تسجيل الدخولTaxi berhenti tepat di depan hotel di mana Katerina dan Bayu akan menginap. Bayu menepuk pipi Katerina supaya wanita itu bangun, tak mungkin ia akan mau menggendong wanita itu ke dalam hotel.
“Kita sudah sampai di hotel.” Ucapnya saat melihat Katerina membuka matanya.
Katerina hanya bergumam, lalu turun dari taxi mengikuti Bayu yang sudah lebih dulu memasuki hotel. Setelah proses check in selesai dan akhirnya mereka masuk ke dalam kamar, Katerina langsung merebahkan dirinya lagi di ranjang empuk mereka. Sungguh ia masih mengantuk, selama penerbangan dari Indonesia ke Prancis tidurnya tidak nyenyak sama sekali.
Katerina tidak tahu ia tidur selama berapa jam, karena saat bangun matahari sudah hampir terbenam dan perutnya sudah lapar sekali. Untungnya sudah ada makanan di meja dekat tempat tidurnya, sehingga perutnya bisa langsung terisi tanpa harus menunggu.
Namun Katerina tak melihat suaminya sedari tadi, entah pergi ke mana laki-laki itu. Katerina tidak mau ambil pusing.
“Bodo amat lah dia mau ke mana, yang penting aku nggak ditinggalkan dalam keadaan kelaparan.” Ucap Katerina sambil mengedikkan bahunya.
Namun baru beberapa detik ucapan keluar dari mulutnya, pintu kamarnya terbuka. Melihat suaminya masuk, Katerina tetap cuek saja, tak bertanya dari mana dengan siapa, Katerina tidak peduli. Matanya sempat bertemu dengan mata Bayu sebelum suaminya itu berlalu masuk ke kamar mandi, tapi hanya itu saja. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Setelah Bayu keluar dari kamar mandi, giliran Katerina yang masuk ke sana. Badannya itu sudah terasa lengket sekali, membuatnya tidak tahan. Sedangkan Bayu kini tengah duduk di tepi ranjang, seperti tak berminat untuk memakai pakaiannya. Sesekali tangannya mengetik sesuatu di ponsel, menaruhnya lagi ke meja samping ranjang.
Sampai suara pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Katerina yang memakai jubah mandi berjalan melewati suaminya. Sedangkan Bayu yang dilewati Katerina tak bisa melepaskan tatapannya dari perempuan itu. Melihat istrinya hanya berbalut jubah mandi, pikirannya mulai liar, mengingatkannya pada malam di mana ia melihat bagian tubuh Katerina yang menggoda.
Entah dorongan dari mana, ia akhirnya bangkit dari duduknya berjalan mendekati Katerina yang membelakanginya. Saat akhirnya Bayu tepat berada di belakang tubuh istrinya, ia memegang kedua bahu Katerina.
Tubuh Katerina tersentak kaget, ia merasakan hembusan nafas Bayu di area ubun-ubunnya karena tinggi badan mereka yang berbeda.
“Mas...” Suara Katerina lirih, mencoba menutupi getar yang ada di dalamnya.
“Saya boleh minta hak saya malam ini kan.”
Kalimat itu harusnya menjadi pertanyaan, tetapi nada Bayu yang begitu menekan itu seperti pernyataan yang membuat tubuh Katerina merinding seketika.
Bayu membalikkan tubuh Katerina agar menghadapnya, mengambil handuk di tangan istrinya yang belum sempat dipakai, menjatuhkannya kembali ke koper.
Katerina diam membisu, ia bingung, ia takut, tapi lidahnya pun kelu tak mampu mengucapkan kata.
Mereka saling menatap, tidak ada cinta di dalamnya. Bayu yang hanya ingin memenuhi kebutuhan biologisnya dan Katerina yang penuh kebingungan.
Namun perlahan wajah Bayu mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibir sang istri. Tubuh Katerina menegang seketika, karena bagaimana pun ia tak pernah disentuh oleh siapa pun, tak pernah ada yang menjamah bibir dan tubuhnya.
Katerina mencoba melawan, mendorong dada Bayu, namun tangan suaminya itu seolah mencengkeram pinggangnya erat menahan tubuh mungil Katerina tetap ada di dekapannya.
Bayu yang merasakan ketegangan Katerina, menarik pinggang istrinya itu. Mengelus pelan punggung istrinya, naik turun mencoba menenangkan. Bibirnya pun melumat tanpa henti, hingga tanpa sadar Katerina menutup mata membalas ciuman suaminya. Ia terbuai dengan sensasi penyatuan bibir mereka.
Mendapat lampu hijau dari istrinya, ciuman Bayu semakin menuntut. Lidahnya menerobos ke dalam mulut Katerina, menelusuri rongga mulutnya. Katerina yang kewalahan akhirnya hanya bisa menerima, membalas dengan amatir setiap pagutan suaminya.
Katerina memukul dada suaminya karena sudah kehabisan napas. Bayu pun akhirnya berhenti, melepaskan bibir istrinya dengan tidak rela. Katerina langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, namun tak berselang lama Bayu langsung menyerangnya lagi. Memagut bibir istrinya tanpa henti.
Perlahan langkah Katerina mundur karena dorongan Bayu. Tubuhnya terhempas ke ranjang, di susul Bayu yang menindihnya. Bayu mulai mencium leher istrinya, memberi kecupan-kecupan hangat. Tubuh Katerina merinding, ada sesuatu yang menggelitik dalam dirinya.
Saat tangan Bayu mulai meremas hal berharga milik istrinya, ponsel di nakas berdering satu, dua, tiga kali membuat Bayu akhirnya menghentikan aksinya. Melihat nama dan nomor yang tertera di ponselnya Bayu langsung mengangkatnya.
“Hallo, hallo, hallo.” Tidak ada jawaban dari seberang sana membuat Bayu mengerang kesal.
“Sial!”
Laki-laki itu bergegas memakai pakaiannya, melangkah keluar kamar meninggalkan Katerina yang masih terbaring di ranjang.
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan. Tak terasa bagi Katerina sudah sebulan melewati hari-harinya bersama sang anak di Austria. Rutinitasnya kembali seperti semula saat belum pulang ke Indonesia.Namun sepertinya, hanya Katerina yang merasa waktu berjalan begitu cepat. Karena nyatanya tidak berlaku bagi Daniel yang setiap hari bertanya kapan Papanya akan datang ke sini meski hampir setiap malam dua laki-laki itu berkomunikasi via video call. Seperti saat ini misalnya."Mama, kata Papa sebentar lagi ke sini. Kok nggak datang-datang, ya? Sebentarnya Papa kok lama, Mama? Apa Papa nggak jadi datang?""Jadi dong, Nak. Kan setiap malam Papa selalu bilang akan datang, jadi ditunggu aja. Sebentarnya Papa sama sebentarnya Niel, kan beda. Papa di sana harus kerja dulu."Dan entah sudah berapa kali ia menjawab pertanyaan anaknya itu. Namun hari ini tepatnya beberapa jam lagi, ia tak akan mengulangi jawaban yang sama karena Bayu memang benar-benar akan datang.Mantan suaminya itu memintan
"Saya minta maaf, Katerina."Bayu mengulang ucapannya. Kali ini dengan suara yang serak dan berat sampai akhirnya ia menyadari laki-laki itu ternyata juga meneteskan air mata.Tunggu, apa ia terlalu keras mengomeli mantan suaminya itu sampai membuatnya menangis? Katerina jadi bingung sendiri."Aku nggak bermaksud melarang kamu perhatian sama Daniel. Aku_"Ucapan Katerina terhenti kala Bayu menggelengkan kepala. Laki-laki itu menyeka air matanya lalu kembali menatap matanya. "Maaf, saya malah jadi nangis seperti ini dan buat kamu bingung." Ucap Bayu dengan kekehan di akhir kalimatnya."Saya nggak bermaksud merusak didikan kamu pada Daniel, tapi sungguh saya nggak bisa menolak apa yang diminta anak kita. Setiap kali saya melihatnya, selalu muncul rasa bersalah karena saya nggak pernah ada untuk dia selama ini. Saya nggak tahu bagaimana perkembangannya, nggak mendengar tangis pertamanya, kata pertamanya, langkah pertamanya. Saya melewatkan semua itu."Bayu menengadahkan kepalanya untuk m
Seminggu telah berlalu semenjak penolakan yang ia sampaikan pada Matthias dan percakapannya dengan kakaknya - Andrea malam itu. Saat ini ia sedang bersiap-siap untuk pergi piknik bersama Daniel dan juga Bayu.Beberapa hari lalu, Daniel sempat merajuk saat ia mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Austria minggu depan. Ia sudah berupaya membujuk dan mengimingi bahwa nanti mereka akan bertemu kembali dengan Salsa atau Onty Sa kesayangan Daniel, tapi balasan anaknya saat itu sempat membuatnya terdiam."Tapi di sana nggak ada Papa." Ucap Daniel saat itu.Dan entah bagaimana ceritanya, kemarin Daniel tiba-tiba berbicara bahwa ia mau kembali ke Austria, tapi harus jalan-jalan dulu di sini dengan ayahnya. Dan tadi malam saat Bayu datang seperti biasa, Daniel langsung mengutarakan keinginannya itu."Papa, besok kita jalan-jalan ya. Papa jangan kerja dulu, okay."Bayu belum sempat menjawab, tapi Daniel sudah kembali berbicara. "Soalnya kata Mama, Niel sama Mama mau pergi dari sini. Jadi Niel
Matthias mengalihkan tatapan lebih dulu. Laki-laki itu kemudian tersenyum, jelas sekali ada keterpaksaan di sana dan Katerina tahu akan hal itu. "Terima kasih karena telah memberi saya jawaban, Kate. Meski bukan sebagai pasangan, bisakah kita tetap berhubungan sebagai teman?""Ya tentu saja, Matt." Balasnya sembari tersenyum. Mungkin pertemanan adalah hal terbaik yang bisa ia berikan pada Matthias.Di saat yang sama, Bayu mendengarkan hampir semua percakapan Katerina dan Matthias dari balik tembok. Niatnya tadi ingin bertanya pada mantan istrinya itu di mana toples kukis milik Daniel karena anak mereka ingin kembali memakannya.Namun saat langkahnya hampir sampai ke ruang tamu, ia tak sengaja mendengar Katerina yang berkata tidak pada pernyataan Matthias. Ia sempat terkejut sesaat, tak menduga laki-laki bule itu ternyata sudah menyatakan perasaan pada Katerina. Berarti dugaannya selama ini tidaklah salah, Matthias memang menaruh rasa pada mantan istrinya.Untuk sesaa
Bayu langsung menatap ke arah Matthias. Entah kenapa setiap kali ia melihat laki-laki itu ada rasa panas di dadanya. Rasa cemburunya begitu membakar sampai ia berpikir jika bisa, ia akan meminta laki-laki itu untuk tidak lagi bertemu dengan Katerina atau pun Daniel."Papa, lihat! Lego Niel yang baru udah dibuat sama Uncle Matt, karena Uncle Dre nggak bisa. Bagus kan, Papa."Ucapan polos Daniel justru seperti bensin yang disiramkan di tengah kobaran api di hatinya. Tapi sebisa mungkin ia mengontrol dirinya di depan sang anak."Iya bagus, sayang." Ucapnya seraya mengulas senyum dan mengelus kepala sang anak.Daniel kemudian menarik tangan Bayu untuk ikut duduk di karpet yang penuh mainan, tepat di sebelah Matthias. Anak sekecil Daniel tak tahu bahwa suasana di antara orang dewasa di sekitarnya mendadak begitu canggung.Namun tiba-tiba Andrea justru meminta Katerina untuk mengajak Matthias mengobrol di ruang tamu saja. "Kate, kalau kamu mau mengobrol sama Matthias d
Daniel tak henti-hentinya mengunyah kukis buatanya dengan Eyang Sukma. Sepanjang perjalanan ke rumah mulut anak itu selalu terisi sampai membuat Katerina meringis melihatnya. Ia harus cepat-cepat menghentikan itu. Kukis itu banyak gulanya, dan anak sekecil Daniel tidak boleh terlalu banyak memakan gula."Niel, udah dulu ya makan kukisnya. Buat besok lagi." Ucapnya sambil menoleh sekilas ke arah sang anak yang duduk di kursi penumpang."Tapi kukisnya enak, Mama. Mau Niel habiskan.""Kalau habis nanti Niel nggak bisa makan lagi. Kan Mama nggak bisa buatnya.""Ya tinggal minta sama Eyang."Katerina mengembuskan napasnya pelan. Pintar sekali anaknya ini menjawab. "Loh tadi kan semua kukisnya Eyang dikasih ke Niel. Berarti kan Eyang udah nggak punya, sayang.""Nanti Niel sama Eyang buat lagi, Mama."Akhirnya Katerina tak mendebat lagi ucapan anaknya. Percuma saja jika ia melakukannya, Daniel pasti akan menjawabnya. Biarkan nanti kalau anaknya itu lengah, akan
Setelah menemani Andrea membeli kado untuk anniversary, Katerina dan laki-laki itu memilih untuk masuk ke dalam restoran untuk makan malam dan menunggu Bayu di sana.Kebetulan mereka bertemu dengan Bu Lis dan Dirga serta kekasihnya yang juga sedang berada di restoran yang sama."Ya ampun, Mbak Kate
"Terima kasih ya, Katerina untuk hari ini." "Sama-sama, Mas. Kamu udah ngomong itu berapa kali coba?" Katerina dan Bayu sudah sampai di rumah. Mereka pulang setelah puas melihat sunset di pantai dan...berciuman tentu saja. "Saya ingin bilang terima kasih terus karena saya sangat bahagia hari ini.
Katerina terbangun ketika mendengar suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga. Perempuan itu menoleh dan melihat Bayu sudah pulang dan berjalan ke lantai atas. Tak peduli nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya, Katerina bangun dan menyusul suaminya."Mas Bayu.. Mas.. Tolong dengerin penjelasa
Melihat wajah Bayu yang tampak bingung, perempuan itu mengenalkan dirinya. "Ini aku Sisi, teman sekelas kamu waktu SMA." Lalu ia pun mengulurkan tangannya berkenalan dengan Katerina."Lupa kamu, ya? Padahal tahun lalu kita sempat ketemu di reuni SMA, waktu kamu datang sama_" Tiba-tiba dering ponsel







