Share

Bab 5 Luruhnya Rumor

Author: Aira Tsuraya
last update Last Updated: 2026-01-18 15:00:34

Tidak ada penolakan, juga tidak ada kesedihan terlihat di wajah Elowen. Dengan anggun, wanita cantik itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Rambut keemasannya berterbangan tertiup angin dengan gaun biru mudanya yang berkelebatan.

Dua insan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh ke dua arah berbeda. Sinar mentari pagi membentuk bayangan mereka memanjang dan menjauh dengan dramatis.

Alaric yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala.

“Hmm … Kael. Sampai kapan kamu seperti ini?” gumam Alaric.

Sejak hari itu, mereka tidur terpisah. Kael menempati kamarnya dan Elowen tetap berada di kamarnya. Mereka hanya bertemu saat makan pagi dan makan malam saja. Selanjutnya keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Elowen sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Setiap hari ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Istana memiliki perpustakaan terlengkap. Tentu saja ini bagai surga untuk Elowen yang kutu buku.

Pagi itu seperti biasa, Elowen menghabiskan waktunya di perpustakaan. Namun, keasyikannya terusik saat mendengar suara langkah mendekat. Elowen meletakkan bukunya dan mendongak melihat siapa yang datang.

Ia langsung terdiam saat melihat Kael sudah berdiri di depannya. Seperti biasa suami dinginnya itu berdiri dengan tenang menatapnya dengan angkuh.

Elowen tergesa berdiri, menundukkan kepala, memberi salam.

“Siapkan dirimu, besok kita akan pergi!”

Elowen terkejut. Mata hijaunya mengerjap beberapa kali sambil menatap Kael. Seolah tahu arti tatapan Elowen, Kael kembali bersuara.

“Kaisar memintaku melakukan kunjungan ke Aquilora.”

Seketika sebuah senyum terukir dengan indah di wajah cantik Elowen. Ia sudah pernah mendengar tentang negeri Aquilora. Sebuah negeri indah yang kaya sinar mentari. Di sana selalu hangat, dekat dengan pantai, dekat dengan laut yang indah.

Negeri Aquilora salah satu negeri jajahan Valtoria. Negeri Aquilora juga penyumbang terbesar ikan dan hasil laut yang dinikmati penduduk Valtoria. Entah ada urusan apa hingga kaisar meminta Kael pergi ke sana.

“Sepertinya kamu sudah paham.”

Kael kembali bersuara membuat lamunan Elowen buyar. Ia terlalu gembira hingga tidak menyadari keberadaan suaminya. Tanpa menunggu jawaban Elowen, Kael sudah berlalu pergi lebih dulu.

Sebuah senyuman kembali terukir di wajah Elowen. Sudah cukup lama ia menderita kebosanan di istana ini. Sepertinya kaisar tahu dan memberi hadiah perjalanan menyenangkan untuknya.

Namun, sepertinya bayangan Elowen tidak sesuai dengan kenyataan. Untuk menuju negeri Aquilora, ia harus menempuh perjalanan darat selama lima hari. Begitu melelahkan, apalagi harus satu kereta dengan pria dingin di sampingnya.

Waktu bergulir terasa semakin lama. Hanya kebekuan yang tercipta sepanjang jalan. Tidak ada obrolan ringan apalagi tatapan nan lembut. Untung saja Elowen membawa banyak buku. Ia bisa mengusir kesunyiannya itu dengan membaca.

Hari keenam, saat sinar mentari menerobos masuk ke dalam kereta. Elowen mengerjapkan mata beberapa kali, merasakan hangatnya mentari menyentuh wajahnya. Biasanya ada bayangan Kael yang menutupi sinar mentari, tapi kini sosok itu menghilang.

Perlahan Elowen membuka mata. Ia melihat kereta sudah berhenti dan tidak ada Kael di sampingnya. Elowen menyibak tirai kereta dan ia melihat suaminya sudah turun, tengah berbincang dengan salah satu pengawal.

“Sial!! Kenapa dia tidak membangunkanku?” gerutu Elowen.

Usai merapikan pakaian, Elowen tergesa turun menghampiri Kael. Tatapan dingin serta merta menyambut Elowen.

“Persiapkan dirimu!!! Sebentar lagi kita menghadap Raja Calleb.”

Elowen mengangguk sebagai jawabannya.

Selang beberapa saat, mereka sudah berada di aula utama istana Aquilora. Seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan mata yang sama gelapnya menyambut kedatangan mereka.

“Senang bertemu dengan Anda, Jenderal Kael,” sapa Raja Calleb dengan ramah.

Kael tersenyum sambil menganggukkan kepala memberi salam. Selanjutnya mereka terlihat berbasa basi saling memuji satu sama lain. Elowen hanya duduk diam di samping suaminya sambil sesekali tersenyum menikmati sambutan.

Cukup lama Elowen merasakan basa basi yang membosankan itu. Hingga tiba saat mereka menikmati jamuan yang sudah disiapkan.

Aneka ikan dan makanan laut tersaji dengan lengkap di atas meja. Ini adalah makanan yang langka ia dapatkan di Valtoria. Rasanya tidak mengapa jika Elowen memuaskan perutnya.

Aroma ikan bakar, cumi bakar sangat menggugah selera makan Elowen. Ia melihat Kael sudah mulai menikmati makanannya. Pria itu sama sekali tidak memperhatikan Elowen yang duduk di sebelahnya.

Tanpa basa basi, Elowen mulai menyantap hidangannya. Namun, entah mengapa ada yang salah. Aromanya memang menggugah, tapi begitu masuk mulut Elowen terasa aneh. Rasa mual, enek tiba-tiba datang merasuki tubuhnya.

“Apa yang terjadi padaku,” batin Elowen.

Ia sedang berada di jamuan persahabatan. Rasanya tidak elok jika tiba-tiba ia muntah di sana. Ini sama saja dengan penghinaan.

Namun, sepertinya perut Elowen tidak bisa diajak kerja sama. Ia meringis kesakitan, menahan rasa mual yang tiba-tiba sudah di ujung tenggorokan. Dengan tergesa, Elowen bangkit dan bersiap pergi meninggalkan aula utama.

Akan tetapi, tiba-tiba Kael menarik lengan bajunya membuat Elowen urung pergi. Wanita cantik itu menoleh ke Kael sambil menutup mulut. Dengan isyarat, Kael memintanya duduk kembali.

Elowen melotot dengan kepala yang menggeleng. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa aneh ini. Ia harus segera pergi sebelum memuntahkan semuanya di sini.

Bukannya melepaskan cekalannya, Kael malah mencondongkan tubuh dan bersuara di wajah Elowen.

“Duduk!” cicitnya pelan.

Elowen membisu. Mata hijaunya mengerjap sesaat membalas titah Kael. Kemudian perlahan ia menelan kembali rasa mual yang di ujung tenggorokan tadi. Rasanya aneh dan semakin membuat Elowen enek.

“Apa ada yang salah, Jendral?”

Suara Raja Calleb menginterupsi mereka. Kael tersenyum sambil menggeleng, kemudian meneruskan kembali makannya.

Sementara Elowen hanya diam. Wajahnya semakin pucat dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Antibodinya sedang bertarung membuatnya bertahan.

Hingga tepat saat jamuan berakhir, tubuh Elowen tiba-tiba terkulai tak bergerak di samping Kael. Awalnya Kael pikir Elowen hanya sekedar bersandar, tapi ia tersadar saat tidak ada gerakan dari istrinya.

“ELOWEN!”  

Tanpa pikir panjang, Kael langsung mengangkat tubuh Elowen dan menggendongnya pergi dari aula utama. Untuk pertama kali, ia menyentuh tubuh istrinya sedekat ini. Untuk pertama kali pula, ia meruntuhkan rumor tentang dirinya yang anti sentuhan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 6 Berita Bahagia?

    “Putri sepertinya kelelahan usai menempuh perjalanan jauh, Jenderal,” urai tabib istana.Setelah Kael membawa Elowen keluar dari aula utama, Raja Calleb memerintahkan tabib istana untuk memeriksa kesehatan Elowen.“Setelah istirahat sejenak, pasti akan kembali pulih,” imbuhnya.Kael hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia melirik ajudannya. Seolah paham apa maksud tatapan Kael, sang Ajudan langsung mengantar tabib istana keluar ruangan.Kael hanya diam menatap Elowen yang masih berbaring lemah. Kemudian tanpa sadar Kael menatap kedua tangannya. Sekelebat bayangan saat dia menggendong Elowen keluar dari aula utama terputar di benaknya.Kael mendengkus kasar. “Apa yang aku lakukan tadi?”Selanjutnya tanpa suara ia sudah berlalu pergi, keluar dari kamar Elowen.Entah berapa lama Elowen terlelap, yang pasti saat ia terjaga ada aroma enak menusuk hidungnya. Pelan Elowen membuka mata dan melihat seorang dayang sedang tersenyum menatap ke arahnya.“Akhirnya Anda siuman, Putr

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 5 Luruhnya Rumor

    Tidak ada penolakan, juga tidak ada kesedihan terlihat di wajah Elowen. Dengan anggun, wanita cantik itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Rambut keemasannya berterbangan tertiup angin dengan gaun biru mudanya yang berkelebatan.Dua insan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh ke dua arah berbeda. Sinar mentari pagi membentuk bayangan mereka memanjang dan menjauh dengan dramatis.Alaric yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala.“Hmm … Kael. Sampai kapan kamu seperti ini?” gumam Alaric.Sejak hari itu, mereka tidur terpisah. Kael menempati kamarnya dan Elowen tetap berada di kamarnya. Mereka hanya bertemu saat makan pagi dan makan malam saja. Selanjutnya keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.Elowen sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Setiap hari ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Istana memiliki perpustakaan terlengkap. Tentu saja ini bagai surga untuk Elowen yang kutu buku.Pagi itu seperti biasa, Elowen

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 4 Sebuah Penolakan

    Tidak ada kata yang terucap dari Kael, tapi tatapan dingin pria itu sudah mewakili pedang di pinggangnya. Sementara Elowen hanya membisu dengan jantung berdentum.Ia tidak pernah mendengar rumor soal ini. Setahu Elowen, Pangeran Alaric sudah dijodohkan dengan putri negeri tetangga. Bukan dirinya.Alaric mengalihkan pandangan, menoleh ke Elowen kemudian berganti ke Kael. Hening untuk beberapa saat.Hingga tiba-tiba tawa Alaric pecah menggema mengisi kesunyian ruang makan itu.“Astaga, Kael! Kamu tegang sekali. Aku hanya bercanda tadi.”Kael hanya diam, sama seperti tadi. Tidak ada senyuman juga tidak ada tawa yang menemani gelak Alaric.Alaric menghentikan tawanya, menatap Elowen sambil menundukkan kepala.“Maafkan aku, Putri. Aku hanya bercanda. Mana berani aku merebut kamu dari Kael. Bisa-bisa kepalaku putus.”Elowen tersenyum samar sambil melirik Kael yang duduk di depannya. Namun, sepertinya tidak ada reaksi apa pun dari pria dingin itu.Tanpa suara, Kael langsung berdiri dan berla

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 3 Kedatangan Rival

    Mata Elowen melebar, bibirnya membeku dengan gestur tubuh yang menegang. Kemudian tanpa diminta kejadian malam kelam sebulan lalu berkelebatan di benaknya.Saat sosok tak bernama tiba-tiba menyergap, menarik dirinya, melecehkannya habis-habisan hingga Elowen kehilangan mahkotanya.Buru-buru Elowen menunduk, menghindar dari mata dingin yang menusuk dadanya. Ia tahu apa tugasnya sebagai istri di malam pertama. Namun, kejadian malam itu menyisakan trauma dan membuat Elowen menderita.“Kamu tidak mendengar perintahku, Putri?”Suara Kael menggema, memenuhi seisi kamar dan sontak membuat Elowen mengangguk.Perlahan jemari Elowen bergerak membuka ikatan bajunya. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak semakin kencang dengan napas yang mulai tersengal.Sementara Kael hanya diam bagai patung memperhatikannya tanpa kedip. Apa ini yang dibilang pria tanpa hasrat pada wanita? Apa dia yang dibilang pria dengan penyimpangan seksual? Pencinta sesama jenis.Namun, nyatanya ia seperti binatang buas yan

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 2 Pernikahan Politik

    Elowen terdiam, menelan ludah beberapa kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi ketenangan terlihat jelas di wajahnya.Elowen mengangkat dagu, menatap pria berwajah dingin di depannya. Tatapannya selembut sebelumnya, terlihat rapuh namun mematikan.“Saya menerimanya.”Tidak ada reaksi signifikan dari Kael. Bahkan Elowen melihat tangan Kael masih menggenggam gagang pedang seolah masih ada kondisi waspada yang sedang ia hadapi.Tubuh Kael yang lebih tinggi terlihat tegak dan tidak sedikit pun membungkuk hanya sekedar untuk membalas tatapan Elowen.“Bagus!! Persiapkan dirimu untuk pernikahan besok.”Sama seperti tadi suara Kael terdengar dingin. Elowen hanya mengangguk dengan wajah yang menunduk.Selanjutnya Kael sudah berlalu pergi membawa aura dingin tubuhnya berangsur menghilang. Elowen masih berdiri mematung di posisinya, bergeming tanpa suara.Apa jadinya jika Kael tahu dengan kondisi dirinya?Ia sudah kehilangan keperawanannya, bahkan sedang mengandung benih pria t

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 1 Sebuah Perjodohan

    Elowen Lysandra mengerat bibir sambil meremas perut, menahan sakit dan mual di sana. Setahunya ia tidak makan apa pun, tapi mengapa sepagi ini perutnya bergolak tak karuan.“Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya salah satu dayang.Wanita cantik itu terdiam sambil menyeka bibir. Seketika dayangnya mendekat dan membantu Elowen duduk. Wajahnya putih pucat terlihat berkilauan ditimpa mentari pagi yang menerobos melalui jendela kamar.Rambut keemasannya yang dikepang longgar terjuntai menghiasi wajah ayunya. Begitu sempurna memantulkan ciptaan sang Dewa.“Aku baik saja. Ada apa?”Wanita muda, salah satu dayang Elowen itu kini terdiam. Wajahnya terlihat tegang sambil terus memilin tangan.Mata Elowen menyipit menatapnya penuh curiga. Ia tahu apa maksud dari gestur tubuh dayangnya kali ini.“Sudah diputuskan, Putri.”Elowen menghela napas pelan. Ia sudah tahu sebelum kata-kata itu diucapkan.Ia akan dinikahkan.Bukan dengan pangeran negeri sahabat, bukan pula dengan bangsawan muda penuh puj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status