LOGINTidak ada penolakan, juga tidak ada kesedihan terlihat di wajah Elowen. Dengan anggun, wanita cantik itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Rambut keemasannya berterbangan tertiup angin dengan gaun biru mudanya yang berkelebatan.
Dua insan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh ke dua arah berbeda. Sinar mentari pagi membentuk bayangan mereka memanjang dan menjauh dengan dramatis.
Alaric yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala.
“Hmm … Kael. Sampai kapan kamu seperti ini?” gumam Alaric.
Sejak hari itu, mereka tidur terpisah. Kael menempati kamarnya dan Elowen tetap berada di kamarnya. Mereka hanya bertemu saat makan pagi dan makan malam saja. Selanjutnya keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Elowen sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Setiap hari ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Istana memiliki perpustakaan terlengkap. Tentu saja ini bagai surga untuk Elowen yang kutu buku.
Pagi itu seperti biasa, Elowen menghabiskan waktunya di perpustakaan. Namun, keasyikannya terusik saat mendengar suara langkah mendekat. Elowen meletakkan bukunya dan mendongak melihat siapa yang datang.
Ia langsung terdiam saat melihat Kael sudah berdiri di depannya. Seperti biasa suami dinginnya itu berdiri dengan tenang menatapnya dengan angkuh.
Elowen tergesa berdiri, menundukkan kepala, memberi salam.
“Siapkan dirimu, besok kita akan pergi!”
Elowen terkejut. Mata hijaunya mengerjap beberapa kali sambil menatap Kael. Seolah tahu arti tatapan Elowen, Kael kembali bersuara.
“Kaisar memintaku melakukan kunjungan ke Aquilora.”
Seketika sebuah senyum terukir dengan indah di wajah cantik Elowen. Ia sudah pernah mendengar tentang negeri Aquilora. Sebuah negeri indah yang kaya sinar mentari. Di sana selalu hangat, dekat dengan pantai, dekat dengan laut yang indah.
Negeri Aquilora salah satu negeri jajahan Valtoria. Negeri Aquilora juga penyumbang terbesar ikan dan hasil laut yang dinikmati penduduk Valtoria. Entah ada urusan apa hingga kaisar meminta Kael pergi ke sana.
“Sepertinya kamu sudah paham.”
Kael kembali bersuara membuat lamunan Elowen buyar. Ia terlalu gembira hingga tidak menyadari keberadaan suaminya. Tanpa menunggu jawaban Elowen, Kael sudah berlalu pergi lebih dulu.
Sebuah senyuman kembali terukir di wajah Elowen. Sudah cukup lama ia menderita kebosanan di istana ini. Sepertinya kaisar tahu dan memberi hadiah perjalanan menyenangkan untuknya.
Namun, sepertinya bayangan Elowen tidak sesuai dengan kenyataan. Untuk menuju negeri Aquilora, ia harus menempuh perjalanan darat selama lima hari. Begitu melelahkan, apalagi harus satu kereta dengan pria dingin di sampingnya.
Waktu bergulir terasa semakin lama. Hanya kebekuan yang tercipta sepanjang jalan. Tidak ada obrolan ringan apalagi tatapan nan lembut. Untung saja Elowen membawa banyak buku. Ia bisa mengusir kesunyiannya itu dengan membaca.
Hari keenam, saat sinar mentari menerobos masuk ke dalam kereta. Elowen mengerjapkan mata beberapa kali, merasakan hangatnya mentari menyentuh wajahnya. Biasanya ada bayangan Kael yang menutupi sinar mentari, tapi kini sosok itu menghilang.
Perlahan Elowen membuka mata. Ia melihat kereta sudah berhenti dan tidak ada Kael di sampingnya. Elowen menyibak tirai kereta dan ia melihat suaminya sudah turun, tengah berbincang dengan salah satu pengawal.
“Sial!! Kenapa dia tidak membangunkanku?” gerutu Elowen.
Usai merapikan pakaian, Elowen tergesa turun menghampiri Kael. Tatapan dingin serta merta menyambut Elowen.
“Persiapkan dirimu!!! Sebentar lagi kita menghadap Raja Calleb.”
Elowen mengangguk sebagai jawabannya.
Selang beberapa saat, mereka sudah berada di aula utama istana Aquilora. Seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan mata yang sama gelapnya menyambut kedatangan mereka.
“Senang bertemu dengan Anda, Jenderal Kael,” sapa Raja Calleb dengan ramah.
Kael tersenyum sambil menganggukkan kepala memberi salam. Selanjutnya mereka terlihat berbasa basi saling memuji satu sama lain. Elowen hanya duduk diam di samping suaminya sambil sesekali tersenyum menikmati sambutan.
Cukup lama Elowen merasakan basa basi yang membosankan itu. Hingga tiba saat mereka menikmati jamuan yang sudah disiapkan.
Aneka ikan dan makanan laut tersaji dengan lengkap di atas meja. Ini adalah makanan yang langka ia dapatkan di Valtoria. Rasanya tidak mengapa jika Elowen memuaskan perutnya.
Aroma ikan bakar, cumi bakar sangat menggugah selera makan Elowen. Ia melihat Kael sudah mulai menikmati makanannya. Pria itu sama sekali tidak memperhatikan Elowen yang duduk di sebelahnya.
Tanpa basa basi, Elowen mulai menyantap hidangannya. Namun, entah mengapa ada yang salah. Aromanya memang menggugah, tapi begitu masuk mulut Elowen terasa aneh. Rasa mual, enek tiba-tiba datang merasuki tubuhnya.
“Apa yang terjadi padaku,” batin Elowen.
Ia sedang berada di jamuan persahabatan. Rasanya tidak elok jika tiba-tiba ia muntah di sana. Ini sama saja dengan penghinaan.
Namun, sepertinya perut Elowen tidak bisa diajak kerja sama. Ia meringis kesakitan, menahan rasa mual yang tiba-tiba sudah di ujung tenggorokan. Dengan tergesa, Elowen bangkit dan bersiap pergi meninggalkan aula utama.
Akan tetapi, tiba-tiba Kael menarik lengan bajunya membuat Elowen urung pergi. Wanita cantik itu menoleh ke Kael sambil menutup mulut. Dengan isyarat, Kael memintanya duduk kembali.
Elowen melotot dengan kepala yang menggeleng. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa aneh ini. Ia harus segera pergi sebelum memuntahkan semuanya di sini.
Bukannya melepaskan cekalannya, Kael malah mencondongkan tubuh dan bersuara di wajah Elowen.
“Duduk!” cicitnya pelan.
Elowen membisu. Mata hijaunya mengerjap sesaat membalas titah Kael. Kemudian perlahan ia menelan kembali rasa mual yang di ujung tenggorokan tadi. Rasanya aneh dan semakin membuat Elowen enek.
“Apa ada yang salah, Jendral?”
Suara Raja Calleb menginterupsi mereka. Kael tersenyum sambil menggeleng, kemudian meneruskan kembali makannya.
Sementara Elowen hanya diam. Wajahnya semakin pucat dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Antibodinya sedang bertarung membuatnya bertahan.
Hingga tepat saat jamuan berakhir, tubuh Elowen tiba-tiba terkulai tak bergerak di samping Kael. Awalnya Kael pikir Elowen hanya sekedar bersandar, tapi ia tersadar saat tidak ada gerakan dari istrinya.
“ELOWEN!”
Tanpa pikir panjang, Kael langsung mengangkat tubuh Elowen dan menggendongnya pergi dari aula utama. Untuk pertama kali, ia menyentuh tubuh istrinya sedekat ini. Untuk pertama kali pula, ia meruntuhkan rumor tentang dirinya yang anti sentuhan.
Menjelang sore, Alaric pulang. Ia langsung menemui Roxana di kamarnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sebuah senyuman tersungging di rautnya saat melihat wajah Roxana. “Apa kabar si Kecil hari ini?” tanya Alaric lembut. Ia duduk di dekat Roxana sambil mengecup keningnya. Roxana tersenyum membalas perlakuannya. “Si Kecil baik. Ya ... meskipun aku sedikit teler sepanjang hari ini.” Alaric terdiam. Mata kecilnya tampak mengawasi Roxana dan memperhatikannya penuh cinta. “Apa aku perlu panggil Tabib Lucanus atau Bibi Julia?” Roxana menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku rasa jawaban mereka pasti sama. Lagipula Tabib Lucanus sudah memberiku obat.” Alaric tersenyum, tangannya meraih tangan Roxana dan mengelusnya lembut. “Lalu kamu ingin aku melakukan apa?” Roxana terdiam sesaat, kemudian menoleh ke Alaric s
Minerva menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia takut mulutnya bersuara keras karena terkejut. Kalau sudah begitu, ia pasti dalam bahaya. “Anda yakin, Pangeran?” tanya suara yang lain. “Tentu saja aku yakin. Kalau tidak, untuk apa kalian kukumpulkan di sini? Sudah saatnya Valtoria tahu siapa sebenarnya Kael." “Ia hanya bajingan yang menginginkan takhta dan akan melakukan apa pun dengan segala cara untuk mendapatkannya.” Suara Alaric terdengar dingin dan penuh kebencian, seolah yang sedang berbicara itu bukan Alaric. Minerva hanya diam sambil mengelus dadanya. “Apa jadinya jika Putri Roxana tahu soal ini?” batinnya. “Baik. Jika demikian, kami akan berpihak pada Anda, Pangeran. Memang seharusnya yang layak naik takhta adalah Anda. Putra kandung Kaisar Vorentis, bukan Jenderal Kael.” Sebuah suara kembali terdengar dan terkesan penuh pujia
"Livia, sepertinya Ayah tidak berhasil menyakinkan semua anggota senat. Kalau sudah begini, Ayah yakin rencana kita tidak akan berhasil,” ucap Tuan Tiberon.Usai berdebat sengit di dalam tadi, beberapa tamu sudah berpamitan pulang. Terlebih mereka yang tidak sepemikiran dengan Tuan Tiberon dan Livia. Hanya beberapa yang tinggal.Kali ini Tuan Tiberon sudah menemui putrinya yang meninggalkan ruangan lebih dulu tadi.Livia tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Ayahnya sudah melalang buana di dunia politik. Kepiawaiannya membujuk lawan sudah diakui, tapi khusus kali ini ia kalah telak dengan pembela Kael sejati.“Ayah tenang saja. Aku sudah memikirkan cara lain. Yang penting, rencana kita harus berjalan dengan baik.”“Mencabut gelar Kael, menghukum atas kebohongannya dan mengangkat Alaric menjadi pewaris takhta.”Tuan Tiberon terdiam. Entah mengapa wajahnya menunjukkan kegelisahan. Livia memperhatikan dengan saksama.“Apa lagi yang Ayah risaukan kini?”Tua
"Apa yang Anda ingin hamba lakukan, Jenderal?” tanya Neil pagi itu.Mengawali hari Kael sudah memanggil Neil ke ruangannya. Ia tidak bisa tidur tenang semalaman memikirkan perubahan sikap Alaric. Kael yakin ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat Alaric berubah.“Aku ingin kamu menyelidiki Alaric.”Neil terdiam, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.“Maksud Anda Pangeran Alaric, Jenderal?”Kael mengangguk. “Memangnya ada berapa Alaric di istana ini?”Neil terdiam sambil menganggukkan kepala. Hal yang sangat aneh ketika Kael tiba-tiba memintanya menyelidiki Alaric. Memangnya apa yang sedang terjadi saat ini?“Aku ingin tahu siapa yang ia temui belakangan ini. Aku juga ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan? Kalau perlu kamu juga memantau Roxana.”Neil terlihat terkejut kembali. Alisnya mengernyit dengan wajah yang terlihat bingung. Kael menghela napas memperhatikan reaksi Neil.“Aku hanya ingin tahu apa Roxana juga mengenal orang i
Kaisar Vorentis hanya diam sambil menatap Alaric tanpa kedip. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan putranya saat ini. Sedangkan Alaric berdiri di depannya menantang tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alaric. “Kenapa ayah diam saya? Kenapa tidak bisa menjawab?” sergah Alaric dengan berapi-api. Helaan napas perlahan keluar dar bibir Kaisar Vorentis. Pria paruh baya itu terdiam dengan bahu yang naik turun. Tatapannya tajam seperti tatapan bijak seorang penguasa bukan tatapan seorang Ayah yang penuh kesedihan. “Siapa yang menyuruhmu berkata seperti itu, Alaric?” Bukannya menjawab permintaan Alaric, Kaisar Vorentis malah balik bertanya. Tentu saja Alaric marah mendengarnya. “Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya atas kesadaranku sendiri. Kebodohan yang telah lama aku simpan atas semua ketidak adilan sikap Ayah padaku.” Kaisar berdecak, mengge
“Apa katamu? Hamil?” ulang Alaric memastikan.Roxana tersenyum sambil menganggukkan kepala seraya mengelus perut ratanya. Alaric tertegun melihatnya tanpa kedip. Beberapa kali jakunnya bergerak naik turun menelan saliva. Wajahnya masih terlihat terkejut.“Aku ucapkan selamat untukmu, Alaric, Roxana.”Kael sudah bersuara memecah keheningan itu. Alaric menoleh ke arahnya dan mengangguk datar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.“Roxana sudah diperiksa Tabib Lucanus dan katanya ia tengah hamil dua minggu. Cukup rentan dan butuh perawatan ekstra. Itu juga sebabnya, Bibi anjurkan Roxana dan kamu tinggal di sini.”Julia mengambil alih pembicaraan dan langsung dijawab dengan gelengan kepala Alaric.“Tidak. Tidak. Roxana punya istana sendiri dan aku tidak mau jika ia harus tinggal di sini bersama ---“Alaric menggantung kalimatnya, tapi tatapannya sudah mengarah ke Elowen. Semua yang ada di sana memperhatikan sikap Alaric. E







