seperti tadi malam. Bahkan gerakannya saat makan nyaris tanpa suara.
Tidak ada denting pisau, sendok dan garpu yang bersinggungan di sana. Benar-benar hening seperti mata-mata musuh yang sedang mengintai.
Di samping Kael tampak berdiri tegak ajudan setianya. Penampilannya hampir sama dengan Kael. Seragam militer dengan dominan hitam tanpa motif. Ada pedang yang tergantung di pinggangnya dengan tangan yang mencengkram erat gagangnya.
“Selamat pagi, Jenderal.”
Senyum ramah Elowen membuyarkan keheningan ruang makan itu. Saat bangun tadi pagi, Elowen tidak melihat Kael di sofa tempatnya tidur semalam. Sepertinya pria itu bangun lebih awal ketimbang dirinya.
Tidak ada jawaban dari Kael, hanya tatapan sedingin salju yang menembus hatinya. Elowen menelan ludah, menundukkan kepala, memberi hormat kemudian duduk tepat di depannya.
Selanjutnya beberapa dayang sibuk menyiapkan makan pagi untuk Elowen. Keheningan kembali tercipta. Tanpa denting alat makan, tanpa obrolan ringan. Semuanya sunyi bagai pemakaman mendiang ibunya beberapa tahun silam.
“Selamat pagi, Pengantin Baru!”
Tiba-tiba suara riang menyeruak memecah keheningan ruang makan tersebut. Kael mengangkat kepala menatap sosok yang datang. Hal yang sama juga ditunjukkan Elowen.
Pangeran Alaric Septimus Aurelian berjalan dengan gagah memasuki ruang makan tersebut. Elowen segera berdiri sambil menundukkan kepala memberi salam. Elowen melirik Kael dan melihat pria dingin itu masih bergeming di tempatnya.
“Maaf, aku tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian semalam,” imbuhnya.
Kael tidak bereaksi, tapi Elowen melihat pria itu mengangkat sudut bibirnya sedikit ke atas. Selanjutnya Alaric duduk di antara mereka, menjadi penengah jarak yang terbentang. Beberapa dayang langsung sigap menyiapkan menu makan pagi untuk Alaric.
“Tidak perlu sungkan, lanjutkan saja makan pagi kalian. Aku hanya ingin mampir sebentar untuk menyapa adik ipar.”
Alaric berkata dengan riang sambil tersenyum ke Elowen berganti melirik Kael.
Alaric adalah putra dari selir Kaisar Vorentis. Harusnya ia yang digadang menggantikan tahta ayahnya. Sayangnya, ketidak tertarikan Alaric pada politik membuat Kaisar menjaga jarak dengannya.
Alaric juga terlalu lemah. Sejak kecil ia sering sakit-sakitan. Itu sebabnya Kaisar tidak pernah menuntutnya. Bahkan Kaisar terkesan mengabaikannya. Beruntung Alaric tidak terpengaruh dengan sikap ayahnya. Hubungannya dengan Kael juga sangat baik.
“Bagaimana rasanya menjadi suami, Kael?”
Kembali Alaric bertanya. Matanya mengerling jenaka menatap Kael. Berbanding terbalik dengan sikap Kael yang dingin seperti batu karang.
“Akh … jangan bilang kalau kalian tidak melakukan apa-apa semalam.”
Tidak ada jawaban dari Kael, tapi Elowen dengan jelas melihat kilatan kemarahan di matanya.
Perlahan Alaric melihat Elowen, mata kecilnya mengawasi putri cantik itu dengan saksama. Sementara Elowen hanya diam sambil menundukkan kepala. Sejak kejadian malam suram itu, Elowen selalu ketakutan jika ada pria yang menatapnya seperti ini.
“Tahu gitu … aku yang menerima tawaran Ayah saat itu.”
Tiba-tiba Alaric bersuara. Alis Kael terangkat sedikit dengan mata menyipit memperhatikan Alaric.
“Apa maksudmu?”
Alaric tersenyum sumbang sambil mengangkat dagu menatap lurus ke depan.
Kemudian dengan santai, dia bersuara, “Harusnya aku yang menikah dengan Putri Elowen. Bukan kamu, Kael.”
“Putri sepertinya kelelahan usai menempuh perjalanan jauh, Jenderal,” urai tabib istana.Setelah Kael membawa Elowen keluar dari aula utama, Raja Calleb memerintahkan tabib istana untuk memeriksa kesehatan Elowen.“Setelah istirahat sejenak, pasti akan kembali pulih,” imbuhnya.Kael hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia melirik ajudannya. Seolah paham apa maksud tatapan Kael, sang Ajudan langsung mengantar tabib istana keluar ruangan.Kael hanya diam menatap Elowen yang masih berbaring lemah. Kemudian tanpa sadar Kael menatap kedua tangannya. Sekelebat bayangan saat dia menggendong Elowen keluar dari aula utama terputar di benaknya.Kael mendengkus kasar. “Apa yang aku lakukan tadi?”Selanjutnya tanpa suara ia sudah berlalu pergi, keluar dari kamar Elowen.Entah berapa lama Elowen terlelap, yang pasti saat ia terjaga ada aroma enak menusuk hidungnya. Pelan Elowen membuka mata dan melihat seorang dayang sedang tersenyum menatap ke arahnya.“Akhirnya Anda siuman, Putr
Tidak ada penolakan, juga tidak ada kesedihan terlihat di wajah Elowen. Dengan anggun, wanita cantik itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Rambut keemasannya berterbangan tertiup angin dengan gaun biru mudanya yang berkelebatan.Dua insan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh ke dua arah berbeda. Sinar mentari pagi membentuk bayangan mereka memanjang dan menjauh dengan dramatis.Alaric yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala.“Hmm … Kael. Sampai kapan kamu seperti ini?” gumam Alaric.Sejak hari itu, mereka tidur terpisah. Kael menempati kamarnya dan Elowen tetap berada di kamarnya. Mereka hanya bertemu saat makan pagi dan makan malam saja. Selanjutnya keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.Elowen sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Setiap hari ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Istana memiliki perpustakaan terlengkap. Tentu saja ini bagai surga untuk Elowen yang kutu buku.Pagi itu seperti biasa, Elowen
Tidak ada kata yang terucap dari Kael, tapi tatapan dingin pria itu sudah mewakili pedang di pinggangnya. Sementara Elowen hanya membisu dengan jantung berdentum.Ia tidak pernah mendengar rumor soal ini. Setahu Elowen, Pangeran Alaric sudah dijodohkan dengan putri negeri tetangga. Bukan dirinya.Alaric mengalihkan pandangan, menoleh ke Elowen kemudian berganti ke Kael. Hening untuk beberapa saat.Hingga tiba-tiba tawa Alaric pecah menggema mengisi kesunyian ruang makan itu.“Astaga, Kael! Kamu tegang sekali. Aku hanya bercanda tadi.”Kael hanya diam, sama seperti tadi. Tidak ada senyuman juga tidak ada tawa yang menemani gelak Alaric.Alaric menghentikan tawanya, menatap Elowen sambil menundukkan kepala.“Maafkan aku, Putri. Aku hanya bercanda. Mana berani aku merebut kamu dari Kael. Bisa-bisa kepalaku putus.”Elowen tersenyum samar sambil melirik Kael yang duduk di depannya. Namun, sepertinya tidak ada reaksi apa pun dari pria dingin itu.Tanpa suara, Kael langsung berdiri dan berla
Mata Elowen melebar, bibirnya membeku dengan gestur tubuh yang menegang. Kemudian tanpa diminta kejadian malam kelam sebulan lalu berkelebatan di benaknya.Saat sosok tak bernama tiba-tiba menyergap, menarik dirinya, melecehkannya habis-habisan hingga Elowen kehilangan mahkotanya.Buru-buru Elowen menunduk, menghindar dari mata dingin yang menusuk dadanya. Ia tahu apa tugasnya sebagai istri di malam pertama. Namun, kejadian malam itu menyisakan trauma dan membuat Elowen menderita.“Kamu tidak mendengar perintahku, Putri?”Suara Kael menggema, memenuhi seisi kamar dan sontak membuat Elowen mengangguk.Perlahan jemari Elowen bergerak membuka ikatan bajunya. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak semakin kencang dengan napas yang mulai tersengal.Sementara Kael hanya diam bagai patung memperhatikannya tanpa kedip. Apa ini yang dibilang pria tanpa hasrat pada wanita? Apa dia yang dibilang pria dengan penyimpangan seksual? Pencinta sesama jenis.Namun, nyatanya ia seperti binatang buas yan
Elowen terdiam, menelan ludah beberapa kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi ketenangan terlihat jelas di wajahnya.Elowen mengangkat dagu, menatap pria berwajah dingin di depannya. Tatapannya selembut sebelumnya, terlihat rapuh namun mematikan.“Saya menerimanya.”Tidak ada reaksi signifikan dari Kael. Bahkan Elowen melihat tangan Kael masih menggenggam gagang pedang seolah masih ada kondisi waspada yang sedang ia hadapi.Tubuh Kael yang lebih tinggi terlihat tegak dan tidak sedikit pun membungkuk hanya sekedar untuk membalas tatapan Elowen.“Bagus!! Persiapkan dirimu untuk pernikahan besok.”Sama seperti tadi suara Kael terdengar dingin. Elowen hanya mengangguk dengan wajah yang menunduk.Selanjutnya Kael sudah berlalu pergi membawa aura dingin tubuhnya berangsur menghilang. Elowen masih berdiri mematung di posisinya, bergeming tanpa suara.Apa jadinya jika Kael tahu dengan kondisi dirinya?Ia sudah kehilangan keperawanannya, bahkan sedang mengandung benih pria t
Elowen Lysandra mengerat bibir sambil meremas perut, menahan sakit dan mual di sana. Setahunya ia tidak makan apa pun, tapi mengapa sepagi ini perutnya bergolak tak karuan.“Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya salah satu dayang.Wanita cantik itu terdiam sambil menyeka bibir. Seketika dayangnya mendekat dan membantu Elowen duduk. Wajahnya putih pucat terlihat berkilauan ditimpa mentari pagi yang menerobos melalui jendela kamar.Rambut keemasannya yang dikepang longgar terjuntai menghiasi wajah ayunya. Begitu sempurna memantulkan ciptaan sang Dewa.“Aku baik saja. Ada apa?”Wanita muda, salah satu dayang Elowen itu kini terdiam. Wajahnya terlihat tegang sambil terus memilin tangan.Mata Elowen menyipit menatapnya penuh curiga. Ia tahu apa maksud dari gestur tubuh dayangnya kali ini.“Sudah diputuskan, Putri.”Elowen menghela napas pelan. Ia sudah tahu sebelum kata-kata itu diucapkan.Ia akan dinikahkan.Bukan dengan pangeran negeri sahabat, bukan pula dengan bangsawan muda penuh puj







