تسجيل الدخولSemua orang tampak terpana melihat kehadiran Rosaline yang datang mengenakan gaun merah muda pilihannya. Bahkan beberapa wanita yang berada di dalam ruangan mulai merasa tersaingi, termasuk Bianca.Tatapan Bianca seketika berubah ketika melihat Damian justru berjalan menghampiri Rosaline dengan wajah bahagia.“Sayang, kamu sudah datang.”Damian tersenyum hangat di hadapan istrinya.Bianca yang mendengar panggilan itu langsung menatap Damian dengan tidak suka. Ada rasa kesal yang perlahan memenuhi dadanya. Bukankah pria itu sudah berjanji kepadanya untuk tidak tertarik kepada wanita itu?Namun sekarang, Damian justru terlihat begitu bahagia melihat Rosaline.“Maaf, aku sedikit terlambat. Jalanan sedikit macet,” ujar Rosaline.“Nggak apa-apa. Pestanya juga belum dimulai.”“Oh, iya. Kenalin, ini temanku, Anna.”Damian mengalihkan pandangannya kepada Anna. Ia sempat ingin tersenyum, tetapi tatapan wanita itu justru terlihat begitu tidak bersahabat.Entah kenapa, Damian merasa Anna seolah-
Pagi ini, seperti biasa, Rosaline sedang menyiapkan sarapan untuk Damian. Namun, pikirannya kembali teringat pada sorotan cerita yang diunggah oleh selingkuhan suaminya di media sosial.Sebuah foto dua botol wine yang berada di atas meja transparan, dengan pantulan wajah Damian yang terlihat samar di permukaannya.Kalau mengingat hal itu, rasanya lucu sekali.Hampir saja kemarin Rosaline percaya bahwa pria itu benar-benar sedang lembur. Ternyata, lagi dan lagi, Damian hanya menggunakan alasan yang sama untuk bertemu dengan wanita lain.Namun kali ini Rosaline sudah benar-benar tidak peduli. Bahkan semalam, ia memilih langsung tidur seperti biasanya tanpa menunggu Damian pulang.Tidak ada pesan.Tidak ada panggilan.Tidak ada pertanyaan tentang kapan Damian akan kembali.Rosaline hanya ingin menjalani harinya seperti biasa tanpa terus memikirkan pria yang sudah berkali-kali membuatnya kecewa.“Selamat pagi, sayang.”Suara Damian yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Rosaline
Bianca yang masih berada di balik selimut tampak aneh menatap layar ponselnya. Rosaline sudah melihat sorotan cerita yang ia unggah beberapa waktu lalu, tetapi kenapa tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan dari wanita itu di ponsel Damian?Bahkan selama mereka menghabiskan waktu bersama, tidak ada satu pun gangguan berupa panggilan atau pesan dari Rosaline. Hingga semuanya selesai pun, wanita itu tetap tidak menghubungi Damian.Kini Damian sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Sementara Bianca masih berbaring di atas ranjang sambil memegangi selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.“Aneh… apa dia nggak melihat ada wajah Damian di situ?” gumam Bianca dengan dahi berkerut. “Padahal aku sudah memotretnya sejelas mungkin.”Harapan yang sejak tadi ia bayangkan tidak kunjung menjadi kenyataan.Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi Rosaline sama sekali tidak menghubungi ponsel Damian. Bahkan pesan yang dikirim Damian kepadanya pun tidak dibalas.Seolah-olah wanita itu
Rosaline dan Anna kini sedang menikmati makan malam di sebuah restoran setelah seharian menghabiskan waktu bersama. Mereka sudah mengunjungi beberapa tempat, mencoba berbagai makanan, hingga menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih gaun yang akan dikenakan pada pesta besok malam.Anna tampak menikmati makanannya dengan santai. Sesekali ia mengangkat pandangan ke arah Rosaline yang sejak tadi juga sibuk menikmati hidangan di hadapannya.Namun, entah kenapa, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya.“Kalau begitu, bagaimana hubunganmu dengan Alexander?” tanya Anna santai.Rosaline mengangkat wajahnya dan menatap Anna.“Alexander?”Anna mengangguk. Setelah kini mengetahui dengan jelas bagaimana sebenarnya hubungan Rosaline dan Alexander, Anna memang tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.“Apa kamu nggak berniat menjadikan dia selingkuhanmu saja?”“Uhuk! Uhuk!”Rosaline yang saat itu sedang meneguk air langsung tersedak. Ia buru-buru menurunkan gelasnya ke atas meja, kemudian
Damian melangkah memasuki restoran yang berada tidak jauh dari butik tempat Bianca berbelanja. Sebenarnya, ia sama sekali tidak ingin datang ke tempat itu. Terlebih lagi, ia tahu butik tersebut berada tepat di seberang restoran dan Rosaline masih berada di sana.Ia tidak ingin sampai Rosaline melihatnya.Namun Bianca sudah lebih dulu mengancamnya. Jika Damian tidak datang menemuinya, wanita itu akan mengungkapkan hubungan mereka kepada siapa pun, termasuk keluarga Rosaline.Mau tak mau, Damian akhirnya datang.Begitu memasuki restoran, pandangannya langsung menemukan Bianca yang duduk di salah satu meja. Wanita itu tampak santai sambil menyilangkan kedua kakinya, seolah-olah tidak sedang membuat Damian berada dalam posisi sulit.Damian berjalan menghampiri meja tersebut, lalu menarik kursi di hadapan Bianca dan duduk.“Kamu terlambat lima menit.”Damian melirik jam tangannya sekilas sebelum mengembuskan napas pelan.“Jalanan macet. Makanya aku terlambat.”Bianca hanya mendengus kecil.
Kedua pegawai butik itu segera menundukkan kepala. Setelah Bianca menyebut nama keluarga Maheswara, mereka tentu tidak berani lagi bersikap terlalu keras. Awalnya mereka memang tidak mengetahui bahwa wanita tersebut berasal dari keluarga Maheswara.Namun mereka juga mengenal Rosaline sebagai pelanggan tetap yang cukup sering berbelanja di butik itu. Terlebih lagi, Rosaline berasal dari keluarga Adiwijaya, salah satu keluarga terpandang yang kedudukannya hampir setara dengan keluarga Maheswara.Mereka berada dalam posisi yang serba salah.“Maaf, Nyonya. Meskipun Anda berasal dari keluarga Maheswara, tetapi—”“Sudahlah.”Rosaline segera memotong ucapan pegawai tersebut. Tatapannya beralih kepada gaun biru yang masih berada di tangan pegawai.“Kalau kamu memang menginginkan gaun ini, ambil saja. Kebetulan aku juga sudah tidak menginginkannya lagi.”Pegawai yang memegang gaun itu langsung menatap Rosaline dengan sedikit terkejut.“Nyonya Rosaline…”“Tidak apa-apa.” Rosaline tersenyum tipi







